
Ibukota Kekaisaran Arvendale yang megah, yang telah berdiri kokoh selama lebih dari seribu tahun, tiba-tiba dilanda kengerian yang tak terbayangkan.Di tengah kabut putih misterius yang tiba-tiba menyelimuti kota luar, muncul pasukan monster tak dikenal, dipimpin oleh sosok yang lebih menggentarkan jiwa: seorang pria misterius berbalut setelan putih sempurna, dengan topeng yang memancarkan paradoks—mata yang menyiratkan kesedihan mendalam, namun bibir terukir dalam senyuman lebar yang mengerikan. Garis diagonal berwarna merah, hijau, dan biru membelah topengnya dari dahi hingga dagu kiri, seolah mewakili spektrum emosi yang tersembunyi.Dijuluki "Sang Ilusi Putih", kehadirannya bukan hanya ancaman fisik, melainkan teror psikologis yang melumpuhkan. Aura penekan mentalnya membuat para prajurit elit berlutut, sementara tatapan matanya menjerumuskan korban ke dalam ilusi-ilusi tak berujung yang merenggut kewarasan. Ia bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang melampaui batas logika, menebas dan menembak dengan presisi mematikan di tengah kekacauan kabut yang mengacaukan semua indra.Bagi Kekaisaran Arvendale yang sombong, ia adalah teror yang mengguncang fondasi kekuasaan mereka yang abadi. Namun, di balik kabut dan kengerian yang ia bawa, bagi rakyat yang tertindas dan lama merindukan perubahan "Senyum Kesedihan dari Kabut Putih" mungkin adalah simbol harapan yang pahit dan ambigu. Mampukah kekaisaran yang berakar kuat ini selamat dari ancaman yang tidak hanya menghancurkan secara fisik dan mental, tetapi juga membangkitkan harapan di hati mereka yang selama ini terbungkam? Siapakah sebenarnya sosok di balik topeng itu, dan mengapa senyuman mengerikannya menyimpan kesedihan yang mendalam?

