Entah kenapa Rahmah mencurigai keadaan Wenny, sampai yakin bahwa cucunya itu sedang mengandung. Wenny dan Natta hampir bisa dikatakan tidak pernah berselisih paham, lalu akhir-akhir ini mereka berselisih dan mempersoalkan anak, dan menurutnya ini tidak biasa. Sekarang, wajah Wenny pucat pasi, mengeluh mual dan pusing di kepala. “Test pack?” delik Wenny heran. Rahmah menyuruh Laras untuk segera membelikan test pack kehamilan di apotik terdekat, yang buka dua puluh empat jam. Laras bergegas ke luar kamar tanpa membantah sedikitpun, ikut senang seandainya keponakannya benar-benar hamil. “Iya, kamu jangan sembarangan minum obat dulu, Wenny. Bisa bahaya buat janin kamu,” “Nenek? Emangnya aku … hamil?” tanya Wenny sambil memegang perutnya yang sekarang tidak terasa mual. Tentu saja Wenny ti

