Wenny dan nenek Rahmah terlihat asyik menikmati suasana pagi di halaman belakang, ditemani singkong rebus dan teh panas, ada juga biskuit gandum dan kue lapis. Mereka duduk sambil memperhatikan Natta dan kakek Poer yang sedang joging bersama. Saat kedua laki-laki berbeda generasi tersebut berhenti, Natta memimpin gerakan ringan untuk mengolah otot untuk laki-laki usia kakek Poer. “Suami kamu itu, Wen. Baik dan apik. Lembut hatinya, sopan sama orang tua, tapi nggak cari muka. Nenek baru ingat dulu papa kamu itu waktu awal-awal menikah, sudah pandai mengatur, mengajak mama kamu tinggal di Jakarta. Padahal sebenarnya Nenek kepinginnya mereka tetap tinggal di sini. Hm … mama kamu, ‘kan anak Nenek satu-satunya. Jadi, dulu itu Nenek dan Kakek sangat kesepian.” Wenny senang mendengar pujian nen

