.
.
Setelah dua tahun, Yoga tidak kunjung move on dari Erika.
Aku merasa harus melakukan sesuatu untuk menolongnya.
.
.
***
Tiga anak laki-laki itu berwajah pucat dengan tubuh relatif kurus. Satu anak yang tubuhnya paling tinggi, kukenali sebagai anak yang memukul pipi Yoga. Sepertinya dia 'pimpinan geng' mereka.
Pria paruh baya di seberang mereka menggeser posisi kacamata tebalnya. Di atas mejanya terpampang sebuah papan nama hitam bertuliskan huruf warna putih. KEPALA SEKOLAH / BPK. HAIDAR SOEROTO.
"Apa benar kalian melakukan itu?" tanya Pak Kepsek.
Ketiganya menunduk ke lantai, sambil sesekali melirik satu sama lain.
Seorang guru muda yang berdiri di samping Bapak Kepala Sekolah, menghela napas. Dia adalah guru BK di SMP itu.
"Sebaiknya kalian jujur. Jangan bohong dan minta maaf sama anak ini," kata sang guru BK sambil menunjuk ke arah Yoga.
Anak yang paling tinggi badannya, sempat melirik Yoga dengan tatapan bengis.
"Ya, pak. Kami memang memalak dia," kata anak itu.
Pak Haidar dan guru muda itu melihat Claire dengan rasa tak enak hati. Claire berdiri sambil melipat tangannya. Menatap tajam ke mata anak yang baru saja mengaku.
"Lalu siapa yang memukul anak saya, Yoga?" tanya Claire pelan dengan emosi yang diredam.
Anak yang ditanya, balik menatap Claire.
"Saya memang mukul dia, tapi dia mukul saya duluan!" tuduh anak itu dusta.
Mataku terbelalak. Yoga tak kalah kaget. Bibirnya bergerak, dia baru akan membela diri, tapi tak ada suara yang keluar.
Aku segera bicara untuk membelanya, "DIA BOH--!!"
Belum selesai kalimatku, Claire melakukan sesuatu yang mengejutkan kami semua. Dia berjalan menghampiri anak itu dan menampar pipinya keras.
PLAKK!!!!
Tamparan itu mencipta bekas memar serupa dengan di pipi Yoga.
"BERANINYA KAMU BOHONG!! KAMU PIKIR SAYA BAKAL PERCAYA?? SAYA TIDAK PERNAH DIDIK ANAK SAYA YOGA SEPERTI ITU!! YOGA TIDAK MUNGKIN MEMUKUL DULUAN!! DAN YOGA TIDAK PERNAH BOHONG!" bentak Claire berang.
Kami semua terkejut. Aku melihat Yoga matanya terbuka lebar. Tapi kemudian tatapannya berubah menjadi lembut, dan dia tersenyum. Senyuman paling bahagia yang pernah kulihat.
Claire menoleh ke Pak Haidar.
"Pak, saya anggap masalah ini sudah selesai. Tamparan saya barusan ke anak ini, saya anggap impas. Terserah Bapak, kalau anak ini masih mau di skors atau tidak. Saya hanya minta tolong, sampaikan ke orang tua anak ini, untuk mendidik anaknya supaya tidak terbiasa berbohong. Akan buruk dampaknya nanti saat dia dewasa," kata Claire sebelum kami bersiap pergi.
"A-ah ... iya, Bu Claire," kata pria itu berdiri, dan berbarengan dengan guru muda di sampingnya, mereka berdua membungkuk.
"Kami benar-benar minta maaf, Bu. Kami akan awasi anak-anak didik kami lebih baik lagi. Terima kasih atas laporan Ibu," ucap keduanya penuh penyesalan.
Dan, selesai sudah urusan itu. Kami bertiga sudah berada di dalam mobil.
Claire menoleh padaku. "Gito, apa kamu buru-buru mau pulang sekarang?" tanya Claire.
"Oh ... enggak kok, Tante," jawabku.
"Kalo gitu, kamu mau makan malam di rumah kami?" ajak Claire antusias.
"Makan malam? Dengan senang hati, Tante, tapi saya minta izin ibu saya dulu."
"Iya. Kamu minta izin dulu sama orang tuamu, ya. Nanti jangan khawatir. Kamu akan diantar pulang ke rumahmu."
Yoga tiba-tiba menepuk lenganku. "Nanti kita main dulu yuk, Gito. Aku punya banyak mainan!" kata Yoga dengan binar senang di matanya.
"Iya," sahutku membalas senyumnya, tertular bahagianya.
Claire mengelus kepala Yoga. "Iya, Yoga. Nanti kamu ajak Gito main di kamarmu ya."
Yoga mengangguk senang. Claire menyadari keherananku dengan ekspresi Yoga. Dan dia seperti berusaha menjelaskan, "Yoga jarang sekali mengajak temannya ke rumah. Maksud Tante, yang benar-benar temannya."
Raut wajah Yoga berubah malu. Dia menyenggol tangan Ibunya. "Ibu! Pake cerita kayak gitu segala!" omel Yoga.
Claire tertawa. Aku tersenyum geli melihat sisi manja Yoga yang tak pernah kulihat di sekolah.
***
Yoga mengajakku ke kamarnya. Kamarnya memang tak seluas kamar ibunya, tapi tetap saja besar untuk ukuran standarku.
Aku menahan senyum, melihat Yoga mengeluarkan satu persatu mainannya dengan semangat. Padahal selalu ada saja anak-anak laki-laki di kelas yang mengerubunginya. Kupikir dia punya banyak teman. Tapi melihatnya sekarang, aku sepertinya teman pertamanya.
Kami menghabiskan waktu bersama hingga jelang makan malam. Dengan banyaknya koleksi mainan dan dvd film anak-anak yang dia miliki, waktu seharian pun tak akan terasa.
Namun ada satu hal yang aku agak heran. Saat jam salat Ashar dan Maghrib, Yoga terlihat enggan untuk salat. Aku berusaha mengajaknya dengan halus.
"Yoga, Ustazku bilang, nanti kalau kita sudah akil baligh, kita wajib salat."
Yoga menjawab sambil menatap game balapan mobil di layar. "Iya. Itu nanti aja, 'kan? Sekarang kita 'kan masih anak-anak."
Aku tersenyum. "Iya memang sekarang belum wajib. Tapi bagus kalo dari sekarang kita mulai membiasakan salat. Ya 'kan?"
Jari Yoga menekan tombol yang membuat aksi balapan di layar terhenti. Dia berdiri dengan malas, dan berjalan ke arah kamar mandi. "Iya iya. Aku wudu dulu," kata Yoga terpaksa.
"Nah. Gitu, dong," kataku tersenyum.
Kami salat berjamaah, dan dia memaksaku menjadi imam. Sejak itu, dia sering meledekku dengan sebutan 'ustaz'. Dan setiap kali aku mencoba mengingatkannya salat, dia menyebutku sedang 'ceramah', tapi aku tahu, dia tak pernah membenciku karenanya.
Saat makan malam tiba, tadinya hanya ada aku, Yoga dan Claire. Tapi di tengah jamuan makan malam, mendadak ayah Yoga datang. Dia datang dengan setelan jas kerja dan dasi bermotif garis-garis. Pria tampan dengan alis tebal dan raut wajah tegas itu tidak terlihat senang.
Claire yang tadinya sedang menyendok sup, segera menghentikan makannya dan berdiri menyambut kedatangan suaminya.
"Sayang, kamu pulang cepat hari ini? Kupikir kamu masih di Malang," ucap Claire lembut.
Pertanyaan Claire tidak digubris. Pria itu berjalan ke arah Yoga. Yoga menatapnya bingung. Setelah berada persis di depan Yoga, tangannya menyentuh dagu Yoga. Dia mengamati pipi Yoga.
"Ini bekas pukulan anak kampung itu?" tanya Dana, pemilik perusahaan Danadyaksa Corp. yang terkenal di kolom berita bisnis.
Yoga melotot dan diam tak menjawab.
Pria itu menoleh ke arah Claire. "Kenapa aku bisa baru tahu sekarang? Aku barusan dengar dari supir," kata Dana, terdengar seperti protes.
Claire terlihat berhati-hati dalam menjawab, "Ah ... itu karena kemarin kamu pulang sudah sangat malam, dan pagi ini kamu berangkat pagi-pagi sekali ke Malang. Jadi aku pikir timing-nya kurang tepat kalau aku cerita," kata Claire menghampiri suaminya dan mengusap punggungnya, tapi suaminya nampak tidak puas dengan jawaban itu.
"Seharusnya kamu cerita secepatnya. Siapa anak kampung itu yang berani-beraninya mukul Yoga??" tantang Dana.
"E-em ... tenang dulu, sayang. Aku sudah beresin semuanya. Kami sudah ketemu anak itu, dan sudah kasih dia pelajaran."
Pria itu mengerutkan alisnya. "Pelajaran? Pelajaran apa?" tanya Dana.
"Aku sudah pukul pipinya. Satu-sama. Impas," jawab Claire tersenyum riang, membuat emosi suaminya terlihat agak 'cair'. Pria itu melonggarkan dasi dan menghela napas.
Claire merangkul suaminya dan mengarahkannya untuk duduk di kursi makan. "Yuk kita makan bareng," bujuknya.
Ayah Yoga yang bernama panjang Danadyaksa, akhirnya menurut dan duduk di dekat istrinya.
Claire melirik sebentar mengamati ekspresi wajah suaminya, sebelum berusaha memperkenalkanku.
"Sayang, hari ini kita kedatangan tamu," ucap Claire dengan tangan tertuju ke arahku.
Dana sepertinya baru sadar kalau aku eksis di ruangan itu. Aku segera berdiri dan menundukkan kepalaku. "Om, saya Gito, temannya Yoga," kataku memperkenalkan diri.
Dana mengangkat alisnya sedikit. "Tumben Yoga ngajak temannya sini sampai malam," komentarnya heran.
Claire tersenyum. "Iya, sayang. Gito bukan teman biasa. Gito adalah yang menyelamatkan Yoga saat dia dipalak anak-anak itu," jelas Claire.
Aku merasa penjelasan itu berlebihan, jadi aku berusaha menjelaskan pada ayahnya Yoga. "Anu, Om. Waktu itu saya cuma kebetulan lewat di sana," kilahku.
Dana menatapku dengan cara yang berbeda. Tatapannya terlihat lebih lembut.
"Ooh ... kamu yang nolongin Yoga? Makasih ya, Dek. Kamu mau Om beliin mainan apa?" tanya Dana.
"S-Saya gak perlu dikasih apa-apa, Om. Bener. saya --," jawabku bermaksud menolak tawarannya.
"Jangan bilang gitu," kata Dana beralih ke Yoga. "Yoga, besok ajaklah temanmu ini ke toko mainan langganan kita. Suruh dia pilih apa saja yang dia mau."
Yoga cuma manggut-manggut sambil menahan tawa, melihat reaksiku yang kebingungan celingukan, bergantian melihat Yoga, Dana, dan Claire.
Dana mulai makan, dan suasana sempat hening, hanya terdengar suara sendok garpu saat bersentuhan dengan piring, lalu terdengar dari kejauhan, suara air mancur di taman. Aku berpikir, apa mereka memang terbiasa makan dalam keheningan seperti ini? Di rumahku, suasana makan selalu terdengar riang dengan suara tawa. Bising, tapi menyenangkan.
Tangan Dana sibuk menyeka bibirnya dengan serbet putih. Kami sudah selesai makan. Dana berdiri dari kursi.
"Kejadian yang menimpa Yoga kemarin, kita harus cegah supaya jangan sampai terjadi lagi!" kata Dana tegas pada istrinya.
"Iya, sayang. Aku sudah urus itu juga. Pengawal akan menunggu di luar kelas. Jadi tidak ada kesempatan untuk orang asing mendekati Yoga. Setidaknya, kupikir sampai Yoga masuk SMP," kata Claire.
Dana mengembuskan napas bersama kekesalannya. "Itulah makanya. Aku 'kan sudah bilang. Ini gak akan terjadi kalau kamu nurut sama aku. Yoga harusnya masuk ke sekolah anak-anak elit. Bukan mengikuti saranmu, di sekolah anak kampung! Beginilah jadinya! Aku ke kamar dulu," ucap Dana sebelum meninggalkan ruang makan.
"I-iya. Aku segera menyusul, sayang," ucap Claire gugup. Suaminya melengos pergi, tak merespon.
Aku refleks menundukkan wajahku. Sepertinya satu-satunya yang cukup sensitif menyadari bahwa aku sedikit tersinggung dengan kalimat Dana barusan, hanya Claire. Dia melirikku sedikit dengan simpati. Sementara Yoga dan ayahnya, kelihatannya sama sekali tak merasakan apapun. Biasa saja.
"Gito, terima kasih ya sudah menemani kami seharian ini," kata Claire menghampiriku.
"Iya, Tante. Sama-sama. Terima kasih saya sudah diundang main ke sini," kataku berdiri dari kursi.
"Tolong jangan dimasukkan ke hati, ucapan ayahnya Yoga tadi, ya. Dia enggak bermaksud menyinggung perasaanmu," bisik Claire.
"Nggak apa-apa, Tante," ucapku tersenyum maklum.
"Yoga, ini sudah malam. Antar Gito ke pak supir di depan, ya," kata Claire pada putranya.
"Iya Bu. Aku juga mau ikut bareng Gito," jawab Yoga.
"Oh? Kamu mau ikut?"
"Iya. Aku mau tau di mana rumah Gito," kata Yoga antusias.
Claire mengelus kepala Yoga. Ikut senang melihat Yoga mendapat teman baru.
"Ya sudah. Ibu ke kamar dulu, ya," kata Claire sebelum meninggalkan mereka.
"Yuk kita ke rumahmu!" ajak Yoga.
Aku mengangguk. Kami berjalan ke pintu depan, dan Bastian memanggil seorang supir untuk menyiapkan limosin. Tak lama, limosin hitam yang mulus itu menjemput kami di depan teras.
Di dalam mobil, Yoga menanyaiku macam-macam. "Kamu punya adik atau kakak?"
"Aku punya satu adik perempuan."
"Oh. Seru ya punya saudara di rumah?" tanya Yoga tersenyum, tapi aku bisa menangkap kesedihan di matanya. Dia kesepian di rumah besar itu, tanpa adik atau kakak, tebakku.
"Biasa aja, kok," jawabku berusaha menghiburnya.
"Kalau kamu mau, aku bisa sering-sering main ke rumahmu," ucapku tiba-tiba. Yoga diam.
"Yah ... itu kalau aku gak ganggu keluargamu di rumah," lanjutku.
"Boleh kok! Bener, ya? Kamu akan sering main ke rumah??" tanya Yoga senang.
Kami jadi teman baik sejak itu. Kadang kami saling bercanda, dan karena kami sudah saling memahami, tak ada di antara kami yang tersinggung karenanya. Aku sering mengomentari rambutnya yang mulai panjang. Ternyata Yoga sangat menyukai rambutnya, dan dia berniat ingin memanjangkan rambutnya.
Sekitar dua tahun kemudian, di tahun kelima kami saat SD, aku merasa Yoga agak berubah. Menjadi lebih pendiam dan suram. Dia menyimpan masalah pribadi, aku tahu. Aku tidak memaksanya bercerita. Aku menebak, terjadi sesuatu yang buruk di rumahnya.
Hingga suatu hari dia mengajakku main ke rumahnya. Aku menyadari tidak melihat ibunya sama sekali. Dan aku teringat saat pengambilan rapor, aku juga tidak melihat ibunya. Yang hadir justru Bastian. Saat itu aku ingin tanya sebenarnya, tapi aku menahan diri.
Akhirnya kuberanikan diri bertanya. "Em ... Yoga. Aku sudah lama gak lihat Ibumu. Ibumu lagi pergi, ya?"
Pertanyaan itu membuat wajah Yoga terlihat tegang. Dia yang tadinya sedang duduk di kursi kamar, tiba-tiba berdiri membelakangiku, menghadap ke taman.
Dia bergeming agak lama. Keheningan yang diisi suara percikan air mancur dan wangi mawar putih dari taman. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku dengan senyum dipaksakan.
"Aku juga nggak tau Ibuku ada di mana," jawabnya.
Aku terkejut. Setelah bicara begitu, pertahanan Yoga runtuh dan lututnya jatuh ke lantai. Dia menutup wajahnya dan menangis sekuat tenaga. Aku segera menghampirinya.
"Yoga, maaf. Harusnya aku gak tanya. Sudah, jangan nangis, ya," ucapku.
Tapi tangisnya makin menjadi. Dalam kebingunganku, aku memeluknya. Berharap dia lebih tenang. Agak lama dia menguras air matanya hingga kaus di bagian pundakku basah kuyup.
Akhirnya perlahan Yoga menceritakan peristiwa itu padaku. Intinya, ayah dan ibunya bertengkar hebat. Menurut Yoga, mereka memang sering bertengkar, tapi pertengkaran kali ini berbeda. Yoga memang tidak secara detail menjelaskan, apa penyebab pertengkaran mereka. Pertengkaran itu diakhiri dengan pukulan keras, walaupun, katanya lagi, ini bukanlah pukulan pertama. Yoga juga tidak melihatnya secara langsung. Dia mendengarnya dari balik pintu. Setelah pemukulan itu, ayahnya keluar dari kamar dengan wajah marah, dan pergi dengan supir, entah ke mana.
Dengan ketakutan, Yoga memasuki kamar Ibunya. Claire rupanya sedang menelepon seseorang dalam bahasa Portugis. Ayah Claire adalah seorang berkebangsaan Brazil, yang memang menggunakan bahasa Portugis dalam percakapan mereka sehari-hari.
Biasanya dulu di waktu senggang, kadang Claire mengajari Yoga bahasa Portugis. Jadi sedikit banyak Yoga memahami percakapan mereka. Volume suara kakeknya juga terdengar keras dan lantang. Beliau terdengar luar biasa marah. Yang Yoga tangkap dari percakapan itu adalah, Claire sudah tidak tahan dengan cara Dana memperlakukannya, dan dia mengadukan itu pada ayahnya (kakeknya Yoga). Kakeknya marah besar dan menyuruh Claire angkat kaki dari rumah suaminya malam itu juga.
Itu yang Yoga ceritakan padaku. Aku tahu pasti ada banyak hal lainnya. Tapi itulah yang sanggup dia ceritakan padaku. Aku berusaha membesarkan hatinya.
"Yoga, Ibumu pasti punya alasan, kenapa dia tidak bisa memberimu kabar," hiburku.
Yoga menegakkan kepalanya dan memandangiku dengan pancaran hati yang patah di dalam sorot matanya. Membuatku jadi ikut terlarut dalam kesedihan, dan akhirnya aku pun ikut menangis.
"Ibumu sangat sayang padamu, Yoga. Aku sudah menyaksikannya sendiri. Dia tidak mungkin mencampakkan kamu, anak satu-satunya yang paling dia sayang."
Yoga heran melihatku ikut meneteskan air mata. Dia mengangguk pelan, lalu memeluk kaki yang ditekuk ke dadanya, membenamkan wajahnya dan kembali menangis.
Aku hanya menemaninya di sana sore itu dalam diam. Cahaya senja menyusup masuk ke dalam kamar. Terasa memilukan.
***
Aku berusaha membantu Yoga melewati masa-masa berat itu. Kami lulus SD, dan Yoga memutuskan bersekolah di SMP yang sama denganku. Dia melawan keinginan ayahnya yang sebenarnya lebih suka kalau dia sekolah di tempat elit.
Dengan penampilan dan kekayaannya, Yoga sangat populer selama SMP. Dan kuperhatikan, dia mulai lebih mudah bergaul. Mungkin karena sudah cukup lama dia bersekolah di sekolah umum, dengan anak-anak golongan menengah kebanyakan. Yoga mulai lebih banyak tertawa. Walau kuakui sifat angkuh khas 'kerajaan' masih melekat pada dirinya.
Di tahun kedua kami di SMP, Yoga mendengar kabar dari saudara jauh, bahwa ibunya sudah menikah dengan seorang pria Brazil. Dia nampak tenang saat menceritakan itu, tapi aku tahu kalau dia sebenarnya sedih.
Aku sengaja 'menyeret'nya masuk ke klub basket. Berharap olah fisik akan baik untuknya. Bisa menjadi semacam 'pelampiasan'. Agar dia tidak sempat melamun memikirkan ibunya. Dan kurasa, itu cukup berhasil. Setidaknya, aku merasa Yoga mulai bisa menerima kenyataan bahwa ibunya tidak ada di dekatnya lagi.
Dengan skill basket Yoga yang lumayan, dan tampangnya yang mirip model Brazil, anak-anak perempuan di sekolah tergila-gila padanya. Dalam sebulan ada saja perempuan yang nekat 'menembak'nya. Dan semuanya ditolak langsung. Beberapa anak perempuan mendekatiku dan ujung-ujungnya, ternyata mereka cuma ingin menitipkan surat cinta pada Yoga. ASEM! Penggemarnya bukan cuma di lingkungan sekolah, tapi juga dari banyak sekolah lainnya.
Tapi kupikir itu bagus. Kuharap fans-fansnya ini bisa membantunya menghilangkan perasaan kesepian yang dulu biasa dia rasakan.
Kami lulus SMA, dan lagi-lagi Yoga masuk ke SMA yang sama denganku. Kejadian yang sama terulang kembali. Yoga seperti magnet bagi para perempuan. Ada satu anak yang paling agresif di sekolah, yang gencar mendekati Yoga sejak tahun pertama SMA. Namanya Lynn. Perempuan ini wajahnya cantik, rambutnya lurus sebahu dan bertubuh seksi. Dia selalu mengenakan seragam yang ketat, menonjolkan bentuk tubuhnya. Melihatnya, mengingatkanku pada tokoh antagonis di sinetron remaja yang biasa ditonton adikku tiap malam.
Aku sempat berpikir, jika Lynn akhirnya 'nembak' Yoga, mungkin Yoga akan menerimanya. Dan saat Lynn akhirnya menyatakan perasaannya, ternyata Yoga menolaknya juga!
"Yoga, kenapa kamu menolak dia? Lynn 'kan yang paling cantik di sekolah kita," tanyaku.
Yoga menjawab dengan acuh. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku. "Ah males. Nanti, kalau suatu hari aku benar-benar suka dengan seseorang, aku akan jadian dengannya. Kalau aku tidak serius, lebih baik gak usah. Buang-buang waktuku aja," jawabnya.
Dua tahun berlalu. Memasuki tahun ketiga kami di SMA, mendadak Yoga mengejutkanku dengan permintaannya.
"To, besok bantu aku kasih surat buat anak perempuan ya. Namanya Erika."
"HAH?? Tunggu dulu. Ada apa ini, Yoga? Kenapa aku gak pernah dengar apapun soal Erika?" protesku.
Wajahnya nampak berseri-seri. "Aku jatuh cinta sama dia, To. Besok aku mau nyatakan perasaanku."
Itu adalah awalnya. Namun rupanya mereka putus setelah sepuluh bulan bersama. Putusnya mereka bersamaan dengan malam prom. Dan di malam yang sama, aku dengan kompaknya juga putus dengan pacarku, dengan usia pacaran hanya dua bulan.
Seperti dugaanku, aku hanya perlu waktu singkat untuk melupakan mantanku. Tapi hubungan kami sama sekali tidak bisa disamakan dengan hubungan antara Yoga dan Erika. Hubungan mereka melibatkan perasaan yang sangat mendalam.
Yoga terpuruk. Suasananya sakit hati yang dirasakannya mirip dengan saat dia ditinggalkan oleh ibunya.
Aku membiarkan dia dengan suasana 'berkabung'nya sekitar 6 bulan. Kupikir, mungkin dia perlu waktu. Tapi, setelah dua tahun, Yoga tidak kunjung move on dari Erika. Aku merasa harus melakukan sesuatu untuk menolongnya.
.
.
***