Bagian 19 (Catatan Yoga)

2446 Kata
. . Ini sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir. Erika tidak akan pernah lagi membukakan pintu itu untukku. . . *** Mobil sport merahku sudah kuparkir persis di luar pagar rumah Erika. Mesin mobil segera kumatikan. Aku kembali mengeluarkan ponsel dan mengeceknya, entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini. Kuembuskan napas. Erika sudah membaca pesanku, tapi tak ada satupun yang dibalasnya. Jariku mulai menekan huruf-huruf. Erika, aku ada di luar rumahmu. Apa aku bisa bicara padamu sekali lagi? Aku sempat ragu, tapi akhirnya tetap kukirim pesan itu. Pintu mobil kubuka, dan aku berdiri bersandar di mobilku. Menatap balkon kosong itu. Lampu kamarnya menyala. Dia ada di dalam. Mataku menatap sayu. Tangisan panjangku kemarin malam meninggalkan bekas sembab di bawah mataku. Semalam adalah untuk pertama kalinya aku menangis sejak ... sejak lama sekali sewaktu aku kecil. Waktu itu aku masih SD, saat ... "Nak Yoga?" Aku terkesiap. Ibunya Erika muncul dari pintu gerbang. Aku segera berdiri dan sedikit menundukkan kepalaku. "Iya, Tante. Maaf saya ganggu malam-malam." Wanita itu menggeleng. "Enggak. Sama sekali gak ganggu, kok. Kenapa berdiri di sini? Enggak mampir?" Aku salah tingkah. Bingung bagaimana menjelaskannya. "Saya ... mm ... saya dan Erika --" suaraku tercekat saat menyebut nama Erika. Kalimatku terputus. Sama seperti tadi pagi saat aku ingin menceritakannya ke Gito. Aku berakhir dengan tak mampu menceritakannya sama sekali. Ibunya Erika mendekatiku dan mengelus kepalaku, membuatku terkejut. "Erika gak cerita apa-apa sama tante. Tapi Tante tau. Tante ikut sedih, Yoga." Caranya mengelus kepalaku membuatku teringat pada Ibuku. Akhirnya aku tidak sanggup membendung rasa, dan air mataku jatuh begitu saja. *** Sebelumnya, saat pertama kali aku 'minta izin' pada Ibunya Erika untuk berhubungan dengan putrinya, bukanlah kali pertama aku bertemu dengan beliau. Sebelumnya, aku sudah pernah bertemu dengannya. Tepatnya saat pertama kali aku menginjakkan ban mobilku di depan rumah Erika. Di malam saat aku begitu ngotot ingin menjadikan Erika pacarku, setelah dia menolakku dua kali. Saat itu Erika dengan tidak sensitifnya mengabaikan pesan-pesanku di ponselnya, dan tak kunjung mengangkat telepon dariku. Setelah aku menunggu sekitar satu setengah jam, ibunya keluar dari pintu gerbang. "Mau cari siapa ya?" tanya wanita itu. Saat aku melihat sorot mata dan wajah ramahnya, aku segera mengenalinya sebagai ibu dari Erika, perempuan pertama yang membuatku tergila-gila. "Saya ... saya Yoga. Mau cari Erika, Tante." "Erika ada di dalam, kok. Apa kamu sudah hubungi dia?" Aku merasa agak malu. Karena sudah jelas aku menghubunginya, entah sudah berapa kali. Tapi tak sekalipun diangkatnya! "Saya akan coba hubungi dia lagi, Tante. Maaf saya ganggu malam-malam." Wanita itu tersenyum. "Enggak ganggu sama sekali, kok. Coba kamu hubungi dia, ya. Atau Tante kasih tau Erika kalau kamu ada di sini." "Eh! Jangan, Tante! Enggak apa-apa. Biar saya coba hubungi dia sekali lagi." Ibunya Erika tersenyum, lalu dia bilang akan kembali masuk ke rumah, tapi kemudian wanita itu kembali menemuiku. "Kalau Tante boleh tau, Nak Yoga dari sekolah yang sama dengan Erika?" "Iya, Tante." "Kelas berapa?" "Sama seperti Erika, kelas tiga, Tante." "Ooh. Kamu sekelas sama Erika?" "Beda kelas, Tante." Ibunya mengangguk. "Hm ... kamu suka sama anak saya?" Mataku melotot. Tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul sekarang. "Ah ... saya ... eh ... iya. Saya suka Erika." Dia tersenyum melihat kejujuranku. "Apa yang bikin kamu suka sama Erika?" Mataku mengerling ke atas. Berpikir. Aku tidak mau cerita detail kejadiannya. Aku ingin menyimpan cerita itu untukku sendiri. Buatku, itu adalah rahasia yang seperti harta karun. Terlalu berharga untuk dibagi dengan orang lain. Bahkan tidak pada Erika, setidaknya belum saat ini. "Erika ... dia sudah melakukan sesuatu yang membuat saya sangat terkesan. Makanya, saya ingin bersama dia." Kejujuranku membuatku merinding sendiri. Aku tidak yakin seperti apa mukaku sekarang. Kupikir wanita itu akan tertawa dengan jawabanku, tapi ternyata ibunya Erika tersenyum bahagia. Ibunya terus mengorek informasi sebanyak-banyaknya dariku. Aku heran. Padahal ini pertama kali aku datang ke sini. Apa dia bersikap seperti ini terhadap semua anak laki-laki yang datang ke rumahnya mencari putri semata wayangnya? Atau aku adalah anak laki-laki pertama yang mengejar Erika sampai bertandang ke rumahnya? Aku tahu Erika sama sepertiku. Kami sama-sama anak tunggal. Aku sudah menyelidikinya sebelum aku menyatakan perasaanku pada Erika. Sampai kepada pertanyaan tentang keluargaku, dia memerhatikan ekspresi wajahku yang mulai terlihat gelisah. "Lalu Ibumu?" Aku terdiam. Bingung bagaimana harus menjawab. "Ibu saya sudah tidak ada di rumah." Wanita itu terlihat terkejut. "Oh? Maaf. Tante gak tau kalau orang tuamu bercerai," ucapnya menyesal seraya mengelus lenganku. "Kamu gak perlu cerita kalau merasa nggak nyaman," lanjutnya. Aku tersenyum padanya. Aku memang baru mengenal wanita ini, tapi entah mengapa, aku merasa bisa percaya padanya. "Orang tua saya tidak bercerai secara resmi. Ibu saya pergi dari rumah dan tidak kembali. Saya dengar, kabarnya dia sudah menikah dengan seorang pria Brazil dan menetap di sana. Tapi entahlah, saya tidak tau. Karena tak ada kabar sama sekali dari Ibu saya." Penjelasanku membuatnya terkejut hingga menutup mulutnya, dan dengan gerakan yang terasa wajar, dia memelukku dan mengelus punggungku. Tubuhku diam membeku. Aku mendengar suara terisak. Wanita ini menangis? Mataku terbelalak. Aku tak percaya ini. Aku sedang mengejar-ngejar seorang perempuan sampai nekat ke rumahnya, dan satu setengah jam kemudian, ibu dari perempuan yang kusukai, memelukku dan menangis karena aku? Dia melepaskan pelukannya. Pipinya masih basah dengan air mata. "Kamu jangan khawatir, Nak Yoga. Tidak ada seorang Ibu pun yang benci dengan anaknya. Pasti ibumu punya alasan, kenapa dia tidak bisa menghubungi kamu. Jadi, kamu jangan sedih," ucapnya tulus. Pernyataan itu membuat mataku sayu. Ucapannya mirip dengan ucapan Gito saat berusaha menghiburku, setelah ibuku pergi begitu saja meninggalkanku. Aku menelan ludah, berusaha tidak menangis di depan orang yang baru saja kutemui. "Iya, Tante. Terima kasih," kataku. Dia menepuk pundakku. "Nah. Cobalah kamu telepon lagi Erika. Kalau dia tidak mengangkat teleponmu, atau menolak bertemu, kamu tekan saja bel yang di sini," kata si Tante dengan jari telunjuk mengarah ke bel berwarna putih di samping pintu gerbang. Aku terdiam berusaha mengolah kata-katanya barusan. 'Kalau dia tidak mengangkat teleponmu, atau menolak bertemu'. Apa ini kejadian yang sudah biasa terjadi? Erika sering menolak laki-laki dengan cara itu? Wanita itu menatapku tajam. "Ingat! Tekan bel ini TERUS MENERUS, sampai dia sendiri turun menemuimu." Aku mengangguk bingung. "Iya, Tante." Dan kelanjutannya, Erika akhirnya mengangkat teleponku -- setelah aku memaksanya -- tapi kemudian dia menolak bertemu. Dengan dingin dia menutup pintu kamarnya. Aku akhirnya menekan bel dengan cara yang disarankan Ibunya Erika. Hingga akhirnya dia sendiri keluar menemuiku. Saat itu, aku salah tingkah karena untuk pertama kali melihat Erika memakai baju rumah. Selama ini aku hanya melihatnya dengan baju seragam. Dan rambutnya terurai. Dia terlihat cantik. Aku kembali memintanya jadi pacarku. Sekalipun saat itu dia sama sekali tak punya perasaan apapun padaku, aku tak peduli. Aku bilang padanya, aku akan membuatnya menyukaiku, dan dia tak akan menyesal. Malam itu saat dia akhirnya menerimaku menjadi pacarnya, adalah malam yang sangat membahagiakan buatku. Tapi melihat kondisi hubungan kami sekarang, aku bertanya-tanya. Apa aku sudah membuatnya menyesal? *** Kembali ke saat ini. Wanita di hadapanku berusaha menghiburku yang sedang menangis. Aku malu rasanya, tapi aku tidak bisa menghentikan air mata yang terus-menerus menetes. "Saya melakukan sesuatu yang Erika tidak bisa menerimanya, dan saya -- tapi saya tidak menyangka Erika akan --," ucapku berusaha menyusun potongan-potongan kata dengan benar, tapi semuanya berantakan. Semuanya. Berantakan. Wanita itu memelukku. "Nggak apa-apa, Yoga. Kamu harus yakin, kalau jodoh dan kematian itu Kuasa Tuhan. Yakin, Nak. Jangan putus asa. Kalau seandainya kalian berjodoh, kalian akan dipertemukan lagi, insyaallah dalam kondisi yang lebih baik." Kalimat itu terdengar indah sekali di telingaku. Andai kenyataan bisa seindah itu. Aku mengangguk pelan, merespon ucapan penghiburannya. Dia melepaskan pelukannya, dan menatap wajahku yang masih berlinangan air mata. "Tante akan coba tanya Erika di kamarnya, siapa tau dia mau menemui kamu." "Jangan, Tante! Saya enggak enak. Saya ada di sini bukan untuk memaksa dia." "Jangan khawatir. Tante juga gak akan paksa dia. Tante cuma akan tanya dia satu kali ini aja." Aku berpikir. Sedikit berharap, semoga kalau Ibunya yang minta, mungkin dia akan mempertimbangkan, dan akhirnya mau menemuiku. Aku mengangguk. "Tunggu di sini, ya," pintanya lembut. Aku tersenyum padanya. "Iya. Makasih, Tante." Beberapa saat kemudian, Ibunya Erika kembali dengan wajah murung. Aku segera tahu kalau Erika menolak menemuiku. "Maaf ya, Nak Yoga," ucapnya prihatin. "Jangan minta maaf, Tante. Sejak awal saya sudah tau kalau kemungkinannya sangat kecil. Sejujurnya saya sendiri tidak yakin kenapa saya ke sini. Mungkin karena saya masih berharap pada kemungkinan kecil itu." Wanita itu menghela napas. "Nak Yoga, pulanglah. Kamu belum makan malam, 'kan? Pulang, makan dan istirahatlah. Kapan saja kalau kamu ingin bicara dengan Tante, kamu bisa mampir ke sini. Kamu sudah Tante anggap seperti anak sendiri." Mataku kembali berkaca-kaca. Bersamaan dengan hilangnya Erika, aku rupanya juga kehilangan seorang 'Ibu'. Aku berpamitan dengan ibunya Erika, dan pulang ke rumahku. Tadinya, kupikir akan menjadikan malam ini malam terakhir aku ke rumah Erika. Tapi ternyata tidak. Aku datang lagi keesokan harinya, dan esok lusanya. Tanpa tujuan yang jelas. Aku hanya ingin berada sedekat mungkin dengannya. Dengan Erika. Walaupun saat aku menatap ke kamarnya, yang kulihat hanyalah sebuah balkon kosong. Kurasa, aku sudah gila. *** Malam kedua setelah aku dan Erika berpisah ... Aku tetap berangkat ke rumah Erika, meskipun Gito sudah melarangku. Tak ada hal istimewa yang kulakukan. Aku sebisa mungkin tidak menimbulkan suara berisik. Hanya berdiri bersandar di mobilku, sambil menatap balkon kosong. Memori kebersamaanku dengan Erika memang singkat, namun sangat padat. Karena aku tak pernah membiarkannya sendirian. Aku memastikan kami selalu bertemu saat istirahat siang, meskipun biasanya kami makan dengan teman-teman kami masing-masing. Tapi setelahnya aku selalu menemui dia di luar kelasnya. Duduk bersamanya sambil menemaninya makan kue dan yoghurt atau es krim kesukaannya. Kami mengobrol tentang apa saja. Bersamanya, waktu terasa cepat berlalu. Dia membuatku merasa nyaman, dan aku berusaha membuatnya merasakan hal yang sama. Aku mengantarnya ke tempat les setiap hari, menunggunya selesai les, dan menjemputnya dari tempat les ke rumahnya. Dan di akhir pekan, sebisa mungkin aku mengajaknya keluar bersamaku. Aku benar-benar tidak rela membiarkan satu hari pun berlalu tanpa dia. Beberapa memori terasa begitu jelas, hingga nyaris mendesak air mataku kembali keluar, tapi aku tahan. Sejak malam prom yang naas itu, ayahku mulai mengomentari mataku yang sembab. "Matamu kenapa?" tanya ayahku saat kami makan malam bersama. Sesuatu yang jarang terjadi, karena ayahku biasanya pulang sangat larut. Tapi di saat-saat tertentu saja, dia pulang cepat, dan kami makan malam bersama. Aku menjawabnya dengan singkat, "enggak apa-apa. Cuma kurang tidur." Aku tidak bohong. Sejak malam prom itu, aku kesulitan tidur nyenyak, dan sebagai hasilnya, aku selalu bangun lebih siang dari biasanya. Dan pagi tadi, bahkan Bastian yang biasanya tidak pernah mengusikku dengan pertanyaan pribadi, tiba-tiba menanyakan perihal mata sembabku, "Tuan muda, maafkan kalau saya lancang. Apa Tuan Muda sedang sakit mata?" Setelahnya dia menawarkan diri untuk mengompres mataku. Jadi malam ini, setidaknya aku harus berhenti menangis. Aku tidak mau membuat mereka semakin curiga. Mataku masih tak lepas menatap balkon kosong itu. Aku menghela napas. Kulirik jam tanganku. Memikirkan Erika membuat dua jam terasa bagai sekejap. Aku terdiam lemas. Mataku menerawang. Apa yang sedang kulakukan di sini? Aku seperti orang bodoh. Baiklah, kupikir. Besok aku akan datang lagi. Aku mendengar akal sehatku bertanya, "untuk apa?" Mana kutahu untuk apa. Aku hanya ingin melakukannya. Hatiku sebenarnya tahu. Penyebabnya hanya satu. Aku tidak rela melepas Erika. *** Malam ke tiga setelah aku dan Erika berpisah ... Setelah aku sempat bertengkar dengan Gito, aku akhirnya tetap nekat datang ke rumah Erika. Lagi. Aku masi ingat Gito mencengkeram lenganku dan mengguncang tubuhku. "YOGA!! BERHENTI!!! Untuk apa lagi kamu ke sana?? UNTUK APA??" pekik Gito berusaha menyadarkanku. Aku menepis tangannya. "Kalau sudah saatnya, aku akan berhenti!" Aku mengatakannya, namun bahkan aku sendiri tak memahaminya. Kapan 'saatnya' itu? Kenapa rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini? Kenyataan bahwa aku harus menghentikan kebiasaanku setiap hari bertandang ke rumah itu? Kenyataan bahwa aku harus berhenti berharap Erika akan membuka pintu kamarnya dan muncul di balkon? Selama menyetir, pikiranku melayang-layang entah di mana. Begitu sadar, aku sudah sampai di depan rumah Erika. Seperti biasanya, yang kulakukan hanya bersandar di mobilku sambil menatap ke arah balkon kamarnya yang kosong. Aku memejamkan. Berusaha merunut peristiwa malam prom yang menjadi bencana terbesar dalam hidupku. Apa yang terjadi, hingga kami bisa berada di titik ini sekarang? Aku masih ingat bagaimana malam itu Erika bersandar di dadaku. Aku mengecup keningnya, dan dia memberiku tatapan itu, yang aku pahami sebagai bahasa Erika untuk menyatakan perasaannya padaku. Dia mencintaiku. Aku tahu. Kami begitu dekat malam itu, lalu kenapa? Aku memang marah besar pada pelayan itu. Tapi peristiwa itu bukan pertama kalinya. Erika sudah melihat sisi burukku itu beberapa kali. Aku akui aku memang salah. Aku pernah berjanji padanya kalau aku akan berusaha untuk memperbaiki sikapku, tapi aku tidak bisa mengontrol emosiku saat aku melihat pria itu menumpahkan minuman ke gaun Erika. Gaun yang aku sudah siapkan spesial untuknya. Karena aku ingin malam itu menjadi malam terindah untuk dia. Aku ingin dia menjadi tuan putri yang paling cantik. Saat melihat gaunnya basah, aku merasa orang itu merusak segala sesuatu yang kupersiapkan dengan susah payah. Dan sampai sekarang pun, aku masih merasa, pelayan itu mendapatkan yang sepantasnya dia dapatkan. Alisku berkerut dan tanganku mengepal dengan sendirinya. Sisa amarahku seolah masih tertinggal. Tiba-tiba sebuah kilasan peristiwa membuat mataku terbuka lebar. Aku menoleh dengan cepat ke arah balkon. Seberapa keras aku menarik tangan Erika saat itu? Aku tidak ingat sama sekali. Emosiku sudah membutakanku. Tapi aku masih ingat Erika berteriak kesakitan. Aku menutup hidung dan bibirku dengan tangan. Air mataku jatuh. Bagaimana aku bisa menyakiti dia? Perempuan yang paling aku cintai. Aku marah pada orang itu, tapi kenapa aku melampiaskannya pada Erika juga? Apa salahnya? Mataku tidak lepas dari balkon kosong itu. Aku menyadarinya. Ini sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir. Erika tidak akan pernah lagi membukakan pintu itu untukku. Sebuah ingatan indah dalam sekejap menambah perih di hatiku. Aku selalu menunggu Erika berjalan hingga dia berbelok ke tempat lesnya. Aku merasa itu hal yang memang seharusnya kulakukan. Aku hanya ingin memastikan dia aman sampai di sana. Tapi aku tahu Erika sangat bahagia dengan perlakuanku itu. Persis sebelum dia berbelok, dia selalu memutar tubuhnya ke belakang. Dan saat dia melihatku masih berdiri di sana, memerhatikan dia, Erika terlihat senang. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku. Bayangan Erika yang sedang membalas senyumku, membuat air mataku semakin deras. Aku cinta kamu, Erika. Sangat. Aku tidak mengerti, bagaimana aku akan sanggup melewati hari-hariku tanpamu? Ingatanku melompat ke momen saat Erika bertanya padaku. "Memangnya gimana ceritanya kamu bisa suka sama aku?" "Nanti. Nanti setelah kita nikah, aku ceritain." Erika, sepertinya, kamu tidak akan pernah tahu. Aku menangis hingga tak tersisa setetes air mata pun. Setelah itu, aku pulang kembali ke rumah. Esok paginya, kupotong rambutku hingga pendek. Mencoba memulai awal yang baru. Berharap bisa melupakan Erika. Tapi, itu tak pernah terjadi. . . ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN