“Kamu yang sabar, Lana.” “Iya, aku tetap selalu berharap dan berdoa suatu saat mamaku mau memaafkanku.” “Tapi semua yang terjadi juga bukan mutlak kesalahanmu.” “Ya, tapi aku sebagai anaknya berpikir bahwa lebih baik mengalah.” “Alana, aku yakin mamamu akan sadar dan mau memaafkanmu. Kamu sudah jadi anak yang baik sekarang.” “Iya, Fiza.” “Oiya, aku lupa memberitahumu bahwa aku dan papaku juga sudah berdamai. Dia yang terlebih dahulu menghubungiku dan menanyakan kabarku. Mungkin bulan depan aku berangkat ke Palangkaraya menemuinya. Dia sudah tidak kuat melakukan perjalanan jauh. Hm … dan mamaku juga sudah mau bicara dengannya.” “Ah, senang mendengar kabar ini, Fiza.” “Iya, padahal aku sudah tidak berharap sama sekali. Karena selama ini papaku tidak menyadari kesalahannya, ke mana-ma

