Bagian 9 (Catatan Erika)

1832 Kata
. . "Apa kamu serius ingin menciumnya di sini, Tuan Muda Yoga?" . . ***  Tujuh bulan sejak aku dan Yoga bersama ... Yoga tiba-tiba punya ide makan siang bersamaku, Gito, Esti dan Ratih. Kupikir itu bagus. Dia bukan hanya ingin dekat denganku, tapi juga berusaha dekat dengan orang tua dan teman-temanku. Aku pun sudah tidak canggung mengobrol dengan Gito. Seperti kesan pertamaku terhadapnya, Gito adalah anak yang santun, ramah dan menyenangkan. Aku mengerti kenapa Yoga memperlakukan dia istimewa, dibanding teman-temannya yang lain. Aku tidak tahu bagaimana Yoga bisa booking meja favorit ini. Ada beberapa meja yang posisinya di bawah pohon-pohon rindang, di luar area kantin yang beratap. Meja-meja spesial ini biasanya selalu menjadi yang pertama kali penuh. Dan Yoga adalah yang mengatur supaya kami bisa duduk di sini. Ketika aku bertanya "Kok bisa?", jawabannya seperti biasa. "Bisa dong. Apa sih yang aku gak bisa?" Cits. Si sombong itu. Kami sudah selesai makan. Esti dan Ratih buru-buru pamit karena ada tugas yang belum mereka selesaikan di kelas. Sementara aku, Yoga dan Gito masih betah duduk di meja favorit ini. Gito berdiri dari kursinya. "Aku ke kantin dulu, ya. Mau pesen es buah." Kami mengangguk. Yoga meluruskan lengannya di atas sandaran kursi kayu, melintasi belakang punggungku. Aku menundukkan wajahku. Sejak dua bulan lalu saat kami jalan ke tempat camping, aku merasa semakin menyukai Yoga. Aku lebih memperhatikan hal-hal sekecil apapun pada dirinya. Siang ini dia menguncir rambutnya dengan karet berwarna hitam. Dia membiarkan rambut di bagian depan tetap terurai sedikit. Terlihat keren sekali. Dari tadi aku sudah memergoki banyak anak perempuan melirik ke arahnya. Menyebalkan. Rasanya aku ingin menutup mukanya dengan kandang ayam, supaya perempuan-perempuan itu tidak ada yang bisa melihatnya. Belakangan aku juga sering punya pikiran-pikiran ajaib setiap kami ada di mobil. Aku sering berpikir, dengan perempuan mana saja dia pernah jalan dengan mobilnya? Berapa jumlah perempuan yang jadi pacarnya sebelum aku? Dan mengingat dia pernah berusaha menciumku, aku mulai berpikir jangan-jangan dia sudah terbiasa melakukan itu dengan pacarnya yang dulu. Memikirkan itu membuatku mual. Aku kesal. Perasaan ini membuatku tidak bisa lagi bersikap biasa di depannya. "Erika ... Erika," panggil Yoga. "Eh ... ya?" sahutku setengah sadar. "Kok kamu ngelamun? Ada apa?" tanya Yoga dengan ekspresi perhatian yang tidak dibuat-buat. "Enggak ada apa-apa," jawabku. Yoga seperti tidak percaya dengan jawabanku. Wajahnya didekatkan padaku. "Ada apa, sayang?" desak Yoga. Mukaku seketika terasa panas. Ini yang kumaksud dengan aku tidak bisa lagi bersikap biasa di depannya. Oh nyebelin! Aku tidak berani melihat matanya. "Enggak. Aku cuma pengin tau aja. Pacarmu sebelum aku ada berapa ya?" tanyaku. Yoga terkejut. "Pacarku? Kamu pacar pertamaku," jawabnya tegas. "EHH?? Serius??" tanyaku syok. Melihatku tidak percaya, dia agak kesal. "Kalo gak percaya, tanya aja Gito tuh! Dia temanku sejak SD! Payah kamu. Masa lebih percaya Gito dari pada pacarmu sendiri!" misuhnya. Aku membuang muka. "Habis ... mana kutau! Aku beberapa kali melihatmu jalan bareng anak-anak perempuan itu! Jadi kupikir kamu memang semacam playboy yang paling enggak memacari satu, dua atau tiga orang di antara mereka!" Yoga masih terlihat kesal. "Gak ada satu pun dari mereka yang pernah jadi pacarku! Aku gak pernah 'nembak' siapa pun kecuali kamu!" tegasnya. Aku senang sekaligus salah tingkah mendengar pernyataan itu. "Ya ... aku 'kan gak tau... soalnya mereka dulu selalu nempel sama kamu. Jadi kupikir, bisa aja 'kan mereka ngajakin kamu ke mana gitu, terus ngapain gitu di dalam mobil! Jangan salahin aku kalo mikir yang aneh-aneh!" kilahku beralasan. Yoga diam, lalu tersenyum usil. "Ooohh ... jadi ini yang sebenarnya mau kamu tanya?" kata Yoga. Aku diam tak menjawab. "Mereka kadang ngajakin aku ke mall. Di mall ya cuma jalan-jalan aja. Itu juga gak lama, bentar doang. Abis itu pulang. Kadang ngajakin ke club. Tapi aku gak pernah suka sama tempat hiburan malam kayak gitu, jadi aku gak pernah lama-lama di sana. Dan di dalam mobil gak pernah ngapa-ngapain sama mereka. Mereka cuma mau ngerasain naik mobilku. Gak ada yang aneh-aneh. Bener deh, sayang," jelas Yoga dengan senyum menggoda. Aku menundukkan pandangan. Rasanya aku bisa percaya kata-kata Yoga. Dia tidak pernah sekalipun bohong padaku. Lega rasanya. Syukurlah aku bertanya. "Kenapa tiba-tiba kamu tanya ini?" tanya Yoga. Aku menoleh dan kulihat dia tersenyum dengan pancaran mata hangat. "Gak apa-apa. Aku cuma iseng tanya aja kok," jawabku sekenanya. Dia tertawa pelan. "Iya iya deh. Kamu cuma iseng tanya," kata Yoga, dari nada suaranya, jelas dia tak percaya dengan jawabanku barusan. Aku bisa merasakan tatapan Yoga yang terus menerus ke arahku. Aku menghindarinya. "Erika--," panggil Yoga lembut. Aku terkejut saat daguku disentuhnya. Entah sejak kapan persisnya, wajah Yoga ternyata sudah sedekat ini. Hanya beberapa senti dari wajahku. Sorot matanya mengarah ke bibirku, membuatku panik. HAH!! Dia akan menciumku? Di sini? Ini 'kan tempat terbuka!! Mataku tidak bisa lepas, cara dia memandangku membuat lututku lemas. Aku bisa merasakan hangat napasnya di kulit wajahku. Dan keharuman yang sama setiap kali kami berdekatan. Wangi woody bercampur citrus. Aku memejam, menahan takut sekaligus tegang. YOGA!! JANGAANN!! AKU MALU!! pekikku dalam hati. "E-EHEM!!!" Suara deheman yang disengaja itu membuat kami menoleh. GITO! Oh ya ampun! Aku malu sekali! Gito memergoki Yoga nyaris menciumku! Di kantin terbuka pula! Gito melirik sinis pada Yoga. "Apa kamu serius ingin menciumnya di sini, Tuan Muda Yoga?" tanya Gito. Sementara Yoga sama sekali tidak terlihat malu. "Ck!! Rese kamu To! Ganggu aja!" misuh Yoga jengkel karena niatan menciumku gagal total. Gito tak peduli dengan jawaban Yoga. Dia duduk di depan Yoga dan meletakkan gelas es telernya. "Ya maaf deh. Setauku ini ruang publik," kata Gito sambil menyendok es telernya. Aku sungguh tidak habis pikir, kenapa Yoga bisa-bisanya tidak malu setelah kepergok Gito nyaris menciumku. Aku memukul lengan Yoga, melampiaskan kesal, gemas dan malu menjadi satu. "Aduh, sayang. Kok aku dipukul sih? Aku salah apa?" tanya Yoga berlagak kesakitan. Mukaku masih merah karena malu. "Enggak tau, ah! Pikir sendiri salah apa!" kataku jengkel. Gito tertawa. Yoga melirik es teler milik Gito. "Aku juga mau es teler, ah," kata Yoga yang kini berdiri dari kursinya. "Kamu mau nitip, sayang?" tanya Yoga padaku. "Enggak. Perutku masih penuh rasanya," jawabku mengelus perut yang baru diisi menu makan siang. Ekspresi Yoga terlihat khawatir. "Kamu gak diet, 'kan? Kamu gak perlu diet lho, ya. Biar gemuk pun, kamu tetep cantik kok," goda Yoga terang-terangan. Aku mencubit tangan Yoga. "YOGA!! Malu, ah! Udah sana ke kantin buruan!" usirku. "Ih, aku 'kan cuma berusaha jujur aja. Kok dimarahin terus sih?" kata Yoga sambil berlalu ke kantin. Tinggal lah aku yang menahan malu dan Gito yang masih cekikikan. "Dia sudah berhasil bikin kamu suka dia, 'kan?" tembak Gito langsung. Aku tidak menjawab, tapi reaksi wajahku menjelaskan semuanya, dan Gito jelas mengerti. "Aku sudah temenan sama dia sejak SD, dan baru sekarang kulihat dia begitu gila. Beneran. Dia belum pernah segila ini sebelumnya," kata Gito terkikik. Aku menghela napas. Iya memang, tapi kegilaan Yoga seringnya bisa membuatku malu. Karena dia sering bertingkah tanpa peduli tempat dan keadaan sekitarnya. "Tapi, aku penasaran. Seingatku dulu kalian gak pernah ngobrol, trus tau-tau Yoga 'nembak' kamu. Kamu tau gimana ceritanya?" tanya Gito. "Gak tau. Aku juga heran. Pas ditanya, dia malah --" Aku tidak meneruskan kalimatku. Baru sadar kalau kelanjutannya adalah ... Gito tersenyum melihat ekspresi malu-malu di wajahku. "Dia bilang nanti bakal kasih tau kamu setelah kalian nikah, 'kan?" sambung Gito. "HAAAHHHH!! KAMU KOK TAU?" tanyaku menutup muka. Gito tertawa puas. Ini terlalu memalukan! Setelah berhenti tertawa, Gito terlihat lebih serius. "Erika, kalau kamu mau tanya apa pun tentang Yoga, jangan sungkan tanya aku, oke? Apa aja. Kalau aku bisa bantu, dengan senang hati aku akan bantu," kata Gito tersenyum ramah. Aku terharu mendengarnya. Dari kalimatnya, aku bisa merasakan persahabatan yang dalam antara dia dan Yoga. "Iya. Makasih Gito," kataku. Aku terkejut saat tiba-tiba merasakan makhluk berbulu melingkari kakiku. Kucing kecil tiga warna itu terlihat imut sekali. Matanya besar dan dia kelihatan sehat. "Pus ... sini, pus," panggilku sambil memberinya sisa makananku di piring. "Kamu pelihara kucing di rumah?" tanya Gito. "Kucing liar aja. Kadang datang minta makanan," jawabku mengelus kepala anak kucing itu yang sedang makan. Sepasang kaki tiba-tiba mendekat dan berdiri di dekat anak kucing itu. "Kamu lagi ngapain, sayang? Jangan pegang-pegang kucing itu! Nanti tanganmu kotor!" kata Yoga menarik pergelangan tanganku. Gerakannya cepat, mengejutkanku. "Kamu bisa kena penyakit. Nanti sebelum ke kelas, cuci tangan dulu ya," tambah Yoga. "Kucing itu bersih kok," ucapku protes. "Udah gak usah ngeyel. Jangan pegang-pegang kucing, trus ntar cuci tangan," perintah Yoga. Tak bisa dibantah, seperti biasa. Aku diam tidak menjawab. Gito memerhatikan interaksi kami berdua. "Lho? Es telermu mana?" tanya Gito menyadari Yoga tidak datang dengan es teler. "Tadi penuh banget. Katanya Bapaknya bakal antar ke sini bentar lagi," jawab Yoga. Yoga dan Gito mengobrol sebentar tentang klub basket mereka. Tak lama, bapak penjual es teler datang membawa pesanan Yoga. Yoga mengaduk es telernya, lalu tiba-tiba terlihat kesal. "GIMANA SIH TUH SI BAPAK?" teriak Yoga mengagetkan aku dan Gito. "Kenapa?" tanyaku. "AKU UDAH BILANG GAK MAU PAKE ALPUKAT!" Yoga berdiri dan berteriak ke arah penjual es teler, "HEYYYY!!! PAK!!!" Teriakannya sangat keras hingga beberapa orang yang duduk di meja lain ikut menoleh. Jantungku berdetak lebih kencang. Aku mengenali situasi ini. Ini mirip kejadian kencan pertamaku yang kacau balau, saat Yoga marah-marah dengan tukang parkir di mall. Apa dia tidak bisa memanggil Bapak itu dengan lebih sopan? Rasa-rasanya tidak pantas seperti itu pada orang yang lebih tua. Aku menarik tangan Yoga. "Yoga, jangan teriak kayak gitu!" ucapku hati-hati. "Aku harus kasih tau dia! Biar dia tau kalau dia bikin salah!" kata Yoga seraya menunjuk penjual es teler yang menghampirinya segera. "Iya, tapi --," kilahku terputus saat Gito berdiri dan menahan pundak Yoga. "Tuan muda, biar aku yang urus ini," kata Gito tersenyum. "Maaf Pak. Apa bisa pesanan yang ini ditukar dengan yang baru, tapi tanpa alpukat? Teman saya tadi pesan begitu, tapi mungkin karena pesanan Bapak sedang ramai, jadi ada salah sedikit ya Pak. Es yang ini tolong dibungkus aja buat saya," ucap Gito pada tukang es dengan sopan. "Oh iya. Maaf, Dik. Sebentar, ya," ujarnya bergegas ke lapaknya. Kami duduk kembali. Yoga diam saja menatap meja. Kuperhatikan keringat mengalir di dahinya. Aku khawatir melihatnya. Apa itu karena dia sedang menahan emosinya? Gito meneguk sisa minumannya sambil mengamati Yoga. Bapak penjual es teler datang lagi dan meletakkan pesanan Yoga yang sudah diganti dengan yang baru. Gito yang membungkuk mengucapkan terima kasih padanya. Yoga diam dan langsung meminum es telernya. Gito menepuk pundak Yoga. "Jadi, hari Sabtu ini bisa latihan baket di lapangan? Anak-anak nungguin kamu nih. Soalnya kamu sibuk pacaran mulu sih," kata Gito tertawa. Yoga terlihat malu. "Iya iya ntar dateng," kata Yoga. Suasana berubah cair. Aku menghela napas. Gito tersenyum penuh arti padaku. AH! Aku mengerti. Dia sengaja! GITO TAHU! Tentu saja Gito tahu karakter Yoga. Gito sudah lama berteman dengannya. Aku membalas senyum Gito. Terima kasih atas pelajarannya, Suhu Gito! Yoga mendelik ke arah Gito. "HEHHH!! Ngapain kamu senyum-senyum ke pacarku??" omel Yoga. Gito cemberut. "Santai bro. Masa aku gak boleh senyum? Senyum 'kan ibadah," kata Gito nyengir. . . ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN