Syafiq Faiz Haitsam, Dokter Ahli Bedah Saraf dengan usia matang 27 tahun, dengan perawakan tinggi, rupawan dengan rahang tegas dan tentunya dengan ibadah yang nyaris tidak pernah tertinggal. Ternyata bukan hanya di drama, atau cerita romansa yang ada di novel tetapi di dunia nyata benar-benar ada. Syafiq yang menjadi idola para wanita di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta.
Dua puluh tahun lalu, dia mungkin tidak menyangka akan menjadi seorang anak dari kedua orang tua yang begitu mengagumkan dan dihormatinya. Mereka menjadi contoh yang baik untuknya, memberikan hidup yang layak dan nyaman. Jika tanpa mereka, dia hanyalah salah satu anak yatim piatu dari panti asuhan yang terpencil, yang akan menjalani hidupnya dengan keras sebelum bertemu dengan Aisyah dan Adnan.
"Ummi, Syafiq berangkat dulu ya. Ada operasi jam tujuh" ucap Syafiq pamit kepada Umminya yang walaupun sudah tua tetap saja masih cantik menurutnya.
"Makan dulu Syafiq, Ummi nggak mau ya kalau kamu makannya nggak teratur lagi sampai harus di rawat lagi."
"Nanti Syafiq makan di rumah sakit, takutnya kena macet Ummi."
"Syafiq, duduklah dulu" ucap Abi
"Makanlah dulu walau sesuap" ucap umminya memohon, tidak tega melihat ummi yang dia cintai memohon, dia akhirnya menyuap nasi goreng terenak di dunia kalau kata Abinya.
"Yasmin belum bangun Mi?" Ucap Syafiq, dia memang sudah hampir sepekan tidak bertemu dengan adiknya itu. Apalagi kesibukannya di Rumah sakit, bahkan waktu tidurnya hanya berkisar tiga sampai empat jam.
"Hmm. Ba'da subuh dia kembali tidur. Semalaman dia ngambek karena nggak diizinin ke Jogja untuk study lapangan." Syafiq tersenyum membuat lesung pipi tercetak jelas di kedua pipinya.
"Anak itu benar-benar dari kecil bawaannya ngambek mulu kalau permintaannya nggak diturutin." Ucap Syafiq "Nggak pernah berubah" tambahnya.
"Ini karena Abi dan Kakaknya yang selalu memanjakannya" tambah Umminya
"Loh kok aku yang kena sayang?"
"Memang begitu kenyataannya kan mas?"
"Iya deh, mas minta maaf" Syafiq geleng-geleng kepala melihat kedua orang tuanya yang masih saja trrlihat seperti ABG yang sedang kasmaran.
"Emang kenapa sih Ummi, Yasmin kan juga mau seru-seruan sama teman Yasmin. Ummi, please. Yasmin juga pengin ke sana." Ucap Yasmin dengan bibir yang ditekuk sembari menuruni anak tangga terakhir.
"Sekali Ummi bilang nggak, ya nggak Yasmin."
"Tapi kenapa? Kasih Yasmin alasan yang logis. Ummi nggak asik ih, kayak nggak pernah muda aja." Yasmin duduk di kursi yang berada di samping kiri Abinya, tak lupa mencium pipi sang ayah dan tentu saja pipi ibu tercintanya meskipun dia dalam mode ngambek.
"Pertama, kamu nggak punya mahram, Kedua, nggak ada yang jagain.
Gimana kalau terjadi apa-apa sama kamu, siapa yang repot, kamu ingat waktu SMP kamu nyaris tenggelam di sungai." Masih dengan bibir yang ditekuk Yasmin menggigit roti dengan selai kacang sambil memandang kecewa Umminya.
"Ya itu kan waktu SMP Mi"
"Bang Syafiq dulu selalu diizinin kalau mau kemana-mana. Bahkan waktu Bang Syafiq lanjut kuliah di Jerman, Ummi nggak pernah larang malah didukung."
"Karena abang kamu lelaki"
"Pilih kasih" ucap Yasmin
"Dek, menurutlah sama Ummi. Ummi hanya takut kalau kamu nanti kenapa-kenapa di sana." Ucap Syafiq lembut
"Ah, Mas Syafiq nyebelin. Abiiii, ayo dong bujuk Ummi" ucap Yasmin kepada ayahnya. "Cuma empat hari kok" tambahnya tidak mau menyerah.
"Ummi izinin kalau mas kamu ikut"
"Ah, mana mungkin mas ikut, mustahil. Tempo hari aja waktu Yasmin ke rumah sakit, Yasmin sampai nggak kenalin penampilan Mas Syafiq yang udah kayak gembel beneran, karena ngurusin pasiennya" ucap Yasmin polos yang tentu saja membuat Syafiq kaget, seburuk itukah dirinya sampai dikira gembel?
"Udah empat tahun kan Fiq kamu nggak pernah ambil cuti? Sekarang, ambillah cuti dan temani adik kamu ke Jogja." Ucap Abi akhirnya
"Tapi Bi, masih ada enam operasi yang belum Syafiq kerjakan, dan"
"Abi kamu kan juga Dokter, Mas bisa kan bantuin Syafiq?" ucap Aisyah kepada Adnan, tentu saja itu merupakan sebuah kode.
"Biar Abi yang membantu kamu menanganinya."
"Tapi Mi"
"Itu keputusan finalnya Syafiq"
Sungguh sarapan pagi yang melelahkan.
***
Seperti biasa Jakarta memang selalu menjadi tempat yang memiliki segudang aktivitas. Tidak terkecuali aktivitas pertemuan yang seringnya diadakan di Cafe, alhasil Cafe Krisan, cafe dengan kopi terenak di Jakarta menjadi tempat terbaik untuk menikmati istirahat kantor dan rumah sakit. Desainnya yang modern dengan hiasan bunga krisan yang mendominasi di setiap sudutnya membuat para kaula muda bersemangat untuk mengabadikan dirinya lewat lensa kamera.
"Huft, capek." Ucap perempuan itu setelah mengepel seluruh ruangan di Cafe Krisan, tempatnya bekerja paruh waktu.
"Nih minum" ucap Fira sahabat sekaligus orang yang selalu ada untuknya.
"Makasih, Ra" Fira mengangguk dan duduk di samping sahabatnya, Lail.
"Gimana kondisi Fajar?" Tanyanya kepada Lail
"Katanya harus di operasi, aku mungkin mungkin akan meminjam uang sama Pak Karim dan manajer, semoga mereka bisa meminjamkan uang."
"Kamu yang sabar ya Lail" Fira menatapnya prihatin. Dia juga memang bukan orang yang berada, tetapi dia masih harus lebih bersyukur dibandingkan Lail yang harus kehilangan orang tuanya dan hidup sebatangkara. Rumahnya harus disita karena utang orang tua yang bunganya kian membesar, tinggal dikontrakan dan harus menyicil sisa utang orang tua mereka.
Lail tersenyum mencoba untuk tetap tabah. Bukankah cobaan membuat raga lebih kuat dan jiwa lebih tabah. Lail yakin bahwa Allah akan menunjukkan jalan untuknya.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Fajar sendirian, nggak ada yang jagain."
Fira memeluknya kemudian tersenyum "Kamu pasti kuat, semangat ya" Lail mengangguk, benar dia harus kuat.
Cafe tempatnya bekerja hanya memerlukan waktu selama lima belas menit untuk sampai ke rumah sakit tempat Fajar, adiknya dan merupakan satu-satunya keluarga yang dia punya. Alih-alih menggunakan bus, ojek apalagi taksi dia lebih memilih untuk berjalan. Menghemat uang untuk makannya besok. Dia memegang sudut pipi kirinya yang masih memar karena ditampar kemarin, tentu saja oleh rentenir kejam yang tidak memiliki hati nurani sedikitpun. Bahkan tamparan itu sudah menjadi hal yang lumrah untuknya, sakitnya pun sudah bisa dia tahan.
Ayah dan Ibunya telah meninggal semenjak dia masih SMA, meninggalkan hutang yang membuatnya harus merelakan masa mudanya untuk membayarnya.
"Ayah, Ibu, Lail capek. Lail pengin banget istirahat, sebentar saja." Menyusuri malam dengan jalan yang sepi, dengan tubuh dan jiwa yang lelah. Sungguh, dia lupa kapan terakhir dia merasakan rehat. Dia terpaksa harus mengambil cuti kuliah, mengumpulkan uang untuk membiayai adiknya yang mengalami kecelakaan, dan mengalami cedera parah dibagian kepala, membayar hutang dan kontrakan yang sudah 3 bulan menunggak.
"Lail, pengin banget Ibu dan Ayah peluk." Air matanya jatuh bersamaan dengan rintik hujan yang jatuh. "Ayah, Ibu. Lail sudah bisa hidup mandiri, tidak merengek lagi meminta sesuatu dan menangis ketika tidak dituruti. Ketika Lail jatuh, Lail bisa bangun sendiri, ketika menangis Lail bisa menghapusnya sendiri. Ayah sama Ibu nggak usah khawatir."
"Ayah selalu bilang kalau Lail itu wanita kuat, tapi Lail boleh nggak lemah sekali saja? Lail, butuh orang yang lebih kuat untuk melindungi Lail, peluk Lail kalau lagi lelah dan selalu siap menghapus air mata Lail, yang selalu pegang tangan Lail saat gemetaran. Boleh nggak Allah kirim orangnya sekarang juga?" Isaknya.
"Kamu nggak punya payung?"