Bertemu

800 Kata
Suara dentuman musik menggema di dalam sebuah club malam tersohor. Seorang gadis memasuki club itu menerobos kerumunan orang yang sibuk menari sembari sesekali ia menoleh ke belakang. Memastikan seseorang yang sedari tadi mengikutinya tidak menemukannya. Lalu melangkahkan kakinya menuju meja bar. "Air putih" pintanya pada bartender, masih dengan menoleh ke arah pintu masuk. Sang bartender terkekeh "kalau hanya minum air putih kenapa tidak di rumah saja, nona?". Gadis itu menoleh mendelik "setidaknya aku harus menetralkan lambungku dulu dengan air putih sebelum meminum alkohol" "Jadi masalah apa lagi yang membawamu kesini?" Gadis itu menghembuskannya kasar seraya memangku dagu dengan sebelah tangannya. "Judul yang aku ajukan untuk proposal penelitianku masih saja ditolak oleh profesor Johnson, entah apa maunya pria tua itu. Astaga, dia sungguh membuatku gila" gadis itu menyugar rambutnya kesal. Sementara itu, seorang pria yang tengah meneguk minumannya begitu betah menatap gadis di depannya dari balik gelas minumannya. Gadis yang begitu luar biasa cantik. Ia mengenakan gaun hitam dengan panjang hanya sampai lutut hingga saat ia duduk membuat paha dan kaki jenjangnya cukup terekspos. Rambutnya dikuncir kuda, bibirnya berpoles merah. Membuatnya tidak hanya terlihat cantik, tapi juga seksi. Ya, ia sama halnya dengan kebanyakan pria di luar sana yang menyukai kecantikan dari seorang wanita. Ia beranjak menghampiri gadis itu lalu menduduki kursi yang berada tepat di sampingnya. Lalu ia menggeser gelas berisi minuman yang sama seperti yang diminumnya. "Cobalah, mungkin kau juga akan suka". Gadis itu melirik bergantian antara minuman itu dan pria sok akrab di sampingnya. Pria itu berbeda dengan pria-pria yang pernah ditemuinya di negara ini sebelumnya. Wajahnya seperti bukan orang Inggris. Namun ia tetap terlihat tampan dengan alis yang tebal, rahang tegas, hidung mancung namun tidak terlalu mancung dan bibir penuhnya yang merah alami juga jangan lupakan postur tubuhnya yang tinggi kekar. Gadis itu berdehem saat mendengar kekehan pria itu yang mungkin menyadari jikalau ia tengah mengamati fitur-fitur wajahnya. Lalu ia kembali melihat gelas itu sekilas sebelum mengalihkan lagi tatapannya pada si pria. "Kau pikir aku akan seperti gadis di film-film yang akan merasa tertarik dengan minuman yang disodorkan seorang pria asing hanya karena minuman itu memiliki warna menarik dan terlihat menyegarkan, lalu meneguk minuman itu, kemudian mabuk parah dan akhirnya kau boyong ke salah satu kamar?" Ucapnya dengan sekali tarikan nafas seraya mendelik angkuh. Pria itu terkekeh "aku hanya menawarkan, tidak ada sama sekali dipikiran ku hal semacam yang baru saja kau sebutkan". "Kau pikir aku akan percaya? Kau pikir aku juga tidak tahu bahwa sedari tadi kau terus memperhatikan ku. Kau itu– bolehkah aku duduk di pangkuan mu?" Ucapnya tiba-tiba mengubah topik yang begitu jomplang dengan perkataanya sebelumnya. "W-hat–" belum selesai ia berkata, gadis itu sudah beranjak lalu duduk di pangkuannya begitu saja yang membuat pria itu sedikit terbelalak. "Bisakah kau mencium ku juga?" "H-hah? Bisa apa–" Belum selesai rasa terkejutnya dengan gadis itu duduk dipangkuannya, sekarang ia meminta dicium. Ada apa sebenarnya dengan gadis ini?. "Tolong" ucapnya lirih dengan tatapan memohon. Pria itu menelan ludahnya, ia masih diam dan mencerna apa yang sedang terjadi, sebelum lalu perlahan ia mendekatkan bibirnya pada bibir pualam gadis di pangkuannya. Ciuman yang awalnya hanya sebuah kecupan itu berubah menjadi lebih menuntut saat gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada lehernya. Lalu satu tangan pria itu menangkup pipi gadis itu dan sebelah tangannya yang lain memeluk pinggangnya, memperdalam ciuman tak terduga itu. Setelah cukup lama saling memangut, lalu keduanya pun saling melepaskan. "Rayn" ucapnya menyebutkan namanya. "Bolehkan aku tau juga nama mu?". "Nala" Pun keduanya saling menatap lekat. Sebelum Nala mengalihkan tatapannya. Matanya berkeliaran seperti tengah mencari sesuatu. "Apa yang kau cari?" Rayn tidak melepaskan sedetikpun tatapannya dari Nala. Kedua tangannya pun masih memeluk pinggang gadis itu. Menikmati kecantikan yang dimilikinya yang terlihat semakin jelita dalam jarak dekat seperti ini. Sesekali ia juga menelan salivanya melihat bibir basah Nala bekas ciuman mereka. "Orang suruhan ayahku, dia mengikuti ku sejak memasuki club ini. Jika aku ketahuan lalu ia melaporkannya pada ayah, maka habislah aku" terangnya menjelaskan pada pria asing yang baru saja dikenalnya. "Maaf untuk yang barusan, aku tidak bermaksud seperti itu. Tadi dia tiba-tiba menoleh ke arah sini, aku takut dia langsung mengenaliku" ucapnya seraya melompat dari pangkuan Rayn begitu saja. Setelah itu, Nala meraih tas kecilnya di kursi yang di dudukinya sebelumnya dan beranjak pergi dari sana. Lalu sebuah tangan mencekalnya. "Kau mau ke mana?". "Aku harus segera pergi dari sini sebelum orang suruhan ayahku menemukanku" "Ke mana kau pergi? Biar ku antar" "Tidak perlu, aku membawa mobilku sendiri" "Apa kita akan bertemu lagi?" Nala sedikit melengkungkan senyumnya "mungkin" lalu ia kembali melarikan kakinya menembus orang-orang yang masih asyik menari. Rayn terus memperhatikan gadis itu sampai dia tidak lagi terlihat. Entah kenapa, ia merasa seperti tidak asing dengan gadis itu. Ia seperti pernah melihatnya, tapi ia sama sekali tidak mengingat kapan dan di mana itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN