Menjelang tidur, Wenny menceritakan kepada suaminya tentang apa yang dia bicarakan dengan nenek Rahmah pagi tadi di teras belakang, sambil menikmati kudapan pagi sekaligus menunggu kakek Poer dan Natta yang berolah raga pagi. Wenny akhirnya pasrah seandainya dia dan Natta tidak dikaruniai anak, karena masing-masing mereka memiliki garus turunan yang sukar memiliki anak, meskipun pada akhirnya berhasil setelah bertahun-tahun lamanya menunggu. Natta hanya tertawa kecil, sedikit aneh akan sikap istrinya yang menyinggung tentang anak. Padahal mereka berdua sudah sepakat untuk tidak lagi menyinggung anak dan tidak terlalu memikirkannya. Tapi malam ini Wenny justru membicarakannya, dan wajahnya agak sedih saat bercerita. “Maaf, Natta. Kalo aku terlalu terbawa perasaan. Kadang aku merasa sepi,”

