.
.
TUAN MUDA???
Sebentar. Ini bukan syuting film telenovela, 'kan?
.
.
***
Di tahun ketigaku di bangku SD, aku mengenal Yoga sebagai teman sekelas, tapi saat itu aku tidak dekat dengannya.
Aku hanya tahu dia anak yang terlihat angkuh dari luar. Secara fisik, dia sangat mencolok. Alisnya tebal, tatapan matanya lembut, hidungnya agak mancung, dan rambutnya hitam lurus, saat itu rambutnya belum terlalu panjang, tapi tetap lebih gondrong dibandingkan anak laki-laki lainnya. Walau samar, tapi aku masih bisa mengenali bahwa dia memiliki garis keturunan blasteran bule.
Yoga bersekolah di sekolah umum, padahal dia bukan anak biasa. Ayahnya adalah seorang pebisnis kaya raya. Di kemudian hari setelah aku menjadi temannya, akhirnya aku tahu, kalau keputusan itu adalah karena andil Ibunya, Claire Dharmawangsa, seorang wanita blasteran Brazil-Jawa. Ibunya tidak menginginkan Yoga bergaul hanya dengan sesama anak-anak orang kaya.
Yoga sangat populer di kalangan anak-anak perempuan. Dan beberapa anak laki-laki di kelas, juga sering nongkrong dengannya. Kadang aku juga mengobrol dengan dia, tapi aku berusaha menjaga jarak. Aku tidak mau dia berpikir aku 'memanfaatkan' fasilitas kekayaannya. Karena, ada beberapa anak yang entah sadar atau tidak, melakukan itu padanya.
Hubunganku dan Yoga berubah, saat suatu hari aku melihat dia dipalak oleh tiga orang anak SMP di sebuah gang kecil dekat gedung sekolah.
Aku sudah curiga saat melewati gang kecil itu. Terdengar suara orang mengancam.
"JANGAN TERIAK!!"
Suara itu membuat langkahku terhenti dan aku bersembunyi di belakang dinding. Aku mengintip, dan yang kulihat adalah punggung tiga orang anak laki-laki berseragam SMP, sedang mengelilingi seseorang, tapi dari sudut pandangku, aku tak bisa melihat siapa orang yang sedang dikerumuni itu.
"HMMFFF!" teriak anak yang di tengah-tengah itu tertahan, sepertinya mulutnya dibungkam.
"Kamu yakin ini anaknya?" tanya salah satu dari mereka bertiga.
"Iya. Yakin! Ini anak yang selalu diantar jemput mobil mewah!"
Salah satu dari mereka mencengkeram kerah anak yang dikelilinginya. "Kamu pasti bawa duit banyak, 'kan, di dompetmu?" desaknya.
"Aku gak bawa apa-apa. Kalo gak percaya, periksa aja tasku," jawab anak laki-laki yang sedang dipalak.
Mataku mengerjap. Suara tenang dan angkuh itu kukenali. Dia Yoga!
"PERIKSA TASNYA!" perintah seseorang pada kedua komplotannya. Mereka sibuk merogoh dan mengeluarkan seisi tas. Buku-buku, alat tulis, kotak bekal, botol minuman, buah apel.
"HAH!! Dia beneran gak bawa dompet sama sekali!" seru salah satu dari mereka.
Aku melihat perlahan tangan Yoga menyusup masuk ke kantung celananya. Dia mengeluarkan ponsel dan baru saja akan menekan sebuah tombol, tapi lalu pergelangan tangannya ditahan oleh anak di hadapannya.
"Apa ini? Kamu mau pencet tombol apa itu? Mau coba-coba panggil orang kemari, hah?" tantang salah satu anak SMP.
Ponsel itu dilempar ke dinding dan jatuh tercerai berai ke lantai.
Seseorang memukul pipi Yoga. Aku refleks keluar dari persembunyianku.
"HEYY!! PREMAN! Beraninya keroyokan lawan anak SD!!" jeritku.
Anak yang memukul Yoga, berteriak pada komplotannya, "TANGKAP DIA CEPAT!!"
Dua orang itu hampir mengejarku, tapi aku segera memutar otak. Aku berlagak berteriak ke arah gedung sekolah, "PAK GURUUUU!!! BAPAAKK!!! TOLOONGG!!! DI SINI ADA PREMAN, PAK!!" Tanganku melambai-lambai, padahal tak ada siapa pun di sana.
"SIALAN, KAMU!!!" maki seorang dari mereka, sebelum ketiganya ketakutan dan berlari tunggang langgang masuk ke kedalaman gang sempit, menjauhi kami.
Aku dan Yoga bertatapan. Aku mengatur napas, setelah barusan berteriak sekencang-kencangnya.
Aku berjalan mendekatinya. "Kamu gak apa-apa, Yoga?" tanyaku mengecek memar di pipi Yoga.
"Ya. Gak apa-apa," jawabnya. Ekspresi wajahnya terlihat agak syok. Tapi untuk ukuran anak yang sedang syok, dia tetap kelihatan cool.
Tanganku dengan sigap memasukkan kembali barang-barang Yoga ke dalam tas. Saat berbalik badan, Yoga sedang mengamati ponselnya yang hancur.
Aku memberikan ponselku. "Ini. Pakailah. Kamu bisa masukkan kartu SIM-mu ke hapeku."
Dia menerima ponselku sambil tersenyum. "Terima kasih," ucapnya. Jarang aku melihat dia tersenyum tulus seperti itu. Biasanya kalau di kelas, senyumnya seperti tercampur dengan sinis atau meledek.
Kami berjalan keluar dari gang, mengarah ke bangku taman di luar gedung sekolah. Aku membawakan tasnya, sementara dia sibuk mengeluarkan kartu SIM.
Saat kami duduk di bangku taman, dia menghubungi seseorang.
"Kalian di mana?" tanya Yoga.
"Kalian tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi. Aku baru saja dihajar preman SMP," lanjutnya.
Terdengar pekikan terkejut dari ujung sambungan.
"Cepat jemput aku sekarang di depan taman seberang sekolah. Aku tunggu lima menit. Kalau kalian telat, siap-siaplah dipecat."
Yoga menekan sebuah tombol, mengakhiri sambungan telepon. Bibirku menganga. Terheran-heran dengan caranya berbicara lewat telepon. Dengan siapa dia bicara barusan? Supir pribadinya?? Supirnya pasti lebih tua dari dia, 'kan?
Yoga tersenyum dengan tatapan lembut. "Ini, kukembalikan hapemu. Makasih, ya," katanya santai.
Aku menerima ponselku sambil bengong. Setelah itu kami berdua diam. Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan, tapi aku berusaha menahan diri.
Tak lama, Yoga bicara, "Maaf, namamu siapa ya?"
Aku melotot. "HAHHH!!! YOGA! AKU INI TEMAN SEKELASMU!!" teriakku syok.
SUNGGUH ... T ER LA LU!!!!
***
Keesokan harinya, di jam istirahat siang, Yoga menghampiriku di kelas. Dia tersenyum dan memberikanku dua buah apel.
"Hai Gito. Makasih untuk yang kemarin. Hari ini aku bawa apel lebih banyak. Ini buatmu," katanya.
Aku menerima apel itu dan membalas senyumnya. "Makasih," sahutku.
"Oh ... satu lagi, Ibuku mau ketemu kamu," imbuh Yoga.
Aku terperanjat. "Ibumu??"
***
Ternyata yang dimaksud Yoga adalah, aku diminta datang ke rumahnya sepulang sekolah. Hari itu untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku naik limosin. Aku planga-plongo seperti anak kampung (memang anak kampung kok).
"Rumahmu di mana, Gito?" tanya Yoga.
"Oh. Rumahku di Tangerang," jawabku.
Yoga mengangguk. "Jangan khawatir. Nanti supirku akan mengantarmu pulang ke rumah," ucap Yoga terdengar tegas.
"Eh ... enggak usah. Enggak apa-apa, kok. Aku bisa naik angkot," kataku menolaknya halus.
"Enggak. Kamu akan diantar supirku," ulang Yoga.
Aku diam. Itu barusan kalimat perintah. Apa dia terbiasa begitu? Akhirnya aku mengangguk. Kuartikan kalimat perintah itu sebagai bentuk kepeduliannya padaku.
Mobil limosin hitam yang kami tumpangi mengurangi kecepatan, saat tiba di depan gerbang tinggi berwarna putih. Gerbang itu dibuka oleh seorang penjaga berseragam hitam. Mobil melintas di jalur yang diapit oleh pohon semak yang dipangkas rapi. Perlu waktu sekitar delapan menitan untuk sampai di halaman depan rumah.
Tanganku menempel di kaca mobil. Terpana menyaksikan rumah yang lebih pantas disebut istana itu. Sebuah taman luas dengan beragam bunga dan air mancur menyambut kami, dan di seberangnya adalah rumah putih besar bergaya klasik dengan tiang-tiang yang tinggi.
Aku terbengong-bengong menatap langit-langit area entrance yang tinggi.
"Ayo Gito," ajak Yoga.
Panggilan Yoga membuatku tersadar dan mengikutinya memasuki pintu depan.
"Selamat datang, Tuan Muda!" sapa empat orang pelayan yang membungkuk pada kami.
TUAN MUDA??? Alisku berkerut heran. Sebentar. Ini bukan syuting film telenovela, 'kan? batinku.
Yoga berjalan terus tanpa menjawab apapun pada mereka. Di depan kami ada seorang pria berseragam rompi hitam yang usianya sekitar 40 tahun-an. Dia menghampiri kami sambil tersenyum.
"Selamat datang, Tuan Muda," sapa pria itu dengan suara bass yang mengingatkanku pada musik jazz.
"Hai Bastian," sahut Yoga.
Yoga menjawab salamnya. Berarti dia mungkin tidak sama posisinya dengan pelayan yang lainnya di rumah ini. Tapi aku masih heran dia memanggilnya tanpa embel-embel 'Pak' atau 'Om'.
Pria bernama Bastian menoleh padaku dan tersenyum. "Selamat siang, Tuan Muda Gito. Saya sudah mendengar tentang Tuan Muda. Terima kasih sudah menolong Tuan Muda Yoga kemarin," kata Bastian sopan.
Aku kaget. Baru kali inilah aku dipanggil 'Tuan Muda'. Tadinya kupikir dia akan mengajakku bersalaman, tapi ternyata dia menundukkan tubuhnya, dan akhirnya aku membalasnya dengan cara penghormatan yang sama.
"Ah ... bukan apa-apa. Saya cuma kebetulan lewat di sana," kataku apa adanya.
"Wah. Tuan Muda Gito orangnya rendah hati, ya," kata Bastian tertawa pelan. "Silakan, Tuan Muda. Lewat sini. Nyonya Claire sudah menunggu."
Aku masih takjub dengan interior rumah super mewah yang biasanya hanya kulihat di majalah dan televisi.
Kami berjalan di koridor berlantai marmer putih yang mengkilap, dengan tepian motif sulur emas. Dindingnya berprofil klasik putih dikombinasi dengan wallpaper hitam motif sulur perak. Jendela-jendela tinggi berbingkai putih di sisi kiri. Sementara di sisi kanan berderet beberapa pintu hitam. Langit-langit ruangan sangat tinggi dengan motif sulur putih dan warna emas di sekelilingnya. Lampu-lampu kristal tergantung di beberapa titik.
Bastian berhenti di sebuah pintu yang paling ujung dan mengetuk pintu.
Terdengar suara lembut seorang wanita dari dalam ruangan, "ya?"
"Permisi, Nyonya. Tuan Muda Yoga dan Tuan Muda Gito sudah datang," sahut Bastian.
"Ya, biarkan mereka masuk, Bastian," kata wanita di dalam ruangan itu.
Pintu terbuka. Itu adalah kamar tidur paling luas yang pernah kulihat. Kupikir mungkin aku bahkan bisa main petak umpet beramai-ramai dengan teman-teman kompleksku di sini.
Lantai marmer putih itu dibingkai motif klasik emas di sekeliling tempat tidur yang terlihat sangat empuk, berlapis kain putih menjuntai ke lantai. Sandaran tempat tidur berbentuk mahkota lengkung. Ukiran emas di dinding membingkai motif bunga dengan latar warna hijau.
Wanita berparas cantik itu duduk di salah satu kursi klasik berwarna krem. Rambut hitamnya diangkat ke atas sebagian, dan sisanya terurai lurus sedada. Dia mengenakan atasan blus dan rok panjang warna krem muda dengan lipatan garis-garis lurus, membuatnya terlihat sangat anggun. Tangannya sedang meletakkan cangkir ke tatakan keramik.
"Ayo masuk. Jangan malu-malu," katanya sambil tersenyum padaku yang terlihat salah tingkah.
Aku dan Yoga berjalan mendekatinya. Dari dekat, ibunya Yoga terlihat lebih cantik, seperti seorang model. Alisnya dibentuk melengkung, sepasang matanya terlihat hangat dan tatapannya lembut, hidungnya mancung dan bibirnya s*****l. Mirip Yoga. Aku sempat melirik sedikit ke sebuah foto pernikahan yang diletakkan di atas meja di samping tempat tidur. Membuatku paham dari mana Yoga mendapatkan tampilan itu. Dia terlahir dari Ibu yang cantik dan ayah yang tampan.
"Duduklah, Gito," kata Claire, nama ibundanya Yoga. Tangannya mempersilakanku duduk di sampingnya.
"Iya, Tante," sahutku. Aku dan Yoga duduk bersamaan.
"Bastian, tolong minta pelayan menyiapkan teh untuk kami," pinta Claire.
Bastian menunduk hormat.
"Baik Nyonya. Permisi," kata Bastian sebelum keluar dari ruangan.
Claire menoleh dan tersenyum padaku. "Terima kasih kamu mau datang ke sini, Gito," ucapnya.
"Ah ... enggak masalah, Tante," jawabku malu.
"Tante sudah dengar dari Yoga kemarin. Sebenarnya, Yoga tadinya tidak mau cerita, tapi melihat memar di pipinya, tante memaksanya cerita," jelas Claire.
"Pertama, Tante mau bilang terima kasih sudah menolong Yoga," ucap Claire berkata begitu sambil menundukkan wajahnya sedikit, membuatku merasa tidak enak.
Aku segera menundukkan kepalaku lebih rendah. "Ah ... itu bukan apa-apa, Tante. Beneran. Saya cuma kebetulan ada di sana. Seandainya orang lain lihat, mereka akan nolong Yoga juga," kataku.
Claire menggeleng. "Oh no no, dear. Nomor satu : Tidak ada yang namanya 'kebetulan'. Nomor 2 : Di zaman sekarang ini, sangat jarang ada orang yang mau membantu dengan tulus. Reaksi kebanyakan orang jika ada dalam posisimu kemarin adalah, mereka akan kabur dan tidak mau berurusan, karena tidak mau kena masalah. Jadi tolong jangan merendah, Gito," kata Claire tersenyum ramah.
Mataku menatap lantai karena malu.
"Maksud Tante memanggilmu ke sini adalah, Tante mau minta bantuanmu untuk menemui tiga anak SMP yang kemarin memalak Yoga," kata Claire, membuat mataku melotot terkejut.
"Yah ... setidaknya satu anak, yang berani-beraninya memukul Yogaku. Tante tidak akan membiarkan ini begitu saja. Anak itu harus dapat pelajaran!" kata Claire terdengar tenang, tapi tegas sekaligus. Aku bisa paham. Ibu mana yang tidak marah kalau anaknya dipukul orang?
Yoga bicara dengan nada ragu, "Bu, apa kita benar akan melakukan ini? Bagaimana kalau kita lupakan saja? Mereka cuma anak berandalan. Lagipula, setelah ini pengawalan 'kan akan diperketat. Jadi gak akan ada masalah."
"Enggak, Yoga! Ibu gak terima kamu dipukul sama dia!! Kita sudah bahas soal ini, dan keputusan Ibu sudah bulat. Kita akan buat mereka dihukum atas kesalahan mereka. Tenang saja," ucap Claire dengan senyum siasat di akhir kalimatnya.
Wajah Yoga kuamati sekilas terlihat senang, tapi kemudian dia membuang pandangannya ke arah lain. Aku tersenyum. Lucu juga karakternya yang berusaha terlihat cool, tapi dia sebenarnya senang dimanjakan dan dibela Ibunya. Aku jadi penasaran seperti apa hubungannya dengan ayahnya.
Suara pintu terdengar diketuk.
"Ya?" sahut Claire.
Terdengar suara wanita muda, "permisi, Nyonya. Bastian meminta saya membawakan teh."
"Ya, masuklah," kata Claire mengizinkan pelayan itu masuk.
Pelayan berseragam hitam itu datang membawa nampan, meletakkan cangkir-cangkir teh di atas meja, lalu pamit pergi ke luar ruangan. Ibunya Yoga mempersilakanku minum, dan kami menyesap teh panas itu sedikit demi sedikit.
"Jadi, Gito, kamu perlu tau kalau Yoga ini dulu pernah diculik" kata Claire tiba-tiba.
"HAHH!!?? Diculik??" teriakku syok, nyaris menumpahkan isi cangkir.
"Iya. Kejadiannya sudah lama, waktu dia TK. Penculik-penculik itu minta uang tebusan. Biasa, lah," jelas Claire santai.
Mukaku pucat. Untuk orang biasa sepertiku, tentu saja penculikan dengan permintaan uang tebusan bukan hal biasa. Terdengar seperti film aksi kriminal.
"Sejak peristiwa penculikan itu, kami memperketat pengawalan. Ke manapun Yoga pergi, selalu ada setidaknya dua orang staf keamanan yang mengikutinya, dan mereka tidak boleh berada diluar radius lima ratus meter darinya. Tapi kemarin ini kami 'kecolongan'. Jadi untuk berikutnya, rencananya pengawal akan menunggu Yoga di luar ruang kelas. Setidaknya seperti ini sampai Yoga masuk SMP," papar Claire, membuatku terpana. Sungguh kehidupan Yoga dan kehidupanku bagai langit dan bumi.
Aku mengangguk. "Terus, untuk mencari ketiga anak preman SMP yang kemarin itu ... aku gak tau harus mulai cari dari mana, Tante," kataku.
"Oh tenang aja. Kami punya banyak mata-mata. Kami sudah tau di mana sekolah ketiga anak tukang palak itu," kata Claire tenang.
"HAHHH!!?? Tante sudah tau? Di mana??" pekikku.
"Sekolah mereka nggak jauh kok dari gedung SD kalian," kata Claire tersenyum.
"Yang Tante perlu dari kamu, adalah kesaksianmu di depan kepala sekolah dan guru BK mereka, besok," kata Claire mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Ooh iya, Tante. Insyaallah saya mau jadi saksi," kataku yakin.
Claire menepuk tangannya sekali. "Nah! Beres, kalo gitu! Besok setelah pulang sekolah, Tante akan jemput kalian, dan kita berangkat bareng ke sekolah mereka!"
.
.
***