BAB 9

1090 Kata
Bab 9 Dita duduk di depan mesin cuci, memasukkan seragam sekolah Keelan yang berwarna putih ke dalam mesin. Dia mencoba menjalani rutinitas sehari-harinya, tetapi pikirannya masih terganggu oleh perdebatan panjang yang terjadi beberapa hari yang lalu. Perasaannya bercampur aduk tentang perbedaan pendapat antara Dimas, keluarga mereka, dan dirinya sendiri. Ketika dia memasukkan deterjen ke dalam mesin cuci, mata Dita tertuju pada seragam putih Keelan. Dia melihat noda merah yang mencolok di salah satu bagian lengan seragam itu. Pakaian putih yang dicuci bersih tiba-tiba berubah menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan. Dita segera mengambil seragam itu dari mesin cuci dan meneliti noda darah tersebut dengan cemas. Pikirannya mulai melayang ke berbagai kemungkinan, dan kekhawatirannya tumbuh ketika dia menyadari bahwa seragam itu adalah milik Keelan. Sambil mencoba merendam noda tersebut dengan hati-hati, Dita merenung tentang perdebatan panjang yang berhubungan dengan garis keturunan dan perasaan keluarga mereka. Dia merasa seperti semuanya semakin rumit, dan melihat noda darah ini membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres dalam keluarganya. Dita terus mencoba membersihkan noda tersebut dengan hati-hati, sambil berpikir tentang bagaimana dia dapat membantu menjembatani perbedaan mereka dan membawa harmoni kembali ke keluarganya. Meskipun perdebatan telah berlalu, tantangan keluarganya masih terasa di setiap sudut rumah mereka. Saat Dita mencoba membersihkan noda darah pada seragam putih Keelan, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Hatinya berdegup lebih cepat ketika dia mengambil celana sekolah abu-abu Keelan dari keranjang cucian yang berdekatan. Ketika dia memeriksa celana itu, dia menemukan banyak noda darah yang bahkan lebih banyak daripada pada seragam putihnya. Dita merasa panik dan bingung. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Keelan, tetapi noda darah yang banyak ini adalah tanda-tanda yang tidak biasa. Pikirannya mulai memutar-mutar berbagai kemungkinan, dari kecelakaan hingga cedera yang serius. Sambil berusaha untuk tidak panik, Dita mencoba membersihkan noda-noda darah di celana tersebut, tetapi semakin banyak yang dia cuci, semakin banyak yang dia temukan. Dia merasa khawatir dan ingin tahu apa yang terjadi pada Keelan. Dalam hatinya, Dita merenungkan tentang cara untuk mendekati Keelan dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia ingin memastikan bahwa adik iparnya ini baik-baik saja dan tidak berada dalam situasi yang berbahaya. Sambil mencoba membersihkan celana itu, Dita juga merenungkan tentang bagaimana dia dapat mencari cara untuk membantu memperbaiki hubungan rumit yang sedang terjadi dalam keluarganya. Kejadian ini semakin menguatkan tekadnya untuk menjembatani perbedaan dan membawa harmoni kembali ke keluarganya, terlepas dari semua konflik yang mereka hadapi. Setelah Dita selesai mencuci pakaian Keelan dan membersihkan noda darah yang mencurigakan, dia merasa bahwa dia perlu berbicara dengan Dimas. Dia merasa bahwa ini adalah masalah yang perlu mereka bahas bersama sebagai pasangan. Dita mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas. Setelah beberapa kali nada panggilan, Dimas akhirnya menjawab teleponnya. "Halo, Dita. Ada apa?" Suara Dimas yang lembut dan penuh perhatian membuat Dita merasa sedikit lebih tenang. "Dimas, aku punya sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa kita bertemu sebentar setelah kerjamu selesai?" Dimas merasa ada kekhawatiran dalam suara Dita. "Tentu, Dita. Apa yang terjadi?" Dita menjelaskan situasi dengan Keelan, bahwa dia menemukan noda darah yang mencurigakan pada pakaian adik iparnya itu. Dia menjelaskan bahwa dia merasa perlu mencari tahu apa yang terjadi pada Keelan, apakah ada sesuatu yang perlu mereka ketahui atau bantu. Dimas merespons dengan pemahaman. "Tentu, Dita. Kita harus mencari tahu apa yang terjadi dengan Keelan. Aku akan segera pulang, dan kita bisa membicarakan lebih lanjut tentang langkah apa yang harus diambil." Dita merasa lega bahwa Dimas mendukungnya dalam situasi ini. Mereka berdua sepakat untuk berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Keelan dan bagaimana mereka dapat membantunya. Setelah berbicara dengan Dimas, Dita merasa lebih tenang, meskipun masih khawatir tentang situasi dengan Keelan. Dia berharap bahwa mereka bisa membantu adik iparnya itu dan juga menjalin kembali kedekatan dalam keluarga mereka yang sedang diuji. Dita memasuki kamar Keelan dengan hati yang penuh perhatian. Ketika dia melihat sekeliling, dia langsung merasa khawatir. Kamar Keelan sangat berantakan, dengan pakaian, buku-buku, dan barang-barang berserakan di lantai. Bahkan, ada bau tidak sedap yang mencuat di udara. Dia berjalan perlahan-lahan melintasi kamar, mengamati setiap sudutnya. Pakaian kotor bertumpuk di sudut-sudut kamar, buku-buku berserakan di sepanjang lantai, dan tempat tidur Keelan tidak rapi. Dita merasa ini bukanlah tanda-tanda baik. Kemudian, matanya tertuju pada sesuatu yang lebih mencemaskan. Di sudut kamar, dia melihat beberapa pisau lipat berserakan. Dita mengernyit dan merasa semakin khawatir tentang apa yang sedang terjadi dengan Keelan. Tidak hanya itu, ada catatan-catatan kecil yang tergeletak di atas meja kecil di dekat tempat tidur Keelan. Dita meraih satu dari catatan tersebut dan membacanya. Dita membaca catatan tersebut dengan hati yang semakin berat. Isinya tidak hanya berisi kata-kata yang merendahkan dan menghina Keelan, tetapi juga mencakup penghinaan yang sangat kasar dan vulgar. Beberapa catatan bahkan menyebutkan bahwa Keelan seharusnya tidak ada di dunia ini dan bahwa dia hanya menjadi beban bagi semua orang. Air mata mulai menggenang di mata Dita saat dia merasa sangat marah dan sedih. Ini adalah bentuk bullying yang sangat kejam, dan dia tidak bisa memahami bagaimana seseorang bisa menjadi begitu jahat terhadap adik laki-laki yang baik hati seperti Keelan. Dita tahu bahwa Keelan adalah seorang remaja yang sensitif, dan perasaan dan harga dirinya mungkin telah hancur oleh perlakuan yang kejam ini. Dia merasa bahwa ini adalah tanggung jawabnya untuk melindungi dan mendukung Keelan, tidak hanya sebagai adik iparnya, tetapi juga sebagai anggota keluarga. Dengan hati yang penuh emosi, Dita mengumpulkan semua catatan tersebut. Dia tahu bahwa langkah pertama adalah untuk membicarakan ini dengan Dimas dan keluarganya. Tindakan perlu diambil untuk menghentikan perilaku ini dan melindungi Keelan. Dengan hati yang masih dipenuhi kemarahan dan kepedihan, Dita memutuskan untuk membersihkan kamar Keelan. Dia merasa bahwa membersihkan dan merapikan kamar tersebut adalah langkah pertama dalam memberikan dukungan padanya dan memastikan bahwa Keelan memiliki lingkungan yang nyaman. Dita mulai dengan merapikan pakaian-pakaian yang berserakan di lantai. Dia mencuci pakaian-pakaian tersebut, mencoba menghilangkan noda darah yang sudah mengering. Ini adalah tugas yang sulit, tetapi Dita melakukannya dengan tekad. Selanjutnya, dia mengumpulkan buku-buku yang berserakan dan menata mereka dengan rapi di rak buku. Dia ingin memastikan bahwa Keelan memiliki tempat yang tertata dengan baik untuk belajar dan menghabiskan waktunya. Dita juga membersihkan tempat tidur Keelan dan mengganti seprai yang kotor. Dia ingin menciptakan tempat yang nyaman bagi Keelan untuk beristirahat dan merasa aman. Selama proses membersihkan kamar, Dita terus berpikir tentang catatan-catatan kejam yang dia temukan. Dia merasa semakin bertekad untuk membantu Keelan menghadapi bullying ini dan memastikan bahwa dia tahu bahwa ada orang yang peduli dan mendukungnya. Ketika dia selesai membersihkan kamar, dia berharap bahwa ini akan menjadi langkah awal untuk membawa perubahan positif dalam kehidupan Keelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN