20. The Agreement with Nori

1043 Kata
Keempat orang berdiri di depan pohon beringin. Memegang senjata masing-masing. Lantas maju bersama-sama. Dihadang oleh puluhan akar yang menerjang ke depan. Dengan satu kibasan dari pedang, Maxime dapat memotong belasan akar pohon. Begitu pun dengan yang lainnya, sementara Allura menembak batang pohon dari jauh. Meskipun berkali-kali akar pohon itu menyerangnya, tetapi Mahavir menjadi tameng pelindungnya. “Terima kasih,” Allura berucap dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Mahavir mengangguk. Lantas kembali melindungi Allura. Sementara, Maxime dan Nori Merekon menembus akar-akar pohon beringin. Gerakan Maxime lincah, membuatnya dengan cepat sampai ke batang pohon itu. Netranya mendongak, mendapati pohon itu sangat tinggi. Lantas ia berlari ke atas memijaki batang pohon seolah-olah ia sedang berdiri di batang pohon tanpa masalah. Kaki Maxime bertengger di atas dahan pohon. Kemudian, akar merambat ke dahan guna menangkap Maxime. Pohon itu dapat merasakan keberadaan musuh meski tak memiliki mata. Maxime memotong akar-akar yang mencoba menangkap kakinya. Setelahnya, memotong dahan pohon, lalu dengan cepat ia berpindah ke dahan pohon lain. Mengetahui dahannya terjatuh ke gumpalan awan, dan tak terlihat lagi setelah. Pohon itu mengamuk. Seperti ada yang menggoyangkan batangnya. Daun-daun beterbangan dan amukan pohon beringin membangunkan angin kencang. Kaki Maxime terpeleset, beruntung ia cepat meraih dahan pohon agak tak terbawa arus angin. Ketiga Gamer hampir terpental. Mereka meraih akar pohon beringin untuk bertahan. Arus angin semakin kencang, Maxime yang bertahan dengan memegang dahan pohon—mendapati wajahnya mati rasa. Mana ia tahu kalau pohon beringin akan mengamuk setelah ia tebang dahannya. Beberapa detik kemudian, pohon beringin sedikit lebih tenang. Akan tetapi, ia mengeluarkan raungan memejamkan telinga. Bisa-bisa mereka kehilangan indera pendengaran kalau pohon itu terus meraung. Mungkin raungan itu adalah raungan kesakitan. “Maxime hentikan pohon itu. Aku tidak tahan dengan suaranya,” bentak Nori Merekon. “Ini semua salahmu. Kalau saja kau tidak memotong dahannya—” “Jangan saling menyalahkan di saat seperti ini.” Nori Merekon mendelik ke arah Mahavir. Tak mau membuang-buang waktu membalas ucapan pria itu. Maxime kembali naik ke dahan pohon beringin, tetapi tidak untuk memotong dahannya. Ia mencari jantung dari pohon itu. Maxime naik ke dahan semakin tinggi, tetapi yang didapatinya adalah serangan dari daun-daun yang dapat melukainya. Ia halau daun-daun tersebut dengan pedangnya. Lantas membekukan pohon tersebut dari atas. Ia juga membekukan akar-akar pohon setelahnya guna memudahkan Gamer lain untuk menyerang. Nori Merekon mendekati batang pohon lalu menusuk dengan pedangnya. Beringin mengeluarkan darah seolah-olah memiliki nyawa. Menarik pedangnya kembali lalu menusuk lagi. Allura menembak bekas di mana Nori menusukkan pedangnya. Darah beringin semakin menjadi-jadi. Keluar layaknya sebuah air terjun mini. Dengan kekuatan listrik dari Mahavir, ia menyengat pohon tersebut. Beringin kembali mengamuk, akar-akar yang menjalar semakin banyak. Di atas sana, Maxime hampir kehilangan keseimbangan. Melihat keadaan semakin memburuk, Maxime ingin memotong pohon beringin. Sayang langkahnya terhenti lantaran berbeda akar menarik kakinya lalu melilit badannya. Maxime tak bisa bergerak sama sekali, ia bagaikan kepompong yang akan segera menetas. Mengetahui hal itu, Allura menembak akar tersebut dibantu, hingga dapat memutuskan akar yang melilit Maxime. Pria itu terjatuh tepat di samping Nori Merekon. Dan berhasil membuat gadis itu mengejeknya. “Kau ini, Hahaha!” “Kau lupa pernah menjadi sandera robot ubur-ubur? Dan bukan hanya sekali.” Nori Merekon menjadi agak malu lantaran dibalas oleh Maxime. Gadis itu merobek kepompong akar di tubuh Maxime. Bagian d**a Maxime terlihat karena Nori tak sengaja ikut memotong pakaian Maxime. Maxime berdiri, mendapati dadanya terlihat, cepat-cepat ia menutupi. Mendelik pada Nori Merekon yang tengah menatap ke bagian dadanya. “Kau sengaja?!” Dengan canggung, Nori menggelengkan kepala. Tanpa disadari beberapa akar menyerang Nori Merekon. Akar beringin menembus perut Nori, membuatnya memuntahkan darah. Mata Nori tak memejam meski sakit menjulur di seluruh tubuhnya. Akankah ia mati dan berakhir dari game ini? Akankah perjuangannya hanya sampai di sini. Ia tidak bisa mendengar apa pun, larut dalam rasa sakitnya dan kekecewaannya. Gadis itu jatuh dengan mata masih terbuka, setelah Maxime memagas akar beringin. “Nori!” Gadis itu dapat melihat Maxime di depannya. Mengguncang bahunya beberapa kali. Namun, Nori tak ingin menggerakkan badannya. Sungguh sakit karena 5 akar pohon sekaligus menembus perutnya. Darah mengalir dari perut Nori, Allura menekan perut Nori agar tak mengeluarkan darah. “Apa aku ... bisa melanjutkan ... game ini?” gadis itu bertanya lemah. “Bisa,” jawab Maxime dengan percaya diri. “Asalkan kau mampu bertahan. Jadi bertahanlah.” “Tapi ... tapi ... pada akhirnya aku akan tersingkir.” *** Maxime membawa Nori ke tempat yang menurutnya aman. Kemudian mereka bertiga membuat beringin menjadi sibuk supaya tak menyadari keberadaan Nori Merekon. Melirik ke arah Nori, Maxime menjadi iba. Nori yang menyelamatkan mereka dari akar pohon beringin. Bagaimanapun juga ia harus membalaskan dendam Nori. Ia tak tahu sampai kapan Nori bisa bertahan dan apakah ia bisa diobati nanti? Tak berbasa-basi lagi, Maxime mengerahkan kekuatan ke pedangnya. Menerjang akar-akar pohon yang sibuk mencari musuh. Matanya bagaikan elang yang akan menerkam mangsa. Mahavir dan Allura merasakan tekanan yang kuat datang dari Maxime. Akar-akar pohon masih mengejar Maxime yang berlari ke atas pohon tanpa bantuan sayap. Pria itu menjadi sangat fokus untuk membantai pohon tersebut. Menjadikan dahan pohon sebagai pijakan lalu melompat ke atas. Memusatkan fokusnya lalu terjun ke bawah; membelah pohon tersebut menjadi dua. Darah sang pohon tersembur, bahkan awan putih menjadi merah. Setelah pohon terbelah sampai ke akar-akarnya, Maxime kembali ke sisi semua orang. Terlihat di depan sana ada jalan yang dipersiapkan untuk mereka. Maxime menghampiri Nori, membawa gadis itu ke mobilnya. “Kau yakin bisa mengendarai mobil?” Maxime bertanya khawatir. “Hanya ada tiga Gamer yang bisa lolos. Semasih aku bisa bertahan, salah satu dari kalian akan tersingkir,” katanya tak membalas pertanyaan Maxime. Malah berkata lain. Nori Merekon memegangi perutnya. Sangat percaya diri kalau bisa mencapai finis dan berjuang di babak selanjutnya. Mereka tak pernah tahu, bahaya apa yang masih menunggu mereka di depan sana. *** Seperti yang sudah disepakati, Nori Merekon melaju pertama. Sementara ketiga orang masih berdiri di luar mobil. Mereka sedikit khawatir kalau membiarkan Nori mencapai finis, yang berarti salah satu dari mereka harus rela tersingkir. Mereka tidak ingin berpikiran picik, tetapi kalau Nori tak dapat bertahan setelah masuk ke gerbang lima, maka akan sia-sia saja. “Ayo. Kita harus mengejarnya,” ujar Maxime. Lantas masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin mobil tersebut. Dia menunggu teman-teman masuk ke dalam agar tidak mendahului.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN