“Aku tidak dapat mengimbangi mereka,” gumam Allura.
Ia masih berada di urutan terakhir. Bahkan sudah menambah kecepatannya, tetapi sulit dirasa untuk mengejar ketiga orang itu. Siapa yang mau membantunya sekarang? Rangking tak menentukan kemenangan seseorang di saat game sudah dimulai.
“Allura, kau pasti bisa. Kau tak akan tersisih.” Gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Mengoper persneling lalu menambahkan kecepatannya. Akhirnya dapat menyusul Mahavir meski tak dapat melampaui pria itu.
Apakah dia akan tersisih di babak ini?
“Tidak! Aku harus lolos di babak ini.”
Allura menginjak rem dalam-dalam ketika semua mobil di depannya berhenti. Tak dapat mengendalikan mobilnya yang berkecepatan tinggi, bahkan rem pun menjadi tak berfungsi di saat seperti itu. Agar tak menabrak Mahavir di depannya, terpaksa Allura membanting setir dan menabrak tembok pembatas.
Kepalanya terbentur di setir. Sejenak Allura merasakan sakit pada kepalanya. Disentuhnya helm di kepala, ia merasakan helmnya retak.
“Allura, kau baik-baik saja?” suara Maxime terdengar agak khawatir mendapati Allura yang kecelakaan.
“Hm,” Allura menjawab dengan pelan sembari mengangkat kepalanya. “Aku baik-baik saja. Mengapa kalian berhenti mendadak?”
“Kita mendapatkan halangan. Ternyata tak semulus yang kuduga,” jawab Maxime.
Di depan mereka merupakan jalan buntu. Yang lebih aneh lagi jalan buntu merupakan sebuah jalan beraspal seperti yang mereka lewati ini. Jalan tersebut layaknya sebuah tembok penghalang yang menjulang tinggi. Bukan sebuah tanjakan. Jika tanjakan tentu mereka sudah dapat melewati.
“Gila! Mereka gila. Bagaimana cara melewati dinding? Kita akan terjebak di sini.” Nori Merekon mengeluh.
“Sistem keluarlah.”
“Jangan-jangan tidak ada sistem yang membantu kita.” Nori sudah khawatir. Padahal jika tidak ada dinding penghalang itu, dia sudah pasti dapat lolos ke babak selanjutnya.
Di dalam mobilnya Maxime tengah berpikir. Dia sudah memanggil Any, tetapi tidak muncul. Tampaknya sang sistem memang membiarkan mereka berjuang sendirian saat ini.
“Pasti ada cara. Berpikirlah, Maxime.”
Maxime tidak sempat mengamati mobil tersebut lantaran terburu-buru. Permainan sudah dimulai dan ia tidak sempat berpikir.
“Pasti ada sesuatu yang dapat digunakan di sini,” gumamnya.
Netranya mengamati desk kemudi. Maxime menemukan sebuah laci di samping kemudi. Ada layar sentuh di dalam laci tersebut. Ia coba-coba menekan layar tersebut.
“Eh, ini bisa digunakan.”
Ditekannya berkali-kali barulah bisa muncul ikon-ikon. Ikon roket, ikon sayap pesawat, dan ikon kaki panjang.
“Apa yang akan terjadi jika aku menekan salah satu dari ikon itu?” baru saja ia selesai bertanya pada dirinya sendiri, Maxime langsung menekan ikon roket.
Setelah itu mobil balapnya terasa sedikit aneh. Sekarang mobil Maxime mempunyai kekuatan roket. Maka dari itu, mobilnya dapat terbang seperti roket.
“Huahhh! Mendapati dirinya mengendarai mobil roket, Maxime terkesima. Tak ada yang dapat menghalangi mobilnya menembus awan. Sesampainya di atas, daya tahan roket tersebut semakin menipis. Maxime melihat ada jalan di bawahnya, tetapi ia terus dibawa naik.
“Hei, turunkan aku.”
Sedikit demi sedikit bahan bakar roket menipis dan pada akhirnya habis. Maxime berteriak lantaran mobilnya meluncur ke bawah. Merasakan benturan yang sangat keras ketika sudah mendarat di aspal.
Maxime membuka matanya mendapati berada di jalan di atas awan. “Aku masih hidup,” gumamnya. “Ini di mana?”
Awan putih bersih di sepanjang mata dapat memandang. Agaknya inilah jalan yang harus mereka lalui sampai di finis.
***
Di bawah sana mereka memperhatikan Maxime yang mobilnya sudah tak terlihat lagi. Mereka heran mengapa mobil Maxime bisa menjadi roket.
Mahavir menghubunginya Maxime dengan cepat. “Maxime, kau ada di mana? Kau bisa mendengarku?”
“Aku mendengarmu ... aku berada di atas awan,” jawabnya.
Semua orang tertegun mendengar jawaban Maxime. Di atas awan? Bagaimana bisa mengendarai mobilnya di atas awan?
“Teman-teman, di samping kemudi ada sebuah laci yang bisa membawa kalian padaku. Cepat cari laci itu.”
“Laci?”
“Laci? Laci apa yang dia maksud?” Nori Merekon tampaknya berpikir terlalu lambat.
Mahavir dan Allura sudah menemukan laci itu. Mereka juga menemukan ikon-ikon yang ditemukan Maxime. Keduanya segera membawa mobil naik layaknya sebuah roket. Melihat hal itu, Nori Merekon menjadi marah. Cepat-cepat ia juga mencari laci. Setelah menemukannya, ia langsung menekan ikon roket.
“Aku akan menyusul kalian. Tidak akan kubiarkan.”
***
Maxime tak menunggu tiga Gamer itu. Melanjutkan perjalanannya sendiri. Di sepanjang jalan tetap ada awan seperti dinding pembatas. Mungkin tidak akan seaman dinding tembok. Ia tak mau membayangkan jika salah satu dari mereka keluar jalur. Apa yang akan terjadi nantinya?
“Teman-teman, aku sudah melewati sepanjang jalan dan belum menemukan garis finis. Hati-hati karena di sepanjang jalan ada awan.”
“Kami mengerti dan kami akan menyusulmu. Segera.”
Sementara itu, Nori Merekon baru saja mendarat dengan mulus. Tak mendapati siapa pun di depannya, ia memukul setir.
“Mereka meninggalkanku? Tentu saja, siapa yang akan mau menunggu saingan mereka?! Aku harus bergegas dan menemukan mereka. Kalau tidak ... kalau tidak ... semua akan berakhir untukku.”
Nori Merekon menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Enggan untuk menghubungi Gamer lainnya. Ia dapat melihat awan di sepanjang jalan, tetapi tak melihat para Gamer lainnya. Ketakutan Nori mulai bertambah. Jadi ia menambah kecepatannya, tanpa mengetahui di depannya ada jalan bergelombang.
“Owah!” mobil Nori Merekon meloncat tinggi, dan mendarat di pembatas jalan. Beruntung ia tidak terlempar ke bawah. Kalau tidak game pasti berakhir untuknya.
Ia coba memundurkan mobil balap, tetapi ban mobil tersangkut di pinggir jalan. Setengah badan mobil ada di atas awan, dan setengah lagi masih di pinggir jalan. Jika ia terus memaksa, bisa saja mobilnya akan jatuh.
Terpaksa Nori Merekon turun untuk melihat keadaan. Keringat dingin keluar begitu saja dari dahi. Bukan hanya di dahi, tetapi juga di punggungnya sudah basah oleh keringat. Mengingat ia adalah Gamer terakhir pada level ini. Nori meletakkan tangan di pinggang, kesal dengan keadaan tersebut. Tak ada yang membantunya sekarang.
“Aku harus lakukan ini sendiri,” gerutunya.
Ditariknya mobil tersebut dari belakang. Ia mengerahkan semua tenaganya untuk menarik mobil tersebut. Sedikit demi sedikit berhasil menarik benda itu, hingga tinggal seperempat badan mobil di awan.
Lantas Nori naik ke mobilnya. Ia mencoba untuk memundurkan mobil tersebut. Sekali mencoba, tetapi gagal. Namun tidak untuk kedua kalinya, Nori tak membiarkan dirinya gagal. Ia berhasil membawa mobilnya kembali ke jalan, dan melajukannya supaya dapat mengejar tiga Gamer lainnya.
Langit yang tadinya cerah berubah gelap dalam sekejap mata. Awan-awan putih ikut berubah menjadi awan mendung. Nori tak bisa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi seperti tadi karena jalan yang dilaluinya saat ini memiliki tikungan-tikungan tajam.