11. Tamu

1515 Kata
Berita menggemparkan tersebar di seluruh penjuru kampus, ayah Tika, Rudi Prameswara terjebak kasus korupsi hingga mengakibatkan beberapa investor menarik saham mereka disana. Orang- orang yang mengenal Tika merasa tak percaya, termasuk Ayana salah satunya. Ia bahkan baru kemarin bertemu dengan Tika. Lalu kini tersiar berita itu. Tika juga tidak terlihat di kampus, banyak yang berspekulasi bahwa dia malu karena ayahnya ketahuan korupsi. Apalagi Tika adalah satu orang yang menyombongkan kekayaannya. Penggemar barang-barang branded. Entah kenapa, tapi Ayana merasa kasus ini ada hubungannya dengan Samuel, bukan ia berburuk sangka pada Samuel. Namun kenapa berita ini terlalu mendadak, kejadiannya terlalu bersinggungan. Tanpa persiapan yang matang Ayana nekat mendatangi kantor Samuel, sebenarnya ia hanya mencoba peruntungannya hari ini, berharap 6 Dewi Fortuna membantu. Dulu di suatu pagi Ayana lupa kana tepatnya, Samuel pernah menawarinya untuk ikut ke kantor tapi ia tolak mentah-mentah. Tentu saja ia menolak, mereka kan tidak ada hubungan apa-apa. Kalau sekarang lain cerita, rasa penasarannya tidak bisa ia bendung. Ia hanya berharap tak menjumpai orang yang mengenalnya di sini. Ayana menatap kagum perusahaan milik Samuel. Ia sempat mencari informasi tentang Samuel, perusahaan ini dulunya tidak sebesar sekarang. Namun, setelah diambil alih Samuel, Namanya mulai di kenal luas. Hingga mampu melebarkan sayap di luar negeri. Bahkan cabanganya di luar kota sudah banyak. Meski terkadang Samuel terlihat angkuh dan sombong, sebenarnya otak laki-laki itu memang cerdas. Ayana kira perusahaan biasa, tidak tahunya perusahaan besar dengan gedung bertingkat yang jumlah spesifikanya Ayana tak tahu. Mungkin sekitar sepuluh lantai atau lebih. Langkahnya menciut ketika masuk, beberapa orang berseliweran. Ayana menunduk, menatap pakaiannya. Ia merasa salah kostum di antara perempuan cantik yang bekerja di sini. Ia menarik napas dalam, lalu pura-pura tak tahu bahwa ada beberapa orang yang memandang penasaran ke arahnya. Ayana menghampiri meja resepsionis, seorang wanita dewasa tersenyum ramah menyambutnya. "Permisi," sapanya ramah. Berusaha tak menunjukkan perasaan gugupnya. "Iya. Ada yang bisa saya bantu?" "Saya mau bertemu Bapak Samuel, ruangannya di mana, ya?" "Maksudnya Bapak Samuel Aryeswara?" "Iya, Mbak," jawab Ayana. Setahunya memang itu namanya. Ia tidak pernah bertanya secara lamgsung. Mungkin harus ada sesi perkenalan secara benar di antara mereka setelah ini. "Apa Mbak sudah membuat janji?" Ayana menggeleng. Ia kesini saja dadakan, bagaimana mau buat janji. "Maaf Mbak, kalau belum ada janji gak bisa bertemu. Jadwal Bapak Samuel sangat padat, harus mengatur janji temu dulu." "Memangnya harus ya?" Ayana menyatukan dua alisnya. Setahunya Samuel tidak sesibuk itu. Malahan dia seperti pengangguran karena sering kali muncul secara tiba-tiba. "Iya, Mbak." "Ya udah deh, Mbak. Makasih." Ayana berbalik badan. Percuma jauh-jauh ke sini kalau akhirnya pulang lagi. Gak ada hasil yang ia dapat. Tau gitu tadi langsung pulang aja. Enak bisa tidur siang. Bibirnya mencebik kesal. Kepalanya menunduk, menatap lantai yang sangat bersih. Bahkan mungkin bisa dibuat ngaca. "Ay?" Merasa ada yang memanggil, Ayana mendongak. Ia tersenyum. Melambai pada Samuel, yang dengan segera didatangi laki-laki itu. "Ternyata benar kamu, Ay. Sedang apa di sini?" Tadinya Samuel pikir ia hanya salah lihat, tapi saat memandang dengan saksama memang benar Ayana. "Aku mau bertemu kamu, tapi gak bisa soalnya belum buat janji. Tadi kata resepsionisnya kamu sibuk, jadi aku mau pulang saja." "Aku punya banyak waktu untukmu. Ayo, kita ke ruanganku." Samuel menarik tangan Ayana. Beruntung tadi setelah meeting di luar langsung balik ke kantor, kalau tidak pasti ia tidak akan bertemu Ayana. Ia menghampiri meja resepsionis. Mengeluarkan tatapan tajam andalannya. Untuk kali ini ia maafkan kesalahan mereka, tapi lain kali tidak lagi. "Kamu, tolong beritahu semua yang berjaga di bagian resepsionis. Jika ada gadis ini datang langsung antar ke ruangan saya. Namanya Ayana. Ingat baik-baik. Jangan sampai lupa, atau pekerjaan kalian taruhannya." "Baik, Pak." Beberapa bawahan yang melihat atasannya menggandeng seorang perempuan menuju ruangannya saling berbisik, ini pertama kalinya melihat secara langsung. Kejadian langka yang harusnya mereka abadikan. ¤¤¤¤¤ Nyatanya meski sudah bertemu dengan Samuel secara langsung tidak ada yang Ayana bicarakan. Sesampainya di ruangan Samuel, Ayana hanya duduk di sofa memperhatikan Samuel yang tengah sibuk entah sedang apa. Bahkan mungkin sudah lupa kalau ada dirinya di sini. Ayana bahkan tak tahu sudah berapa kali bawahan Samuel masuk menyerahkan dokumen. Ia jenuh, tidak ada yang bisa ia lakukan. Majalah yang ada di meja sudah baca, namun isinya hanya berisi berita bisnis. Membosankan. Ayana menyamankan posisinya, merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Tak berapa lama ia terlelap dalam buaian mimpi. Bahkan suara ketukan pintu tak membangunkan tidur lelapnya. Seorang bawahan berjenis kelamin laki-laki terkejut melihat Ayana yang tertidur, matanya memandang intens perempuan cantik yang terlelap dengan damai di ruangan sang atasan. Samuel berdehem, memecah fokus bawahannya itu. Aura mengintimindasi terasa menyesakkan. Ia tidak suka ketika miliknya dipandang terlalu lama oleh orang lain. Ayana hanya miliknya, dan hanya dia yang boleh memandangnya. "Maaf, Pak. Saya mau menyerahkan laporan keuangan," ucap bawahan itu. "Hmm. Sudah selesai kan? Silahkan keluar." "Baik, Pak." "Oh, tunggu." Bawahan laki-laki itu kembali memutar tubuhnya, menunggu apa yang akan dikatakan Samuel. "Sekali lagi kamu menatap kekasih saya seperti itu, maka bersiaplah mencari pekerjaan baru!" "Maaf, Pak. Tidak akan saya ulangi lagi." Bawahan itu menunduk, merutuki kelancangannya menganggumi kekasih atasannya. Hampir saja pekerjaannya terancam. Dia keluar meninggalkan ruangan Samuel. Samuel menutup berkas di tangannya, bangkit dari duduknya melangkah menghampiri Ayana. Ia berjongkok menyejajarkan wajahnya dengan wajah Ayana. Menyingkirkan rambut Ayana yang menutupi wajah. Bibirnya mengulas senyum tulus. Ayana pasti tertidur karena bosan menunggunya. Ia menunduk, mengecup bibir Ayana. "Maaf buat kamu bosan." Kembali menyematkan satu kecupan. Samuel lalu mengangkat Ayana, membawanya menuju salah satu pintu. Dengan pundak ia mendorong pintu itu, hati-hati ia merebahkan Ayana di ranjang. Dulu sebelum kejadian ia tidur dengan Ayana, Samuel sering kali menghabiskan malamnya di kantor. Hingga menyiapkan ruangan khusus untuk beristirahat, kantor ini bagai rumah lain selain apartemennya. Lalu saat akhirnya Ayana berhasil ia miliki, apartemen Ayana yang sekarang lebih sering ia kunjungi. Bahkan daripada rumah orang tuanya sendiri. Ia pandangi wajah Ayana dengan saksama, namun bukannya bosan. Hal itu malah membangkitkan sesuatu dalam diri Samuel. Gairah sialan! Bahkan hanya melihat Ayana tertidur saja ia sudah seperti ini. Tak dapat menahannya, Samuel kembali mendaratkan bibirnya, kali ini bukan kecupan melainkan sebuah ciuman. Ia mengulum bibir bawah Ayana, menyesapnya pelan. Ayana melenguh, merasakan seseorang mengganggu tidurnya. Ia membuka mata perlahan, disambut wajah Samuel yang begitu dekat dengan wajahnya. Tangannya berusaha mendorong, namun kalah cepat dengan Samuel yang lebih dulu menahannya. Samuel merubah posisinya, kini ia ada di atas Ayana yang telentang pasrah dibawahnya. Persetan dengan dokumen yang harus ia periksa, juga jadwal meeting belum ia kerjakan. Ia bisa menyuruh sekretarisnya mengatur ulang jadwal. Ada yang lebih penting harus ia tuntaskan. "Ngghh... Sam. Jangan. " Ayana mendesah lirih. Mendengar desahan Ayana, Samuel semakin bersemangat. Sedikit tergesa ia membuka pakaian Ayana, lalu berlanjut melepaskan pakaiannya sendiri. "Ahh," desah Ayana saat akhirnya milik Samuel berhasil masuk ke miliknya. Tak berhenti di situ bibirnya kembali mengeluarkan desahan karena ulah Samuel. Selalu, apapun tujuan awal Ayana akan selalu terlupakan karena ulah Samuel. ¤¤¤¤¤ Ayana tidur miring membelakangi Samuel berbantalkan lengan laki-laki itu. Mereka baru saja selesai. Itupun jika bukan Ayana mengeluh lelah mungkin tak akan disudahi. Ada sesuatu yang mengganggu hati dan juga otaknya. Tapi ia enggan menyuarakan. "Katakan." "Hm?" Ayana menolehkan kepala tak paham maksud Samuel. "Aku tahu kamu mau mengatakan sesuatu. Katakan saja." Wow. Bukankah Samuel sudah seperti cenayang. Ayana membalik tubuhnya menghadap Samuel. Ia menatap dua mata yang selalu menyorot tajam, namun entah kenapa selalu berhasil memanahnya. "Ada beberapa hal ingin aku tanyakan, " ujar Ayana pelan. "Berapa banyak perempuan yang sudah kamu tiduri di sini?" tanyanya. "Apa?" Ayana berdecak sebal, respon Samuel terlalu lebay. Ayana bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Memang siapa yang mau membangun kamar tidur di kantor selain untum bercinta. Dan ia tak suka pemikirannya itu. "Jujur saja, Sam. Aku yang ke berapa? Aku sudah dewasa, aku tahu kamu pasti menyediakan kamar ini untuk kamu gunakan bercinta, kan?" Perempuan dengan segala pemikiran negatifnya. "Dengar, Ay. Aku memang pernah tidur dengan perempuan, oke. Tapi aku tidak pernah membawa satupun perempuan datang ke kantor. Kamar ini sengaja aku buat agar aku tidak perlu pulang ketika lelah. Kalau kamu tidak percaya tanyakan pada seluruh bawahanku, berapa banyak perempuan yang sudah ku ajak kemari," ucap Samuel menjelaskan. Samuel bukan laki-laki maniak seks yang akan bercinta di mana saja. Untuk apa pula ia mengotori ruang pribadinya dengan perempuan sewaan yang ia gunakan melepas penat. Hotel masih banyak yang bisa ia booking. Untuk Ayana pengecualian, gadis itu berbeda. Sejak awal posisi mereka dengan Ayana sangat jauh berbeda. Ayana spesial. Bahkan bercinta dengan Ayana adalah pertama kalinya Samuel lakukan di kantor. Semua tak lepas dari Ayana yang terlalu menggoda dan sayang di abaikan. "Ishh! Bisa saja mereka berbohong. Mereka bawahanmu, pasti takut dengan ancamanmu." "Tuduhanmu menyakitkan, Sayang." "Aku bicara fakta. Jujur saja, toh mungkin aku sama dengan mereka. Bedanya kamu memakai kummhh___" Samuel membungkam bibir Ayana. Ia tidak suka Ayana menyamankan dirinya dengan perempuan bayaran di luar sana. Harus dengan apa lagi Samuel menyakinkannya. "Sekali lagi kamu berkata seperti itu, jangan salahkan aku jika nekad membuatmu hamil, Ay." Ayana bergidik ngeri. Apa tidak cukup dengan merenggut keperawanannya, Samuel masih juga ingin membuatnya menanggung malu dengan cara hamil. Kemana hati nurani laki-laki ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN