Bangun tidur Rayn masih betah menatap dirinya di cermin seraya tersenyum-senyum memperhatikan lekat piyama yang dikenakannya. Piyama yang ia kenakan merupakan kado pernikahan dari Nala. Ya, gadis itu memberikan kado piyama couple berwarna navy dari brand terkenal.
Tadi malam, usai perdebatannya dengan Ersa, Rayn memilih memasuki ruangan tempat penyimpanan kado pernikahan dari kerabat dan teman-temannya. Lalu ia meminta pelayan mencarikan kado yang diberikan Maya. Dan benar saja, seperti yang dikatakan Nala, kado dari gadis itu berada diantara kado-kado yang diberikan Maya.
Saat melihat kado itu, Rayn dibuat tersenyum geli. Bagaimana tidak, kado itu di dengan kertas bergambar karakter donal bebek, pasangan karakter donal duck dan daisy duck. Setelah mendapat kado itu, Rayn kembali ke kamarnya. Kamar yang berbeda dengan kamar yang ditempati Ersa.
Kembali ke pagi itu, Rayn menuruni tangga dan menuju meja makan untuk sarapan bersama yang lainnya dengan masih memakai piyama tadi. Ia masih betah mengenakannya. Lagipula hari ini ia tidak akan ke kantor karena cuti pernikahan.
Setelah menduduki diri di kursi di sebelah Ersa, Rayn mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Namun ia tidak menemukannya. Ia melihat Alvin dan istrinya yang hanya kerabat ada disini. Tapi Nala dan orang tuanya juga adiknya yang merupakan anggota keluarga inti, tidak ada di meja makan itu.
"Di mana Nala?" Tanyanya.
"Nala?" Sonya mengerutkan kening mendengar nama yang disebutkan putranya.
Rayn memejamkan mata dan menggigit bibir. Ia lupa kalau yang orang-orang tahu Nala itu adalah Sekar. Karena memang itulah nama gadis itu sebenarnya. "Maksudnya, di mana Tante Maya, om Anthony, Sekar dan adiknya?" Ulangnya.
"Mereka sudah pulang" kali ini Risa, tantenya yang menjawab.
Rayn mengerutkan kening "pulang? Kenapa buru-buru sekali"
"Sekar 'kan seminggu lagi wisuda, jadi mereka harus segera berangkat ke London untuk persiapan wisuda Sekar" terang Sonya.
"Meskipun begitu, harusnya memang tidak perlu pergi sepagi itu" Sahut Wirga. Sementara Hendarsyah, Hilda dan Ersa hanya menyimak. Terutama Hendarsyah yang hanya acuh tak acuh fokus dengan sarapannya seolah tidak mendengar pembicaraan disekitarnya.
"Ngomong-ngomong, kapan kalian berdua berencana bulan madu?" Tanya Hilda menatap Rayn dan Ersa, mengalihkan pembicaraan.
"Ersa terserah Rayn saja, oma" jawab Ersa melirik canggung pada Rayn.
"Kami belum merencanakannya oma" timpal Rayn.
"Minggu depan, kelurga Brawijaya sudah mengaturnya. Kalian akan berbulan madu ke Swiss sesuai impian Ersa" sahut Wirga kemudian.
Rayn hanya menghela nafas. Ia tidak menolak maupun mengiyakan. Toh ia setuju atau tidak tetap tidak bisa menolak keinginan keluarga Brawijaya yang terhormat itu. Apa pun akan mereka lakukan untuk putri kesayangannya. Jadi Rayn hanya akan mengikuti alur yang harus ia perankan saja.
- - -
Satu minggu kemudian...
London, Cambridge University
Nala memeluk ayah ibunya bergantian lalu mencium adiknya setelah acara wisuda selesai. Kini mereka tengah berada di luar gedung, di halaman kampus diantara mahasiswa-mahasiswa lain yang tengah sibuk mengambil foto
"Selamat sayang, akhirnya kamu bisa lulus dengan IPK yang begitu memuaskan" Maya sekali lagi memeluknya seraya menangis haru.
"Makasih, mamm" Bala membalas erat pelukan ibunya.
"Kami bangga padamu, nak" ucap Anthony mengelus lembut kepala Nala setelah.
"Makasih papa, tanpa kalian aku tidak akan bisa sampai dititik ini" ucapnya setelah melepas pelukannya dengan ibunya.
"Aku juga bangga padamu, kakak hehe" ucap Puspa seraya menyengir, ikut-ikutan. Membuat Nala gemas hingga mencubit pipinya.
"Happy unofficially, Nala" ucapan selamat seseorang membuat Nala dan keluarganya menoleh.
Rayn berdiri di sana memegang buket bunga mawar merah yang begitu cantik. "Kak Rayn?" Ucap Nala.
"Rayn, kamu datang? Kapan kamu tiba?" Maya menghampirinya.
"Kemarin, tante. Kebetulan aku juga ada kerjaan disni dan mendengar kabar bahwa Sekar wisuda hari ini. Jadi aku datang" jelasnya.
"Terima kasih Rayn sudah menyempatkan datang ke sini" ucap Anthony tersenyum bersahaja.
Kemudian Rayn menghampiri Nala gendak memberikan buket bunga yang dibawakannya. Sebelum seseorang memanggil Nala, hingga gadis itu yang baru saja akan menerima buket Rayn tidak jadi mengambilnya dan menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Nala" panggil orang itu.
Seorang pria yang memakai jubah dan toga yang sama seperti yang dikenakan Nala, berjalan menghampiri dengan tangan memegang sebuah buket bunga lavender. Ia tidak sendiri, wanita dan pria paruh baya yang mungkin orang tua pria itu mengikuti di belakangnya.
"Kevin" Nala tersenyum begitu lebar lalu mereka saling berpelukan bahagia membuat Rayn berdecih.
Rayn terkekeh menatap buket mawar yang dibawanya bahkan tidak disentuh Nala sama sekali. Apa tidak bisa gadis itu setidaknya menerima dulu buket darinya? Keterlaluan.
"Sini biar Tante simpan bunganya" Maya tersenyum pengertian, meraih bunga di tangan Rayn.
Rayn balas tersenyum "makasih tan"
Maya hanya mengangguk tersenyum.
"Kak Rayn, bunganya boleh buat aku gak?" Kicau Puspa kemudian, menatap memohon pada Rayn.
Rayn menoleh, lalu ia berjongkok menyamakan tingginya dengan Puspa. Ia tersenyum pada gadis kecil itu. "Kamu suka bunganya?"
"Ya. Aku suka sekali bunga mawar" jawab Puspa bersemangat.
"Kalau begitu, Puspa boleh memilikinya" Rayn mencubit gemas pipi Puspa.
Nala memperhatikan interaksi manusia antara Rayn dan adiknya itu setelah sebelumnya saling mengucapkan selamat dengan Kevin. Biasanya Puspa sulit akrab dengan orang yang baru ditemuinya. Bahkan dengan Kevin saja yang sudah sering bertemu, anak itu sulit akrab. Tapi dengan Rayn yang baru dua kali bertemu sudah seakrab itu. Apa mungkin karena mereka masih saudara.
"Setelah ini, kami akan lanjut makan siang di restaurant dekat sini bersama Kevin dan keluarganya, apa kamu juga akan bergabung Rayn?" Ucap Anthony.
Rayn berdiri dari jongkoknya lalu tersenyum "tidak om, aku ada janji dengan klien setelah ini" tolaknya halus. Padahal sebenarnya ia tidak ada janji dengan siapapun. Karena memang ia datang jauh-jauh ke negara ini juga bukan karena urusan kerjaan. Tapi murni untuk menghadiri wisuda Nala. Tapi gadis itu sekarang pun masih sibuk mengobrol dengan pria tengil tanpa memperdulikan kehadirannya. Lalu sekarang Anthony mengajaknya makan bersama mereka, jelas ia tidak mau.
"Tapi sebelumnya, boleh aku berfoto dengan Nala?" Lanjutnya membuat Nala menoleh.
"Tentu saja, kenapa harus bilang segala Rayn, yaampun" ucap Maya membuat Rayn terkekeh.
Rayn kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya lalu mengetik sesuatu di sana. Tidak lama kemudian seorang fotografer datang menghampiri. Nala sedikit melongo dibuatnya. Tidak kaleng-kaleng, fotografer itu adalah fotografer yang dibicarakan teman-teman kampusnya yang memang sudah terkenal. Pertanyaannya, untuk apa Rayn seeffort itu? Astaga.
Rayn dan Nala kini berdiri di tempat yang disarankan sang fotografer lalu berpose sesuai arahan. Satu foto, dua foto, tiga foto, empat foto– entah berapa banyak mereka mengambil foto. Tidak hanya berdua, beberapa foto juga bersama keluarga Nala. Namun tidak dengan Kevin dan keluarganya. Sikap Rayn seolah menunjukkan rasa enggan yang membuat Kevin juga segan dan hanya menonton mereka berfoto ria.
Lalu setelahnya mereka berpisah. Nala dan Kevin juga keluarga mereka pergi ke restaurant untuk makan siang. Sementara Rayn kembali ke hotel tempatnya menginap.
Sampai di hotel, Rayn menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan kakinya menjuntai ke bawah. Lalu ia mengambil ponsel dan membuka file berisi foto-foto dirinya dan Nala yang baru saja dikirim fotografer. Rayn tersenyum-senyum sendiri melihat foto-foto itu. Sebelum sebuah panggilan masuk menghilangkan senyumnya.
"Iya, yah"
"Rayn, di mana kamu sebenarnya!"
Rayn menghela nafasnya sebelum menjawab "Surabaya" jawabnya asal.
"Jangan berbohong Rayn! Ayah t
ahu kamu ada di mana. Pulang sekarang. Kau tidak memikirkan akan semarah apa keluarga Brawijaya jika tahu kau memundurkan bulan madumu yang telah mereka atur?"
Rayn memutar bola matanya "ya, sore nanti aku ke bandara. Sekarang mau tidur dulu" ucapnya acuh.
— — —
Disisi lain, dengan wajah tertekuk kesal, Ersa mendatangi kantor ayahnya. Lalu ia langsung memasuki ruangan ayahnya tanpa embel-embel mengetuk terlebih dahulu. Ayahnya tengah menandatangani dokumen menoleh saat mendengar pintu dibuka cukup kasar.
"Ersa, tidak bisakah mengetuk dulu" ucapnya setelah menyuruh karyawannya pergi.
Ersa mendudukkan dirinya di sofa ruangan ayahnya. Arsa kemudian menghampirinya dan menghela nafas pelan saat melihat raut wajah tertekuk putrinya.
"Jadi ada apa kamu tiba-tiba datang ke kantor ayah?"
Ersa menoleh "Ayah seharusnya tidak perlu mengatur jadwal bulan maduku dan Rayn segala!".
"Ayah hanya berusaha menyenangkan mu, sayang" ucap Arsa lembut.
"Tapi Rayn tidak senang, ayah. Rayn tidak suka diatur-atur seperti itu. Biarkan kami yang memutuskan kemana dan kapan kamu berbulan madu"
"Maafkan ayah kalau begitu. Ayah pikir kamu akan akan senang karena dulu kamu pernah cerita ketika menikah nanti ingin bulan madu ke Swiss, jadi ayah menyarankan itu pada pak Wirga. Tapi ayah tidak tahu kamu akan marah saat ayah melakukannya" ucap Arsa tersenyum kecil.
"Aku sudah menikah, artinya aku sudah dewasa. Ayah tidak perlu terus menerus mengawasi ku lagi" Ucap Ersa, matanya berkaca-kaca. "Ini pernikahan ku, aku ingin ayah atau siapapun tidak ikut campur di dalamnya" pungkas Ersa seraya berdiri dari duduknya lalu pergi dari sana.
Arsa hanya bisa menatap nanar punggung putrinya yang kini tengah melangkah keluar dari ruangannya. Beberapa bulan ini, setelah ia memutuskan kembali dan menikah dengan Elina, ia terus berusaha mendekati putrinya itu. Berharap ia dan Ersa bisa dekat dan menghabiskan waktu sebagai ayah dan anak yang tidak sempat ia lakukan ketika Ersa kecil dulu. Tapi ternyata sulit sekali mengakrabkan diri dengan Ersa. Ia masih merasa seperti orang asing bagi anaknya sendiri.