3. Kapan Kebahagiaan Berpihak?

1129 Kata
Operasi kedua pagi ini, sungguh melelahkan. Menjadi ahli bedah saraf membuatnya harus teliti, dan bekerja keras. Hari ini saja dia harus mengoperasi pembuluh darah kecil dalam otak seorang lelaki paruh baya. Dia harus dengan sabar untuk duduk atau berdiri berjam-jam di ruang operasi. Semua operasi yang dia pegang harus sesempurna mungkin, jahitan, efek samping operasi. Karena, jika dia membuat kesalahan sedikitpun pastilah semua efeknya akan berimbas kepada pasien. "Alhamdulillah operasi hari ini selesai, terima kasih atas kerja kerasnya" ucap Syafiq mengakhiri operasi. Dia mengangkat kedua tangannya yang sedikit keram karena mengoperasi lebih dari sepuluh jam. "Terima kasih dokter" ucap para perawat dan Dokter Leo yang membantu Asisten operasi Syafiq hari ini. "Coffe for today?" Ucap Leo sembari mencuci bersih tangannya. "Gue harus cari buku dulu." "Oh sekalian aja. Gue punya tempat bagus, ada Library dan Cafenya juga dalam satu tempat" ucap Leo "Emang ada tempat begituan" ucap Syafiq keluar berjalan menuju ruangannya, Leo mengekor. "Ada. Makanya gue juga takjub, tapi namanya juga Jakarta, apa aja bisa dibikin usaha. Anyway kopinya juga enak coy." "Oke, kalau gitu gue mandi sekalian ganti baju dulu" ucap Syafiq "Oke, gue juga mau bersih-bersih kok." Di ruangannya yang luas sudah tersedia kamar mandi dan juga tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang. Mungkin, hal itulah yang membuatnya jadi betah di ruangannya sampai terkadang menginap di sini. Sedetik kemudian mereka berdua membelah jalanan ibu kota dengan kemacetan yang tentu saja menjadi ciri khas Jakarta. Tapi, untungnya toko buku rekomendasi Leo tidak membutuhkan waktu lama, dua puluh menit. "Gue cari buku dulu ya. Lo aja yang pesan minum." "Siap Dok" ucap Leo dengan gaya hormatnya, tentu saja Leo sudah tahu apa pesanan dari Syafiq, karena tiap istirahat, mereka akan menghabiskan waktu untuk sekadar ngopi bareng atau makan siang. Bahkan, saking mereka berdua tidak pernah kelihatan menggandeng wanita, mereka sempat dikira guy. "Hot Chocolate satu, Hazelnut Latte satu mbak" "Oke, pesanannya saya ulang Hot Chocolate satu, Hazelnut Latte satu, ada tambahan pak?" "Em, brownies cokelatnya dua mbak" "Baik, total 156 ribu pak" Leo menyerahkan atmnya dan duduk di rak tempat Syafiq mencari buku, di dunia ini ternyata masih ada orang yang waktu luangnya dihabiskan untuk membaca buku. Bahkan di Apartemen miliknya, deretan buku dengan beragam genre, menghiasi ruangan kerjanya. "Kok nggak ada ya" ucap Syafiq, alis tebalnya bertaut, dia sangat membutuhkan buku itu. Pasalnya dia akan melakulan operasi yang cukup sulit dan buku itu bisa menjadi salah satu referensinya. "Coba tanya sama mbaknya, kali aja dia tahu." Ucap Leo menyesap Hazelnut Latte favoritnya. Syafiq berjalan menuju salah satu pegawai yang sedang menata buku di Bidang Ilmu Kedokteran. "Maaf, mbak saya mau tanya, buku." Pegawai yang tak lain adalah Lail menoleh ke asal suara, pipinya langsung memerah, ini lelaki yang tempo hari memberinya payung. Dia ingst persis, dia bukan tipe orang yang mudah melupakan wajah atau nama seseorang. "Kamu?" Refleks Syafiq bersuara "Judul bukunya apa Mas?" Ucap Lail mengalihkan pembicaraan, dia terlalu malu jika harus membahas masalah itu. "Ilmu Bedah Saraf Edisi lima, penulisnya Prof.Dr.dr. Satyanegara" jawab Syafiq Bukan Lail namanya jika tidak mengetahui keberadaan buku itu, sedetik kemudian buku itu sudah ada ditangannya "Yang ini?" Ucapnya "Benar, yang ini. Terima kasih mbak" Lail mengangguk dan berlalu dari hadapannya. Setelahnya, sembari menyesap kopi miliknya, dia memperhatikan perempuan itu dari jauh. Dia begitu telaten, dan sigap. Sungguh pertemuan kedua yang tidak direncanakan. *** Tepat pukul sepuluh malam, Lail kembali ke rumah untuk mengambil baju bersih sekaligus mencuci bajunya yang kotor dan lumayan menggunung. Dia sengaja membeli beberapa makanan di toko serba ada yang tak jauh dari kontrakannya. Hari ini dia mendapat bonus dari Pak Kadir, karena lelaki paruh baya itu sedang mendapatkan rejeki nomplok katanya. Namun, ketika dia melintasi supermarket, dia tidak sengaja melihat pegawai ingin membuang beberapa makanan yang mungkin sudah melewati tanggal kadaluwarsa. Lail berlari dan tanpa malu berucap "Mbak, boleh nggak makanannya buat saya aja? Sayang kan kalau dibuang." Ucao Lail penuh harap "Tapi makanannya udah kadaluwarsa mbak, nggak layak makan" Ucap pegawai tersebut. "Nggak apa-apa kok mbak." "Tapi, mbak.." "Saya udah biasa kok mbak, sayang makanannya dibuang." Tambahnya lagi, tidak tega melihat permintaan Lail, perempuan itu mengangguk, meski khawatir karena makanan itu sudah tidak layak di makan bisa menyebabkan perempuan dihadapannya sakit perut. Dengan wajah yang bahagia Lail mengucapkan terima kasih. "Rejeki nomplok" ucapnya memegang tiga botol sarden, beberapa roti dan krupuk yang didapatkannya tadi. Tetapi, seolah dunia tidak memberinya waktu untuk tersenyum. Lagi, lagi dan lagi. Rentenir kejam itu menunggu dengan sepuntung rokok dibibirnya. Melihat perempuan itu dengan senyuman iblisnya. "Habis belanja banyak nih, tapi lupa bayar utang." "Ini dikasih kok" ucap Lail jujur Rentenir kejam beserta anak buahnya itu maju, membuang puntung rokok dan merampas makanan itu. "Habis ngejalang di mana lo sampai bisa beli makanan sebanyak ini?" "Gue bilang gue dikasih, gue bukan jalang!" ucap Lail, suaranya meninggi. Dia paling tidak suka dikatakan jalang, karena meskipun dia bukan perempuan yang shalihah, dia menjaga dirinya sebaik mungkin. Meskipun dia miskin, tetapi menjual dirinya adalah hal yang sampai matipun tidak akan pernah dia lakukan. "Udah berani ngelawan lo ya?" Rentenir bernama Evan itu memegang pipi Lail keras, meremasnya sehingga Lail meringis. "Bayar utang lo anjing!" Teriak Evan. "Gimana gue bisa bayar, kalau bunganya nggak manusiawi?" Air matanya sudah jatuh, namun dengan sigap dia menghapusnya. Seolah dia tidak ingin menjadi lemah dihadapan mereka. "Apa lo bilang?" Evan menampar pipi Lail, seolah kemarahannya bisa hilang setelah menyakiti perempuan yang pernah dicintainya Teman masa kecilnya yang membuat dia rela dipukul oleh ayahnya, yang membuatnya rela dikurung di lemari hingga kesulitan nafas, yang membuatnya harus memar dan rela melakukan apapun demi Lail. Tetapi, perempuan itu pula yang membuat dia menjadi sekejam sekarang, dingin dan tidak punya belas kasih. Perempuan yang menolak cintanya dengan alasan dia tidak menganggapnya lebih dari seorang kakak. "Udah mulai berani lo sama gue, huh?" Darah segar mengalir di kedua pipi Lail, ingin rasanya Evan memeluk tubuh ringkih itu tetapi keegoisannya lebih besar, ingin rasanya dia melindungi wanita itu, namun sakit hatinya terlalu dalam hingga yang kemudian dia lakukan hanya menginjak makanan yang Lail bawa. Lalu meludah telat di depan perempuan itu. "Gue lupa, jalang emang kadang udah nggak punya malu." Ucapnya kemudian berlalu, meninggalkan Lail yang terisak. Padahal, lelaki itu tahu bahwa Lail meminta makanan kadaluwarsa itu di supermarket, dia hanya tidak ingin perempuan itu sakit karena memakan-makanan yang lebih pantas untuk binatang. Mengapa dunia sekejam ini kepadanya? Dia memungut makanan yang sekiranya masih layak di makan, dengan punggung yang bergetar karena isakan. Seementara Evan, melihat punggung bergetar itu dari jauh. Anak buahnya hanya bisa memperhatikan tindakan bosnya itu. Cinta tapi gengsi, sayang tapi dikuasai egoisme. Malam itu, dia kembali sendirian. Menikmati makanan yang cocoknya dimakan oleh hewan, menangis sendirian, sesudahnya mengerahkan tenaga untuk mencuci baju-baju yang menumpuk. Mengingat kembali bagaimana kenangan indahnya bersama Evan, saat lelaki itu menggendong Lail dipunggungnya karena orang tuanya meninggal dan ayahnya sendiri menyakiti perempuan yang dicintainya. Jika saja ayahnya tidak stroke, maka mungkin lelaki bengis itu yang akan turun sendiri menagih utang keluarga Lail. Apakah bisa benteng kokoh itu diruntuhkan Lail? Apakah bisa mereka kembali seperti dulu? Kapan kebahagiaan itu berpihak kepadanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN