Sedari pagi kepala Lail sangat pusing, setelah meminum obat pun tidak ada tanda bahwa dia akan segera sembuh. Dia tak henti-hentinya bolak balik kamar mandi hanya untuk muntah, mengeluarkan semua makanan yang dia makan, jika perutnya tidak terisi yang keluar hanya cairan berupa lendir. Rasanya sangat tidak enak. Badannya lemas, tidak bertenaga sama sekali. Dia berbaring memeluk dirinya, meringkuk seperti bayi. Keringat membasahi tubuhnya tetapi entah mengapa dia merasa begitu kedinginan. Dia seperti tidak memiliki tenaga saat ini, terlebih ketika rasa pusing itu menyerangnya. Tidak sanggup menahannya, dia memaksa dirinya untuk tertidur. Lima belas menit kemudian dia sudah damai dalam mimpi. Anehnya, dia memimpikan saat dia dan Syafiq berada di Makassar, saat di mana Syafiq memintanya un

