Bab 07

1167 Kata
07 Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. "Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. "Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. "Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA. "Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. "Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. "Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. "Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan berambut sebahu. "Namanya, Astri. Masih single," terangnya. "Umurnya?" "26 tahun." "Tinggal di sini?" "Hu um. Rumah kami deketan." "Bolehlah. Orangnya manis juga." "Jangan banyak milih, Mas," celetuk Edelweiss. "Ho oh. Yang penting seiman, baik dan nggak banyak tingkah, sudah cukup. Urusan lainnya, bisa diselami sambil jalan," cetus Mutiara. "Betul itu. Pacaran lama juga belum tentu beneran baik. Banyak juga yang setelah nikah, baru kelihatan sifat aslinya," beber Tia. "Aku setuju. Jalani pendekatan sambil banyakin doa, supaya dia benar-benar jodoh terbaik buat kita," ungkap Shahnaz. "Eleuh-eleuh. Neng Shahnaz, meni bagus pantunnya," canda Netha yang menyebabkan rekan-rekannya tersenyum. "Aku cuma ngulang omongan kakakku, Tha. Dia, kan, gitu. Pacaran 3 tahun, lalu nikah. Ehh, baru juga setahun, bubar jalan karena lakinya ternyata poligami sama pacarnya di tempat proyek," ungkap Shahnaz. "Dia hanya tidak beruntung. Aku sama suami, pacaran 2 tahun. Alhamdulillah, pernikahan kami masih aman terkendali selama 7 tahun ini," papar Lidya. "Tepat sekali. Aku sama Mas Arkhan, pacarannya setahun lebih, dan kami masih bertahan bersama hingga sekarang," ungkap Mutiara. "Nah! Kalau aku, beda. Sama Koko Dante, nggak sempat pacaran," cakap Edelweiss. "Dikasih tahu orang tua, jika aku dijodohkan sama dia, bulan September. Oktober sampai November, aku masih musuhan sama dia," lanjutnya. "Hatiku terketuk, waktu dia jadi mualaf, di bulan Desember. Setelahnya, aku sudah nggak bisa ngelak buat nikah sama orang paling pede sedunia itu," sambung Edelweiss seraya tersenyum. "Lagi ngomongin aku, ya?" tanya Axelle Dante Adhitama, Presdir Adhitama Grup. Dia melenggang memasuki ruangan bersama Nadhif, ketua pengawal keluarga tersebut. "Koko panjang umur. Baru juga diomongin, sudah muncul," tukas Rio, salah satu model terkenal yang merupakan sahabat Mutiara dan Edelweiss. "Aku aminkan," ujar Dante sembari menyambangi Ambar dan menyalami perempuan berjilbab krem tersebut. "Sehat, Bu?" tanyanya. "Alhamdulillah. Pangestu," jawab Ambar. Dante berpindah menyalami Lidya. Kemudian dia mendekati ranjang pasien untuk bersalaman dengan perempuan berbaju hijau. "Hello, Mommy. Sudah baikan?" tanya Dante sembari menyalami Rinjani. "Ya, Pak. Terima kasih sudah datang," sahut Rinjani seraya tersenyum tipis. "Kata staf WO, kamu dibantuin Sebastian, ya?" Rinjani membulatkan matanya. "Betul. Apa Bapak kenal sama beliau?" "Ya. Kami sering kerjasama dalam banyak proyek PG dan PC." "Ehm, aku nggak tahu kalau dia anggota PG." "Bukan, dia tim PC. Kalau nggak salah, satu grup dengan Zulfi." "Aku kayak pernah dengar nama itu." "Zulfi, direktur keuangan PBK. Sekaligus dirut BPAGK. Dia melet adikku, Sabrina. Sampai mau nikah dengannya." Rinjani menyunggingkan senyuman. "Akhirnya ingat aku. Yang alisnya tebal, dan kalau senyum, manis banget." "Yups. Tapi tetap aku paling ganteng di keluarga Adhitama." "Hmm, ya." Rinjani mengingat-ingat sesuatu. Kemudian dia bertanya, "Bapak punya nomor telepon Mas Sebastian? Dia bilang, ada saved nomorku, tapi aku nggak tahu nomornya." "Ada. Bentar." Dante meminta ponselnya yang dipegangi Nadhif. Pria berkemeja biru pas badan, mencari kontak orang yang dimaksud, dan memberikannya pada Rinjani, yang segera menyimpan nomor itu di ponselnya. *** Dua unit mobil berbeda tipe dan warna, berhenti di depan bangunan dua lantai bercat krem, di kawasan Lebak Bulus. Beberapa orang keluar dan bergegas memasuki rumah, yang pintunya telah dibukakan seorang pria paruh baya. Sebastian menyalami penunggu rumahnya dan berbincang sesaat, sembari mengamati keempat OB kantor Anargya, yang tengah mengangkat perabotan dan memindahkannya ke mobil box besar. Setelahnya, Sebastian menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Dia memasuki ruangan yang pernah menjadi saksi kisah cintanya dengan Keisha. Sebastian terdiam sejenak sembari memindai sekitar. Dia seolah-olah melihat kelebatan Keisha, yang selalu berada di sofa dekat jendela, bila Sebastian memasuki kamar. Pria berkemeja marun menghela napas berat dan mengembuskannya sekali waktu. Sebastian menggeleng dua kali untuk mengusir kenangan itu. Sebelum dia mendekati lemari dan membuka pintu benda besar bercat putih. Selama puluhan menit berikutnya, Sebastian, Urfan dan keempat OB berjibaku memindahkan semua barang ke mobil box. Beberapa perabotan yang tidak terpakai, diberikan Sebastian pada sang penjaga. "Rumah ini sudah kujual, Pak. Dibeli temanku dan akan dijadikan mess buat pegawainya," tutur Sebastian sambil memberikan amplop putih pada lelaki tua tersebut. "Aku sudah bilang ke orang yang beli, kalau Bapak tetap dipekerjakan di sini, dan dia setuju. Jadi, Bapak nggak perlu khawatir, karena tetap dapat gaji bulanan," tambah Sebastian. "Ya, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya selama ini," jawab pria berkaus hitam sembari memandangi Sebastian saksama. "Bapak mau pindah ke mana?" tanyanya. "Ke Pasar Minggu. Temanku bikin kompleks perumahan kuldesak, dan aku beli di sana." Sebastian menepuk pelan lengan lelaki tua di hadapannya. "Kapan-kapan, Bapak dan Ibu juga mesti datang ke rumahku yang baru," pintanya. "Alamatnya nanti dikirim ke WA, Pak." "Ya, nanti Urfan yang ngurusin itu," balas Sebastian. "Aku pamit, ya, Pak," bebernya, sebelum bersalaman dengan sang penjaga. Tidak berselang lama, Sebastian telah berada di mobilnya. Lelaki berparas manis, memandangi sekeliling sembari membatin, jika dirinya akan jarang sekali ke tempat itu di masa mendatang. Kendatipun langit sudah gelap, tetapi jalanan masih padat. Urfan yang menjadi sopir, sekali-sekali akan menggerutu akibat pengendara motor yang serampangan. Setibanya di gerbang utama kompleks, seorang pria yang mengendarai motor matic, menjadi pemandu kedua sopir menuju cluster di mana rumah baru Sebastian berada. Sesampainya di tempat tujuan, Sebastian terkejut menyaksikan banyaknya orang yang tengah berkumpul di depan rumah rekannya, yang bersebelahan dengan kediaman barunya. Setelah mobil terparkir sempurna, Sebastian keluar untuk menyambangi rekan-rekannya sesama anggota PC. Mereka berbincang sembari mengamati sekelompok kuli panggul dadakan, yang sibuk memindahkan barang-barang, dari mobil box ke dalam rumah dua lantai. "Hen, kamu kapan mau ngisi rumah yang ini?" tanya Sebastian sambil menunjuk ke rumah nomor satu yang digabung dengan nomor dua. "Tahun depan," jawab Hendri. "Aku beresin dulu proyek di Cianjur, baru nempatin yang ini," terangnya. "Rumah yang lama, jadi dibeli Wirya?" desak Sebastian. "Bukan dibeli, tapi dirampas," seloroh Hendri. "Hen, Wirya dengar, pasti dia langsung mendelik," goda Zulfi. "Sahabatmu itu, makin lama makin sensi," keluh Hendri. "Tenang. Bentar lagi Hisyam pulang dari London. Abang iparmu itu bisa lengser dari dirut PBK, begitu juga aku dan Power Rangers lainnya. Kerjaan kami dilimpahkan ke tim Hisyam, dan kami bisa lebih santai," ungkap Zulfi. "Aku nggak percaya," sela Luthfan Baihaqi, yang memiliki rumah nomor 5, tepat di sebelah kanan kediaman Sebastian. "Itu cuma wacana. Ujung-ujungnya, Power Rangers tetap blingsatan kerja di luar negeri," ledek Brayden, pemilik rumah nomor 6. "Tim Hisyam cuma pajangan. Aslinya Power Rangers yang masih ngendaliin PBK," kelakar Zainal Ervansyah, penghuni rumah nomor 7 dan 8.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN