Kontrak Perjanjian

1151 Kata
"Kita bertemu lagi, Nala" bisikin seseorang tepat di dekat telinganya membuat Sekar sedikit menegang. Terutama saat ia mendengar nama Nala. Nama yang sering ia gunakan untuk orang-orang yang baru ditemuinya. Sekar lalu menoleh dan matanya bertubrukan dengan mata Rayn yang tengah menatapnya lekat dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum tidak asing baginya. Juga jenis senyum yang berbahaya. _ _ _ "Kamu– kenapa kamu tahu nama itu" Rayn tersenyum simpul lalu menyandarkan punggungnya pada pilar yang sama dengan memasukkan sebelah tangannya pada saku celananya. "tentu saja karena seseorang memperkenalkan nama itu padaku". "Tadi kamu bilang, kita bertemu lagi, tunggu–" Nala menjeda ucapannya. "Apa kita pernah bertemu?" Nala mengerutkan keningnya. "Bolehkan aku duduk dipangkuan mu? Apakah kau bisa mencium ku juga?" Rayn tersenyum penuh arti. "Sekarang apa kamu masih tidak ingat?" Lanjutnya seraya menaikan sebelah alisnya. Kedua mata Nala membelalak saat ia mengingat sesuatu "kau–" "Ya, aku pria yang kamu temui di club malam di London dua tahun yang lalu, kamu minta duduk dipangkuannya dan memintanya mencium mu" ucap Rayn mengutarakan apa yang memang dipikirkan Nala sekarang. "Jadi aku harus memanggilmu siapa sekarang? Nala atau Sekar hm?". Nala terkekeh lalu kembali meluruskan pandangannya ke depan "Sempit sekali dunia ternyata" ucapnya lalu meneguk minuman di tangannya. "Waktu itu aku bertanya bisakah kita bertemu lagi. Saat itu aku benar-benar berharap kita bisa bertemu lagi. Namun aku tidak menyangka, kita bertemu lagi tapu ternyata kamu adalah sepupuku" kali ini Rayn yang terkekeh, kekehan yang sumbang terdengar. "Nala, kenapa hal-hal menyangkut dirimu selalu tak terduga" lanjutnya, lebih terdengar seperti bergumam pada diri sendiri. "Aku juga tidak menyangka. Tapi itu tidak mengherankan. Mengingat kita jarang bahkan nyaris tidak bertemu sangat lama. Aku bahkan tidak ingat apakah dulu sekali kita pernah bertemu " "Aku pernah menggendong mu, Nala" Rayn tersenyum menoleh pada Nala yang saat ini juga tengah menoleh padanya. "Saat di club malam itu, aku sudah merasa bahwa kamu seperti tidak asing. Aku seperti pernah melihatmu tapi aku tidak ingat kapan dan di mana itu. Tapi sekarang–" Rayn menjeda ucapannya lalu meluruskan kembali pandangannya ke depan. "Aku ingat. Sekar Arumi Rahardja. Kalau tidak salah, terakhir kita bertemu kamu masih kelas 6 SD. Sementara aku baru masuk kuliah. Kita bermain bersama, aku juga menggendong mu untuk membantumu memetik buah mangga di halaman belakang rumah kakek. Aku suka sekali bermain denganmu, karena saat itu aku sangat ingin mempunyai adik perempuan. Setelah itu besoknya aku berangkat ke Aussie untuk kuliah di sana. Ku dengar semenjak itu kamu pun sudah semakin jarang berkunjung ke rumah kakek". Jelas Rayn bercerita dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya dan Nala memperhatikannya dengan lekat. "Hubungan kami bersama kakek dan yang lain memang semakin merenggang, aku tidak tahu apa sebabnya. Tapi aku selalu merasa tidak nyaman setiap kali bertemu dengannya. Itu juga alasan aku berdiri disini sekarang" ucap Nala pelan. Rayn kembali menatap Nala lalu tersenyum. Sebenarnya ia tahu apa penyebab kerenggangan antara kedua orangtua Nala dengan keluarganya terutama kakeknya. Sebenarnya dulu saat Nala masih kecil, Nala dan kedua orangtuanya cukup sering datang berkunjung ke kediaman Wiratama. Karena itulah ia dan Nala dulu cukup akrab. Namun setelah kakeknya tahu bahwa ayah Nala berbohong, lalu melihat kehidupan putri dan cucunya yang serba pas-pasan membuat kakeknya begitu marah. Kakeknya yang sedari awal memang tidak menyukai hubungan Maya dan Anthony semakin tidak menyukainya. Maya yang tidak mau menurut untuk meninggalkan Anthony juga semakin menambah kemarahan kakeknya, hingga membuat hubungan mereka semakin merenggang. Dan sejak itu, Rayn tidak pernah bertemu lagi dengan Sekar. "Ngomong-ngomong, kamu tidak membawakan hadiah pernikahan untukku?" Rayn mengangkat alisnya seraya tersenyum. Nala menoleh "bawa, aku titipkan pada mama" "Oh ya? Aku akan melihatnya nan–" "Rayn, kamu di sini" ucapan Rayn terpotong suara Ersa yang kini tengah menghampiri mereka. "Ah, ada Sekar juga" lanjutnya seraya tersenyum hangat pada Nala. "Iya kak" Nala balas tersenyum. Ersa lalu kembali mengalihkan tatapannya pada Rayn "kamu sudah menemui teman-temanmu?" Rayn mengangguk "sudah" "Kalau begitu ayo masuk, acara dansanya sebentar lagi akan dimulai" Ersa menarik tangan Rayn untuk kembali memasuki aula. - - - Jam menunjukkan pukul 01 : 30 saat para tamu sudah sepenuhnya pulang. Para keluarga yang menginap juga sudah memasuki kamarnya masing-masing. Termasuk kedua pengantin. Saat Ersa keluar dari kamar mandi, ia melihat Rayn tengah duduk di sofa seraya menyesap roko dengan tampilan sudah tidak serapi tadi. Saat ini ia hanya memakai kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku lalu dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Di atas meja di hadapannya terdapat sebuah map terbuka dengan satu buah ballpoint diatasnya. Kemudian Ersa tersenyum menghampirinya. Ia begitu cantik dengan piyama yang begitu seksi menampilkan lekuk tubuhnya. Ia lalu duduk di sofa satu lagi, bertepatan dengan Rayn menggeser map tadi ke hadapan Ersa. Ersa mengambil map itu "apa ini, Rayn?" "Kontrak perjanjian" Ersa menoleh cepat "lagi?" Tanyanya. Namun tak ada sahutan dari Rayn. "Rayn, bukankah kita sudah membuat kontrak perjanjian sebelumnya bersama keluarga kita?" Rayn mengangguk "memang, tapi itu perjanjian antar dua keluarga. Sementara map itu, berisi kontrak perjanjian antara kita saja" terangnya seraya kembali menyesap rokoknya. "Bacalah dulu, agar tidak ada drama saling menyalahkan ataupun saling menuntut nantinya" Ersa menghela nafasnya lalu mengalihkan tatapannya dari Rayn pada map di tangannya. Ia membaca isi kontrak perjanjian itu sampai habis dan ia tidak habis pikir dengan isi kontrak itu. Bagaimana bisa, di dalam kontrak itu berisi point yang mengatakan baik darinya ataupun Rayn bebas berhubungan dengan siapa pun dan masing-masing tidak berhak melarang. Perjanjian macam apa itu?. "Apa maksud point ke 4, Rayn?" Ersya menatap Rayn dengan sorot kecewa. Rayn mematikan rokoknya pada asbak sebelum menjawab. "Tidak ada cinta dalam pernikahan ini, Ersa. Jadi aku tidak mau kamu melarang ku memiliki hubungan dengan perempuan manapun. Akupun begitu, aku tidak akan melarang mu memiliki hubungan dengan laki-laki manapun" "Tidak, aku tidak mau. Untuk point yang lainnya aku setuju. Tapi tidak dengan point yang satu itu. Karena itu sama saja dengan melukai harga diriku, Rayn!" Nafas Ersa berhembus cepat dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Keluarga mu begitu banyak mengajukan syarat pra-nikah dan aku menyetujui semuanya bahkan ketika harus menempatkan perusahaan dalam kontrak itu. Sekarang aku hanya mengajukan syarat itu dan kamu keberatan?". Menetes kini aur mata Ersa. Sungguh ia tidak habis pikir dengan sikap seenaknya Rayn. Ia tahu pernikahan itu tidak berlandaskan cinta, namun bukan berarti ia juga ingin hubungan macam itu. Ia menyukai pria dihadapannya ini. Rayn pun tahu itu. Tapi kenapa pria ini tega sekali melakukan hal ini padanya. Mana mungkin ia bisa tahan melihat pria yang dicintainya, pria yang telah menjadi suaminya berhubungan dengan wanita lain. Tidak, ia tidak bisa menerima itu. "Aku tetap tidak mau, Rayn. Terserah kamu mau bilang apa. Aku tetap tidak mau menandatangani kontrak itu" ucap Ersa seraya melempar kasar map itu ke atas meja lalu beranjak menuju kasur. "Baiklah, terserah padamu juga. Namun jangan salahkan aku jika aku lebih bersikap seenaknya nanti" Setelah mengucapkan itu, Rayn lalu keluar dari kamar meninggalkan Ersa yang kini sudah menangis tersedu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN