“Damn!” suara tersebut datang dari Nona GPS. Menggerutu tak menyelesaikan masalah. Tidak ada pilihan lain bagi Nona GPS selain mengeluarkan tali dari bagian depan mobil. Tali tersebut menjerat kaki pria besar. Meskipun tak menarik dengan kencang, setidaknya dapat membantu Maxime meloloskan diri. “Kalau bisa melakukan itu, kenapa tidak dari tadi?!” Maxime membentak. “Cepat kemari dan bantu aku. Kita serang bersama-sama.” “Mengapa baru sekarang kau memiliki inisiatif?” Suara mesin hidup. Menandakan Nona GPS tengah marah. “Jangan banyak bertanya. Lihat di belakangmu.” Tidak perlu dilihat lagi karena Maxime sudah merasakan pria besar itu ada di belakangnya. “Ah!” ia berlari lantaran geli. Bulu kuduknya sudah berdiri. Orang itu dirasa lebih seram daripada hantu gentayangan di malam bula

