12. Malam Minggu

1180 Kata
Setelah dari kantor Samuel yang berakhir bercinta, kini Ayana tengah makan malam dengan Samuel. Sedari tadi mulutnya gatal untuk bertanya tentang Tika. Anehnya Samuel tak ada niat untuk membahasnya sedikitpun. Atau memang Samuel tidak tahu apa-apa. "Ehem." Ayana berdehem. "Aku ingin tanya sesuatu sama kamu," lanjutnya. Samuel meletakkan sendoknya ke atas piring, melipat tangannya ke d**a. Bibirnya menyunggingkan senyum miring. "Tentang Tika?" Ayana melotot, ia bisa menyimpulkan sekarang kalau memang benar Samuel pelaku utamanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Samuel. Tega sekali menghancurkan keluarga orang lain. "Kenapa? Sam, kamu sadar gak sih kalau yang kamu lakukan itu jahat? Kamu menghancurkan hidup orang lain." "Aku tidak pernah bilang kalau aku baik, Ay. Dan untuk seseorang yang suka mencampuri urusan orang lain, bukankah itu setimpal? Lagipula, aku hanya membongkar kebusukan mereka saja." Samuel bahkan sudah sejak lama tahu kebusukan Prameswara Group, tentang mereka yang sering memanipulasi kontrak kerja bahkan tentang tidak transparannya sistem kerja mereka. Itu sebabnya sejak awal Samuel tidak berniat menerima tawaran kerja sama dari mereka. Sayangnya anak dari CEO itu sendiri yang berniat mencari masalah padanya. "Tetap saja. Aku tidak percaya kamu kejam sekali." Samuel menghela napas, "Dulu kamu mengataiku b******k, sekarang kejam. Apalagi yang kurang? Kamu hanya belum tahu, Ay. Di luar sana ada yang lebih b******k, kejam dan licik daripada aku." Ia beranjak berdiri, merapikan jas yang dipakainya. Melirik pada Ayana, "Ayo pulang, dan berhenti bertanya apapun tentang perempuan itu. Satu hal yang harus kamu tahu, semua ini aku lakukan demi kamu." Ayana mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi. Samuel sudah tak mau menjelaskan, percuma juga ia memaksa. Rasanya semenjak ada Samuel, hidupnya tidak pernah tenang. Ketakutan sering kali menghantui. Hidupnya juga seperti tidak bebas. Dulu Kevin, sekarang Tika. Besok-besok siapa lagi? Ayana menunduk, menatap genggaman tangannnya dan Samuel. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Seandainya mereka bertemu dengan cara yang benar akankah seperti ini. ¤¤¤¤¤ Malam minggu. Biasanya Ayana hanya akan menghabiskan waktunya dengan bergelung dalam selimut dan menonton film, kadang juga menamatkan satu novel dalam semalam. Mungkin terdengar membosankan, tapi Ayana selalu menyukainya. Dirinya memang tidak memiliki seseorang spesial yang akan datang ke rumah lalu mengajaknya kencan. Keluar dengan Nadin saja kadang kala. Jangan bayangkan hidupnya tidak berwarna atau terlalu monoton, toh selama ini Ayana menikmatinya. Tapi malam ini semua berubah, ada Samuel yang sejak sore tadi sudah merecokinya. Menyusun segala rencana untuk menghabiskan malam minggu. Bahkan meski berulang kali Ayana tolak, Samuel masih kekeh menyiapkan segalanya. Dirinya sampai tidak memperdulikan ajakan kencan Kevin, dan mematikan ponselnya karena paksaan Samuel. Mau bagaimana lagi, daripada ponselnya yang dihancurkan Samuel. Lihat saja sekarang, ruang tamunya disulap sedemikian rupa agar menjadi tempat nyaman untuk nobar movie pilihan Samuel. Lampu utama sudah dimatikan, hingga keseluruhan ruangan menjadi gelap. Cahaya terang terpantul dari TV yang tengah menyala, menayangkan film genre romance yang sejujurnya Ayana tak pernah tonton. Mereka duduk lesehan di karpet depan sofa. Lalu di atas meja di samping sofa ada beberapa camilan serta minuman. Jangan berpikir ini ide Ayana, semua murni pemikiran Samuel. Ayana menguap, filmnya bagus sih. Tapi entah kenapa ia bosan sendiri melihatnya. Mungkin memang dia yang sedang kelelahan. "Kamu ngantuk?" tanya Samuel. Ayana mengangguk, ia mendekat pada Samuel. Merebahkan kepalanya pada d**a bidang laki-laki itu. Mendengarkan ritme jantung Samuel yang menenangkan. "Sam, kenapa kamu di sini terus. Tidak berniat pulang?" Kepalanya mendongak, menatap Samuel yang juga tengah menunduk memandangnya. Samuel mengecup bibir Ayana. Mereka berdua sudah lupa dengan film yang tengah berputar. "Rumahku itu kamu, Ay." "Bullshit!" hina Ayana. "Aku serius, Sam. Percuma kamu punya apartemen mewah kalau terus di rumahku." Padahal jika dibandingkan, apartemen Samuel lebih bagus dari miliknya. "Sejak awal memang jarang aku tempati, Ay. Aku kan sudah pernah bilang, aku lebih sering menghabiskan waktu di kantor. Lebih cepat, kalaupun aku kelelahan setelah bekerja tidak perlu jauh-jauh harus pulang." "Memangnya sejak kapan kamu tinggal terpisah dari orang tuamu?" Ayana membuat pola abstrak di d**a Samuel. Posisi ini adalah salah satu favoritnya, ia bisa leluasa mencium aroma tubuh Samuel yang segar. "Sejak aku mulai kuliah, awalnya berat. Mama sering kali memintaku pulang. Tapi sekarang mulai terbiasa. Hanya saja aku harus pulang dua minggu sekali." Ayana mengangguk paham, hampir sama dengannya. Tapi kadang kala belum ada dua minggu ia sudah pulang. Akhir-akhir ini saja semenjak ada Samuel, dirinya belum memikirkan pulang. Ponsel Samuel berbunyi, Ayana melirik sedikit. Itu Nadin. Tidak ada yang aneh kalau seorang kekasih menelpon pacarnya, yang aneh adalah jika sekarang Ayana merasa kesal karena Nadin mengganggu waktunya. Ia berniat bangkit dari senderannya, tapi tangan Samuel tidak membiarkan. Malah semakin mengeratkan pelukan. "Tetap seperti ini," ucap Samuel. Dari jarak sedekat ini Ayana bisa mendengar suara Nadin yang penuh keceriaan. Ajakan Nadin pada Samuel untuk menghabiskan waktu berdua tak pelak menghantarkan perasaan tak rela. Ia meremat bagian depan kemeja Samuel. Sungguh, Ayana ingin sekali meminta Samuel menolak ajakan itu. Tapi apa haknya. Satu tangan Samuel memegang tengkuk Ayana, mengarahkan kepala gadis itu mendongak menatapnya. Ia tersenyum tipis, lalu mencium bibir Ayana. Berusaha menghibur hati gadisnya. Perubahan suasana hati Ayana karena telepon dari Nadin terlalu mudah Samuel baca. Ciuman itu terlepas, Samuel mengusap bibir basah Ayana. Keduanya bertatapan, menyalurkan hasrat yang menggebu. "Maaf, Nadin. Aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Nanti aku hubungi lagi." Panggilan itu diputus sepihak oleh Samuel, ia meletakkan asal ponselnya. Fokusnya hanya pada Ayana sekarang. Samuel memegang pinggul Ayana, mengangkat tubuh itu ke pangkuannya. Ayana melingkarkan tangannya ke pundak Samuel, posisinya lebih tinggi dari Samuel sekarang. "Bukankah kita belum pernah mencobanya di sini?" Ayana memukul pundak Samuel, ia tidak pernah membayangkan akan bercinta di tempat selain ranjang. Wajahnya bersemu malu membayangkannya. Tapi seketika wajah malu-malunya berubah saat mengingat Nadin. "Sam, bagaimana dengan Nadin? Aku merasa benar-benar menjadi selingkuhanmu sekarang." "Sstt. Lupakan Nadin. Aku bahkan bisa menjamin kalau sekarang dia juga tengah bercinta dengan Kevin." Pelukan di leher Samuel terlepas. Ayana berdecak sebal. Selalu saja menyangkut pautkan Kevin dengan Nadin. Meski beberapa hari ini Ayana lebih sering menghabiskan waktu demgan Samuel, tapi Kevin tidak pernah lupa mengabarinya. Sering bertanya hal random yang membuat Ayana tak bosan berkirim pesan dengan Kevin. Entah dari sisi mananya Samuel bisa menilai kalau Nadin dan Kevin selingkuh. "Berhenti menuduh Kevin sembarangan, Sam. Kamu tidak punya bukti kalau mereka sungguhan berhubungan. Toh, dari yang aku lihat Kevin cowok baik-baik, dia tidak sepertimu kamu yang selingkuh dengan teman kekasihmu sendiri." Samuel tersenyum sinis, "Mulai terbawa perasaan, eh?" "Tidak! Ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku. Aku hanya membicarakan sesuatu yang terlihat saja." "Kalau begitu beritahu aku, siapa yang tengah kamu sukai sekarang ?" tanya Samuel mengalihkan pembicaraan. "Itu... aku...." Ayana mengatupkan kembali bibirnya. Bingung tidak tahu harus menjawab apa. Meski dekat tapi Ayana yakin ia belum ke dalam tahap cinta, mungkin hanya kagum saja. Kalau Samuel? Ayana memandang Samuel yang juga tengah memandangnya. Hubungan mereka tidak jelas. Tidak ada ikatan antara mereka. Lebih tepatnya seperti teman saling menguntungkan. Perasaannya, Ayana yakin bukan cinta. "Ay. Kenapa diam? Jawab aku." "Ishh, apa sih... bukan urusan kamu, jangan kepo." "Kalau begitu aku buat kamu mengakuinya sendiri." Pergulatan yang terhenti itu kembali dilanjutkan. Meski Samuel tak puas dengan jawaban ayana, ia tidak bisa memaksanya begitu saja. Tugasnya adalah membuat Ayana mencintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN