Bagian 6 (Catatan Erika)

1821 Kata
. . Rupanya seperti ini rasanya jatuh cinta. Rasanya seperti lilin yang meleleh terbakar api. . . *** Tiga bulan berlalu sejak aku dan Yoga bersama ... Selama tiga bulan ini, kuperhatikan kejadian seperti di parkiran mall itu tidak pernah terulang kembali. Aku mulai membuat alasan-alasan di kepalaku. Mungkin hari itu sebenarnya dia sedang ada masalah di rumahnya, tapi malu untuk cerita padaku. Mungkin sejak berangkat sebenarnya dia memang sudah kesal, tapi saat di mobil dia berusaha menutupinya. Mungkin ... mungkin ... mungkin ... Selain itu, aku masih sering mendapatkan tatapan kebencian dari beberapa anak-anak perempuan yang dulunya anggota fansnya. Terutama sekali dari yang bernama Lynn. Pernah suatu hari saat berpapasan dengan Lynn di kantin, dia dengan sengaja menabrak pundakku hingga aku nyaris jatuh. Lynn menatapku dengan sinis. Aku tahu dia sengaja memancingku supaya aku marah padanya, dan kami berakhir berkelahi. Tapi aku tidak pernah menanggapi dia sekalipun. Dan dia terlihat semakin kesal padaku karenanya. Selama tiga bulan ini, Yoga bersikap sangat manis padaku. Setelah dia tahu kalau aku suka yoghurt, saat istirahat siang, dia menghampiri kelasku dan membawakanku yoghurt kesukaanku, ditambah beberapa kue. Dia menjadikan itu kebiasaan setiap hari, dan tak pernah luput sehari pun. Kami makan kue bersama sambil mengobrol di bangku luar kelas. Mengobrol dengannya terasa menyenangkan. Kurasa, terlepas dari apapun, aku merasa kami cocok satu sama lain. Aku baru saja menyendok yoghurt rasa blueberry ke dalam mulutku. Yoga tiba-tiba tersenyum geli melihat wajahku. "Kenapa?" tanyaku. "Belepotan tuh. Ada sisa yoghurt di pipimu," kata Yoga. Aku segera mengambil tisu di kantung baju, berusaha menyeka pipi. "Di sebelah mana? kiri? kanan?" tanyaku lagi. Yoga mengambil tisu di tanganku. "Biar aku bersihin, sayang," ucap Yoga lembut. Panggilan yang selalu berhasil membuat mukaku hangat. Dia mengelap pipiku dengan lembut. Tangan Yoga berhenti bergerak, dan mata kami bertemu. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat jantungku rasanya bisa terhenti kapan saja. "Sudah bersih," kata Yoga tersenyum. Aku masih belum berani melihat wajahnya, jadi aku melanjutkan makan sambil menunduk ke lantai. "Erika," panggil Yoga. "Ya?" "Aku mau ketemu dengan Ibumu. Apa Ibumu ada waktu malam ini setelah kamu pulang les?" Pertanyaan Yoga itu membuatku berhenti makan. "Ibuku? Ada. Ibuku ada di rumah. Emm ... ada apa ya?" tanyaku. "Enggak ada apa-apa. Cuma mau ngobrol aja," jawabnya. Aku mengangguk, masih dengan agak bingung. Kami baru tiga bulan jadian, dan dia terpikir untuk ngobrol dengan Ibuku? Ngobrol apa? *** Mobil Yoga sudah berhenti sempurna di pinggir jalan, dekat belokan menuju tempat les. Seperti biasa, Yoga ikut menemaniku turun dari mobil. "Nanti kujemput ya," katanya. Aku sebenarnya merasa tidak enak padanya. Aku tidak pernah suka merasa merepotkan orang lain. Dia memperhatikan reaksiku yang terlihat salah tingkah. Aku menggigit bibirku, ingin bilang sesuatu tapi ragu. "Kenapa?" tanya Yoga. "Enggak. Aku cuma ... gak mau ngerepotin kamu. Kenapa kamu harus nungguin aku tiap hari? Aku bisa kok naik angkot. Beneran, deh!" kataku. Yoga tertawa. "Enak aja. Pacarku naik angkot sendirian? Enggak boleh! Ini sesuatu yang memang sepantasnya kulakukan. Udah, jangan pernah ngomong kayak gini lagi. Sana kamu les gih, buruan!" usirnya dengan tangan mengibas. Bibirku manyun, tapi kemudian aku tersenyum padanya. Kami saling melambaikan tangan. Butuh waktu sekitar lima menitan berjalan hingga di belokan itu. Dan seperti biasa, aku kembali menoleh ke belakang, sesaat sebelum berbelok. Dia selalu masih ada di sana. Berdiri bersandar di mobilnya. Matanya tidak lepas dariku. Dia bisa saja melihat isi ponselnya sambil menungguku berjalan, tapi dia tidak pernah melakukan itu. Belakangan aku merasa berbeda di momen ini. Jantungku berdetak lebih kencang. Yoga seperti biasa, tersenyum melihatku menoleh padanya. Dia kembali melambaikan tangannya. Aku menyadarinya. Aku jatuh cinta padanya. *** Kami sampai di depan rumahku. Secara mengejutkan, Ibuku membukakan pintu depan. Seolah menyambut kedatangan kami. Dia tersenyum pada Yoga. "Masuk, Nak Yoga," sambut Ibuku. Aku terdiam. Kapan aku pernah--? Apa aku pernah sebut nama Yoga pada Ibu? Aku tidak ingat. Jangan-jangan pernah, tapi aku lupa. Yoga membalas senyum Ibuku dan membungkukkan badannya sebelum masuk ke dalam rumah. Aku membantu Ibuku membuat teh hangat untuk kami, dan menghindangkannya di meja. Awal obrolan kami berupa ramah tamah biasa seputaran sekolah, rencana kuliah dan lain-lain, tapi kemudian Yoga menjadi lebih serius, dan aku tidak akan lupa apa yang dia bicarakan malam itu pada Ibuku. "Tante, saya ke sini untuk minta izin. Saya dan Erika sekarang sedang menjalin hubungan. Jadi mungkin ke depannya kami akan sering pamit jalan-jalan keluar. Tapi saya ingin Tante tau, kalau saya serius dengan hubungan kami. Dan saya janji, saya akan jaga Erika baik-baik." Mukaku terasa panas. Aku tidak menyangka dia akan bilang begitu pada Ibuku. Dan lagi, sekarang? Kami bahkan baru dekat tiga bulan. Ibuku terlihat sangat terkesan dengannya. Yoga sungguh bisa membawakan dirinya dengan baik. Di hadapan orang dewasa, dia tidak pernah terlihat takut, khawatir atau segan, namun tetap terlihat sopan. Di beberapa saat dalam percakapan dengan Ibuku, kadang kepalanya menunduk, tapi tidak dilakukan terlalu sering. Mungkin itu karena dia sering diterjunkan ke dunia bisnis oleh ayahnya. Dia pernah cerita padaku, kalau kadang dia diajak ikut bertemu langsung dengan klien ayahnya. Dia baru bertemu Ibuku, dan dalam setengah jam, aku merasa dia sudah mendapat 'restu' dari Ibuku. Dalam beberapa hal, aku kagum dengannya. Yoga, pacarku. Dia jelas bukan siswa SMA biasa. Aku mengantar Yoga ke depan gerbang. Yoga sudah melambaikan tangan, pamit pulang. Aku memperhatikan punggungnya. Aku merasa, dia sudah memberikanku banyak kebahagiaan, dan puncaknya adalah permintaan izinnya pada Ibuku. Tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diriku, aku ingin membagi perasaan bahagia yang meluap di dalam. "YOGA!" panggilku nyaris berteriak. Yoga berhenti berjalan. Dia berbalik badan. "Ya?" sahutnya. Bibirku sudah bergerak, tapi entah kenapa tidak ada satu kata pun yang keluar. Aku sudah tertular kebiasaan Yoga rupanya. Yoga menatapku tak berkedip. Aku masih juga tak bersuara. Ada bagian dari diriku, yang merasa khawatir, kalau aku mengucapkannya, apakah luapan rasa yang indah ini akan berkurang di dalam? Aku tidak mau. Aku ingin menyimpannya seperti harta karun. Mataku menatapnya dengan kelembutan yang belum pernah kuberikan pada siapa pun. Aku berharap dia mengerti dengan sendirinya. "Hati-hati di jalan. Nanti kasih tau aku kalau sudah sampai di rumah," kataku akhirnya. Yoga tersenyum dan membalas tatapanku dengan hangat. Aku merasa, dia mengerti. "Iya, sayang." Dia mengucapkan kata 'itu' lagi. Kami saling melambaikan tangan, sebelum dia masuk ke dalam mobilnya. Yoga sudah pergi. Kakiku terasa lemas. Aku duduk perlahan di kursi teras. Rupanya seperti ini rasanya jatuh cinta. Rasanya seperti lilin yang meleleh terbakar api. ***  Lima bulan sejak aku dan Yoga bersama ... Hari Minggu. Aku memakai jepit rambutku dengan hati-hati. Hari ini aku sedang ingin rambutku diurai saja. Aku memutar tubuhku sedikit. Kelihatannya kaus lengan panjang putih dan rok biru donker dengan motif bunga kecil yang kukenakan, nampak rapi. Setelah aku merasa semuanya sudah terlihat oke di depan cermin, aku keluar dari kamar dan turun ke bawah. Tadi sekitar sepuluh menit lalu, Ibu sudah memberitahuku kalau Yoga sudah datang. Aku tidak mengira dia akan datang lebih awal. Di tangga aku mendengar suara Yoga dan bapakku sedang mengobrol. Akhirnya Yoga ketemu juga dengan Bapakku. Bapakku sangat sibuk di kantornya. Biasanya tiap hari pulang malam. Sabtu pun kadang harus ngantor juga, dan baru pulang siang atau sorenya. Jadi cuma di hari Minggu saja Bapak seharian ada di rumah. Keluargaku memang jarang pergi jalan-jalan. Kami ini sebenarnya 'orang rumahan' yang terlalu terbiasa nyaman di sarang sendiri. "Oh ... jadi kamu nanti kuliah di jurusan Bisnis?" tanya Bapakku. "Iya Om," jawab Yoga, lalu menyadari aku sudah menapakkan kaki di lantai yang sama dengannya. Dia beralih pandangan ke arahku. Caranya memandangku setiap aku siap berangkat dengannya, selalu sama. Matanya tidak berkedip, dan ada jeda beberapa detik, dimana dia seperti tidak benar-benar sadar. Bapakku sedang menyenggol lengannya. "Yoga ... Yoga ... ," panggil Bapakku. Yoga terkesiap. "Oh. Maaf, Om. Ada apa ya?" Bapakku tertawa. "Om tanya kamu, tapi kamu lagi gak konsen kayaknya," seloroh Bapakku, membuat kami berdua malu. "Kalian mau berangkat sekarang kan? Berangkatlah. Hati-hati di jalan, ya," kata Bapakku seraya menepuk pundak Yoga. "Iya Om. Saya akan hati-hati," kata Yoga.  "Bu, ke sini sebentar. Mereka mau berangkat!" kata Bapakku pada Ibuku di dapur. Tak lama, Ibu muncul dari dapur. "Sudah mau berangkat? Enggak sarapan dulu di sini, Nak Yoga?" kata Ibuku. "Enggak usah repot-repot, Tante. Saya sama Erika bisa sarapan di luar. Tapi nanti lain kali saya mau sarapan di sini kalau boleh," jawab Yoga sopan. Ibuku merangkul punggung Yoga. "Oh boleh, dong. Nanti kalau ke sini lagi, Tante siapin sarapan buat kamu ya," kata Ibuku. Aku memperhatikan reaksi di mata Yoga saat Ibuku mengelus punggungnya. Aku merasa hatinya tersentuh. Dipikir-pikir, selama ini Yoga selalu cerita "Ayahku begini, Ayahku begitu, Ayahku --," tapi ibunya tidak pernah disebut sama sekali. Dan aku tidak bertanya sampai sekarang. Sebenarnya, aku menunggu dia menceritakannya sendiri padaku. Ibuku mengantar kami ke teras. Dari belakang kulihat Ibu masih mengelus punggung Yoga. "Jadi, rencananya kalian mau pergi ke mana?" tanya Ibuku. "Ke daerah Kota Tua, Tante," jawab Yoga. "Wah daerah itu cantik sekali. Tante sudah lama gak ke sana," komentar Ibuku antusias. Aku mendengkus kesal. Masih kuingat kemarin lusa di sekolah, saat Yoga berkata, "Minggu kita jalan." Khas Yoga. Ngomong apa, kek. "Gimana kalau Minggu kita jalan? Kamu ada ide mau ke mana?" Cis. Ini mah boro-boro. Aku pun baru tau kalau kami mau ke Kota Tua. Bapakku menarik lenganku dari belakang dan berbisik di telingaku, "Bapak suka dia, Erika. Kamu baik-baiklah dengannya." Aku memukul pelan pinggang Bapak. "Ih Bapak, apaan sih," sahutku malu-malu. Bapakku tertawa cekikikan. Padahal awalnya aku agak khawatir. Kupikir, dengan rambutnya yang gondrong, apa akan ada orang tua yang suka kalau putrinya pacaran dengannya. Tapi ternyata aku salah. Dia bisa 'menaklukkan' Bapakku dan mendapatkan restunya hanya dalam sepuluh menit. Di depan pagar, Yoga kembali berpamitan pada orang tuaku. "Om, Tante, nanti kemungkinan kami pulangnya agak malam. Saya mau ajak Erika ke daerah Timur, ada acara sebentar di sana. Saya usahakan antar Erika sampai sini enggak lebih dari jam sebelas." "Ooh ... iya iya. Om dan Tante percaya, kok. Hati-hati di jalan, ya," respon Ibuku. Kami saling melambaikan tangan. Yoga membukakan pintu mobil untukku, dan kami pun berangkat. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dengan bibir manyun. Yoga melirikku. "Kamu kenapa sih?" tanya Yoga. "Kamu mutusin mau jalan, tapi aku gak dikasih tau mau ke mana. Sudah gitu, mutusin mau pulang malam karena mau ke daerah Timur, tapi aku juga baru tau," kataku mengomel. Yoga tertawa. "Kirain apa. Emangnya ada bedanya kukasih tau atau nggak? Kamu tetep bakal ikut denganku, 'kan?" Itu lebih terdengar seperti kalimat pernyataan alih-alih pertanyaan. Aku tidak menjawabnya, dan melempar pandanganku ke jalanan. Mobil berhenti di perempatan lampu merah. Yoga tiba-tiba melepas seat belt-nya. Dengan mengejutkan, dia mendekati kursiku. Aku kaget, tiba-tiba wajahnya dekat sekali denganku. Rambutnya yang halus menyentuh tas yang sedang kupangku. "Jawab, sayang. Kamu mau ikut aku apa enggak?" desak Yoga berbisik. Aku terkejut dan mukaku merah padam. Tanganku refleks mendorong tubuhnya. "IIHHHH!!! RESE!! SANA JAUH-JAUH!!" teriakku. Yoga tertawa puas. "Mukamu merah banget!" "ENGGAK! Kamu salah liat!" kilahku. Namun agaknya temperatur di pipiku lebih jujur. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN