Bagian 3 (Catatan Erika)

1946 Kata
. . Aku benar-benar tidak mengerti. Dia dikelilingi perempuan-perempuan secantik itu. Kenapa aku? Dan kenapa mendadak? Otaknya mungkin sudah error. . . *** 10 tahun yang lalu ... Aku masih ingat hari dimana Yoga menyatakan perasaannya padaku. Hari itu sekaligus adalah hari pertama aku bicara dengannya. Aneh bukan? Biasanya 'kan normalnya orang tuh pdkt (pendekatan) dulu, baru 'nembak'. Selama 2 tahun di SMA, aku cuma kenal wajah Yoga saja. Itu pun karena anak-anak perempuan sering sekali membicarakan dia. Anak laki-laki paling ganteng yang pernah mereka lihat, kata mereka. 'Stok ganteng' di sekolah lain di sekitar sekolah kami pun, menurut mereka lagi, belum ada yang menyamai kegantengan Yoga. Berlebihan banget menurutku. Walaupun secara fisik dia memang terlihat oke, tapi setiap aku berpapasan dengannya di kantin, kesan yang kudapat darinya adalah laki-laki berambut gondrong yang arogan, sombong, dan angkuh. *** "Erika, ada titipan buatmu," kata seorang anak laki-laki yang mencariku ke dalam kelas. Rambut anak itu agak ikal. Berkulit sawo matang. Badannya lebih tinggi sedikit dariku. Dari cara bicaranya, aku merasa dia orang yang santun. Sebelumnya, anak ini sudah memperkenalkan dirinya sebagai Gito. Aku mengenali wajahnya. Dia sepertinya adalah teman dekat dari anak populer yang namanya Yoga. Di kantin, Yoga biasa dikelilingi oleh banyak teman. Tapi yang bernama Gito ini kelihatannya beda. Dia lebih sering terlihat bareng Yoga, ketimbang anak-anak yang lain. Aku menerima amplop yang diberikan Gito. "Ini ... apa ya?" tanyaku. Gito tersenyum. "Kamu baca aja. Dia menunggumu setelah bel pulang sekolah, di taman belakang," jawab Gito. Alisku masih berkerut memandangi amplop itu. "Oke. Makasih, Gito." Gito permisi keluar kelas. Aku membuka amplop itu. Tulisan di secarik kertas polos di dalamnya ditulis dengan tinta biru. Erika, Aku menunggumu di bangku taman belakang, setelah bel pulang sekolah. Datanglah sendirian. Yoga Apa ini? Surat ini bahkan tidak ada salam pembuka dan salam penutupnya. Lebih mirip surat ancaman. Mirip ... Datanglah sendirian. Kalau kamu mau selamat. Erika berpikir. Tunggu dulu ... ini Yoga yang mana, ya? Yoga yang 'itu' 'kan? Yang anak basket? Yang di gila-gilai teman-temanku? Atau ada Yoga yang lain? Rasa-rasanya di sekolah ini yang namanya Yoga cuma satu. Tapi aku tidak merasa punya urusan dengannya. Bicara pun belum pernah. Ada apa ya? Pikiranku sibuk hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Aku merapikan isi tasku dan menghampiri Ratih. "Tih, kamu duluan aja ya ke tempat les," kataku. Ratih nampak heran. "Gak bareng? Kamu mau ke mana?" tanya Ratih. "He he ... aku ada urusan bentar. Ntar aku nyusul, oke? Bye!" jawabku sambil mundur selangkah demi selangkah. Aku tidak begitu bisa berbohong atau menutup-nutupi sesuatu. Mesti ketahuan. Makanya, mending kabuuur! Ratih memandangiku dengan tatapan curiga, tapi aku sudah keburu jauh. Beberapa menit kemudian, aku sudah sampai di taman belakang. Taman ini memang relatif sepi. Hanya ada beberapa anak latihan pencak silat, tapi itu pun agak jauh dari bangku kayu, tempat dimana Yoga sedang duduk. Melihatku datang, Yoga segera berdiri. Aku menghampirinya ragu-ragu. Setelah jarak kami cukup dekat, tanpa basa basi aku segera bertanya. "Apa kamu yang kirim surat? Ada apa, ya?" tanyaku tanpa basa-basi. "A-aku ...," ucap Yoga gugup. Aku tidak pernah membayangkan dia bertingkah seperti ini di hadapan perempuan. Karena kadang kulihat dia naik mobil bareng beberapa anak-anak perempuan (bisa disebut fans-nya Yoga, karena mereka selalu 'ngintil' ke mana Yoga pergi). Jadi kupikir dia terbiasa bergaul dengan perempuan. Bibir Yoga bergerak, tapi tak ada satu kata pun yang keluar. Tangannya menyisir rambutnya yang panjang dan seperti meremas tangannya di bagian belakang rambut. Lalu dia memasukkan tangannya ke dalam kantung celana, lalu sesaat kemudian tangannya meremas ujung baju seragam. Gelisah sangat, kelihatannya. "Aku ... aku suka kamu. Jadilah pacarku, Erika." Akhirnya Yoga mengeluarkan kalimat itu susah payah. Mataku melebar. Terkejut maksimal. Bagaimana tidak? Ini pertama kali kami mengobrol, dan dia memintaku jadi pacarnya? "Gak mau," jawabku singkat. Jawaban itu sepertinya membuat Yoga terpukul. Aku nyaris kasihan melihatnya. Alis Yoga berkerut, agaknya berpikir keras. "Kenapa? Kenapa kamu gak mau jadian denganku?" tanya Yoga seolah tak percaya dengan jawabanku. Aku terdiam. Harus ada alasannya ya? pikirku. Oh ya, aku tahu. Berhubung dia Yoga, yang konon katanya anak paling ganteng entah hingga radius berapa kilometer dari gedung sekolah, jadi pastinya dia heran kenapa bisa anak yang biasa banget macam diriku ini menolaknya. "Karena aku gak punya perasaan apapun padamu," jawabku yang kejujuran dan ketulusannya sepertinya menambah terkejut Yoga yang kini tak sanggup berkata-kata. Aku menyadari sesuatu. Segera kucek jam tanganku. "Maaf, aku harus pergi ke tempat les sekarang. Aku pergi dulu ya," kataku pamit dan dengan kikuk melambaikan tangan padanya. "TUNGGU!" pekik Yoga, membuatku menoleh. "Biar kuantar kamu ke tempat les. Aku bawa mobil," kata Yoga menawarkan bantuan. "Gak usah. Makasih. Aku biasa naik angkot, kok," kataku melambaikan tangan sekali lagi dan berlari meninggalkannya. *** Kupikir urusanku sudah selesai dengan Yoga. Tapi ternyata aku salah... TRING! Sebuah pesan masuk ke ponselku malam itu sepulang dari tempat les. Erika, ini Yoga. Bsk pagi sblm bel masuk, temui aku di bangku taman belakang yg kmrn. Heh? Yoga? Dari mana dia bisa tahu nomerku? Kalau dia tahu nomerku, kenapa kemarin komunikasi pakai surat segala? Diantar pakai kurir pula (baca : Gito). Aneh tu anak.. Aku membaca ulang pesan itu. Kenapa ya, tulisannya selalu terbaca seperti titah raja? Gimana kek bilangnya.. 'Erika, besok pagi ada waktu untuk ketemuan sebelum bel masuk?' Aku menghela napas. Kuketik sebuah jawaban singkat. Oke. *** Yoga sudah tiba lebih dulu dariku. Duduk di bangku menungguku datang. Dari jauh wajahnya terlihat serius, tapi dia tersenyum saat melihatku datang. "Duduk, Erika," kata Yoga. Aku kaget. Kalimat perintah itu terdengar seperti di video pelatihan anjing. Sit, Doggy! Tapi aku tidak bisa marah. Mungkin dia ingin bicara agak lama, jadi mungkin duduk adalah pilihan yang baik. Aku duduk di sampingnya. "Ada apa lagi?" tanyaku tanpa basa-basi. "Emm ... aku ... kemarin 'kan kamu bilang gak mau jadian denganku karena kamu nggak punya perasaan apapun padaku, jadi aku sudah pikirkan, bagaimana kalau kita jadian dulu? Aku janji, akan membuatmu suka padaku," ucap Yoga percaya diri. Aku merasa seperti ada kabel putus di kepalaku. Atau itu kabel di kepalanya? "APA???" jeritku. Tunggu dulu, mungkin aku salah dengar. Kapan terakhir kali aku membersihkan telingaku? "Bisa tolong diulang lagi yang barusan?" tanyaku tak percaya. Yoga diam. Lalu ekspresi wajahnya berubah seperti ingin tertawa. Dia mengulangi lagi. Sama persis. Berarti pendengaranku masih normal. "ENGGAK MAU! Logika macam apa yang kamu pakai? Apa gak terbalik? Harusnya itu, dua orang sama-sama suka dulu, baru jadian. Idemu itu nggak masuk akal!" protesku. Yoga seperti tidak terima kalau logika berpikirnya dituding terbalik. "ENGGAK! MASUK AKAL, KOK! Kamu harus percaya sama aku! Aku sejak kecil nggak pernah bohong sekalipun!" bantah Yoga. Aku berdiri dari kursi. "Aku gak bisa. Maaf, Yoga. Kalau gak ada lagi yang mau kamu bahas, aku ke kelas dulu sekarang. Permisi." Tanpa babibu, aku langsung kabur setengah berlari. Suara teriakan Yoga yang misuh-misuh di belakangku masih terdengar. "HEY! ERIKAAA!! Jangan pergi gitu aja!!" *** Kupikir sekarang, urusanku dengan Yoga sudah benar-benar selesai. Tapi ternyata, lagi-lagi aku salah. Ponselku bergetar entah sudah ke berapa kalinya sejak aku berpisah dengan Yoga di taman tadi pagi. Aku terpaksa merubah nada deringku menjadi nada getar, karena anak itu -- Yoga -- dia tak henti-hentinya mengirim pesan dan meneleponku sejak tadi pagi! Memangnya dia gak belajar di kelasnya?? Erika! Aku masih ingin bicara denganmu. Knp kamu malah kabur?? Erika! Siang ini jam istirahat kita ketemuan lagi. Balas pesanku knp? Knp telpku ngga diangkat?? Erika! Angkat telpku! Apa kamu sedang menguji kesabaranku? Urat nadi di kepalaku terasa cenat cenut. Memangnya siapa dia?? Presiden aja gak gitu-gitu amat! Ratih melirik ke ponselku di atas meja. "Ka, kayaknya ada telpon masuk tuh ke HP-mu! Gak dijawab? Kalo penting gimana?" kata Ratih yang mungkin mulai terganggu dengan nada getar ponselku. Aku meringis. "He he... gak penting kok," jawabku. Aku melirik ke layar ponsel. Nama 'Yoga GILA' muncul di sana. Aku sudah memberinya nama julukan di hari kedua aku mengenalnya. Tuh 'kan. Dia lagi, dia lagi. Jariku menekan tombol off agak lama, lalu layar seketika menjadi gelap. Nah. Aman, deh. "Telpon gak penting, Tih. Yuk lanjut lagi. Tadi kita sampai mana ya?" ajakku pada Ratih. Kami sedang di kelas mengerjakan tugas Fisika. Sekarang sebenarnya jam pelajaran Fisika, tapi gurunya berhalangan masuk. Sebagai gantinya, anak-anak disuruh mengerjakan beberapa lembar soal. Jadi sekarang anak-anak bertebaran di segala penjuru. Rata-rata kabur ke kantin, sisanya ke masjid, dan di kelas hanya ada sekitar sepuluh anak. Saat sedang konsentrasi mengerjakan soal, aku melihat hiruk-pikuk anak-anak yang duduk di depan kelas, dekat pintu masuk. Rupanya ada seseorang yang masuk ke ruangan kelas. Beberapa anak perempuan di depan terlihat terpesona, dengan kedatangan anak laki-laki yang ... berambut gondrong. YOGA!!! GILA ni anak niat banget! Nyamperin ke kelasku segala! Yoga sudah berdiri di sampingku. Ratih melotot melihatnya. Ini sepertinya pertama kalinya dia melihat Yoga dari jarak sedekat ini. Napas Yoga tak beraturan. "Kenapa kamu matikan HP-mu?" tanya Yoga dengan nada kesal yang ditahan. Aku berpikir cepat. Bukan ide yang bagus kalau kami bicara di kelas. Dan lagi, aku tidak mau anak-anak tahu soal penolakanku padanya. Tanganku mengambil sembarang buku tulis di dalam tas. "Oh Yoga. Kamu mau pinjam buku, 'kan? Keluar, yuk. Ada yang harus kujelasin dikit di catatanku yang ini," kataku dengan jari menunjuk ke arah buku tulis, dan mata mendelik ke mata Yoga. Kode supaya dia menurut dan ikut saja dengan rencanaku. Yoga menerima buku tulisku, dan dia berjalan mengikutiku dari belakang. Setelah agak jauh di luar kelas, aku berhenti berjalan. "Yoga! Kamu ini bener-bener--!" Belum selesai aku bicara, dia memotong kalimatku. "Erika Destriana Putri," kata Yoga yang rupanya sedang membaca halaman depan buku tulisku. "Ya. Itu nama panjangku. Hey! Dengerin dong kalo orang lain ngomong!" ucapku jengkel. Yoga memindahkan pandangannya dari buku ke wajahku. "Denger ya, Yoga. Aku merasa sudah membuat semuanya menjadi jelas. Aku sudah menjawab pernyataanmu. Trus apa lagi yang kamu mau? Tolong jangan menerorku dengan pesan-pesan dan telepon-teleponmu itu. Kelakuanmu macam tukang tagih kredit aja!" omelku. Tatapan Yoga seperti antara mendengarkan atau tidak. Dia malah bertanya hal yang tidak nyambung. "Kenapa kamu tadi pura-pura mau kasih pinjam aku buku ini?" Aku memegang keningku. Anak ini benar-benar tidak mau mendengarkan orang lain. Aku menjawab pertanyaannya dengan setengah berbisik. "Yoga, tolong aku. Aku berusaha supaya gak perlu ada yang tahu kalau aku menolakmu. Aku sedang berusaha menjaga perasaanmu. Bantulah aku sedikit! Jangan tiba-tiba masuk ke dalam kelasku seperti barusan!" kataku sambil menunjuk ke arah kelas. Di luar dugaan, Yoga malah tersenyum. Senyumnya yang ini belum pernah kulihat. Biasanya selalu ada unsur sinis atau sombong di senyumnya, tapi senyum yang ini terlihat tulus. "Ini salah satunya, kenapa aku suka kamu," ucap Yoga yang praktis membuat mukaku terasa panas. "Heh?? Haduuh malah ngegombal, lagi. Udah, ah. Aku mau balik ke kelas lagi. Tugas Fisika belum selesai. Awas ya jangan teror aku lagi. Ingat!" ancamku. "YOGA!!" Teriakan itu membuat kami berdua menoleh. Dari ujung koridor ada anak perempuan yang mendekati kami. Aku mengenalinya. Dia Lynn, anak kelas tiga juga. Kelasnya selisih dua kelas dari kelasku. Anak ini memang terkenal cantik dan seksi. Banyak anak laki-laki yang naksir padanya, katanya. Baju seragamnya mungkin agak salah ukuran. Selalu terlihat kekecilan. Angin dari lapangan terasa agak kencang, aku jadi kuatir kalau-kalau angin akan menyingkap roknya yang super pendek. Lynn 'menempel' pada Yoga seperti cicak. Dia merangkul lengan Yoga sambil menatap sinis padaku. "Yoga, kamu ngapain di sini pas jam pelajaran? Bukannya kelasmu jauh?" Yoga berusaha melepas pegangan tangan Lynn. "Jangan begini, Lynn. Aku 'kan udah pernah bilang--" Aku tidak mau menjadi 'obat nyamuk' diantara mereka, jadi aku ngeloyor pergi. "Bye," pamitku singkat seraya melambaikan tangan basa-basi pada Yoga, tanpa melihat wajahnya. Dari kejauhan aku masih mendengar Yoga misuh-misuh pada Lynn. Aku benar-benar tidak mengerti. Dia dikelilingi perempuan-perempuan secantik itu. Kenapa aku? Dan kenapa mendadak? Otaknya mungkin sudah error. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN