Meskipun sedih, satu hal yang membuat Alana senang adalah David selalu mau menjawab pertanyaannya. “Aku tidak bodoh, Alana. Aku ajukan keberatan tuntutan harta dari pihaknya yang tidak masuk akal. Aku berjuang mati-matian mengumpulkan bukti-bukti bahwa dia mengkhianatiku ketika kami masih menikah. Aku menang di pengadilan. Tapi aku tetap memberinya rumah untuknya, karena dia mengemis mengeluh suaminya yang tidak memiliki pekerjaan tetap.” Alana berdecak, ikut kesal dengan sikap mantan istri suaminya. Tapi kemudian dia mengingat sesuatu yang menyadarkannya, bahwa dirinya juga pernah mengharapkan sesuatu yang dia sama sekali tidak berhak memilikinya, ketika berharap terbukti anak kandung Damian Rubiantara. Alana sedikit mengutuk dirinya, menyadari sikap tidak baiknya. “Kenapa, Sayang?” t

