.
.
Langit biru cerah, awan putih berarak, aroma bangunan tua, dan sebuah foto kenangan. Sempurna.
.
.
***
Kami parkir tidak persis di depan kafe, jadi kami harus berjalan kaki ke sana mungkin sekitar sepuluh menitan.
Kami sudah turun dari mobil. Tapi kulihat Yoga masih berdiri di dekat mobilnya. Dia menyisir rambut dan meremasnya di belakang kepala. Kuperhatikan, itu kebiasaannya kalau sedang cemas atau berusaha mengingat sesuatu. Aku memerhatikan lagi penampilannya yang terlihat keren seperti biasa. Hari ini dia memakai baju lengan panjang maroon dan celana jeans. Ada aksen rantai kecil yang muncul dari kantung celananya.
"Ada apa Yoga?" tanyaku.
"Sebentar, aku cari mini laptopku dulu," jawabnya. Dia membuka pintu mobil dan sibuk mencari laptop di depan, tapi tidak ketemu. Dia mencarinya di jok belakang sambil misuh-misuh.
Aku melayangkan pandanganku ke bangunan di sekitarku yang bergaya arsitektur Belanda. Sudah lama aku tidak ke Kota Tua. Kakiku tanpa sadar melangkah menjauh dari mobil. Hari belum panas, dan cuacanya terasa nyaman di kulit. Aku menghirup udara dalam-dalam. Bangunan tua punya aroma yang bisa membuatku merasa rindu. Padahal selama hidupku aku belum pernah sekalipun tinggal di bangunan tua.
Begitu tersadar, ternyata aku sudah berjalan cukup jauh. Aku berdiri di tengah pelataran luas di dekat museum, dikelilingi bangunan tua lainnya. Dari sini aku bisa melihat kafe yang ingin kudatangi bersama Yoga.
Kurasa, sebaiknya aku menunggu Yoga di sini. Di depanku berjarak sepuluh meteran ada dua orang laki-laki. Dari penampilan mereka, sepertinya anak kuliahan. Yang sebelah kanan melihatku dari atas sampai bawah, membuatku merasa risi. Dia berbisik dengan temannya dan mereka tertawa. Aku membuang muka.
Setelah mereka sudah sangat dekat denganku, laki-laki yang sebelah kanan, secara mengejutkan menyapaku, "hai. Maaf, boleh kenalan? Kamu sendirian ke sini?" tanya pria itu.
"Enggak, aku -- ," jawabku agak gugup, sambil berpikir cara yang pas untuk menolak ajakan berkenalan darinya.
Sebuah sentuhan hangat terasa di pundakku dari arah belakang. Yoga berdiri merangkulku. "Ada apa sayang? Apa mereka ganggu kamu?" tanya Yoga. Panggilan sayang itu seolah menegaskan pada kedua mahasiswa itu, bahwa aku pacarnya.
Kulihat Yoga berkeringat dan napasnya memburu, membuatku merasa bersalah. Dia rupanya berlari menyusulku kemari.
Aku menggeleng. "Enggak kok, Yoga. Dia cuma mau ngajak kenalan," jawabku. Tidak ingin hal remeh ini jadi panjang.
"Apa mereka sentuh kamu?" tanya Yoga dengan nada khawatir.
"Enggak, kok. Kita pergi aja yuk," ajakku mulai cemas akan kemungkinan timbulnya keributan.
Aku berharap laki-laki itu pergi setelah melihat Yoga, tapi ternyata pembawaan orang itu memang menyebalkan.
"Kamu pacarnya? Anak SMA, ya? Aku kenalan sama pacarmu boleh, 'kan? Status kalian 'kan masih pacaran," ujar laki-laki itu santai.
"Kamu! Tunggu di sini!" kata Yoga menunjuk mahasiswa itu, lalu mengeluarkan ponsel dan menekan tombol.
Yang ditunjuk kelihatan bingung. "Tunggu? Maksudnya gimana?" tanya laki-laki itu dengan nada meledek.
Aku juga melihat Yoga dengan bingung, tapi Yoga kelihatan tenang. "Iya. Tunggu aja. Bentar lagi juga dateng," imbuhnya.
Beberapa detik kemudian, dua mobil sedan berwarna hitam datang mendekati kami dari dua arah yang berbeda. Kedua mobil itu mengerem mendadak, membuatku ketakutan dan sempat berpikir mereka akan menabrak kami.
Dari masing-masing mobil muncul seorang pria dewasa berpakaian dan berkacamata serba hitam.
"Ada masalah apa, Tuan Muda??" tanya mereka berbarengan pada Yoga.
Aku terdiam mendengar mereka menyebut Yoga dengan panggilan tuan muda.
Yoga mengacungkan jarinya ke mahasiswa di depannya. "Seret dia pergi dari sini! Orang ini sudah mengganggu pacarku!"
"SIAP, TUAN MUDA!" keduanya memberi hormat pada Yoga dan segera meringkus laki-laki itu. Mereka menyeretnya masuk ke salah satu mobil.
"HEYYY!!! APA-APAAN NIH??? LEPASIN!!" jerit laki-laki korban culik paksa itu.
Sementara teman laki-laki itu kabur menyelamatkan diri.
Aku merasa panik menyaksikan scene nyata yang mirip film-film mafia yang pernah kutonton. Tapi Yoga tetap nampak tenang.
"Kasih dia pelajaran biar kapok! Bawa ke tempat yang sepi, jangan terlalu mencolok!" titah Yoga, terkesan terbiasa dengan peristiwa ini.
"SIAP TUAN MUDA!!" sahut kedua pria berbadan tegap itu.
Yoga menyeretku pergi ke arah kafe. Sementara aku ketakutan. Aku masih bisa melihat laki-laki itu dilakban mulutnya di dalam mobil.
"S-SEBENTAR, YOGA!!! ORANG ITU MAU DIAPAIN??" tanyaku dengan rasa ngeri.
"Tenang aja. Cuma dikasih pelajaran. Enggak sampai mati, kok," jawab Yoga santai.
Mukaku pucat mendengarnya. Sebenarnya, aku ini pacaran sama siapa? Anak mafia??
Yoga terus menyeretku. Aku merasa tenaganya besar sekali, sampai-sampai aku seperti 'terbang' diseretnya. Tapi tiba-tiba dia berhenti, dan tak ayal aku menabrak tubuhnya dari belakang.
"ADUHH!!! Kenapa sih kok berhenti mendadak?" kataku.
Yoga berbalik badan dan mendekatiku. Aku bingung melihat ujung jari tengah dan jempolnya dipertemukan membentuk lingkaran dan mendekati keningku. Dia mau apa?
Yoga menyentil keningku. "AWW!!!" jeritku menyentuh bagian tengah kening.
"Itu hukuman ringan untukmu! JANGAN PERNAH JAUH-JAUH DARI AKU KAYAK TADI!! NGERTI??" perintah Yoga geram.
Aku terdiam. Kulihat wajahnya masih merah, mungkin karena tadi dia berlari kencang menyusulku. Matanya penuh dengan rasa khawatir.
"Iya," jawabku dengan tatapan lembut ke matanya.
"Ayo ke kafe," ucapnya.
Kami berjalan bersama. Aku menunduk melihat langkah kakiku sendiri sambil tersenyum. Baru kali ini aku merasa bahagia setelah membuat orang lain khawatir.
***
Dua cangkir kopi tarik panas sudah dihidangkan di meja bundar. Kafe ini dikelilingi jendela kaca. Orang-orang yang lalu lalang di luar bisa terlihat dengan jelas dari dalam, dan sebaliknya. Interior kafe didominasi warna putih, kecuali mejanya yang bermotif kayu rustic.
Aku melirik Yoga yang terlihat serius di depan layar mini laptopnya, menebak-nebak, apakah dia masih marah, atau apakah aku sudah bisa bicara dengannya? Karena sejak tiba di kafe, Yoga diam saja.
Ternyata Yoga sadar aku mengamatinya. "Kenapa?" tanyanya.
"Apa aku boleh tanya?" jawabku.
Yoga menatapku, lalu menutup layar laptopnya. "Tanya aja."
"Emm ... dua orang berseragam hitam yang tadi itu, siapa, ya?" tanyaku penasaran.
"Personal security. Waktu aku kecil, aku dulu pernah diculik untuk uang tebusan. Sejak itu, ayahku mempekerjakan dua orang personal security khusus untuk menemaniku ke mana pun aku pergi."
Jawaban yang mengejutkan. Walaupun aku tahu dia anak orang kaya raya, tapi ... personal security ke mana pun dia pergi? Aku tidak menyangka. Kemudian aku menyadari sesuatu.
"Ke mana pun? Jadi, selama ini mereka mengikuti kita?" tanyaku hati-hati.
Yoga kelihatan menikmati keterkejutanku. Dia menyeruput kopinya sedikit dan tersenyum. "Ya," jawabnya singkat.
Oh ya ampun. Orang-orang misterius itu membuntutiku selama ini. Dan aku sama sekali tidak menyadarinya.
Yoga tersenyum menggoda. "Ada lagi yang mau kamu tanya, sayang?"
Aku mengalihkan pandanganku, mendengar dia memanggilku dengan panggilan 'sayang'. Bagaimanapun, aku sulit untuk terbiasa mendengar kata itu keluar dari bibirnya.
"Erika, aku gak mau kamu salah paham. Bukannya aku gak mau hajar laki-laki yang berusaha kenalan denganmu tadi. Aku pengin banget sebenarnya. Seandainya tadi kamu jawab kalau dia sempat menyentuhmu, dengan senang hati aku sendiri yang bakal hajar dia," kata Yoga.
"Oh ... enggak! Aku sama sekali gak mikir gitu! Aku seneng, kamu khawatir sama aku," kataku.
Yoga tertawa. "Iya dong khawatir. Lagi pula, aku 'kan udah janji sama Ibumu, bakal jagain kamu."
Aku salah tingkah, rasanya seolah-olah aku barang antik yang harus dilindungi.
Yoga tersenyum padaku sebelum dia membuka kembali layar laptopnya.
Sebuah pikiran aneh terlintas. Kenapa Yoga membawa laptop saat bersamaku? Ini tidak biasanya.
"Yoga, kamu kok tumben bawa laptop pas kita jalan?" tanyaku.
Mata Yoga masih terlihat serius ke layar, dan hanya melirikku beberapa detik. "Oh ... aku lagi cek dan balas email masuk."
Aku diam. Mungkin karena aku terbiasa menikmati perhatiannya yang selalu penuh 100% saat bersamaku, aku jadi merasa cemburu dengan laptopnya. Biasanya, saat bersamaku, dia bahkan tidak melihat ponselnya sama sekali. Lagipula, email penting apa sih yang mungkin diterima seorang anak SMA?
"Email dari perempuan?" tebakku spontan.
Yoga melotot. "Apa kamu bilang?"
Aku gelagapan. Aku sendiri kaget kenapa aku bertanya, atau tepatnya menuduhnya seperti itu. "Oh! Maaf. Aku cuma ... maksudku, siapa tau 'kan ada email dari temanmu atau email milis grup, atau dari siapa gitu. Kamu 'kan populer, jadi -- ," ocehku gelagapan. Malu sekali rasanya. Yoga menatapku tak percaya.
"Aku gak ikutan milis. Menurutku, isinya cuma sampah. Dan aku gak pernah email-email-an sama perempuan," kata Yoga.
Walau masih penasaran, tapi aku sedikit merasa tenang mendengarnya. Aku memang baru mengenal Yoga lima bulan, tapi aku tahu dia bukan orang yang suka berbohong. Jariku merapikan anak rambut di dekat telinga, gerakan yang kadang kulakukan kalau aku gelisah.
Yoga memutar layar laptopnya ke arahku. "Kamu boleh liat sendiri. Enggak ada yang aneh di situ," kata Yoga sengaja menunjukkan layar laptopnya.
Mukaku merah padam. "A-AKU CUMA ISENG TANYA, KOK!! BENERAN! AKU ENGGAK SEGITUNYA --!"
Yoga sedang menahan diri untuk tidak tertawa. "Iya iya deh. Kamu cuma iseng tanya. Aku juga cuma iseng kasih liat isi email-ku ke kamu. Liat aja gih, sana. Hi hi."
Antara malu bercampur penasaran, akhirnya aku melirik juga ke layar itu. Ada puluhan email yang terlihat di sana, dan rata-rata isinya dari supplier, dari klien, partner, semuanya soal bisnis. Kalau pun ada nama perempuan, tetap membahas bisnis.
Aku menunduk dan merapatkan bibirku.
Yoga tersenyum bahagia. "Gimana? Udah liat?"
Aku cuma mengangguk. Yoga memutar balik laptopnya dan meneruskan kegiatannya. "Jangan khawatir, ini enggak lama, kok. Cuma balesin email satu per satu. Aku di sini untuk kamu, Erika."
"Iya," sahutku singkat. Malu sekali rasanya. Aku meminum kopiku dan membuka ponsel. Membuka beberapa medsos dan membalas inbox dari teman-temanku. Mataku memperhatikan wajah Yoga yang kelihatan keren dengan ekspresi seriusnya. Cahaya kebiruan dari laptop terlihat berpendar di kulit wajahnya. Entah kenapa ada dorongan yang kuat untuk mengabadikan momen itu.
Jantungku berdetak lebih cepat. Apa aku berani melakukannya? Kubuka menu kamera ponsel. Ponselku bisa mengambil foto tanpa suara sama sekali. Jadi, aku tidak akan ketahuan, 'kan?
Akhirnya dengan nekat aku melakukannya. Aku mengambil foto Yoga! Menegangkan sekali rasanya, sampai-sampai aku harus menyeka keringat di dahiku. Aku melihat hasil fotoku. Oh bagusnya! Aku suka sekali! Aku tidak akan pernah menghapus ini!
Baru tersadar kalau Yoga ternyata sedang memperhatikanku yang senyum-senyum sendiri. Sejak kapan ya?
"Kamu lagi ngapain, sayang?" tanya Yoga.
"Enggak penting, kok. Aku cuma lagi ngecek medsos aja," kilahku cengengesan. Dia membalas jawabanku dengan senyum.
"Nanti kita makan siang di sini. Setelah itu, aku masih belum tau ke mana. Soalnya kita ke daerah Timurnya masih agak lama. Aku mau kita sampai di sana malam," kata Yoga seolah memaparkan jadwal yang telah disusunnya rapi. Agaknya, dia memang berbakat alami dalam perencanaan.
Aku memandang ke luar jendela kaca dan melihat bangku kayu di bawah pohon di pelataran luas. Jariku menunjuk ke arah bangku itu.
"Gimana kalau nanti kita duduk di sana aja?" ucapku memberi ide.
***
Kami sudah selesai makan siang, dan Yoga memutuskan setuju dengan saranku. Dari pada kami terjebak kemacetan dan kesusahan parkir di mall, akhirnya kami duduk di bangku kayu di bawah pohon di pelataran dekat museum.
Suasananya sangat menyenangkan dengan pemandangan bangunan tua mengelilingi kami. Sekelompok mahasiswa sedang sibuk membuat sketsa bangunan. Setidaknya ada tiga orang fotografer sedang mengatur kamera dengan tripod-nya. Tempat ini memang sering menjadi incaran fotografer, atau sekedar untuk selfie/wefie untuk di unggah ke segala jenis medsos. Beberapa anak kecil saling berkejaran dengan sepeda yang rupanya mereka sewa tak jauh dari sini.
Yoga merebahkan lengannya lurus di atas sandaran bangku, di belakang punggungku. Kami mengobrol santai. Aku merasa waktu berjalan lebih lambat. Kuperhatikan Yoga banyak tersenyum hari ini. Langit terlihat biru muda cerah, dan awan berbentuk kecil-kecil berwarna putih terang.
Seorang laki-laki melintas di depan kami, dan Yoga spontan memanggil orang itu. Awalnya kupikir kenalannya, tapi ternyata bukan. Yoga meminta bantuan orang itu untuk mengambil foto kami memakai kamera ponselnya.
Yoga duduk lebih dekat denganku. Dia merangkul pundakku. Aku belum pernah sedekat ini dengannya. Dari lehernya, aku bisa mencium harum aroma woody bercampur sedikit citrus. Aku merasa aroma itu sangat pas dengannya. Aroma itu terekam kuat di ingatanku, menjadi bagian dari gambaran karakter seorang Yoga.
"Saya hitung ya. Satu ... dua ... tiga!" kata pria itu memberi aba-aba sebelum menekan tombol kamera.
Yoga mengambil ponselnya kembali dan berterima kasih pada orang itu. "Fotonya bagus!" komentar Yoga dengan senyum mengembang.
Aku segera merebut ponsel Yoga. Dia benar. Kami terlihat sangat bahagia di foto itu.
"Aku mau!! Kirim ke hapeku!!" pekikku antusias.
Yoga merebut kembali ponselnya. "Iya iya. Tunggu, dong," sergahnya.
"SEKARANG!!"
"Iya sayang, bawel!"
Langit biru cerah, awan putih berarak, aroma bangunan tua, dan sebuah foto kenangan. Sempurna.
***