Semakin jauh, tikungan semakin banyak. Maxime tak sempat bercakap-cakap dengan yang lainnya, lantaran ia terus menemukan tikungan di depannya. Tidak ada jalan lain yang bisa ia lalui. Hanya satu jalan di atas awan.
Kalau semakin jauh dan ia belum juga menemukan garis finis, apa mobilnya masih bisa ia kendarai tanpa mesinnya menjadi panas?
Tampaknya di depan sana sudah tidak ada lagi tikungan, Maxime bisa mengoper persneling dan menjadi lebih santai. Kendatipun demikian, laju mobilnya tetap kencang. Sekarang Maxime bisa menghubungi Gamer lain.
“Mahavir, Allura, Nori, apa kalian bisa mendengarku?”
“Bi-bisa ....” Allura sedikit terbata ketika menjawab Maxime.
“Kalian sudah melewati jalan tikungan. Berhati-hatilah karena di sepanjang jalan ada tikungan,” pinta Maxime.
“Apa gunanya? Toh, aku adalah orang terakhir. Kalaupun aku berakhir sebelum sampai garis finis, itu tidak akan masalah bagi kalian.” Nori Merekon Terdengar sedikit frustasi.
Gadis itu melihat ke layar di samping kemudi yang menunjukkan jalan yang ia lalui. Di sana juga terlihat mobil Gamer lainnya dalam bentuk ikon. Jarak mereka cukup jauh. Meskipun Nori Merekon menaikkan kecepatan, masih butuh waktu untuk mengejar mereka.
Ketiga orang itu tidak berkata apa-apa lagi. Mereka juga bisa melihat mobil Nori yang masih sangat jauh di belakang. Salahnya sendiri karena terlalu lambat dalam bergerak.
***
Maxime menginjak rem dalam-dalam lantaran di depannya ada sebuah pohon yang tumbuh dengan cepat. Pohon besar yang tidak lain adalah pohon beringin dengan daun lebat tumbuh begitu cepat. Daun-daunnya berguguran di sepanjang jalan.
Di sampingnya ada awan yang tak dapat ia lalui. Di depannya ada sebuah pohon, ia tak mungkin berbalik ke belakang.
Akar pohon tersebut merambat menutupi jalan. Bukan hanya itu saja, mobil Maxime juga dililit oleh akar-akar pohon. Maxime terjebak di dalam sana, mencoba berusaha keluar, tetapi tak dapat membuka pintu lantaran seluruh badan mobil sudah ditutupi oleh akar pohon beringin.
Maxime mencari bantuan di layar. Dengan perasaan gugup, tangannya terus terpeleset. Udara semakin menepis akibat mobil tertutup, hingga Maxime sedikit sesak.
Dua Gamer menyusul di belakang, mereka juga mendadak berhenti. Keempat ban mobil dikuasai oleh akar pohon itu. Tidak memberikan mereka waktu untuk berpikir. Ketiga mobil itu diangkat tinggi dalam keadaan terlilit oleh akar.
“Maxime, kau masih di sana?” Mahavir bertanya.
Tak habis-habis rintangan untuk mereka. Siapa sangka setelah melewati ribuan kilometer mereka mendapati pohon yang bisa tumbuh dengan cepat.
“Sepertinya aku kekurangan oksigen,” jawab Maxime.
Dari celah yang tak tertutup oleh akar, Maxime dapat melihat kalau pohon beringin bertumbuh semakin besar, yang artinya akar pohon juga akan membesar dan semakin banyak.
Sementara itu, Nori Merekon bisa melihat ikon-ikon mobil Gamer lainnya berhenti. Akan tetapi, ia tak mengetahui sebuah pohon besar menghalangi mereka.
“Mengapa mereka berhenti?” Nori Merekon bertanya curiga. Terus melajukan mobilnya, tetapi tidak terlalu cepat. Ia yakin ada sesuatu di depan sana. “Mereka juga tidak berbicara apa pun.”
Nori melihat akar-akar menjalar di pinggir jalan. Membuatnya berhenti sejenak. Akar itu tak melakukan apa pun padanya. Jadi ia melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lambat.
Setelahnya berhenti karena melihat pohon beringin besar dengan akar-akar yang sudah menguasai jalan. Ketiga bola akar yang sepertinya adalah mobil para Gamer, dapat ia lihat.
“I-itu apa? Hei, apa kalian baik-baik saja? Bola-bola akar itu bukan kalian, kan?”
“No-Nori, kau ... sampai? Kami ... kami di atas sini,” jawab Maxime tersengal-sengal.
“Jadi benar itu kalian,” gumam Nori yang ingin tertawa, pada akhirnya menahan tawa. “Mengapa kau tersengal-sengal?”
“Udara ... se ... makin menipis,” jawabnya dengan lemah.
“Kami mungkin ... tak bisa ... bertahan lama,” imbuh Allura.
Nori Merekon tampak berpikir. Kalau mereka bertiga kalah dalam babak ini, maka siapa yang akan maju ke babak selanjutnya? Kalau dia sendiri yang lolos, ia juga tak yakin akan bisa mengalahkan ratu sistem sendirian.
“Lalu bagaimana caraku menolong kalian? Kalau kalian saja tertangkap, bagaimana denganku? Apa yang akan pohon itu lakukan padaku?” Nori Merekon ragu-ragu.
“Bertarung,” ujar Maxime.
***
Nori Merekon keluar dengan pedang di tangannya. Pedang yang ia gunakan untuk bertarung dengan robot ubur-ubur.
“Semoga ini bisa berhasil.”
Sebuah akar melilit mobil Nori, hingga membuatnya tersentak dan menjauh dari mobil itu seketika. Sebuah akar lagi, menuju ke arahnya. Gerakan Nori gesit, sehingga dapat memotong akar pohon.
“Aku akan menurunkan kalian.”
Langkah Nori Merekon terhenti. Lagi-lagi ia merasa ragu. Kalau menyelamatkan mereka sekarang, maka ia tidak tahu siapa dari mereka yang akan berakhir di level ini. Jika tidak menyelamatkan mereka, maka ia juga tak bisa mengalahkan pohon itu sendirian.
Pada akhirnya, Nori memotong akar yang melilit mobil Maxime. Mobil itu akan jatuh di atas awan, tetapi Nori menarik akar yang terpotong itu, hingga bisa menyelamatkan Maxime. Setelahnya semuanya akar yang melilit mobil itu diberantas oleh pedang Nori.
Maxime bisa keluar dan menghirup oksigen lagi. Ia terbatuk-batuk sebentar. Hampir saja kesadarannya menghilang jika lebih lama lagi berada di dalam mobil.
“Aku tak menyelamatkan kalian dengan cuma-cuma,” tegas Nori.
Ia berdiri layaknya seorang ksatria, tengah membuat perhitungan dengan orang yang ia selamatkan.
“Kau tahu kalau aku meminta bayaran?”
Iris mata Maxime mendarat pada wajah percaya diri Nori Merekon. Detik kemudian, ia memalingkan muka. Sudah mengetahui kalau Nori Merekon adalah orang yang perhitungan.
Nori menodongkan pedang di depan wajah Maxime yang lemah, “Ketika kita bisa mengalahkan pohon itu, kau harus berjanji supaya aku bisa berjalan pertama.”
“Hanya itu saja?” tanya Maxime.
“Ya,” tegas Nori.
“Kalau kau tidak bisa menjadi yang pertama sampai di garis finis. Maka jangan salahkan aku, tetapi aku berjanji kau bisa berkendara pertama.”
“Bagus. Aku tidak akan membiarkanmu mendahuluiku.” Nori Merekon menarik pedangnya dari wajah Maxime.
Lantas ia memotong akar-akar yang melilit kedua mobil itu secara bergantian. Maxime datang untuk membantu beberapa detik kemudian.
Kedua Gamer itu bisa lepas dari lilitan akar. Sama seperti Maxime yang hampir kehabisan napas. Mereka terduduk lemas di atas akar pohon beringin.
“Terima kasih,” ucap keduanya secara bergantian.
“Tak perlu berterima kasih karena kalian akan membayarnya nanti.”
“Dia perhitungan sekali,” gumam Allura.
“Jangan terlalu banyak bicara. Pulihkan tenaga kalian dan kita akan bertarung bersama. Aku tak bisa melawannya sendiri.”
***
“Aku tahu akan seseru ini. Kalian pikir hanya ini yang aku persiapkan? Terlalu dini untuk mengatakan hadiah-hadiah yang kusiapkan Setelah ini.”
Pria itu dengan santai membawa kakinya ke atas meja. Tangannya mengambil kripik singkong dari dalam stoples.