Bagian 4 (Catatan Erika)

1891 Kata
. . Jadi Yoga, waktu malam itu kamu bilang, "Thanks Erika. Kamu gak akan menyesal!" Kamu benar, Yoga. Aku tidak menyesal. . . *** Ketika aku memasuki ruang kelas, di mejaku bukan cuma ada Ratih, tapi rupanya sudah ada Esti. Mereka sedang tertawa cekikikan. Ratih menoleh padaku. "NAH!!! INI DIA!! ERIKA DESTRIANA PUTRI! Cepat kemari!" kata Ratih dengan suara nyaring. Aku menghela napas. Sudah tahu akan disidang oleh mereka berdua. Aku duduk di samping Esti. "Lho? Anak IPS ngapain ya ada di sini?" tanyaku pada Esti. Esti tertawa pelan sambil menutup bibirnya. "Hi hi. Biasalah, Ka. Gosip itu cepat sekali merambatnya. Ratih barusan SMS aku. Kebetulan di kelasku juga gurunya lagi gak masuk, jadi aku langsung ke sini, dong. 'Kan perlu klarifikasi. Masa' gosip ditelan mentah-mentah." Ratih berwajah serius. "Erika! Jelasin SEKARANG JUGA! Apa yang sebenarnya terjadi? Ini pasti ada hubungannya dengan kejadian kemarin, 'kan? Pas kamu gak langsung berangkat ke tempat les? Iya, 'kan?" "Hhh ... oke oke," sahutku. Akhirnya aku menceritakan kronologisnya pada mereka berdua, setelah sebelumnya aku minta mereka tidak cerita pada siapa pun soal Yoga 'nembak' aku dan aku menolaknya. Ratih menepuk kedua pipinya. "ASTAGAAAA ERIKAAA!!! Ini YOGA, lho yang kita bahas. Udah lah, Erika! Terima aja dia!!" "Enggak mau, ah. Itu 'kan aneh. Masa' jadian dulu, baru suka sama orangnya. Aneh banget, 'kan?" tolakku. Ratih menggeleng. "Enggak, say. Itu gak aneh. Karena ini Yoga. Kamu pikir, kalo kamu gak punya status apa pun dengannya, dia bisa dekatin kamu? NO WAY, babe! Anak-anak perempuan fansnya Yoga yang selalu 'ngintilin' dia kemana-mana, bakal nyingkirin kamu. Sementara kalo kamu pacarnya, mereka bakal segan sama kalian!" jelas Ratih bagai analis percintaan. Aku dan Esti berbarengan menatap Ratih dengan takjub. "Tih, kamu tuh sebenernya jubirnya Yoga ya?" tanyaku. Kami tertawa. "Yah ... aku cuma berusaha bayangin posisinya Yoga aja, sih," ujar Ratih jumawa. Jari Esti mengelus dagu. "Gimana kalo gini aja, Ka? Kamu bilang ke dia, gimana kalo kita temenan dulu aja. Biar saling kenal dulu. Ntar kalo cocok, baru deh kalian jadian," usul Esti. Ratih mendelik ke Esti. "Ti, aku 'kan udah bilang. It's not gonna work. Anak-anak itu, fansnya Yoga yang gila itu gak akan diem aja." Esti mengangkat bahunya. "Ya abis gimana dong? Erikanya gak nyaman kalo tau-tau jadian, 'kan?" "Udah guys. Enggak usah dibahas lagi. Masalahnya udah beres, kok. Aku udah dengan tegas jawab pernyataan dia, oke? CASE CLOSED!" kataku mengetuk meja dengan ujung penggaris sebanyak tiga kali, macam hakim di pengadilan. *** Seharian ini panas luar biasa. Mandi sore menjadi wajib hukumnya. Judulnya 'mandi sore', tapi sebenarnya setiap pulang dari tempat les, hari sudah malam. Beginilah nasib anak sekolah rajin zaman sekarang. Selesai mandi, aku mengeringkan rambut dengan pengering rambut, dan sama sekali tidak mendengar bunyi nada getar ponselku. Aku baru menyadarinya setelah setengah jam kemudian. Tujuh pesan dan dua puluh satu panggilan tak terangkat?? Si GILA itu! Apa ucapanku tadi belum cukup jelas? Ini tidak bisa dibiarkan. Sudah masuk ranah pelanggaran hak asasi. Hak untuk hidup dengan tenang. Dengan kesal aku membuka pesan yang masuk. Erika, aku di depan rumahmu. Kamu sdh pulang dr tpt les? Erika, balas pesanku, atau setdknya ANGKAT TELP KU! Aku nggak akan pulang sblm ngomong sm kamu! Mataku melotot. DI DEPAN RUMAHKU??? SERIUS?? Aku berlari ke jendela. Kamarku di lantai dua. Aku melihat sebuah mobil impor sport mewah berwarna merah mentereng, parkir di luar pagar rumahku. Aku membuka pintu geser ke balkon. Yoga berdiri di dekat mobilnya sambil menekan tombol di ponsel. Tak lama, ponselku bergetar. Aku malas mengangkatnya. Dia menyisir rambut panjangnya dengan jari, kelihatan gelisah sambil mendongak ke langit. Dan sialnya dia melihatku di balkon. Sadar dirinya tengah menjadi perhatian tetangga sekitar rumahku, Yoga menunjuk-nunjuk speaker ponselnya dengan kesal. Kode supaya aku mengangkat telepon, supaya dia tidak perlu teriak-teriak dari bawah. Dengan malas aku menerima telepon darinya. "Kamu udah gila ya? Tau alamat rumahku dari mana?" semburku langsung. "Erika, turunlah! Aku mau bicara!" Suaranya terdengar bercampur dengan emosi yang diredam. Memerintah. Seperti biasa. "ENGGAK MAU!" jawabku memutuskan sambungan telepon. Dia melihatku dengan geram, dan aku ngeloyor masuk ke kamarku. Pintu kututup. Aku membuka buku matematika di meja dan mulai mengerjakan PR. Biarin aja dia. Terserah mau ngapain di luar. Dasar aneh. Terdengar suara bel rumahku. Heh? Suara bel makin menggila. Lalu terdengar suara langkah kaki Ibuku di bawah. "Iyaaa! Sebentar, yaaa!" sahut Ibuku. Aku segera berlari secepat kilat. Ke luar kamar, koridor, menuruni 2 anak tangga dalam sekali langkah. Kulihat tangan Ibu baru akan meraih gagang pintu. "BU!! BIAR AKU YANG BUKA!" teriakku. Ibu menoleh padaku yang baru saja menapakkan kaki di lantai bawah. Ibu terlihat bingung. Aku merangkul pundaknya dan mengarahkannya kembali ke dapur. "Ibu tadi lagi masak, 'kan? Biar aku aja yang buka," bujukku cengengesan. Segera setelah itu, aku berlari ke depan dan membuka pintu, untuk menghentikan suara bel yang mulai mengganggu pendengaran. Yoga berhenti memencet bel begitu melihat aku muncul dari pintu depan. Aku menghampirinya dengan tampang galak. Mengingat emosinya yang kelihatannya tidak stabil, aku menebak dia akan marah, tapi setelah melihatku dari dekat, dia malah kelihatan tersipu malu. Sepintas aku melihat bajuku. Karena aku tidak berharap menemui tamu, aku cuma pakai kaus hitam dan celana tanggung. Rambutku bahkan tidak sempat diikat. "Ada apa lagi, sih?" tanyaku dengan nada jengkel. Yoga mencengkram jeruji pagar besi dengan kedua tangannya. "Erika! Jadianlah denganku! Aku akan buat kamu menyukaiku!" ucap Yoga memaksa. Aku terkejut melihat ekspresi kesungguhan di wajahnya. Kenapa bisa ada laki-laki yang mengejarku sampai seperti ini? Apa yang sudah aku lakukan? Padahal aku baru pertama kali bicara dengannya kemarin. Aku memperhatikan baju Yoga. Dia bahkan belum mengganti baju seragamnya. Berarti dia belum pulang ke rumahnya sejak jam pulang sekolah. Lalu ke mana saja dia, selama menungguku selesai les? Kuperhatikan seragamnya basah dengan keringat. Sudah berapa lama dia berdiri di depan rumahku? Yoga terlihat khawatir. Sementara aku mulai merasa lucu melihat dia bicara dari balik jeruji pagar besi. Seolah dia adalah tahanan polisi. PAK POLISI! BUKAN SAYA PELAKUNYA, PAK! SUMPAH, BUKAANNN!! "Kok kamu malah ketawa?" Yoga terheran-heran melihatku cekikikan. "Eh ... enggak. Mm ... ," gumamku mulai bimbang. Apa yang harus kujawab? Aku teringat diskusiku dengan Ratih dan Esti tadi siang. "Yoga, gimana kalo kita temenan aja dulu? Nanti kalo kita ternyata cocok, baru kita jadian, gimana?" usulku. Usul Esti sebenarnya. Wajah Yoga makin mendekat ke jeruji pagar besi. Dan pegangan tangannya makin mengepal. "ENGGAK! GAK BISA GITU! Kamu liat sendiri, 'kan? Anak-anak perempuan itu terus menempel ke mana pun aku pergi! Kalo kamu bukan pacarku, kita gak akan punya waktu berdua!" seru Yoga protes. Erika kaget dengan jawaban itu. Ya ampun Ratih. Kamu beneran jubirnya Yoga kayaknya. Yoga terlihat semakin cemas. Dia memanggil namaku dengan suara pelan, nyaris memelas. "Erika--" Aku menggigit bibirku dan menunduk ke lantai. "Oke," jawabku akhirnya. Mata Yoga melebar. "OKE? OKE MAKSUDNYA IYA???" tanyaa Yoga dengan nada senang. Aku tersenyum melihat dia kegirangan seperti anak kecil. "IYA! Udah selesai, 'kan? Pulang, sana! Mandi, ganti baju, makan, kerjain PR. Jam segini masih kelayapan," kataku bagaikan Bu Guru mengomeli murid bandel. Senyum Yoga mengembang. "Thanks, Erika. Kamu gak akan menyesal!" kata Yoga percaya diri. Tak lama, dia pamit pulang. Bahkan hingga sepuluh tahun setelahnya, aku tidak pernah lupa wajah bahagia Yoga saat mengatakannya. *** Hai hai! Masih Erika di sini! Aku mau cerita sedikit tentang sejarah kisah cintaku (uhuuy! Sejaraahh!). Tenang tenang. Sejarahnya singkat, kok. Soalnya, memang sedikit yang bisa diceritain! Ha ha! Aku mau cerita siapa saja laki-laki yang penting dalam hidupku. Well, selain bapakku pastinya, ya. Jadi, laki-laki yang penting dalam hidupku cuma dua. Farhan suamiku, dan Yoga. Walaupun yang berusaha PDKT ada, lah beberapa. Waktu SMP kelas satu, ada seorang anak laki-laki, kalau gak salah, namanya Brian. Dia seniorku, anak OSIS kelas tiga. Selama masa SMP, cuma dia yang berani 'nembak' aku. Dan menurut teman-teman sekelasku, dia cakep. Kalau aku ingat-ingat, sepertinya ya tampangnya memang lumayan. Tidak seperti Yoga, dia PDKT dulu sebelum akhirnya bilang kalau dia suka padaku. Tapi karena aku gak pernah menganggap dia lebih dari teman, aku langsung menolaknya. Dan dia bisa menerima penolakanku dengan baik. Sejak SMP, teman-temanku heran melihatku begitu setia dengan status jomblo. Sementara mereka sudah putus-sambung berkali-kali kayak layangan. "Kenapa sih, Erika? Kamu 'kan cantik. Kenapa gitu, sendirian terus?" begitu pertanyaan mereka. Alhamdulillah belum pernah ada tudingan miring padaku semacam 'lesbi' atau sejenisnya. Na'udzubillah. Horor banget itu mah. Ibuku pernah berkomentar, "Erika, kamu jangan galak-galak ke laki-laki. Ntar gak ada yang mau lho, sama kamu." Komentar itu muncul karena sebelumnya Ibuku pernah mendengar caraku menerima telepon dari teman laki-laki. Masa sih, kayak gitu dibilang galak? Padahal aku bukannya galak, tapi lebih ke 'jaga jarak' aja. Itu sebenarnya karena, dulu di awal masuk SMP, aku gak sengaja 'terjebak' di dalam kelas, tepatnya di bawah meja guru. Waktu itu jam pelajaran olahraga. Kelas praktis kosong melompong. Anak-anak perempuan sedang di ruangan senam atletik. Sementara anak-anak laki-laki main bola di lapangan futsal. Aku merasa haus dan ingin membeli minuman atau yoghurt kesukaanku di kantin. Jadi aku ke ruang kelas sendirian untuk mengambil dompetku di tas. Saat akan melewati meja guru, tiba-tiba uang koinku slip dari ritsleting dompet. Ritsleting itu memang sudah mulai rusak, hanya saja aku belum sempat beli dompet baru. Persis saat aku sedang mengambil uang koinku di bawah meja guru, tiba-tiba segerombolan anak-anak laki-laki memasuki ruangan dan langsung ganti baju. Aku kaget sekali. Aku tidak berani keluar, takut dikira sengaja ngumpet untuk ngintipin mereka ganti baju. Hiih males bener. Akhirnya dengan terpaksa aku meringkuk di sana cukup lama. Aku mendengar SEMUA percakapan mereka. Aku baru tahu, kalau ternyata di belakang perempuan, obrolan laki-laki itu SANGAT mengerikan!! >> Bahas ukuran d**a anak-anak perempuan di sekolah, yang menurut mereka seksi. >> Bahas udah ngapain aja sama pacar mereka masing-masing, plus bertukar tips gimana cara ciuman yang oke, dan seterusnya, dan seterusnya *sensor* >> Bahas film p***o apa yang lagi nge-hit, plus barter koleksi film yang mereka miliki. Berbagi 'ilmu' katanya. Dih! Isi pembicaraannya rata-rata kayak gitu. Bikin aku bertanya-tanya, mereka itu beneran anak SMP atau bukan, sih? Sejak kejadian itu, aku selalu waspada setiap ada laki-laki yang mendekatiku. Terutama untuk yang beraninya cuma di telepon. Kalau mereka bicara langsung padaku, aku bisa menilai mereka dengan lebih baik. Selama mereka nggak nyolot atau rese, aku gak akan galak ke mereka sebenarnya. Hanya saja, mungkin gosip menyebar di antara mereka, bahwa aku jutek sama laki-laki. Jadi image itu melekat, dan walhasil pertama kali aku jadian adalah di tahun terakhirku di SMA, yaitu bersama Yoga. Aku bersyukur Yoga tidak sama seperti mereka. Selama jalan denganku, tidak pernah sekalipun mata Yoga jelalatan ngelirik perempuan lain. Tidak pernah menganggap perempuan sebagai obyek. Tidak pernah menjelek-jelekkan siapapun, tidak pernah buang sampah sembarangan, tidak pernah merokok, tidak pernah minum minuman keras, tidak pernah ngupil dan kentut sembarangan. Aku dan Yoga, terlepas dari perbedaan karakter kami, sebenarnya kami bisa dibilang cocok satu sama lain. Tapi sayangnya hubungan kami hanya bertahan sebentar. Hanya sepuluh bulan. Alasan kami putus? Insyaallah nanti kujelasin. Sabar ya. Lalu Farhan. Farhan adalah laki-laki paling baik yang pernah aku kenal. Dan aku bersyukur bisa menjadi istrinya. Kisahku bersama Farhan juga akan kuceritakan nanti. Don't worry. Tapi biar bagaimanapun, sepuluh bulan yang kulalui bersama Yoga, sangat berkesan buatku. Kamu akan mengerti kalau kamu jadi pacar Yoga. IYA! YOGA YANG 'INI'! 10 bulan pacaran dengannya terasa lamaaa sekali! Jadi Yoga, waktu malam itu kamu bilang, "Thanks Erika. Kamu gak akan menyesal!" Kamu benar, Yoga. Aku tidak menyesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN