06
Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan.
Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan.
"Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu.
"Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian.
"Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam."
"Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam.
"Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja."
"Abizar?"
"Dia lagi jaga toko bapaknya."
Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU.
Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju lelaki tersebut. Lidya berbincang sesaat dengan perawat jaga, lalu dia mengarahkan sang tamu ke ranjang ujung di mana adiknya berada.
Sudut bibir Sebastian spontan mengukir senyuman, ketika tatapannya bersirobok dengan sepasang mata besar milik Rinjani, yang sedang berbaring di ranjang pasien.
Sebastian menyalami perempuan tua berjilbab hitam terlebih dahulu, kemudian dia duduk di kursi samping kiri ranjang. Lidya dan ibunya segera keluar untuk memberikan waktu kedua orang tersebut berbincang.
"Makasih atas bantuannya, Mas," tutur Rinjani dengan suara pelan.
"Kembali kasih, Rin," balas Sebastian. "Gimana kondisimu sekarang?" tanyanya.
"Masih lemas dan agak pusing."
"Semoga lekas membaik." Sebastian mengamati perempuan yang wajahnya masih pucat. "Aku di sini nggak lama. Mau langsung pulang ke Jakarta," lanjutnya.
"Hu um. Hati-hati."
"Aku sudah saved nomor hapemu. Kapan-kapan kutelepon."
"Ya."
"Aku nggak sempat beli kado buat anakmu." Sebastian mengambil amplop putih dari saku celana jin birunya. "Aku kasih ini dulu. Hadiahnya menyusul," sambungnya sembari memberikan benda itu ke tangan kanan Rinjani.
"Enggak usah repot-repot. Justru aku yang utang budi ke Mas."
"Setiap kelahiran itu harus dirayakan. Apalagi bayimu adalah anak pertama dan dia akan menjadi pelindungmu nanti."
Rinjani tertegun sesaat, sebelum dia mengangguk mengiakan. "Sekali lagi, terima kasih banyak Mas. Aku nggak tahu bagaimana nasibku, jika Mas nggak nolong aku kemarin."
"Aku hanya melakukan apa yang harus dikerjakan manusia pada manusia lainnya." Sebastian menepuk pelan punggung tangan Rinjani. "Pertemuan kita juga sudah diatur Tuhan. Aku senang, telah membantu seorang perempuan tangguh, dan juga menjadi saksi perjuanganmu menjadi seorang Ibu," ungkapnya.
"Cepat pulih, Rin. Anakmu membutuhkanmu," imbuh Sebastian. "Kalau ada waktu, aku akan mengunjungimu lagi," bebernya.
***
Sebastian tiba di rumah orang tuanya sore itu dan langsung diperenguti sang mama. Sebastian berusaha menahan senyuman, lalu mendekati cinta pertamanya tersebut.
Sebastian duduk di sofa sebelah kanan Eva. Tanpa ragu-ragu dia memeluk mamanya, lalu mengecup pipi perempuan berambut sebahu yang balas mendeliknya tajam.
"Ke mana kamu semalam?" tanya Eva.
"Di Bogor. Ada masalah yang harus diselesaikan," jawab Sebastian.
"Bukannya kongkow sama teman-temanmu?"
"Enggak. Mama bisa tanya ke Urfan."
Eva mendengkus pelan. "Opa nanyain kamu berkali-kali. Akhirnya Mama bilang, kamu lagi ke luar kota dan nggak sempat pulang."
"Nanti malam aku telepon Opa."
"Sekarang saja, toh."
"Capek, Ma. Aku pengen istirahat."
"Sudah makan?"
"Ya, tapi kalau Mama mau buatin aku bihun goreng, pasti kumakan sampai habis."
"Bihun nggak ada stok. Mama belum belanja lagi. Kalau mau mi goreng Jawa, Mama buatkan."
"Mau. Sekalian buat Urfan."
"Tunggu di sini, dan panggil Urfan masuk."
"Ya."
Eva berdiri dan melenggang menuju dapur. Tidak berselang lama terdengar percakapannya dengan asiaten rumah tangga.
Sebastian berbaring di sofa. Dia meraih ponsel dari saku celana dan menelepon sang ajudan, yang sedang berbincang dengan sopir keluarga di gazebo ujung kanan taman depan rumah.
Setelahnya, Sebastian menggulirkan jemari ke aplikasi pesan. Dia mengabaikan grup lainnya dan langsung menekan grup berlogo PC yang telah menge-tag namanya.
*Grup Tim 2 PC*
Zulfi Hamizhan : @Sebastian. Masih di Bogor?
Arnold Stevan : Kayaknya dia lagi tidur, @Zulfi.
Hans PCB : Bukan, Tian lagi ngamen di lampu merah.
Riko Mahardika : @Bang Hans. Unbelievable itu komentarnya.
Zeinharis Abqary (Zein) : Unpredictable.
Johan PM : Unexpected.
Hugo Baltissen : Understanding.
Stanley TVJS : Undur-undur.
Kedrick Rawikara : Aku bacanya, ubur-ubur.
Zulfi : Jadi ingat teman-temannya Yanuar.
Hans : Genk ubur-ubur?
Zulfi : Ya.
Hans : Ke mana mereka sekarang?
Zulfi : Masih usaha yang sama, Bang. Beberapa kali join sama EO Teh Mutiara dan Edelweiss.
Arnold : Aku kalau ingat cerita Yanuar ngerjain preman di Bali, pasti ketawa.
Riko : Itulah uniknya Yanuar. Ada aja idenya buat ngusilin orang.
Johan : Dari pertama kenal Sipitih itu, kelakuannya nggak berubah.
Hugo : Abang keduaku itu.
Stanley : Yang ketiga, siapa, @Hugo?
Hugo : Bang W. Keempat, Bang Yoga. Kelima, Bang Andri. Keenam, Mas Yon. Ketujuh, Bang Zulfi. Pokoknya total abangku ada 50.
Kedrick : Astaga! Banyak benar?
Hugo : Adikku lebih banyak. Hampir 100. Dan itu akan bertambah kalau para pengawal muda itu menikah.
Hans : Kamu, kapan nikah, @Hugo?
Hugo : Menunggu hilal, @Bang Hans.
Zulfi : Hugo nikahnya setelah Riaz.
Zein : Bukan. Beres Nirwan.
Riko : After Gumilang.
Arnold : Ujung-ujungnya Hugo jomlo seumur hidup.
Johan : Enggak bakal jomlo dia. Pasti dipaksa Babah Gustavo dan Emak Ira.
Kedrick : Ngebayangin Babang Hugo dijewer Emak, aku ngakak.
Sebastian : Hadir, @Zulfi.
Zulfi : Posisi, Bro?
Sebastian : Di rumah Mama. Baru nyampe beberapa menit lalu.
Zulfi : Aku telepon, ya.
Sebastian : Okay.
***
Sebastian segera menekan tanda hijau pada layar ponsel, ketika melihat nama Zulfi. Pria berkemeja putih pas badan, menempelkan ponsel ke telinga kanan dan menyapa rekannya dengan ramah.
"Aku dapat info dari Wirya, kalau kamu kemaren nolong staf WO-nya Teh Mutiara yang mau lahiran," ujar Zulfi dari seberang telepon.
"Ya, betul, Zul. Itu pun nggak sengaja. Aku baru keluar dari toilet waktu dengar ada yang minta tolong. Pas masuk ke toilet cewek, Rinjani lagi duduk di lantai dan tengah kesakitan," jelas Sebastian.
"Kondisinya sempat kritis, ya?"
"Yups. Deg-degan aku. Ngeri dia kenapa-kenapa."
"Sekarang, gimana keadaannya?"
"Waktu aku pamitan tadi, dia sudah lebih baik. Sempat ngeluh pusing dan lemas juga. Mungkin karena baru beberapa jam sadar dari koma."
"Orang habis lahiran memang butuh waktu lama buat lebih segar."
"Hu um. Kayak Kakak sepupuku dulu. Dia bilang, dua minggu setelahnya baru enakan."
"Tepat banget. Istriku juga ngomong gitu." Zulfi terdiam sejenak, kemudian dia bertanya, "Anaknya, cowok atau cewek?"
"Cowok, dan cakep banget. Mirip Rinjani."
"Ada fotonya?"
"Di hape Urfan. Tadi dia yang motret aku pas gendong bayi."
"Nanti kirim ke aku, Tian. Aku jadi penasaran."
"Siap."