Bagian 15 (Malam Prom)

1568 Kata
. . You've got the Look of love, it's on your face . . *** Seorang staf hotel berpakaian jas biru dongker membukakan pintu belakang mobil. Yoga keluar lebih dulu, dan dia menggandeng tangan Erika, membantunya keluar dari mobil. Seorang staf hotel berkemeja putih membungkuk hormat saat mereka memasuki pintu kaca. Karpet berwarna merah terbentang dari sejak pintu masuk hingga ke dalam ruang ballroom. Ada sekitar tiga orang fotografer mengambil foto mereka berdua. Suasananya mirip jalur karpet merah artis-artis Hollywood. Manusia-manusia ini ada-ada saja, pikir Erika. Mereka menciptakan suasana semacam ini untuk apa, ya? Supaya merasakan rasanya jadi orang terkenal dalam semalam? Aneh. Di samping kiri mereka, ada anak laki-laki yang sedang diwawancara oleh seorang reporter dan disorot kamera. Seorang reporter lainnya menghampiri mereka. "Selamat malam. Kalian mau diwawancara?" tanya pemuda itu. Erika dan Yoga menjawab nyaris bersamaan, "enggak. Makasih." "Kalau foto bareng, mau dong, ya?" tanya orang itu lagi. Erika dan Yoga bertatapan. Yoga yang menjawab, "mau deh, kalo foto." Yoga merangkul pundak Erika. Mereka tersenyum dan keduanya terkena cahaya blitz dari kamera. Tak ada satupun di antara mereka berdua yang tahu, kalau foto itu adalah foto terakhir mereka bersama sebagai sepasang kekasih. *** Ruangan ballroom itu sangat luas. Mungkin muat sekitar tujuh ratus orang. Interiornya terlihat modern dengan langit-langit kotak-kotak seperti waffle. Lampu rantai kristal menjuntai memenuhi lubang lingkaran di tiap kotak. Cahaya lampu rantai kristal nampak cantik seperti kerlip bintang-bintang kuning. Lampu dinding bercahaya kuning melengkapi suasana hangat dan akrab di ruangan itu. Saat ini ruangan terisi sekitar dua ratus-an orang. Meja-meja bundar dan kursi di sekelilingnya, semuanya dilapis kain putih. Dipercantik dengan rangkaian bunga di atas meja. Gito berdiri dan melambaikan tangan sambil tersenyum, saat melihat Erika dan Yoga memasuki ruangan ballroom. Mereka berdua menghampiri meja Gito. Yoga dan Erika memang sudah janjian akan duduk se-meja dengan Gito dan pasangan prom-nya, Sitta. Gito baru saja jadian dengan Sitta dua bulan lalu. Sitta ikut berdiri saat Erika dan Yoga mendekat. Mereka duduk setelah saling bersalaman. Meja itu cukup besar, sehingga jarak antar kursi agak jauh. Yoga mencondongkan tubuhnya saat akan bicara pada Gito. "Udah lama di sini, To?" "Belum kok. Baru sepuluh menit-an, lah," jawab Gito. Suara mic terdengar diketuk dua kali. Ternyata sudah berdiri seorang MC laki-laki di atas panggung. MC itu mengenakan setelan tuksedo hitam. "Selamat malam, temen-temen semua yang sudah hadir di sini. Selamat datang di acara prom night kita di ballroom Hotel K. Nama saya Ari yang akan jadi MC acara ini sampai acara selesai. Selesai acara sekitar jam berapa, ketua panitia?" tanyanya pada seseorang yang berdiri di dekat panggung. "Till drop? Wauw till drop, katanya, gaes. Yah kalo gitu saya akan minum air putih yang banyak biar drop paling terakhir," ucapnya berusaha melucu, tapi ekspresi wajahnya datar. Jadi anak-anak justru tertawa karena ekspresi wajah datarnya. "Nah, sambil menunggu temen-temen yang lain, kita sama-sama nikmati dulu penampilan pembuka dari temen kita, Maya, yang sesuai dengan tema kita hari ini, akan membawakan lagu bernuansa pop jazz. Tapi temen-temen nggak perlu kuatir, walaupun malam ini acara perpisahan, lagunya sudah di-aransemen ulang oleh Maya, jadi dijamin nuansanya bakal tetep ceria dan gak bikin kalian galau. Yuk mari kita kasih tepuk tangan dulu buat Maya!" Anak-anak bertepuk tangan. Perempuan bernama Maya menaiki panggung bersama dua anak laki-laki sebagai band pengiringnya. Keduanya masing-masing membawa sebuah gitar. Maya duduk di sebuah bangku di tengah panggung, dan dua orang di belakangnya sedang menyetem gitar. Cahaya ruangan diredupkan, dan fokus cahaya ke arah panggung. "Selamat malam, temen-temen semuanya. Malam ini saya akan membawakan lagu 'The Look Of Love' nya Diana Krall versi Akustik. Semoga bisa menghibur kalian semua, sambil kita menunggu temen-temen yang lain yang belum datang." Yoga perlahan menggeser kursinya mendekati Erika. Erika baru menyadarinya saat dia merasa kulit tangannya disentuh. Erika menoleh ke samping. Yoga sedang menggenggam tangannya. Dia berbisik ke telinga Erika. "Aku gak mau duduk jauh-jauh dari kamu," kata Yoga manja. Wajah Erika terasa panas karena malu. "Kamu ini. Di depan kita ada Gito dan Sitta. Apa kamu gak malu?" bisik Erika. "Gelap gini mana keliatan, sayang," jawab Yoga merajuk. Gito melirik tingkah Yoga secara diam-diam. Kelihatan, bodoh. Suaramu pun kedengaran, batinnya. Terdengar suara petikan gitar yang merdu, mengawali lagu. Anak-anak bertepuk tangan, memuji permainan gitar yang sangat jernih. Suara alto penyanyi bernama Maya terasa sangat pas melantunkan jazz. Dia menyanyikan lagu itu dengan nada ceria. The look of love is in your eyes A look your smile can't disguise The look of love is saying so much more than just words could ever say And what my heart has heard, well it takes my breath away Yoga mempererat genggamannya. Membuat Erika semakin gugup. I can hardly wait to hold you, feel my arms around you How long I have waited Waited just to love you, now that I have found you Yoga merangkul pundak Erika hingga kepala Erika terkulai di dadanya. Erika bisa mendengar suara detak jantung Yoga. You've got the Look of love, it's on your face A look that time can't erase Be mine tonight, let this be just the start of so many nights like this Let's take a lover's vow and then seal it with a kiss Dagu Erika disentuh dengan lembut, sehingga mata mereka bertemu. Yoga terpikir ingin mencium bibirnya. Sepuluh bulan dan dia masih juga selalu gagal menciumnya. Mata Yoga tak berkedip melihat mata Erika, dia tahu Erika khawatir kalau Yoga menciumnya di sini. Yoga membatalkan pikiran itu, dan akhirnya mengecup kening Erika. Ketika mereka kembali bertatapan, Erika sudah melihatnya dengan cara yang berbeda. Yoga tersenyum. Dia mengerti arti dari tatapan itu. Dia sudah memahami cara Erika mengungkapkan perasaannya. I can hardly wait to hold you, feel my arms around you How long I have waited Waited just to love you, now that I have found you Don't ever go Don't ever go I love you so Erika kembali merebahkan kepalanya di bahu Yoga. Suara detak jantung Yoga terdengar lebih cepat. Perasaan sayangnya pada Yoga membuatnya ingin menitikkan air mata. Kenapa, kegelisahan ini masih bercokol di hatinya? Erika memejamkan mata. Merasa takut. Dia berharap waktu terhenti saat mereka sedang berada di momen bahagia seperti saat ini. Vokal telah usai melantunkan lagu, dan masuklah Gitar melodi. Full instrument. Terdengar riuh tepuk tangan penonton. Tapi Erika dan Yoga seperti tak peduli. Gito tersenyum memperhatikan mereka berdua yang sedang dimabuk asmara. Mereka saling mencintai. Sangat. Tapi Gito sebenarnya khawatir, sepertinya Erika belakangan berubah sikap pada Yoga. Dia tidak yakin, apa Erika akan tahan pada Yoga, temannya yang aneh ini. Suara musik berhenti, dan kembali terdengar suara tepuk tangan. "Terima kasih," pekik Maya dan dua orang pengiringnya menundukkan kepala ke arah penonton. Suara tepuk tangan masih terdengar hingga mereka turun dari panggung. MC kembali muncul di panggung. "Gimana aransemen-nya Maya? Keren dan gak bikin galau, 'kan?" tanya sang MC. Penonton bersahutan, dan ada beberapa celetukan di sana sini. "Lagi, dong!" "Lagi? Waduh maaf, nih. Slot-nya cuma buat satu lagu opening. Ntar deh kalo kita bikin acara reuni, Maya kita undang lagi ya buat nyanyi jazz akustik kayak tadi, gimana? Setuju??" Penonton berteriak setuju bersamaan. "Nah, sekarang nih ... kita mau ngemil asoy dulu, ya. Sambil ngaso. Abis itu, baru deh kita lanjutin lagi band musiknya. Kalian duduk yang manis aja di kursi masing-masing. Bakal ada staf yang keliling bagiin kue ke meja-meja. Enak bingits kuenya, sumpe, deh. Saya udah nyicipin tadi di belakang panggung."  Derai tawa ringan terdengar dari penonton. Lampu-lampu menyala kembali, dan terdengar lantunan musik instrumen piano 'Somewhere Over The Rainbow' dengan nada pop jazz ringan. Erika dan Yoga sudah duduk di kursi masing-masing dengan posisi yang 'normal', tapi Yoga masih enggan untuk menggeser kursinya. Dia ingin sedekat mungkin dengan Erika, tak peduli apa yang orang pikirkan. Seorang staf katering dengan seragam kemeja putih berlapis rompi hitam datang membawakan beberapa iris kue klappertart dingin yang nampak menggiurkan. "Permisi. Meja ini ada empat orang?" tanya pelayan. Gito menjawab, "iya empat orang, Mas." Pria itu meletakkan empat buah piring kue di atas meja. "Minumnya ada?" tanya Yoga pada staf itu. "Ada air jeruk, teh dan air mineral. Dingin dan hangat. Mau pesan minum apa?" "Es jeruk dua" jawab Yoga. Seperti biasa, bahkan tanpa bertanya dulu pada Erika. Erika memicingkan mata dengan ekspresi kesal ke arah Yoga, dan membuat Gito menahan tawanya. "Kamu mau minum apa?" tanya Gito pada Sitta. "Aku mau air mineral aja. Enggak dingin," jawab Sitta tanpa berpikir lama. "Dua air mineral, nggak dingin ya, Mas," pesan Gito. "Baik. Permisi. Saya akan ambilkan minumannya," kata pria itu sopan. Yoga melihat sekeliling. "Udah mulai rame nih, kayaknya," komentar Yoga. "Ya. Sekitar delapan puluh persen meja udah ke-isi. Panitia emang udah prediksi mereka bakal dateng sekitar jam segini," kata Gito mengangguk. "Sayang, ternyata gak enak ya ke tempat rame kayak gini. Enakan kencan kita yang kayak biasanya, berduaan aja," kata Yoga pada Erika dengan santainya. Komentar itu disambut cubitan tangan Erika ke pinggang Yoga. "Duh sayang. Kok aku dicubit, sih?" ujar Yoga bertampang manja. Erika mendelik. "Ngapain sih ngomong begitu di depan orang? Malu, tau!" omel Erika. Yoga manyun. Sitta tertawa pelan sambil menutup bibirnya. Dia baru tahu kalau Yoga bisa bersikap seperti itu. Selama ini di sekolah dia terkesan seperti laki-laki yang angkuh. Sementara Gito tertawa tanpa sungkan. Dia sendiri pun tidak pernah membayangkan Yoga bisa jadi begini. Ini semua karena seorang Erika hadir dalam hidupnya. Walaupun masih jadi tanda tanya buat Gito, apa yang membuat Yoga tergila-gila pada Erika? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN