Bagian 2 (Reuni)

2216 Kata
. . Dia tidak bisa menghindar dari perasaan rindu. Rindu mendengar suara angkuh itu memanggil namanya. . . *** "EH! ADA ERIKA!!" seru beberapa wanita seraya berdiri dari kursi mereka, lantas bersalaman dan cipika cipiki dengan Erika yang baru memasuki ruangan. Erika masih mengenali mereka. Sekitar tujuh orang selain Ratih dan Esti, semuanya adalah teman sekelasnya di kelas tiga. Mereka 'memboyong' Erika untuk duduk di sebuah kursi kosong, di samping Ratih. Sementara pria bernama Yoga yang duduk di kursi ujung ruangan sudah memerhatikan Erika sejak Erika membuka pintu ruang VIP. Sorot matanya terus mengekori Erika hingga Erika duduk di kursi. Esti menghampiri kursi Erika. "Hai Erika. Sibuk banget nih akuntanwati kita yang satu ini," kata Esti dengan lirikan mata. Erika berdiri dan memeluk Esti. Dia melepaskan pelukannya dan mengamati Esti yang tetap nampak anggun seperti biasanya. Memang pembawaannya seperti itu. Mirip putri Solo, kata Ratih. Esti memakai baju terusan berwarna light gold dengan ikat pinggang coklat tua. Kelihatan serasi dengan warna kulitnya yang hitam manis. Rambutnya lurus panjang terurai, nyaris sepinggang. Tubuhnya masih terlihat tinggi semampai. Esti memang lebih tinggi dibanding dirinya dan Ratih. Tapi kok sepertinya ... "Kamu gemukan ya Ti?" tanya Erika, ceplas-ceplos seperti biasa. Tipe pertanyaan yang bisa membuat wanita jadi emosi karenanya. Erika sudah bersiap dengan rengekan Esti. Biasanya dia bete kalau dikomentari 'gemukan'. Tapi kali ini tidak. Erika terheran-heran melihat Esti yang tersipu malu. "Masa sih?" tanya Esti dengan pipi merona. Erika bengong melihat reaksi yang tidak lazim itu. "Erika, dia ada di sini," bisik Esti tiba-tiba. Erika melempar pandangan ke lantai. 'Dia' yang dimaksud Esti adalah Yoga. Esti adalah satu-satunya yang tahu beratnya perjuangan Erika untuk melupakan Yoga, setelah mereka putus. Erika perlu waktu lama sebelum akhirnya dia menjalin hubungan dengan Farhan yang menjadi suaminya sekarang. "Iya aku baru tau. Kalau aku tau lebih cepat, aku mungkin sebaiknya gak datang," ucap Erika pelan. Esti menatap Erika heran. "Kenapa? Jangan bilang kamu masih--?" Erika menghindari tatapan Esti. Esti menghela napas. "Astaga Erika. Ayolah! Kamu harus ingat! Kamu punya Farhan sekarang! Dan lagi, sudah lima tahun sejak kalian menikah!" ujar Esti mengerlingkan mata tak percaya. "Iya iya. Tenang aja. Aku sadar dan belum gila!" sergah Erika. Esti tertawa dan menepuk pundak Erika. "Aku duduk di sebelah sana, Ka. Ntar kita ngobrol-ngobrol lagi, oke?" kata Esti sebelum pamit kembali ke kursinya yang berjarak empat kursi dari kursi Erika dan Ratih. "Cerita-cerita doongg! Gimana kabarnya, Erika?" tagih teman-temannya. Erika tersenyum. Dimulailah sesi pertanyaan itu. Erika menjawab dengan lancar satu demi satu pertanyaan. Dia sudah 'terlatih'. Di bagian pertanyaan soal anak, teman-temannya tidak membahas lebih lanjut. Mereka hanya memberi dukungan supaya Erika tetap sabar. Berusaha dan berdoa. Satu orang memberi dia kontak tukang pijat rahim yang dikenalnya. Katanya tukang pijat itu sudah berhasil membuat tokcer beberapa teman kantornya yang sudah lama belum punya anak. Erika sudah pernah mencobanya sebenarnya. Biar bagaimanapun, Erika menerima nomer kontak itu dan berterimakasih pada temannya. Seorang temannya yang lain memberikan dia nomer kontak seorang supplier rumput herbal yang katanya, berkat itu beberapa saudaranya jadi hamil setelah lama belum dikaruniai anak. Erika juga menerimanya dengan ucapan terima kasih. Setelahnya, anak-anak membahas topik lain, dan mereka dengan cepat terlarut dalam perbincangan gosip artis ibukota. Oh? Sudah selesai 'sesi tanya jawab'nya? Wah cepat sekali. Kurasa kecemasanku tadi berlebihan, batin Erika. Gosip bukan hal favorit Erika. Erika melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Sejak dia tiba, dia sibuk menyapa teman-temannya hingga tak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Ruangan VIP ini cukup besar. Mungkin muat sekitar enam puluh orang. Dan sekarang di ruangan ini ada sekitar empat puluh orang, yang dulunya berasal dari kelas yang berbeda-beda. Meja panjang ada di tengah ruangan dengan kursi-kursi di sekelilingnya. Mirip ruang meeting sebenarnya. Hanya saja suasana ruangan ini lebih rileks dengan adanya kolam ikan di sisi kiri ruangan. Kolam itu posisinya lebih rendah dari area makan. Ada dua trap tangga kayu memanjang, menurun ke level kolam. Beberapa wanita duduk-duduk di tangga kayu dengan anak mereka sambil melihat ikan di kolam. Pandangannya terhenti pada seorang wanita di kursi makan, yang tengah memperhatikan dirinya dengan sinis. LYNN! Erika masih mengenalinya, walaupun Lynn sekarang memotong rambutnya yang dulunya panjang sedada, menjadi pendek model rambut Betty Boop. Dulu saat awal Erika jadian dengan Yoga, banyak anak perempuan membenci Erika. Dan Lynn adalah 'Ratu' mereka. Ratu kebencian. Melihat cara Lynn menatapnya sekarang, sepertinya dia masih membenci Erika. Masih belum bisa move on rupanya dia. Padahal sudah punya anak perempuan yang lucu menggemaskan, yang sedang dipangkunya saat ini. Erika pernah mendengar kabar, Lynn menikah dengan seorang duda pengusaha kaya raya. Erika berusaha tersenyum setulus mungkin, dan usahanya membuahkan hasil, yaitu aksi buang muka oleh Lynn. Hah. Sia-sia sepertinya. Eh ... jangan mikir begitu. Senyum itu ibadah, pikir Erika. Tiba-tiba sensor Erika menyadari ada yang memandanginya dari ujung ruangan. Mata Erika melebar saat mereka beradu pandang. YOGA! Penampilannya sudah berubah banyak. Dulu rambutnya lurus gondrong. Sekarang rambutnya pendek, dengan sedikit poni menutupi dahinya. Gayanya yang sekarang membuat dia terlihat lebih 'business-look', apalagi dengan setelan jas hitamnya. Mungkin disuruh ayahnya, pikir Erika. Ayah Yoga adalah seorang usahawan kelas kakap yang bisnisnya beragam mulai dari kuliner sampai saham. Yoga tersenyum lembut padanya. Erika terdiam beberapa detik, lalu segera melemparkan pandangannya ke arah lain. Dia membenci dirinya sendiri. Ada getaran aneh di hatinya. Sulit dipercaya. Padahal sudah sepuluh tahun. Ini sebabnya dia tidak mau bertemu Yoga lagi. Sadar Erika. Sadar! Farhan lagi nunggu kamu di rumah! Erika mendengar nama Yoga disebut-sebut dalam pergosipan teman-temannya. "Udah, jangan sebut-sebut nama peragawati itu! Dia kan mantan pacarnya Yoga!" Erika terkejut. Yoga? Sempat pacaran dengan peragawati? "Iya. Aku baru tau kalo dia udah putus sama si peragawati itu. Siapa namanya? Christy ya?" "Kok bisa gak tau? Wah kurang gaul nih kamu. Putusnya 'kan heboh waktu itu. Peragawati itu datang ke kantor Yoga marah-marah. Ada orang luar kantor yang sempat rekam video pertengkaran mereka. Sempet viral, kok. Masuk koran gosip juga!" "HAH!! SEGITUNYA?? Oke ntar aku cek, masih ada kali rekamannya. Hi hi.. Jadi, Yoga itu sampe sekarang belum nikah, tho?" "Belum, tuh. Gosipnya sih, pacarnya gonta ganti. Terakhir ya sama si peragawati itu. Tapi sudah putus. Sebelumnya, aku pernah liat dia di mall, jalan bareng wanita tinggi cantik pake seragam pramugari." Seorang pelayan berjalan menyeberangi jembatan kayu di atas kolam. Jembatan ini menghubungkan ruang VIP dan area servis. Rupanya Yoga yang memanggilnya. Yoga membisikkan sesuatu pada pelayan itu, sambil menunjuk ke arah Erika. Pelayan laki-laki itu mengangguk dan kembali lagi menyeberangi jembatan kayu. Tak lama, pelayan itu kembali lagi ke area makan, lalu berjalan ke arah Erika. "Permisi, Bu," sapa sang pelayan sopan. Erika menoleh. Pelayan itu membawa sebuah nampan kecil dengan segelas air minum di atasnya. "Saya diminta Pak Yoga untuk membawakan welcome drink buat Ibu," ucapnya. Salah satu temannya bernama Sinta, menyeletuk, "Erika curang! Cuma dia yang dapat welcome drink? Dari tadi kita-kita gak ada tuh yang dikasih welcome drink."  "Aww!" rintihan terdengar setelah di bawah meja Ratih baru saja menendang mesra Sinta yang seringkali kurang sensitif membaca situasi. Sinta segera menyadari kesalahannya. Dia tersenyum nyengir dan tidak berani menatap wajah Erika yang merah padam karena malu. Yoga! Kenapa dia memberi perlakuan beda yang mencolok seperti ini? Bikin malu! Erika membatin. "Maaf. Saya hanya diminta membawakan ini. Silakan, Bu," kata pelayan itu meletakkan gelas berisi infusion water dingin dengan campuran irisan jeruk lemon, sebatang serai dan daun mint di atasnya. "Lalu, ini menu kami. Ibu mau pesan apa?" tanya sang pelayan. Erika melihat daftar menu dengan cepat. "Cumi goreng tepung satu porsi," jawab Erika. "Baik, Bu," kata pelayan seraya mencatat lalu mohon diri. Sinta berusaha memperbaiki suasana. Dia mengalihkan pembicaraan ke tips perawatan bayi dan balita. Suasana segera berubah menjadi talk show ibu dan anak. "Jadi, waktu masa menyusui Ando anak pertamaku, aku sempet kaget pas dia tiba-tiba menolak ASI-ku. Itu kira-kira kenapa ya?" Claudia sebagai yang lebih berpengalaman tiga kali melahirkan, berusaha menjawab. "Penyebabnya bisa macem-macem sih. Bisa jadi karena makanan yang kamu konsumsi pas masa menyusui." "Wah pantesan aja. Aku makan segala macem, ga ada pantangannya sama sekali. Jengkol ama petai juga hajar, bleh." Anak-anak yang lain tertawa. Erika tersenyum. Pembahasan ini dil uar pemahamannya. Dia jadi merasa seperti alien. Erika minum sedikit, lalu merasa ingin duduk di pinggir kolam. Dia berdiri dari kursinya. Ratih terlihat bingung. "Mau ke mana, Ka?" tanya Ratih. "Nongkrong bentar di pinggir kolam itu. Kayaknya asik," jawab Erika tersenyum. Ratih mengangguk. Dia mengamati punggung sahabatnya. Yah beginilah ketemuan ibu-ibu muda. Biasanya yang seumuran mereka rata-rata sudah punya anak. Jadi pembicaraan mau tidak mau akan membahas soal anak. *** Ikan-ikan mas bergerak lincah. Sisiknya bercahaya terkena pantulan sinar lampu dari tepi kolam. Suara gemericik air yang mengalir di dinding batu alam berberigi. Gabungan semuanya membuat Erika merasa rileks. Mata Erika menerawang. Pantulan cahaya lampu kekuningan dan riak air kolam, menyentuh kulit wajahnya. Sebuah suara yang dikenalnya, terdengar dekat. "Aku boleh duduk di sini?" Erika menoleh dan terkejut menemukan Yoga berdiri di sampingnya. Sudah berapa lama Yoga berdiri di sana? Erika diam tidak menjawab. Gamang. Tangan Yoga menyentuh pinggiran jasnya, dan perlahan duduk di samping Erika. Detak jantung Erika semakin cepat. Dia refleks berdiri dan sebelah kakinya sudah akan menaiki tangga kayu. "ERIKA!" panggil Yoga. Mata Erika terbelalak mendengar cara Yoga memanggil namanya. Dalam masa pacaran mereka yang singkat, ada berapa kali 'ERIKA!' dipanggilnya? Sekelibat bayangan masa lalu menyergap ingatannya. 'Erika! Ngapain kamu berdiri di situ? Sini cepat ikut aku!' Erika menggigit bibirnya. Cara Yoga memanggil namanya selalu seperti itu. Seperti separuh memerintah. Tapi dia tidak bisa menghindar dari perasaan rindu. Rindu mendengar suara angkuh itu memanggil namanya. Erika menoleh. Mata Yoga sedang menatap lurus ke matanya. Walaupun samar, Erika masih bisa menangkap nada memohon saat Yoga berkata, "aku cuma ingin bicara. Ayolah. Sebagai teman lama, oke?" *** Yoga dan Erika duduk dalam hening. Suara gemericik air kolam, mengisi ruang temu mereka.  "Jadi ... gimana kabarmu sekarang?" tanya Yoga memulai percakapan. " ... Ya, seperti yang kamu lihat. Kabarku baik-baik saja, alhamdulillah," jawab Erika menundukkan pandangan. Yoga memperhatikan wajah Erika. "Sudah sepuluh tahun. Kamu kelihatan makin cantik," kata Yoga. Pipi Erika praktis merona. "Oh please, Yoga," ucapnya. "Itu bukan gombalan. I'm just telling u the truth," jelas Yoga dengan kesungguhan. "Aku udah nikah, in case u forgot," kata Erika memperlihatkan cincin kawinnya. Yoga tertawa ringan. "Iya iya aku tau," komentarnya, meski cincin kawin itu sedikit banyak mempengaruhi air mukanya. Yoga berhenti tertawa. "Maaf aku gak datang ke nikahanmu," ucapnya. Erika menoleh ke samping dan menemukan Yoga sedang menundukkan pandangan ke arah kolam. "Enggak apa-apa," jawab Erika. Hening kembali menguasai mereka. Erika bisa merasakan detak jantungnya lebih cepat. Dia ingin momen ini segera berlalu. "Jadi, siapa laki-laki beruntung itu?" tanya Yoga. "Hah? Siapa?" sahut Erika. "Siapa lagi? Suamimu," kata Yoga. Kepala Erika tertunduk ke lantai. "Itu tergantung, apa definisimu tentang beruntung," ucap Erika muram. Dia seringkali merasa bersalah dengan Farhan. Mungkinkah mereka belum punya anak juga karena dirinya? Seandainya Farhan menikah dengan wanita lain, mungkin Farhan sudah punya anak sekarang. Mungkin ... Yoga mengernyitkan dahi. Mencoba memahami maksud Erika dengan kalimat itu. Dia menghela napas. "Baiklah ... aku coba tebak ya. Namanya Farhan Akhtar, ayahnya seorang pemilik perusahaan kertas di Bogor, tapi dia menolak meneruskan usaha ayahnya, dan malah terjun di bidang desain grafis. Sekarang sedang terlibat kerjasama dengan sebuah Galeri di daerah Jakarta Utara. Tanggal lahirnya 21 April, horoskopnya Taurus. Golongan darah O. Apa ada yang meleset?" Yoga mengakhiri kalimat panjangnya dengan senyum menggoda. Mulut Erika ternganga mendengar Yoga dengan 'tebakan' panjang lebarnya. Yang mana itu tidak mungkin tebakan. Mana ada tebakan selengkap itu. "G-gimana kamu bisa --??" tanya Erika. Yoga cuma tersenyum simpul sambil mengangkat bahu. "Yah ... aku gitu, lho. Apa sih yang aku gak bisa?" jawab Yoga dengan senyum sombongnya yang membuat Erika sebal. Erika masih tak habis pikir. Oke lah kalau background bapak mertuanya, tanggal lahir, horoskop, Farhan kuliah di desain grafis, itu semua mungkin bisa dicari di medsos. Tapi golongan darah tahu dari mana? "Ngapain juga kamu ngorek-ngorek informasi soal suamiku sampe segitunya?" kata Erika kesal. Yoga tersenyum sinis. "Ih suka-suka dong. Aku cuma iseng aja." Jawaban itu membuat Erika mendengkus. Yang benar saja, seorang Yoga sempat iseng kepo-in hidup orang lain? Erika masih ingat dulu saat mereka pacaran pun, kadang Yoga membawa laptop mini-nya ke kafe. Mengurusi bisnis ayahnya. Ya, ayahnya sudah melibatkan dia dalam bisnis sejak Yoga masih SMA. "Erika," panggil Yoga. Erika heran melihat raut wajah Yoga mendadak terlihat serius. "Ya?" sahut Erika. Bibir Yoga bergerak, tapi belum ada kata apapun yang terucap. Erika sudah hafal, itu berarti Yoga ingin bicara sesuatu yang terasa berat untuknya. Erika diam, memberi waktu untuk Yoga menyusun kalimatnya. "Aku mau minta maaf," ucap Yoga. Keheningan kali ini lebih jelas terasa, hingga bunyi riak gelombang di permukaan air pun terdengar. "Minta maaf untuk apa?" tanya Erika. Yoga menyatukan jemarinya dan menekuknya, gelisah. "Aku ... banyak melakukan kesalahan padamu, dulu, waktu kita --" Yoga tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Waktu kita masih pacaran. Waktu kamu adalah pacarku. Bukan. Calon istriku. Aku sudah melihatmu seperti itu, batin Yoga. Yoga menelan ludah susah payah. Bibirnya dirapatkan. Mimpi apa aku? pikirnya. Sampai sekarang pun dia masih belum bisa benar-benar menerima, kalau wanita di sampingnya ini sudah bukan siapa-siapanya lagi. Erika bingung kenapa Yoga tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. "Yoga?" Erika menyebut namanya. Yoga menoleh. Tatapan keduanya bertemu lama. Memori yang terpilin oleh benang merah bernama takdir, seolah ditarik ke masa sepuluh tahun lampau. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN