bc

Kesuksesan Membuatku Lupa Diri

book_age18+
7
IKUTI
1K
BACA
rejected
like
intro-logo
Uraian

Di sebuah Desa ada gadis yang terlahir dari keluarga sederhana yang serba kekurangan. Hampir semua tetangga dan kerabatnya tidak peduli, bahkan menghinanya. Hinaan demi hinaan membuat mereka sedih."Pergi sana, jangan ngutang di warung saya" ucap salah satu penjaga warung.Anak perempuan itu pun merasa sakit hati, akhirnya dia pun merantau ke kota dan berharap pulang pulang membawa uang yang banyak.Dan siapa sangka, dengan kegigihan anak perempuan itu pun mampu mencapai kesuksesan di usia 21 tahun. Tetangga, kerabat, dan yang lainnya pun menjadi baik dan menganggapnya saudara. Berbanding jauh saat dulu ia belum sukses.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Permulaan
Disebuah desa ada gadis bernama Rara Utami, dia anak kedua dari Jaka dan Winda. Rara hanya sekolah sama SMP, karena dirinya mengalah demi adiknya sekolah. Adiknya bernama Nida Nindia. Rara dan Nida adalah adik kakak yang penyayang saling membantu. Namun kehidupannya tidak sesuai yang Rara inginkan, dirinya dan keluarganya selalu mendapatkan hinaan dari saudara dan tetangganya karena mereka hanyalah orang tidak mampu. Seperti biasa Rara membantu ibu dan bapaknya di kebun kecil yang mereka tanami singkong dan ubi jalar. "Rara, tolong ambilkan bakul di dapur ya" ucap ibunya Rara. "Iya bu" jawab Rara. Saat Rara masuk rumah, tiba tiba Nida pulang sekolah sambil menangis. "Kamu kenapa Nida?" Tanya Rara. "Nida di ledek sama temen temen Nida kak, gara gara Nida belum bayar SPP sekolah. Terus barusan pas Nida lewat depan rumah tetangga, ibu ibu pada bilang sepatu Nida udah jelek harus ganti. Terus katanya kalo gak mampu beli sepatu jangan sekolah aja" ucap Nida sambil menangis sesenggukan, mendengar hal itu, Rara pun sedih dan meteskan air matanya. "Udah ya Nida jangan sedih, nanti kalo Kakak, Ibu, sama Bapak udah punya uang, kami akan bayar SPP kamu. Kamu sabar ya" ucap Rara sambil mengusap punggung Nida, Nida pun hanya mengangguk. "Rara, mana bakulnya" ucap ibunya di dapur. "I-ini bu, maaf barusan Rara abis nenangin Nida bu" ucap Rara. "Memangnya kenapa Nida?" Tanya ibunya. "Katanya Nida di ledek sama temen temennya karena belum bisa bayar SPP dan barusan pas pulang sekolah ada ibu ibu bilang sepatu Nida udah jelek, kalo gak mampu beli sepatu katanya gak usah sekolah aja. Hati Rara sakit banget bu kalo Nida atau orang tua Rara di hina sama orang lain, apa lagi sama sodara sendiri" ucap Rara sambil meneteskan air matanya. "Sudah sudah, anak anak ibu jangan nangis ya. Kita harus sabar, semoga allah beri jalan dan beri rezeki yang melimpah buat kita, dan buat kamu sekolah Nida" ucap Ibunya sambil tersenyum. "Iya bu" ucap Rara dan Nida berbarengan. "Ya udah Nida ganti baju ya, kalo mau makan itu ibu udah masak nasi sama tempe goreng. Ayo Rara kita ke kebun lagi" ucap Ibunya, Nida pun hanya mengangguk. Rara dan Ibunya pun kembali ke kebun untuk memanen ubi jalar. "Pak, Nida di ejek lagi sama teman temannya gara gara belum bayar SPP, terus pas pulang sekolah tetangga ejek Nida gara gara sepatunya udah jelek" ucap ibunya Rara. Bapaknya Rara pun langsung menangis mendengarnya. "Eh pak, bapak kenapa nangis?" tanya ibu. "Bapak gak tega buk liat anak anak kita haris menderita" ucap bapak. "Bapak jangan gitu, kita udah usaha yang terbaik. Mungkin ini belum waktunya allah angkat derajat kita, kita harus sabar" ucap ibu. "Iya buk, ya udah sekarang kita bantu Rara panen ubi. Kasian itu Rara udah kecapean panas panasan" ucap bapak. "Iya pak mari" jawab Ibu. Bapak dan ibunya Rara pun segera menghampiri Rara. "Ra, kamu duduk dulu aja disana, ini biar bapak sama ibu yang lanjutkan" ucap bapak. "Gak usah pak, Rara mau bantu bapak sama ibu. Biar pekerjaannya cepat selesai" ucap Rara sambil tersenyum. "Baiklah Ra kalo itu mau kamu" ucap bapaknya sambil tersenyum. Rara dan kedua orang tuanya pun memanen ubi sangat banyak sekali. "Ibu, bapak, kak Rara" teriak Nida sambil berlari ke arah mereka. "Iya Nida, ada apa?" tanya Ibu. "Nida kesini mau kasih surat ini. Ini dari guru Nida" ucap Nida dan memberikan surat. "Ayo Rara kamu baca apa isi suratnya" ucap bapak. "Iya pak" jawab Rara, Rara pun langsung membacanya dengan keras supaya ibu dan bapaknya bisa mendengarkan juga. Dan mereka mengucap syukur, kedua orang tua mereka langsung bersujud. "Alhamdulillah Nida, kamu dapet beas siswa nak" ucap ibunya dan langsung memeluk Nida. "Nida, kakak bangga banget sama kamu" ucap Rara. "Iya kak, ini juga kan berkat kaka yang selalu ajarin aku. Makasih ya kak" ucap Nida. "Iya sama sama Nida" ucap Rara sambil tersenyum. "Nida, kamu harus gunakan kesempatan ini sebaik mungkin, kami harap kamu bisa sukses di kemudian hari" ucap ibu. "Iya bu Aamiin" ucap Nida sambil tersenyum, mereka pun langsung berpelukan. "Ya udah, ibu sama bapak lanjut kerja lagi ya. Kamu sama kakak kamu masuk aja ke dalam, kalian makan ya" ucap ibu. "Nanti aja bu, kita makan bareng bareng ya" ucap Rara. "Iya bu, makan bareng lebih seru" ucap Nida. "Ya sudah, ibu sama bapak lanjutkan dulu pekerjaannya ya" ucap Ibu. "Rara bantu bu, biar cepet selesai" ucap Rara dan langsung membantunya. "Nida juga bantu ya bu" ucap Nida, akhirnya mereka pun memanen ubi bersama sama. Apapun yang dilakukan secara bergotong royong, itu akan cepat selesai. "Sudah cukup, ayo kita masuk" ucap bapak. "Ya sudah Rara, kamu bawa ubi ini ya. Mau ibu rebus, sekalian kamu cuci dulu ya" ucap Ibu. "Iya buk, ayo Nida" ucap Rara. "Ayo kak" jawab Nida. Ibu dan bapaknya pun lanjut memetik daun singkong untuk lauk mereka makan. "Buk, bapak bersyukur banget punya anak anak seperti mereka. Udah cantik, baik, nurut, rajin lagi" ucap bapak. "Iya pak, ibu juga bangga. Semoga mereka rezekinya lancar ya pak" ucap ibu. "Iya buk" jawab bapak. "Udah pak segini juga udah banyak" ucap ibu. Ibu dan bapak pun segera bersih bersih dan masuk rumah. Ibu segera masuk dapur, dan ternyata ada Rara dan Nida yang sedang merebus ubi. "Eh kalian, udah biar ibu aja ya. Sekalian mau rebus daun singkong" ucap ibu. "Gak papa bu, biar kita aja. Ibu istirahat aja sama bapak" ucap Rara. "Memangnya gak papa ibu tinggal?" tanya ibu. "Gak papa buk, ibu istirahat aja ya" ucap Nida. "Ya sudah, ibu istirahat dulu ya. Kalo ada apa apa panggil ibu aja" ucap ibu sambil tersenyum dan langsung masuk ke dalam rumah. Terlihat ada bapak yang sedang tertidur tanpa mengenakan baju, mungkin saking kecapeannya. Ibu pun ikut merebahkan tubuhnya di lantai tanpa di alasi tikar. Beberapa menit kemudian, saat ibu dan bapak tengah terlelap. "Ibu, ibu, ubi nya sudah matang" ucap Rara yang membangunkan ibunya. "Pak, bapak, ubi nya sudah matang" ucap Nida yang membangunkan bapaknya. "Eh iya nak, sudah matang? Maaf ibu ketiduran" ucap Ibu yang langsung bangun, bapak pun juga ikut bangun. "Gak papa buk, ibu sama bapak kan kecapean. Mending kita makan sekarang yu" ucap Rara sambil tersenyum. "Ya sudah, ayo pak" jawab ibu. Mereka pun segera duduk menghadap nasi yang lauknya daun singkong, ada juga ubi rebut sebagai cemilan. "Ini bu nasinya" ucap Rara yang memberikan piring berisikan nasi. "Makasih nak" ucap ibunya sambil tersenyum. "Sama sama buk" jawab Rara sambil mengangguk dan tersenyum. "Dan ini untuk bapak" ucap Rara sambil memberikan nasi di piring. "Makasih Nida" ucap bapak sambil tersenyum. "Sama sama pak" ucap Nida sambil tersenyum juga. Mereka pun segera menyantap makanannya masing masing. Bapak melirik ke arah istri dan anak anaknya. "Buk, Rara, Nida, maafin bapak ya. Bapak belum bisa kasih kehidupan yang layak untuk kalian" ucap bapak. "Bapak, bapak gak usah ngomong gitu, ibu sama anak anak udah bersyukur bisa makan" ucap Ibu sambil tersenyum. "Iya pak, lagian Rara seneng dengan kehidupan kita. Kita lebih banyak waktu, sedangkan orang orang diluaran sana yang kehidupannya serba ada dan mewah, mereka tidak ada waktu untuk kumpul bareng keluarganya sendiri" ucap Rara. "Iya pak, Nida juga seneng hidup seperti ini, ya walaupun tiap sekolah dan pulang sekolah Nida selalu di ejek. Tapi Nida gak papa, Nida bakal buktikan kalo Nida bisa jadi orang sukses" ucap Nida. "Kakak yakin kamu bisa" ucap Rara sambil tersenyum. "Makasih kak" ucap Nida sambil tersenyum. "Ya sudah bapak mau mandi dulu ya" ucap bapak dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. "Ya sudah bu, kak, Nida masuk kamar dulu ya. Ada tugas sekolah yang belum Nida kerjain" ucap Nida. "Iya Nida" ucap ibu, dan Rara pun mengangguk dan tersenyum. Rara dan ibunya pun segera membereskan bekas makan mereka. "Ibu, sepertinya itu memikirkan sesuatu? Ibu ada apa?" tanya Rara. "Ibu gak papa Ra, ibu cuka kasian sama adik kamu. Bagaimana caranya ibu bisa membelikan sepatu, sedangkan uang ibu cukup untuk bayar SPP sekolahnya saja" ucap ibu yang langsung meneteskan air matanya. "Sebentar bu" ucap Rara yang langsung pergi ke kamarnya. "Bu, ini ada tabungan Rara. Bisa ibu pake buat beli sepatu Nida" ucap Rara. "Tapi Ra, ini kan tabungan buat kamu kuliah" ucap ibu. "Gak papa bu, Nida lebih penting" ucap Rara sambil tersenyum. "Makasih ya Ra, besok ibu ke pasar buat beli sepatu Rara" ucap Ibu sambil tersenyum dan langsung memeluk Rara. "Iya bi sama sama" ucap Rara.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook