02
Siang itu, Sebastian telah tiba di unit apartemen yang disewanya, di kawasan hunian bergengsi di Kota Singapura.
Sebab tengah mengerjakan proyek dari PC di sana, Sebastian memutuskan untuk menetap di kota itu. Dia berharap tindakannya tersebut bisa membantunya untuk melupakan Keisha.
Sudah beberapa bulan berlalu. Sebastian sama sekali tidak pernah menghubungi Keisha. Sedangkan perempuan itu berulang kali mengirim pesan pada Aline, Adik bungsu Sebastian, untuk meminta harta gono-gini.
Sebastian bukan tidak mau memberikan apa yang diminta mantan istrinya. Namun, karena mereka telah menandatangani surat perjanjian pra nikah, yang menyebutkan jika ada perselingkuhan, maka pelakunya tidak berhak mendapatkan harta bersama.
Sebastian yakin jika Keisha tahu tentang klausul itu, tetapi perempuan tersebut benar-benar kemaruk. Hingga Keisha melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati dari orang-orang terdekat Sebastian.
Pria berkemeja putih itu seketika menoleh ke belakang saat dipanggil ajudannya. Urfan bergegas mendatangi sang bos untuk menyampaikan pesan dari kuasa hukumnya di Jakarta.
"Syukurlah. Akhirnya selesai juga urusan harta itu," cakap Sebastian.
"Tapi kayaknya Ibu akan terus berusaha mendapatkannya, Pak," balas Urfan.
"Biarkan saja. Dia mau pakai pengacara top pun, tetap akan kalah. Karena status surat perjanjian itu sah di mata hukum negara."
Urfan mengangguk paham. "Ehm, Pak, besok, Komandan Wirya dan Komandan Zulfi mau datang."
Sebastian mengangkat alisnya. "Tumben mereka ke Singapura? Biasanya, kan, keluyuran di Australia atau Eropa."
"Mereka dapat tugas dari Komandan Varo, buat menangani mega proyek yang diikuti Baltissen dan Pramudya Grup."
"Pantas mereka yang datang, karena itu proyek penting."
"Bapak nggak join?"
"Modalnya gede, Fan. Nggak sanggup aku."
"Bisa gabung sama perusahaan lain."
"Kamu tahu? Cara berpikirmu cerdas sekali. Harusnya kamu jangan jadi ajudan, tapi pengusaha."
"Ya, pengusaha tahu."
"Bagusan tempe, lebih populer."
"Bapak nyebut itu, aku jadi pengen mendoan."
Sebastian berdecih. "Kamu bikin aku ngiler. Pesan sana. 20 biji!" titahnya yang segera dikerjakan sang pengawal muda.
***
Rinjani memandangi gerakan bayi di layar monitor dokter spesialis kandungan, yang menanganinya semenjak beberapa bulan silam.
Rinjani mengulum senyuman menyaksikan tingkah anaknya yang bergerak-gerak lincah di dalam kandungan.
Kendatipun menghadapi kehamilan itu tanpa didampingi suami, Rinjani sangat bahagia dengan kehadiran sang buah hati di perutnya.
Puluhan menit terlewati, Rinjani telah berada di taksi bersama Lidya, kakaknya yang mengantarkan Rinjani kontrol ke rumah sakit.
"Rin, Dina nanya, kapan bisa ketemu buat membahas detail acara resepsinya," tukas Lidya seusai membaca pesan dari temannya.
"Besok sore. Kebetulan bosku mau datang buat ngecek persiapan fashion show," terang Rinjani.
"Teh Mutiara?"
"Hu um. Katanya, bareng Teh Edelweiss dan Teh Ineke."
"Aku suka sama mereka. Ramah semua. Padahal istri konglomerat."
"Kata Cyra, semua istri bos PG dan PC serta PBK itu baik-baik."
"Kamu sudah kenal semua?"
Rinjani menggeleng. "Aku hanya tahu anggota keluarga Adhitama, sama Cyra dan tim PC Bandung."
"Di Bogor, nggak adakah?"
"Kalau nggak salah, ada beberapa anggota PC yang berasal dari sini, tapi aku nggak kenal."
"Kela', aku masih bingung, apa bedanya PG dan PC? Kalau PBK, aku tahu itu perusahaan jasa keamanan."
"PG adalah perusahaan gabungan. Anggotanya 50 bisnisman muda Indonesia. Setiap anggota PG menjadi mentor satu hingga empat anggota PC, yang merupakan perusahaan cabang."
"Hmm, apa PC itu semuanya milik anggota PG?"
"Teh Mutiara pernah bilang, kebanyakan anggota PC itu dari perusahaan pribadi. Hanya ada belasan perusahaan bentukan bos PG yang tergabung di PC." Rinjani berpikir sesaat, lalu dia berkata, "Tapi, kalau nggak salah, banyak bos PC bikin perusahaan baru, dan para direkturnya tergabung di PCD."
"Apa lagi itu, PCD?"
"PC Dua."
"Oh, kitu." Lidya manggut-manggut. "Si borokokok eta, nggak gabung, kan, ke PC?" desaknya.
"Setahuku, nggak. Dia, kan, cuma direktur operasional, Teh. Bukan owner perusahaan."
"Direktur oge tos balaga pisan eta jelema!"
"Biarin ajalah. Sudah bukan suamiku juga."
"Semoga anakmu nggak nurun sifat buruk bapaknya."
"Aamin." Rinjani mengusap perutnya yang membuncit. "Aku akan mendidiknya dengan keras, agar dia jadi pribadi yang sopan, setia dan bertanggung jawab," bebernya.
Lidya mengamati adiknya dengan saksama. "Aku khawatir, kehamilanmu akan mereka ketahui."
Rinjani mendengkus pelan. "Semoga itu nggak terjadi. Kalau pun bapaknya anak ini tahu, aku nggak akan pernah mengizinkannya untuk bertemu. Apalagi membawanya pergi dariku."
"Coba saja dia berani macam-macam. Aku dan suami akan menghajarnya."
Rinjani melirik perempuan yang tengah merengut di sebelah kirinya. "Teteh belum puas sudah ngelempar dia pakai asbak?"
"Belum," balas Lidya. "Aku, tuh, kesal, karena dia benar-benar nggak ada menghiraukanmu. Datang pun cuma ngomong nggak jelas gitu," lanjutnya.
"Enggak jelas, gimana?"
"Dia cuma menyerahkanmu kembali.ke orang tua kita. Tapi, sampai sekarang nggak ada ngasih kamu nafkah. Padahal hukum agama sudah jelas-jelas mewajibkannya untuk memberimu nafkah. Sampai kamu menikah kembali."
Rinjani menggeleng. "Aku justru senang dia nggak ngasih uang. Dengan begitu, nggak ada alasannya buat ngaku-ngaku anak ini sebagai darah dagingnya."
"Tapi, Rin, suatu saat anakmu akan menanyakan bapaknya."
"Gampang. Tinggal bilang, bapaknya sudah mati."
Sementara itu di tempat berbeda, Anton baru memasuki ruang kerjanya, seusai melakukan rapat dengan komisaris dan segenap petinggi perusahaan.
Anton duduk di kursi putar dan memijat dahinya yang tiba-tiba berdenyut. Dia menarik napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Berharap hal itu bisa menghilangkan kegundahan dalam d**a.
Anton mengkhawatirkan kondisi perusahaan, yang sudah beberapa bulan ini minim proyek. Dia sudah meminta asiatennya untuk menyelidiki hal itu, dan sedang menunggu orangnya datang.
Tidak berselang lama, seorang pria berkemeja cokelat memasuki ruang kerja Anton, sambil membawa satu bundel berkas.
Mardani duduk di kursi seberang meja kerja bosnya. Pria berkacamata itu meletakkan berkas di meja. Mardani mengecek deretan kalimat dalam kertas, sebelum menunjukkannya pada Anton.
"Sebagian proyek besar, sekarang dikuasai PC," ujar Mardani.
"Apa itu PC?" tanya Anton.
"Grup pengusaha muda, yang merupakan anak perusahaan PG."
"Aku tambah bingung."
"Mas kenal sama komisaris PG."
"Siapa?"
"Artio Laksamana."
Anton mengerutkan dahi. "Ehm, Pramudya?"
"Betul. Dia anak tertua Pak Sultan Pramudya."
"Berarti PC itu anak perusahaan Pramudya?"
"Beberapa saja. Sisanya milik perusahaan pribadi pengusaha muda Indonesia. Termasuk Pak Olavius Aristide, Kasyafani Suwardana, Farisyasa Kagendra, dan Arkhan Maheswara."
"Maksudmu, Ganendra Grup, kan?"
"Yups."
Anton berpikir sesaat. "Oke, lanjut tentang proyek."
"Aku sudah tanya-tanya, Mas. Jadi, karena banyak proyek dipegang PC, kita jadi sulit nembus tendernya. Terutama di Pulau Jawa."
"Maksudmu, mereka menguasai area sini?"
"Ya, dan sekarang mereka melebarkan sayap ke Sumatera, Bali, Lombok, Kalimantan dan Sulawesi."
Anton mendengkus pelan. "Apa kita nggak bisa nyelip?"
Mardani mengeleng. "Mereka memonopoli proyek. Bos PG hanya memberikannya pada anggota PC."
Anton melengos. "Kacau kalau begitu."
"Kalau mau, Mas bisa daftar jadi anggota PC Dua. Dengar-dengar, mereka lagi buka pendaftaran."
"Ke siapa?"
"Dirutnya. Pak Andri Kaushal."
"Kamulah yang daftar."
"Oke."