Bab 03

1188 Kata
03 Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Sebastian dan Urfan telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka pulang ke Indonesia, karena Sebastian hendak menghadiri pernikahan temannya, saat kuliah dulu. Kedua pria berbeda tampilan itu, mengikuti langkah Syuja dan Hasbi, kedua pengawal muda PBK, yang juga baru pulang dinas jadi pengawas di Singapura. Selain keempat orang itu, beberapa anggota PG dan PC turut bergabung dalam kelompok pimpinan Syuja. Hadrian Danadyaksha, Yafizhan Endaru, Rylee Maglorius Ghawani dan Riko Mahardika, terlihat berbincang santai sembari meneruskan langkah menuju luar terminal kedatangan khusus luar negeri. Dua pria berbadan tegap menyambut mereka dengan penghormatan. Nawang dan Dipta, kedua pengawal lapis 9, menyalami semua anggota kelompok tersebut. Seusai berbincang sesaat, mereka bergerak menuju tempat parkir. Tidak berselang lama, kedua mobil MPV hitam telah melaju keluar area parkir bandara, menuju jalan tol. "Rapat gabungan, jadinya hari Rabu. Jam 2 siang," tukas Hadrian seusai membaca pesan di grup 1 PG. "Tumben? Biasanya rapat gabungan itu hari Jumat," balas Riko, yang berada di samping kanan Hadrian. "Mas Tio, Mas Benigno, Mas Linggha, Daddy Baskara, Mas Heru dan Mas Trevor, hari Kamis sore mau berangkat ke Kanada," terang Hadrian. "Jenguk Arudra dan teman-teman di sana?" "Iyalah. Masa datangin perdana mentrinya?" "Bisa saja Mas Ben dan Mas Trevor kenal sama pejabat sana." "Setahuku, memang kenal, tapi cuma sepintas. Karena bukan dari kalangan pengusaha, melainkan politikus sejati." "Itu dunia yang rumit. Penuh muslihat dan saling sikut," sela Sebastian yang berada di kursi samping kiri sopir. "Betul. Makanya, aku nggak tertarik buat nyemplung ke dunia politik," jawab Hadrian. "Jangan, Kang. Nanti tenggelam," seloroh Riko. "Urang bisa berenang," balas Hadrian. "Gaya batu aja bangga." "Kamu, teh, nyebelin pisan!" "Aku, kopi. Bukan teh." "Cocok emang. Buteknya sama." "Akang memuji, aku jadi malu." Sebastian terbahak mendengar candaan kedua rekannya. Demikian pula dengan Nawang yang menjadi sopir, dan Urfan serta Syuja yang menempati kursi belakang. Puluhan menit berlalu, Nawang menghentikan mobilnya di depan kediaman orang tua Sebastian di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Sebastian turun bersama Urfan. Sang bos menunggu kopernya diturunkan sopir, kemudian Sebastian melambaikan tangan untuk berpamitan pada orang-orang di dalam mobil. Sebastian menunggu kendaraan operasional PBK itu menjauh, kemudian dia berbalik dan memasuki pekarangan yang gerbangnya telah dibukakan asisten rumah tangga. Sebastian mengayunkan tungkai menuju ruang tamu yang pintunya terbuka. Dia tertegun sesaat kala melihat siapa yang tengah bertamu. Kemudian Sebastian memaksakan senyuman, sembari menyambangi sang tamu. Sementara Urfan meneruskan langkah ke belakang rumah. "Apa kabar, Mitha?" sapa Sebastian sembari menyalami perempuan berambut sebahu. "Kabarku baik, Mas," sahut Shelomitha Christabel, anak dari sahabat Ardiatma, papanya Sebastian. "Baru sampai?" tanyanya berbasa-basi. "Ya." Sebastian menghempaskan badan di kursi sebelah kiri mamanya. "Masih tinggal di Jepang?" lanjutnya. "Enggak. Aku sudah pindah ke sini, sejak dua bulan lalu." Sebastian manggut-manggut. "Aku sudah lama nggak ketemu kakakmu. Apa kabarnya?" "Sehat. Dia lagi sibuk ngurus anak kembarnya." Sebastian mengulaskan senyuman. "Kayaknya seru kalau punya anak kembar." "Kamu lihatnya begitu. Mama, punya tiga anak yang bukan kembar saja, sudah pusing," sela Eva, Mama Sebastian. "Padahal aku kalem dan sopan," seloroh Sebastian yang langsung dicubit lengannya oleh Eva. "Mas, lenganmu kayak tembok. Keras." "Aku sengaja menggedein badan. Biar keren, Ma." "Tapi ini terlalu besar. Kayak binaragawan." "Memang maksudku begitu. Bisa jadi kerja sampingan. Misalnya jadi model." Eva berdecih. "Jangan aneh-aneh. Kerja saja yang benar, sambil cari calon istri baru." "Aku belum kepengen nikah lagi. Kapok." "Enggak bisa gitu, Mas. Dicobalah buka hati buat perempuan lain. Mungkin kamu bisa bahagia di pernikahan kedua." "Nantilah, Ma. Aku lagi nyaman kayak gini." "Jangan menunda terlalu lama. Apalagi ini sudah lewat 6 bulan dari perceraianmu. Sudah saatnya mencari yang lain, dan semoga kamu menemukan cinta sejati." Sementara itu di tempat berbeda, Rinjani tengah memandangi kesibukan anak buahnya, yang sedang mendekor ruangan besar di sebuah gedung pertemuan di pusat Kota Bogor. Sekali-sekali Rinjani akan memijat ponggangnya yang sudah tidak nyaman sejak kemarin. Rinjani tidak berani mengeluh pada orang tuanya, karena tidak mau mereka mengkhawatirkannya yang masih melanjutkan pekerjaan, meskipun telah mengandung 7 bulan lebih. Rinjani tersenyum saat pengerjaan itu usai. Dia memindai sekitar sembari memuji hasil kerja karyawan WO, tempatnya bekerja semenjak beberapa bulan silam. Rinjani menoleh ke belakang saat namanya dipanggil. Dia menyunggingkan senyuman, kemudian menyalami Dina, sang calon pengantin yang menyempatkan datang untuk mengecek langsung dekorasi. "Ini bagus banget, Rin," puji Dina yang datang bersama asistennya. "Sesuai permintaan Teteh," jawab Rinjani. "Aku senang banget, karena ini sama dengan impianku." "Alhamdulillah. Aku senang kalau Teteh puas dengan hasil kerja tim-ku." Dina mengamati Adik temannya yang tengah mengusap-usap pinggangnya. "Sakit, ya?" tanyanya. "Biasa, Teh. Hamil tua, ya, begini." "HPL-nya kapan?" "Dua bulan lagi." "Semoga dilancarkan." "Aamin. Hatur nuhun pisan." "Sami-sami, Rin." Dina menggandeng lengan perempuan berbaju krem. "Aku salut, kamu masih aktif kerja. Padahal kandungan sudah besar," lanjutnya. "Aku harus mengumpulkan uang buat biaya lahiran dan biaya kehidupan kami selama cuti. Kalau perlengkapan bayi, bisa pakai punya anak Teh Lidya. Masih bagus-bagus. Bahkan banyak yang belum dibuka bungkusnya." "Kalau ada yang kurang, kabarin. Nanti kubeli, sebagai hadiah buat anakmu." "Sip." "Rin, apa kamu nggak minta ke ayahnya?" "Enggak, ahh. Aku lebih senang bisa mandiri. Dia pun nggak peduli ke aku. Dari mulai proses cerai, dia sudah nggak pernah nanya kabarku." Dina menggeleng. "Dia harus membiayai kehidupan kalian. Enggak bisa lepas tangan gitu aja." "Enggak apa-apa, Teh. Justru bagus, artinya dia nggak bisa ngaku-ngaku anakku. Apalagi mau ngambil dia. Akan kulawan habis-habisan." *** Sebastian tiba di gedung pertemuan di Bogor, mendekati jam 12 siang. Dia turun dari mobil dan merapikan pakaian. Sebastian menunggu Urfan keluar dari kendaraan, lalu mereka jalan bersama memasuki bangunan. Sebastian menyambangi kelompok rekan-rekan semasa kuliahnya dulu, yang tengah berkumpul di sisi kanan ruangan. Mereka berbincang mengenai kehidupan masing-masing, sembari bersenda gurau mengingat masa silam. Urfan mengelilingi semua stand makanan dan menyicipinya dengan santai. Seorang staf WO yang mengenali Urfan sebagai Adik bungsu Arga, manajer operasional BPAGK, menghampiri pria itu dan mengajaknya berbincang. "Kalian sudah salaman sama pengantin?" tanya Sebastian. "Aku, sudah. Tapi, yang lainnya belum," jawab Didi. "Kita barengan aja. Sekalian foto-foto," ajak Raffi. "Bentar, makananku belum habis," kliah Yeremia. "Kamu makannya lama, kayak putri keraton," ledek Banu. "Makanan itu harus dikunyah dengan baik, supaya usus nggak terlalu capek mengolahnya di dalam perut," sanggah Yeremia. "Mau dikunyah sehalus mungkin, tetap saja keluarnya bentuk pup. Bukan jadi berlian," cibir Othniel. "Omonganmu nggak jauh dari kotoran. Sama kayak otakmu. m***m!" desis Yeremia. "Dah, stop ngomel. Mending cepat habiskan makananmu. Supaya bisa segera salaman," imbuh Sebastian. "Habis ini, kita mau ke mana, Gaes?" tanya Raffi. "Aku mau langsung pulang ke Bandung. Nanti malam acara keluarga di Lembang," terang Banu. "Aku, sih, free," balas Othniel. "Kita cari tempat kongkow," usul Yeremia sembari mengusap bibirnya dengan tisu. "Bas, ikut, nggak?" tanyanya sambil memandangi pria berkulit putih yang sedang memerhatikan sekeliling. "Boleh, tapi aku nggak bisa lama-lama. Nanti malam ada jamuan makan di restoran. Opaku ulang tahun," jelas Sebastian. "Opamu panjang umur. Berapa usianya sekarang?" "Kalau nggak salah, 85 tahun." "Salam aja ke beliau dan keluarga. Sudah lama aku nggak ketemu mereka." "Mainlah ke rumah. Mama pasti senang dikunjungi." "Ya. Aku sekalian mau ngapel Aline." "Mulai!" "Istrimu bakal ngamuk, Yer," seloroh Didi. "Kamu ngelindur, Di? Aku, kan, belum nikah," bantah Yeremia. "Oh, iya, aku lupa, kamu bujang lapuk," balas Didi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN