Bagian 8 (Catatan Erika)

1836 Kata
. . "Sebesar apa kamu menyukaiku? Apa sama sepertiku?" . . *** Perjalanan ke daerah Timur makan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Karena alasan klasik khas ibukota. Macet. Aku celingukan melihat barisan panjang mobil di depan. "Wah panjang banget macetnya," komentarku. "Ya memang begini biasanya. Daerah sini lebih parah sih, memang. Gak masalah. Nanti sampai di sana mungkin pas sudah gelap," kata Yoga. "Memangnya ke mana ya?" "Ke tempat camping," jawab Yoga nyengir. "HAH?? SERIUS??" pekikku melotot. "Iya dong, serius," timpal Yoga. Aku merasa gemas. Memangnya dia pikir pergi ke tempat camping tidak perlu persiapan? "Kalo gitu, ntar kita mampir ke mini market dulu ya," pintaku. "Mau ngapain?" "Ada yang mau dibeli." Selepas melewati jalur kemacetan, kami mampir ke mini market. Setelah aku kembali duduk di mobil, Yoga melihat barang yang kubeli. "Lotion anti nyamuk?" tanya Yoga heran. "Iya. Sama cemilan dan minuman," ujarku seraya menunjukkan isi tas belanja. "Emang perlu ya, lotion anti nyamuk?" Pertanyaan Yoga terdengar ajaib di telingaku. "Perlu, dong. Kamu lupa ya kita tinggal di negara tropis? Tempat yang banyak pohon, biasanya banyak nyamuknya." *** Kami sudah memasuki gerbang Bukit Perkemahan. Jalanan berkelok-kelok dan perlahan menanjak. Di kiri kanan jalan rindang pepohonan. Beberapa kelompok tersebar di berbagai spot di atas rumput. Beberapa tenda sudah didirikan, dan terlihat nyala api unggun di tengah-tengah perkemahan mereka. Rasanya sudah cukup lama mobil menanjak, tapi kami belum menepi juga. "Kita mau ke mana, ya? Dari tadi rasanya masih ada banyak spot kosong di kiri kanan jalan," tanyaku mengedarkan pandangan. "Mau ke puncak bukit itu," tunjuk Yoga ke atas bukit, yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh dari posisi kami. Tiba-tiba terdengar suara letusan. Kami berdua terkejut. Ternyata ban mobil melindas sesuatu yang keras dan tajam. Karena memang gelap, Yoga tidak melihat rintangan apapun di jalanan. Kami segera menepi dan turun dari mobil. Ternyata benda itu adalah batu tajam yang entah bagaimana tertancap masuk ke jalanan yang berlubang. Yoga sedang memeriksa kondisi ban. "Ah! Sial!" misuh Yoga. "Kenapa?" tanyaku mendekat. "Batu itu tajam banget. Ban setebal ini sampai pecah!" kata Yoga sambil merogoh kantung celana dan menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Kalian di mana?" tanya Yoga, sepertinya pada pengawalnya, tebakku. "Masih kena macet? Gimana, sih? Apa gak bisa lewat jalur lain?" tanya Yoga kesal. "Carikan aku ban serep! Aku gak bawa. Banku pecah. Aku sudah di Bukit Perkemahan!" titah Raja Yoga, seperti biasa. "Ya sudah. Eh! Bentar ... kalian ke sininya nanti aja deh. Dua jam lagi," kata Yoga, membuatku mengernyit heran. Kenapa dua jam lagi? batinku. Tak lama, Yoga memutuskan sambungan telepon. "Erika, ayo kita jalan kaki ke atas bukit!" perintah Yoga. Aku melotot. "HAH?? Jalan kaki? Kamu bercanda, 'kan? Bukannya aku gak mau, tapi hari ini aku pakai rok dan sepatu hak lima senti! Susah untuk naik bukit dengan sepatu kayak gini, Yoga!" kataku protes. Wajah Yoga bergeming dengan penjelasan panjangku. "Jangan khawatir. Kalau kamu capek, nanti tak gendong ke mana-mana," jawab Yoga ngasal, berusaha menirukan lirik lagu Mbah Surip Alm. dengan aksen bahasa Jawa yang dipaksakan. Jelas bahasa Inggris Yoga terdengar jauh lebih fasih ketimbang logat bahasa Jawanya. Yoga berjalan mengambil sesuatu di dalam mobil. Ternyata sebuah senter. Dia menyalakan senter itu. "Erika! Ngapain kamu berdiri di sana? Ayo cepat ikut aku!" perintahnya dengan gaya songong, membuatku kesal sampai ke ubun-ubun. Rasanya ingin kugigit dia. Aku mengikutinya dari belakang. Posisi tanah lebih rendah dari jalanan. Aku berjalan dengan hati-hati dan beberapa kali nyaris jatuh karena ujung sepatuku kadang masuk ke dalam tanah. Yoga berjalan dengan cepat di depanku. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Yoga, disusul suara debum jatuh ke tanah. Yoga kah itu yang jatuh? Aku menajamkan mata. Sepertinya iya. Aku nyaris tertawa cekikikan. Itu makanya, jangan sok tahu. Siapa suruh malam-malam nekat menerobos pepohonan naik bukit segala? Aku mulai cemas saat Yoga tak bersuara. "YOGA??" panggilku berteriak. Aku melepas sepatuku, menentengnya di tangan dan berlari. Kulihat Yoga sedang meringkuk dan berusaha bangun. Rupanya dia tersandung akar pohon besar. "Sayang, kamu gak apa-apa?" jeritku cemas. Aku sungguh tidak sadar saat aku memanggilnya dengan sebutan itu. Yoga menoleh dengan raut terkejut. Aku berusaha membantunya berdiri. "Kamu sakit? Sebelah mana?" tanyaku. "Enggak. Gak sakit. Tadi pas jatuh, kutahan pakai tangan," kata Yoga. Aku mengamati tangannya. "Ya ampun. Tanganmu luka!" kataku khawatir. "Gak apa-apa kok," ucap Yoga menatapku lama. Walaupun penerangan di sana sangat minim, tapi pancaran sinar bulan membuatku bisa melihat ekspresi malu di wajahnya, dan aku tidak mengerti kenapa. "Ayo kita lanjut jalan ke atas," kata Yoga. Dengan keras kepalanya, dia masih juga mau meneruskan perjalanan. "AKU GAK MAU!!" kataku tegas. Yoga terkejut dengan penolakanku. "Emangnya kita mau liat apa sih di atas?" tanyaku. "Mau liat bintang," jawab Yoga singkat. "Di mobil juga bisa, 'kan lihat bintang. Kita balik aja yuk ke mobil. Aku mau bersihin luka di tanganmu. Ntar kalo infeksi gimana?" desakku. Dia terlihat berpikir, lalu akhirnya memutuskan menurut pada usulku. Aku lega sekali. Sungguh melelahkan. Sulit sekali meyakinkan dia untuk mengubah pikirannya. Aku mengembuskan napas saat akhirnya kami ada di dalam mobil. Yoga menekan tombol dan atap mobil terbuka. Aku sibuk mencari air minum untuk membersihkan tangan Yoga. Kubasahi beberapa helai tisu dengan air bersih. "Sini tanganmu," kataku. Untuk pertama kalinya aku menyentuh kulit Yoga. Kulit seorang tuan muda memang lain. Aku malu rasanya. Kulitnya bahkan lebih lembut dari kulitku. Aku masih sering membantu ibuku di dapur. Mungkin itu kenapa kulitku agak kasar. Sepertinya aku harus rajin pakai hand cream. "Kamu tadi panggil aku 'sayang'," ucap Yoga. Mataku melotot. Aku tadi panggil dia APA?? Aku menundukkan pandangan. Tangan Yoga sudah selesai kubersihkan. Aku segera melepas tangannya, dan sok sibuk menaruh kembali botol minuman. "Masa'? mungkin kamu salah dengar," kilahku. Tangan Yoga tiba-tiba memerangkapku, bertumpu di pintu mobil, seolah dia mencegahku bergerak atau melarikan diri. Wajah kami sangat dekat, hingga ujung rambut panjangnya yang lembut, menyentuh tas yang kupangku. "Kamu cemburu dan menuduhku email-emailan sama perempuan lain, kamu barusan panggil aku 'sayang', dan tadi siang di kafe, kamu diam-diam ambil fotoku," kata Yoga seolah mengungkap daftar bukti. Mukaku terasa panas. Gimana dia bisa tahu tentang foto itu? "E-Eh. Ambil fotomu? E-Enggak, kok," kataku berbohong. Yoga tersenyum. "Oh? Tebakanku salah? Kalau gitu, ayo kita cek sama-sama," katanya sambil membuka tasku dan merogoh isinya, mencari ponselku. "HWAAAHHHH!!! JANGAAANN!!" jeritku. "Tuh, 'kan. Kalo foto itu gak ada, kamu 'kan gak perlu panik," ucap Yoga dengan senyum kemenangan. Oh ya ampun. Ini adalah hari paling memalukan sedunia! Aku menggigit bibirku. Entah seperti apa mukaku sekarang. "Apa kamu sudah menyukaiku sekarang, Erika? Aku gak bohong, 'kan, waktu malam itu aku bilang akan membuatmu suka padaku?" kata Yoga dengan suara lembut. Ingatanku kembali ke saat itu, lima bulan lalu saat dia berusaha meyakinkanku untuk mau jadian dengannya. "Erika! Jadianlah denganku! Aku akan membuatmu menyukaiku!" Dia mengatakan itu dengan tangan menggenggam jeruji besi. Aku masih ingat wajah memelasnya. Bayangan di kepalaku membuatku tersenyum. "Kok kamu senyum-senyum?" tanya Yoga. Tatapan Yoga terlihat lembut. Membuatku bingung harus melihat ke mana. "Sebesar apa kamu menyukaiku? Apa sama sepertiku?" tanya Yoga lagi. Pertanyaan yang membuat debaran di dadaku makin menjadi. Aku melihat matanya dan terdiam. Sinar bulan yang kebiruan menerangi tepi siluet rambut panjangnya. Sunyi sekali hingga aku bisa mendengar suara serangga. Yoga menjawab pertanyaannya sendiri, "gak nggak mungkin sama. Perasaanku pasti lebih besar," kata Yoga. Jantungku tidak pernah berdebar lebih keras dari ini. Aku sampai khawatir kalau-kalau dia bisa mendengarnya. Aku merasa wajah Yoga mendekat padaku. Lalu matanya melihat ke bibirku. Aku bisa merasakan sentuhan helai rambutnya di wajahku. Aku sadar dia akan menciumku. Dalam sepersekian detik pergolakan hatiku, akhirnya aku mendorong tubuhnya menjauh. "JANGAN!!" jeritku. Yoga terlihat agak kecewa. Aku sudah khawatir dia akan marah, tapi ternyata tidak. "Yah ... gak boleh, deh. Ya udah gak apa-apa. Nanti kalo udah nikah 'kan terserah aku mau ngapain kamu," seloroh Yoga. Aku memukul lengannya dan dia tertawa. "Nikah? Jauh amat mikirnya. Baru juga jadian lima bulan," kataku tak sanggup menahan rona di pipi. "Eh, jangan salah. Sejak pertama aku suka kamu, aku sudah tahu kamu orangnya. Aku tahu," kata Yoga yakin. Aku melihat Yoga dengan heran. "Kok kamu yakin banget? Emangnya gimana ceritanya kamu bisa suka sama aku?" tanya Erika. Itu adalah misteri besar yang belum terpecahkan oleh Erika hingga kini. Yoga diam, seperti sedang mempertimbangkan, apa dia sebaiknya cerita atau tidak. Dia tersenyum. "Nanti. Nanti setelah kita nikah, aku ceritain," kata Yoga dengan senyum dikulum. Aku malu mendengar kata 'nikah' itu diulang lagi. "Haduuh! Udah deh, Yoga. Kamu tuh kejauhan ngomongnya!" kataku menahan malu. "Kejauhan gimana, sih? Aku malah udah bayangin nanti kalo kita punya anak, mukanya kayak gimana," ucap Yoga sambil mengusap dagu. Kalimat ngasal itu membuatku kembali memukul lengannya dan dia tertawa. Aku teringat barang belanjaanku tadi. "Kita makan yuk, cemilannya," ajakku. Tanganku membuka bungkus keripik, dan menyiapkan botol minuman. Yoga memukul nyamuk di tangannya. "Ternyata lumayan banyak juga nyamuknya," komentar Yoga. "Aku bilang juga apa. Ini lotion-nya dipake," ucapku menunjukkan botol lotion. Yoga menyodorkan tangannya padaku. "Olesin dong, sayang," pinta Yoga manja. "Huh. Pake sendiri, ah!" ujarku menolak. "Ih ... kamu kok jahat sih sama aku?" tanya Yoga. Aku berusaha mengabaikan kemanjaannya yang sebenarnya sangat menggemaskan. Kulihat dia sedang sibuk mengoles lotion ke tangannya. Sesudah selesai, dia nyaris langsung mencomot makanan. "Eits! Tunggu dulu. Dilap dulu tanganmu pakai tisu basah," cegahku. "Buat apa?" "Kamu kan baru aja ngolesin lotion anti nyamuk, masa' langsung makan?"omelku. "Emang nggak boleh?" tukas Yoga. Huh menyebalkan sekali. Aku menyiapkan tisu basah dan kuberikan padanya. "Lap sampai bersih. Baru boleh makan," titahku padanya. Mukanya cemberut. Tuan muda yang satu ini pasti tidak pernah disuruh-suruh. Jariku mengapit keripik singkong dan kusodorkan padanya. "Nih. Kamu udah gak sabar mau makan, 'kan? Buka mulutnya. Aaa," ucapku hendak menyuapinya. Yoga terlihat malu, tapi akhirnya mau juga kusuapi makanan. Kami memundurkan posisi kursi mobil supaya bisa melihat ke langit. "Wah, beda ya? Langit di rumahku bintangnya gak kayak gini. Biasanya butek aja gitu," komentarku. "Tuh beda, kan? Makanya aku ajak kamu ke sini. Sebelumnya aku 'kan survei dulu ramalan cuaca, biar ke sininya pas cerah. Kalo mendung ya sama aja, bintangnya gak kelihatan," kata Yoga. Aku memandangi pendar kilau bintang sambil teringat kata-kata Yoga tadi. Aku tidak menyangka Yoga begitu serius padaku. Nikah? Anak? Karena dia bahas soal itu, aku kok rasanya jadi terpengaruh juga. Aku melamun, mencoba membayangkan. "Kalau laki-laki, mungkin hidungnya mancung kayak kamu," kataku tiba-tiba. "Hah?" sahut Yoga terkejut. "Anak. Kamu 'kan tadi ngomong soal anak. Kalau kita nanti nikah, trus anak kita laki-laki, mungkin hidungnya mancung seperti kamu. Kalau perempuan, mungkin hidungnya mungil kayak hidungku," kataku tersenyum malu. Yoga diam. Dia merubah posisi duduknya menghadapku. "Erika, aku sayang kamu," ucap Yoga lembut. Aku menatap matanya yang serius. Aku tidak bisa membalas pernyataan itu. Bagaimanapun, aku menyadari aku bukan tipe wanita yang bisa mengutarakan perasaanku lewat kata-kata. Tapi aku membalasnya hanya dengan caraku menatap matanya. Aku berharap dia mengerti. "Kamu masih juga gak mau bilang sayang aku? Tadi 'kan kamu udah keceplosan. Kenapa sih gak diulang lagi aja?" desak Yoga. "Enggak mau," jawabku tegas. "Pelit," kata Yoga. "Biarin." Hari itu aku ingat sebagai kencan kami yang paling indah, diantara sepuluh bulan hubungan kami yang singkat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN