Malam itu, semesta menjadi saksi betapa megahnya resepsi sebuah pernikahan yang digelar di sebuah resort tepi pantai. Seakan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Wiratama Grup dan Brawijaya Grup, dua pengusaha tersohor itu kini bersatu dalam sebuah ikatan keluarga. Memperluas kekuasaan mereka dalam dunia bisnis.
Mempelai wanita dirias dan dibalut gaun cantik nan anggun. Wajahnya berseri sarat akan bahagia. Begitupun dengan mempelai pria yang begitu gagah dan menawan dengan balutan tuxedonya.
Mempelai wanita yang merupakan seorang model kenamaan dan mempelai pria yang merupakan pengusaha muda yang tengah hangat diperbincangkan, membuat mereka menjadi rolle model bagi para penggemarnya di luar sana. Semua orang memperbincangkan mereka. Bahkan pernikahan mereka disiarkan di beberapa stasiun televisi. Berlebihan? Memang. Tapi itu kemauan princess Brawijaya sendiri.
Saat ini dia keluarga besar itu duduk di satu meja, menikmati kudapan mewah seraya menyaksikan persembahan penyanyi papan atas Indonesia. Lalu sebuah sapaan seseorang yang baru datang mengalihkan atensi mereka.
"Selamat malam semua, maaf kami terlambat" ucap seorang wanita paruh baya yang baru datang bersama keluarganya.
Hendarsyah Wiratama yang merupakan kepala keluarga Wiratama sedikit mendelik tidak suka. Sementara yang lainnya hanya menampilkan senyum tipis. Namun berbeda lagi dengan ekspresi yang ditampilkan sang mempelai pria. Bukan raut wajah tidak suka ataupun menyambut hangat. Tapi lebih ke terkejut atau terpana.
Di sana, di tengah hiruk pikuk orang-orang ataupun ditengah alunan merdu sang penyanyi, seakan tak terdengar. Bagi Rayn Sagara Wiratama dunia disekelilingnya seakan menjadi hening saat tatapannya terpaku pada seorang gadis yang berdiri di belakang bibi dan pamannya yang baru datang. Gadis itu, adalah gadis yang sama dengan seorang wanita yang ia temui di belahan bumi lain. Wanita yang selama ini ia cari-cari. Wanita yang dengan beraninya meminta ciuman darinya yang adalah orang asing. Juga wanita yang mampu membuatnya begitu penasaran hingga ia cari-cari keberadaannya, yang tak mampu ia hilangkan dari ingatannya.
Sekarang, meski dengan penampilan yang begitu jauh berbeda, ia mengenali gadis itu. Sungguh dia adalah wanita itu. Hanya saja, wanita yang dulu ia lihat begitu seksi kini terlihat begitu anggun dan manis. Untuk kecantikannya? Jangan ditanya lagi. Baik tampilannya yang dulu maupun yang sekarang, kecantikannya tetap sama. Jenis kecantikan yang dapat membuat pria sulit mengalihkan pandangannya. Ya, dia begitu jelita.
"Rayn, selamat atas pernikahanmu. Tante doakan semoga pernikahan kalian bahagia" ucapan selamat dari Maya membuat Rayn tersadar dari rasa terpananya. Ia berdiri sejenak lalu memeluk hangat adik dari ayahnya itu. Bergantian dengan suaminya yang merupakan pria berketurunan Inggris itu yang tengah menggendong seorang gadis kecil. Sementara bibi dan pamannya tengah memberi ucapan selamat pada mempelai wanita, Rayn kini menerima ucapan selamat dari- gadis itu.
"Selamat atas pernikahanmu" ucapnya mengulurkan tangan seraya tersenyum simpul. Namun ekspresi yang ditampilkannya terlalu biasa menurut Rayn, gadis itu tidak terlihat seperti mengenal dirinya. Mungkinkah dia sudah lupa padanya?.
Rayn meneguknya ludahnya kasar sebelum tersenyum lalu menjabat tangan gadis itu. "Terima kasih". Setelah itu tidak ada lagi, gadis itu melanjutkan memberi selamat pada istrinya lalu duduk di kursi yang telah disiapkan bersama ayah, ibu dan adiknya.
"Seharusnya tidak usah datang sekalian kalau setelat ini" gumam Hendarsyah yang masih bisa didengar semua orang.
"Hendar!" Tegur Hilda, istrinya. Lalu tatapannya beralih pada gadis kecil yang duduk dipangkuan ayahnya. "Puspa, sini. Apa Puspa tidak kangen Oma?" Hilda tersenyum mengulurkan tangannya.
Gadis kecil itu melirik ayah dan ibunya, lalu berjalan ke arah Hilda setelah mendapat anggukan dari ayah dan ibunya. Hilda langsung membawa gadis itu ke dalam pangkuannya, mengajaknya bicara dan bertanya banyak hal untuk mengurangi rasa tidak nyaman cucunya.
Dari pernikahannya dengan Hilda, Hendarsyah Wiratama memiliki tiga orang anak. Anak pertama adalah Wirga Wiratama, yang merupakan ayah dari Rayn, yang memiliki tiga orang putra. Anak kedua, Maya, dikaruniai dua orang putri. Sementara itu, anak bungsu, Risa, tidak memiliki anak setelah keguguran yang berujung pada pengangkatan rahimnya dan setelah bercerai dengan suaminya, Risa memilih untuk tetap melajang.
Hubungan Maya dengan keluarga besarnya memang tidak terlalu baik. Terutama dengan ayahnya, Hendarsyah. Hal itu disebabkan Maya yang menolak perjodohan yang telah diatur ayahnya dan memilih menikahi pria berketurunan Inggris yang berasal dari kalangan biasa. Karena hal itu, Maya mengunjungi kediaman ayahnya hanya saat ada acara-acara penting seperti ini saja.
"Sekar sayang, bagaimana kuliah mu, apa sudah selesai?" Tanya Hilda kemudian, membuat Rayn yang tadinya tengah menikmati kudapan menoleh saat mendengar neneknya memanggil nama gadis itu.
"Sudah oma, hanya tinggal menunggu wisuda saja" jawab Sekar diiringi senyum.
"Sekar?" Ucap Rayn tanpa sadar membuat beberapa orang di meja itu menoleh padanya.
"Iya, sepupumu putrinya tante Maya itu Sekar, apa kamu lupa Rayn? Padahal dulu kamu sering main bersamanya" Ucap Sonya, ibunya Raya.
Rayn menoleh pada ibunya "ah iya, sepertinya aku lupa. Itu sudah lama sekali"
"Ya bagaimana tidak lupa, mereka kan jarang sekali berkunjung ke sini" sahut Hendarsyah menyindir. Sikapnya membuat Maya, Anthony dan Sekar mengerjap tidak enak.
Sekar bahkan kini merasa kehadirannya dan keluarganya di meja ini seolah seperti orang asing. Padahal disini mereka juga merupakan keluarga inti. Sedari tadi yang bersikap hangat hanya neneknya saja. Terutama kakeknya, ia bahkan sekalipun menyapanya bahkan saat dirinya bersalaman tadi. Mereka justru lebih hangat pada keluarga sang besan. Seperti sekarang contohnya, kakeknya mengobrol dengan anak dari keluarga Brawijaya itu.
"Arsel, apakah setelah saudari kembar mu menikah, kalian juga akan melangsungkan pernikahan" ucap Hendarsyah begitu bersahaja bertanya pada cucu keluarga Brawijaya yang merupakan saudara kembarnya dari cucu menantunya.
Pria yang dipanggil Arsel itu tersenyum seraya menggenggam tangan gadis di sampingnya "mohon doanya, tuan"
"Tentu, aku selalu mendoakan" jawab Hendarsyah.
"Ngomong-ngomong tuan Hendar, dua cucu perempuan mu sangat cantik. Andai aku punya putra lain yang masih lajang, aku ingin mempersunting cucumu itu" sahut Arsa kemudian.
"Ah pak Arsa ini bisa saja, tapi memang ku akui cucu-cucuku memiliki paras yang rupawan" timpal Hendar sedikit tertawa membuat yang juga ikut tersenyum. "Akupun begitu beruntung mendapat cucu menantu secantik Ersa" lanjutnya kemudian, membuat Ersa yang duduk di samping Rayn tersipu.
Membosankan.
Itu yang Sekar rasakan sekarang. Apalagi sikap keluarga ibunya ini yang masih saja acuh tak acuh meski pria yang Sekar yakini ayah dari mempelai wanita itu berusaha mencairkan suasana. Dengan seksama, Sekar memperhatikan orang-orang yang duduk di meja itu. Hingga ia merasa sudah benar-benar tidak nyaman dan memutuskan untuk pergi dari sana.
"Ma, aku mau ke toilet dulu" izinnya pada Maya yang dibalas anggukan oleh ibunya.
"Saya juga permisi untuk menyapa teman-teman saya yang baru datang" ucap Rayn kemudian.
Ersa memegang tangannya "nanti aku nyusul" Rayn hanya mengangguk membalas.
Sekar berdiri bersandar pada pilar dengan memangku sebelah tangannya di d**a. Sementara tangan satunya lagi memegang orange jus yang ia ambil saat berjalan ke tempatnya berdiri sekarang. Matanya yang dihiasi bulu mata lentiknya itu memperhatikan orang-orang yang asyik bercengkrama di pesta mewah ini. Ia tahu bahwa keluarga dari pihak ibunya itu merupakan konglomerat dan termasuk kedalam jajaran 10 orang terkaya di Indonesia. Namun ia sungguh masih terpukau dengan pesta yang begitu megah yang gelar oleh Hendarsyah Wiratama untuk cucu kesayangannya itu. Meskipun sebenarnya tidak heran, mengingat keluarga yang menjadi besannya juga sama-sama crazy rich.
"Kita bertemu lagi, Nala" bisiknya seseorang tepat di dekat telinganya membuat Sekar sedikit menegang. Terutama saat ia mendengar nama Nala. Nama yang sering ia gunakan untuk orang-orang yang baru ditemuinya.
Sekar lalu menoleh dan matanya bertubrukan dengan mata Rayn yang tengah menatapnya lekat dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum tidak asing baginya. Juga jenis senyum yang berbahaya.