.
.
"Gimana dengan mimpi kita, Erika?"
.
.
***
"Erika," ucap Yoga lembut, melalui ponselnya. Dia merasa bersyukur Erika masih mau bicara dengannya.
Erika diam, hanya mengamati Yoga dari atas.
"Erika, turunlah sebentar. Aku mau bicara denganmu," pinta Yoga.
"Enggak. Aku gak mau turun. Bicara lewat telepon aja," jawab Erika menggelengkan kepala.
"Ayolah. Sebentar aja. Aku mau bicara langsung di hadapanmu," bujuk Yoga lagi.
"Aku gak mau!" tolak Erika dengan tangis kembali pecah.
"Kalau aku turun menemuimu, aku tidak akan bisa menyelesaikan ini. Kalau aku ada di depanmu, aku jadi lemah. Bagaimana kalau kamu memelukku, dan aku tidak bisa mendorong tubuhmu? Bagaimana kalau kamu menciumku, dan aku tidak sanggup menolakmu? Bagaimana kalau kamu bilang cinta padaku? Aku --," lanjut Erika sepenuh hatinya yang remuk.
Tangis Erika terdengar bercampur dengan putus asa. Tangan Yoga memegang ponselnya gemetar dan mata berkaca-kaca.
"Erika ... ," ucap Yoga bersamaan dengan hatinya yang patah.
Dia mengerti sekarang, kalau pernyataan Erika barusan adalah cara Erika menyatakan cintanya pada Yoga. Yoga sudah lama menunggu Erika menyatakan cintanya dengan jelas. Tapi pernyataannya barusan terdengar seperti terakhir kali. Terasa seperti perpisahan.
Dia menyadari kalau pertengkaran kali ini bukan pertengkaran biasa. Air mata Yoga tumpah.
"Tolong ... jangan begini, sayang," pinta Yoga dengan suara nyaris tercekat.
Erika merasa pedih mendengar panggilan 'sayang' untuknya kali ini. Rasanya dia sangat ingin memaafkan Yoga dan berpura-pura melupakan kesalahannya. Tapi dia tidak bisa. Tepatnya, dia tidak mau.
"Aku gak sanggup melihat kamu memperlakukan mereka seperti itu, Yoga. Dan bagian terburuknya adalah, kamu bahkan gak merasa bersalah. Kamu akan mengulanginya lagi dan lagi. Aku gak mau lagi. SUDAH CUKUP!" ucap Erika tegas.
Bibir Yoga bergerak, tapi tak ada satu kata pun yang keluar. Erika tahu, Yoga sedang berusaha untuk mengucapkan kata itu. Kata yang terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. Kata 'Maaf'. Tapi hingga akhir, kata itu tidak juga muncul.
Yoga bisa saja berpura-pura merasa bersalah, berpura-pura meminta maaf. Agar segalanya selesai dengan cepat. Agar Erika memaafkannya. Tapi Yoga bukan orang yang seperti itu.
Erika menyadarinya. Karena sifat Yoga yang selalu jujur dengan perasaannya sendiri, adalah salah satu nilai lebihnya yang sangat Erika suka.
"Gimana dengan mimpi kita, Erika?" tanya Yoga.
"Mimpi apa? Mimpi yang mana?? Menikah trus punya anak? Lalu anakmu akan meniru kebiasaanmu??"
Yoga menatapnya dari bawah dengan mata tak berkedip. Apa ini benar terjadi? Erika mampu membuang impian yang sangat berharga untuknya?
"Dari pada aku punya anak seperti kamu, AKU LEBIH BAIK NGGAK PUNYA ANAK SAMA SEKALI !!!" teriak Erika tertahan.
Rasa sakit di dadanya, membuat Yoga bungkam bergeming. Luka di hatinya yang bicara.
Erika. Erika. Kenapa? Tahukah kamu seberapa besar perasaanku padamu?
Tangan Yoga terasa lemas, tapi tatapan mata jarak jauh, dan sambungan telepon ini adalah satu-satunya cara mereka terhubung.
Erika menghapus air matanya.
"Aku bukan untukmu, Yoga. Mungkin akan ada -- akan ada perempuan lain yang --," ucap Erika terputus. Air matanya kembali tumpah.
"-- yang bisa menerima kamu dengan utuh. Tapi perempuan itu bukan aku," lanjut Erika menutup bibirnya dan pundaknya bergetar.
"Bukan aku," ulang Erika sekali lagi dengan hatinya serasa tercabik-cabik. Membayangkan Yoga bersama perempuan lain, sangat menyakitkan. Dia tahu ini akan jadi berat, tapi dia tak menyangka rasanya akan sesakit ini.
Tuksedo yang dikenakan Yoga basah dengan air mata yang tak henti menetes.
Bukan kamu? Kamu bicara apa, sayang? Sejak aku jatuh cinta padamu, aku tahu itu kamu. Jangan bilang itu bukan kamu.
"Lupakan aku, Yoga. Tolong jangan hubungi aku lagi," kata Erika sebelum memutuskan sambungan telepon.
Yoga masih berdiri mematung. Dia sebenarnya ingin sekali berteriak memohon pada Erika.
Jangan lakukan ini! Tolong jangan lakukan ini, Erika! Jangan tinggalin aku!!
Tapi dia tidak melakukannya. Pikirannya masih belum bisa benar-benar percaya kalau ini nyata. Erika meninggalkannya? Ini tidak mungkin, 'kan?
Erika masih berdiri di balkon. Menyadari bahwa ini adalah saat terakhir dia melihat Yoga. Sebuah bayangan indah semakin mengoyak hatinya.
Momen dimana Yoga selalu mengantarnya ke tempat les. Saat dia menoleh ke belakang, Yoga selalu ada di sana. Tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Sekarang dan selamanya, Yoga tidak akan pernah ada di sana lagi.
Erika memutar tubuhnya, membuka pintu kamar, masuk ke dalam dan menutup pintu kembali. Yoga sudah tidak bisa melihatnya sama sekali.
Tangan Yoga menjatuhkan ponselnya. Lututnya jatuh ke jalanan. Dia sempat menahan tangannya ke aspal agar tubuhnya tidak terjerembab.
Tetesan air matanya menyusul menetes satu demi satu ke jalanan abu-abu.
Tidak mungkin. Ini mimpi buruk. Mimpi buruk.
Aku akan datang lagi besok. Mungkin hari ini Erika bicara begitu hanya karena sedang kesal padaku.
Tapi besok mungkin berbeda. Besok mungkin dia mau menerimaku lagi.
Besok kalau dia menerimaku, aku tidak akan buat kesalahan lagi.
Dia pasti akan menerimaku lagi. Pasti.
Nanti setelah dia memaafkanku, aku akan memeluknya dan tidak akan aku lepas.
Pikiran Yoga sunyi sesaat. Hatinya tahu kalau dia sedang berusaha menghibur diri, dan sadar betul bahwa Erika serius dengan keputusannya. Yoga menggigit bibirnya yang gemetar.
Erika ... Erika.
Tetesan air mata terus berjatuhan. Warna abu berubah menjadi gelap.
***
Yoga terbangun paginya dengan perasaan kusut. Matanya masih sembab. Dia mengecek layar ponselnya. Pesan terkirim semua, tapi tak ada satupun yang dibaca oleh Erika.
Suara ketukan terdengar di pintu kamarnya.
Yoga melirik ke pintu dengan tatapan malas. "Ya?" sahutnya.
Terdengar suara Bastian, seorang buttler atau kepala staf rumah tangga di rumah Yoga. Suaranya agak berat. Nge-bass seperti namanya.
"Tuan muda, ada Tuan Muda Gito di ruang tamu. Ingin bertemu dengan tuan muda, katanya."
Yoga menghela napas dan menyisiri rambut panjangnya dengan jemari. Sejurus kemudian, dia mengucek wajahnya.
"Biarkan dia masuk ke sini, Bastian. Tolong siapkan teh dan roti bakar untuk kami," pinta Yoga.
"Baik, Tuan Muda," kata Bastian patuh.
Yoga beranjak dari tempat tidurnya, berjalan ke toilet dan mencuci mukanya di depan wastafel. Tak lama kemudian, Gito mengetuk pintu kamarnya.
"Yoga, ini aku," kata Gito.
"Masuk, To."
Gito membuka pintu. Ruangan dengan interior klasik yang luas itu selalu nampak rapi. d******i warna putih di hampir semua elemen dinding, langit-langit, jendela, bahkan lantai kamar tidur menggunakan parket putih. Meja console berukiran klasik berwarna emas nampak mencolok di tengah area tidur dan area duduk. Di atas meja itu , bertengger dengan anggun sebuah cermin oval berpigura jalar lengkung berwarna putih, sebuah vas bunga dengan rangkaian mawar putih, dan tempat lilin klasik putih.
Sebuah lampu kristal klasik tergantung di tengah ruangan. Jendela putih di dekat tempat tidur terbuka lebar. Begitu juga dengan dua daun pintu putih yang menghadap langsung ke sebuah taman bunga mawar putih. Aroma mawar tercium masuk hingga ke dalam kamar. Membuat ruangan ini selalu harum. Suara percikan air mancur dari taman terdengar begitu menenangkan.
Yoga berjalan dari arah pintu kamar mandi ke area tidur. Langkahnya terhenti persis di depan meja console emas. Rambut panjang Yoga selalu terlihat rapi meskipun tanpa disisir. Yoga hanya perlu merapikannya sedikit dengan jarinya, dan voila! Dia akan terlihat seperti seorang model, sekalipun dia belum mandi.
Meskipun Gito sudah berpuluh kali memasuki ruangan ini, matanya kadang masih terpana melihat komposisi di hadapannya. Ketika gaya klasik bertemu dengan seorang laki-laki seperti Yoga dengan perawakan mirip model majalah fashion Vogue Gabriel Marques, siapapun akan tertegun kagum. Berkas sinar mentari menerangi ruangan dan punggung Yoga. Biasnya membuat anak rambut Yoga yang halus terlihat di tepi siluet kepalanya. Gito merasa seperti sedang melihat sebuah lukisan Renaissance di hadapannya. Yoga terlihat seolah dia memang pasangan yang pas dengan kemewahan di sekelilingnya.
"Duduk, To. Ada apa pagi-pagi begini udah nongol?" tanya Yoga.
Sapaan Yoga menyadarkannya. Gito melangkah masuk ke area duduk. "Untuk informasi, ini sudah bukan 'pagi', tapi 'jelang siang," ledek Gito.
Yoga duduk di kursi klasik dengan lengan berprofil lengkung. Dia menghela napas.
"Yah terserah. Pagi, kek. Siang, kek. Ada apa?" tanya Yoga lagi.
Gito menyusul duduk di kursi di seberang Yoga. Dia mengamati pakaian yang dikenakan Yoga, lalu dahinya mengernyit.
"Tunggu dulu. Ini 'kan kemeja dalaman tuksedomu semalam? Jangan bilang kamu belum ganti baju sejak semalam?" tebak Gito.
Yoga mengucek matanya perlahan. "Belum," gumam Yoga.
Gito masih menatap Yoga dengan heran. Yoga terlihat 'kacau'.
"Biar kutebak, kamu juga gak sholat Isya 'kan semalam?" kata Gito.
Yoga menutup wajahnya. "Uurrgghh! Please please. Jangan ceramahi aku sekarang, To! Aku lagi gak mood!" kata Yoga kesal.
"Okay, fine. Gak ngaruh juga, gitu. Mau lagi mood sekalipun, kayak kamu bakal dengerin ceramahku aja. Ckk!"
Pintu kembali diketuk.
"Ya?" jawab Yoga menyahuti.
"Tuan muda, Bastian meminta saya membawakan sarapan ke kamar Tuan muda," kata seorang pelayan di luar pintu.
"Ya. Masuk," kata Yoga.
Seorang pelayan berseragam hitam membuka pintu dan membawakan nampan dengan dua piring berisi roti bakar, dan dua cangkir teh panas. Setelah menaruhnya di atas meja, pelayan itu meninggalkan mereka berdua.
Mereka menyesap secangkir teh panas dengan perlahan. Gito lebih dulu meletakkan cangkir itu kembali di tatakan keramik putih.
"Aku ke sini cuma mau ngecek keadaanmu. Gimana urusanmu sama Erika semalam?" tanya Gito.
Mendengar nama Erika disebut, tangan Yoga yang sedang memegang gagang cangkir mendadak kaku. Dia menelan air teh yang baru sampai di lidahnya, dan perlahan meletakkan cangkir di tatakan. Gito menyadari reaksi tak lazim Yoga.
"Tumben, To. Ini hari Minggu. Kamu gak jalan bareng Sitta?" tanya Yoga balik, dengan senyum dipaksakan.
Ah ... dia mengalihkan perhatian, pikir Gito. Cara yang buruk untuk mengalihkan perhatian, tapi berhubung baru semalam Sitta memutuskan hubungan dengannya, hatinya sedikit banyak teriris mendengar nama Sitta disebut.
Gito menggaruk bagian belakang kepalanya. Kebiasaan buruknya setiap gelisah atau tidak nyaman.
"Emm ... itu ... kami baru aja putus. Sitta mutusin aku," jawab Gito.
Yoga melotot. "Apa? Kapan??"
"Eh ... semalam. Habis kamu dan Erika pulang."
Alis Yoga berkerut. "Tunggu. Penyebab kalian putus gak ada hubungannya dengan berantemnya aku dan Erika, 'kan?" tanya Yoga memastikan.
Gito tersenyum tenang. "Tenang. Gak ada hubungannya, kok. Cepat atau lambat, kami memang bakal putus."
"Maksudmu?" tanya Yoga bingung.
Gito mengangkat bahunya. "Yah ... sejak awal aku udah curiga, dia nyatain perasaannya sama aku cuma supaya punya pasangan malam prom. Dan kecurigaanku terbukti. Dia keceplosan bilang kalau aku emang gak lebih dari pasangan promnya," jelas Gito.
Yoga terperanjat melihat temannya yang begitu santai menanggapi hubungan cintanya yang kandas berantakan.
Gito memajukan posisi duduknya dan menepuk lengan Yoga.
"Jangan khawatir. Aku gak apa-apa," ucap Gito tersenyum. Yoga membalas senyumnya tipis.
Melihat Yoga masih juga bungkam akan apa yang terjadi semalam antara dia dan Erika, Gito berusaha memancingnya.
"Jadi, kamu masih belum mau cerita juga yang terjadi semalam sama Erika?"
Lagi-lagi wajah Yoga berubah tegang. Dia menunduk menatap meja. Sebenarnya, cepat atau lambat, Yoga pasti akan cerita pada Gito. Pasti. Gito adalah satu-satunya sahabatnya yang dia percaya. Tapi entah kenapa, rasanya berat sekali.
Gito memerhatikan, bibir Yoga bergerak-gerak, seperti ingin bicara, tapi tak ada satu katapun yang terucap. Dia sudah hapal, itu artinya, yang akan diucapkan Yoga bukanlah sesuatu yang mudah.
Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengatakannya seperti Gito mengatakannya?
"Aku dan Erika sudah putus. Erika mutusin aku semalam."
Kenapa aku tidak bisa?
Yoga tertunduk lesu. Dia menyadarinya, bahwa dia sudah menganggap Erika lebih dari sekedar 'pacar'nya. Sejak dirinya jatuh hati pada Erika, dia menyimpan harapan, bahwa Erika adalah calon istrinya, dan bahkan lebih jauh lagi, Erika adalah calon Ibu dari anak-anaknya kelak. Mungkin bagi kebanyakan orang, itu terdengar bodoh. Karena saat ini dia baru saja lulus SMA, dan mereka baru berhubungan sepuluh bulan. Bahkan setahun pun belum sampai. Tapi itu adalah persis apa yang dia rasakan terhadap Erika.
Ingatan akan hal-hal indah bersama Erika menyeruak seperti serpihan batu tajam yang melukai hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca.
Gito mengamati ekspresi di wajah Yoga, dan segera menyadari sesuatu.
Ah. Terjadi juga, rupanya. Mereka putus. Erika memutuskannya.
Gito menghela napas.
Ini akan jadi berat. Tapi aku janji akan membantumu melewati ini, Yoga.
"Gak apa-apa, Yoga. Jangan dipaksain," hibur Gito.
Yoga menoleh ke arah temannya. Gito tersenyum. Senyum sahabat yang paling memahami dirinya. Bahkan tanpa perlu bicara apapun.
"Nanti kamu bisa cerita, kalau kamu sudah siap," ucap Gito.
Yoga tersenyum lega. Dia bersyukur di pagi yang paling berat dalam hidupnya, setidaknya dia punya seorang sahabat seperti Gito. Tuhan sungguh Maha Adil.
"Aku ... mungkin malam ini aku akan coba ke sana lagi. Ke rumah Erika," kata Yoga.
Gito lagi-lagi terheran-heran. "Ke rumah Erika? Untuk apa?"
"Entahlah. Aku juga gak yakin untuk apa. Aku cuma pengin ke sana," jawab Yoga tidak menjelaskan apapun.
Gito menatapnya nyaris iba. "Kamu yakin mau ke sana? Apa aku perlu ikut?"
"Enggak. Aku bisa sendiri ke sana."
"Oke. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku, oke?"
Yoga mengangguk. Mereka melanjutkan sarapan.
Gito sebenarnya merasa khawatir. Untuk apa lagi Yoga ke rumah Erika, kalau mereka sudah putus?
***