Bagian 16 (Malam Prom)

2076 Kata
. . Deep inside we knew our love was true . . *** Yoga dan Gito terlibat obrolan klub basket mereka. Membahas bagaimana nantinya mereka bisa tetap rutin latihan walaupun mereka sudah lulus dan terpencar ke tempat kuliah yang berbeda-beda. Sementara Erika dan Sitta sedang sibuk membahas tampilan Erika yang 'wah' malam ini. "Erika, gaunmu cantik banget deh. Beli di mana?" tanya Sitta penasaran maksimal. "Oh ... gaun ini, Yoga membelinya di butik. Dia kasih liat aku gambarnya dari majalah. Aku disuruh pilih," jawab Erika rikuh. "WOW!! Jadi kamu dibeliin??" ujar Sitta terkejut bercampur nada iri. Melihat reaksi Sitta, Erika jadi menyesal menjawab seperti itu. Apa justru lebih baik kalau dia bohong saja dan bilang kalau ibunya yang membelikannya? "Em ... iya," jawab Erika pelan. Sitta melirik sinis ke Gito, sementara Gito masih sibuk mengobrol dengan Yoga. "Aku gak dibeliin sama Gito. Boro-boro. Nanyain aja dia enggak. Kamu beruntung banget deh, punya pacar yang pengertian kayak Yoga. Mana kaya, terus ganteng banget, lagi!" puji Sitta setinggi langit. Erika terdiam, tak menyangka Sitta akan bicara seperti itu tentang Gito, pacarnya sendiri. "Eh ... kurasa, tiap orang punya karakter beda-beda, Sitta. Masing-masing ada lebih dan kurangnya. Lagipula, ini cuma baju. Cuma kulit luar," kata Erika. "IH!! Kulit luar juga penting, kali!" kilah Sitta tertawa kecil, sementara Erika tak bisa tersenyum. Dia tidak pernah suka membicarakan keburukan orang lain, walaupun dia hanya jadi pendengar. Tidak nyaman rasanya. Apalagi dia juga menganggap Gito adalah temannya yang baik. Gito benar-benar tulus peduli pada hubungannya dan Yoga. Erika merasa 'terselamatkan' saat staf katering datang membawakan minuman pesanan mereka. "Permisi. Dua es jeruk dan dua air mineral," kata sang pelayan. Staf itu berdiri tepat di belakang Erika. "Iya makasih, Mas," ucap Erika tersenyum. Pria itu sedang mengangkat gelas berisi es jeruk, saat tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang tersandung kakinya dan jatuh menyenggol punggung staf katering itu. Genggaman tangan pelayan itu renggang, dan gelas pun lepas, menjatuhkan air jeruk dingin ke paha Erika, merembes ke gaunnya. Erika refleks berdiri. Yoga langsung menyadarinya dan menghampiri Erika. "ERIKA!! KAMU GAK APA-APA, SAYANG??" teriak Yoga terkejut. Staf katering itu terlihat pucat. "Maaf ... maaf, Mbak. Saya akan ambil lap," ucapnya. "Aku gak apa-apa, Yoga. Aku berdiri karena kaget kena air dingin," kata Erika segera, tidak ingin membuat Yoga gusar. Merasa tidak terima, tangan Yoga dengan cepat mengambil segelas air jeruk yang ada di atas nampan dan menyiram isi gelas ke kepala pelayan itu. Semua orang terkejut bukan kepalang, tak menyangka Yoga akan melakukan itu. Gito dengan cepat berdiri dan menahan lengan Yoga. "YOGA! TENANGLAH!!" ujar Gito. Sitta terduduk melongo melihat reaksi marah Yoga. Staf pelayan pria itu nampak menggigil karena dinginnya air yang membasahi wajahnya, seraya berusaha menyekanya dengan tangan. "YOGA!!!! KAMU NGAPAIN, SIH?? Si Mas ini gak sengaja! Dia tadi kedorong sama orang yang lewat di belakangnya!!" teriak Erika setengah putus asa. Teriakan Erika membuat orang-orang menyadari ada keributan di meja mereka. Belasan dan puluhan mata mulai memandangi mereka. Anak-anak yang tadinya mengobrol mulai diam dan memasang telinga. "BIAR GIMANAPUN, DIA TETAP SALAH!! DIA UDAH CEROBOH NUMPAHIN AIR KE BAJUMU!!" jerit Yoga tak mau kalah. Yoga berusaha maju mendekat ke staf itu, tapi Gito menahan tangan Yoga dari belakang. "HEH!! DENGER, YA! KAMU PIKIR BERAPA HARGA BAJU PACARKU, HAH?? SEPULUH KALI GAJIMU BELUM TENTU BISA GANTI, TAU GAK??" teriak Yoga pada pelayan malang itu. Tangan Erika gemetar menutup bibirnya. Oh ... tidak. Dia mulai lagi, batin Erika ketakutan. "Maaf. Maafin saya. Saya akan bawakan lap basah untuk bersihkan," kata pria itu membungkuk sopan. "KAMU PIKIR INI BISA BERSIH CUMA PAKAI LAP BASAH?? BAJU MAHAL INI HARUS DICUCI DI LAUNDRY! ITU PUN NGGAK SEMBARANG LAUNDRY!! MAKANYA KALO KERJA YANG BENER!! PAKE MATAMU!!" omel Yoga kasar. Erika panik. Dia merasa harus melakukan sesuatu. Dia melihat tisu di meja. Tangan Erika segera mengambil sebanyak tisu yang dia bisa. Erika spontan berusaha mengeringkan pria itu yang sekarang kebasahan seperti habis diguyur hujan. "Maaf. Maaf, Mas. Ini salah saya. Salah saya," ucap Erika dengan suara bergetar. "Jangan, Mbak. Biar saya aja. Ini salah saya," kata pria itu sungkan. "ERIKA!!! NGAPAIN KAMU BANTU DIA?? DIA NGGAK PERLU DIBANTU!!" tukas Yoga mencengkeram pergelangan tangan Erika hingga Erika mengaduh, "Aw!! Sakit, Yoga!" Gito mulai kehabisan kesabaran. Dia menarik lengan Yoga sekuat tenaga. "SUDAH CUKUP, YOGA!!" bentak Gito. Yoga menoleh ke arah sahabatnya, masih dengan mata melotot. Gito bisa melihat urat merah di ujung kedua mata Yoga. Dia sudah melihat pemandangan ini beberapa kali selama mereka berteman. "AKU CUMA GAK SUKA PACARKU BANTUIN ORANG INI!!" pekik Yoga menoleh ke arah Erika yang ada di depannya, dan mendapati Erika bercucuran air mata. Ekspresi kesedihan Erika yang seperti ini belum pernah dilihat sekalipun oleh Yoga. Erika menutup bibirnya dan mulai menangis terisak. Dia berlari mengambil tasnya dan pergi ke arah pintu keluar. "ERIKA!! TUNGGU!!" teriak Yoga berlari mengejar Erika. Gito berdiri menatap mereka berdua, yang sekarang sudah tak terlihat dari dalam ruangan. Mata Gito memandang sekeliling. Menyadari bahwa semua orang menatapnya. Termasuk MC yang bernama Ari, yang ikutan bengong di atas panggung. "Maaf, temen-temen. Maaf atas keributan yang barusan. Silakan lanjutkan acaranya," kata Gito tersenyum. Perlahan suasana di ruangan itu mulai agak normal. Suara anak-anak mengobrol dan berbisik mulai terdengar. MC mulai mengangkat mic-nya. "Emm ... gaes, berhubung udah pada ngumpul semua nih, acara kita lanjutin lagi ya. Berikutnya, akan ada penampilan dari Vasco Band. Mereka bakal bawain aransemen lagu 'After The Love Has Gone'. Lagu ini aslinya dibawakan oleh Earth, Wind and Fire. Pasti penasaran 'kan aransemennya jadi kayak gimana? Yuk langsung aja kita panggil Vasco Band ke atas panggung!!" Terdengar riuh penonton yang bertepuk tangan. Gito berjalan ke arah staf katering yang masih berdiri di dekat meja. Dia sedang berusaha membersihkan bajunya dengan tisu. Seorang staf lain datang berlari menghampirinya membawakan handuk kering. "Maaf ya, Mas. Tolong maafin temen saya tadi," kata Gito. "Enggak apa-apa. Tadi salah saya kok," ucap pria itu menundukkan kepala. Gito mengeluarkan dompetnya dan dengan cepat melipat selembar uang seratus ribuan. Dia memasukkan uang itu di kantung rompi pria di depannya sembari berbisik, "Mas, tolong diterima. Ini ada sedikit dari saya, untuk biaya laundry baju Mas." "Waduh. Jangan, Dek. Saya gak enak. Mestinya malah saya yang ganti rugi ke temennya yang tadi," kata pria itu berusaha mengeluarkan kembali uang itu dengan merogoh kantungnya, tapi tangannya ditahan Gito. "Tolong diterima ya, Mas. Anggap saja ini tanda permintaan maaf, karena Mas sudah dibuat malu sama temen saya tadi," kata Gito memohon. "Makasih," kata pria itu akhirnya mau menerima pemberian Gito. Gito menepuk pundak pria itu, lalu berjalan ke kursinya dan duduk mengempaskan tubuh sambil mengembuskan napas. Mendadak merasa lelah. Beginilah selalu. Urusan yang semestinya simpel bisa menjadi ruwet kalau Yoga ada di dalamnya. Sitta menatap Gito dengan keheranan. "Kenapa?" tanya Gito. "Aku gak percaya rasanya. Yoga ternyata orangnya KASAR BANGET!!" hina Sitta. Gito melotot. Yoga memang melakukan kesalahan, tapi dia tidak suka cara Sitta menjelekkan Yoga di depannya. "Aku nggak suka kamu ngomong begitu. Biar gimanapun juga, Yoga tetap sahabatku!" bela Gito. "Ih! Santai aja kali! Dia kan emang beneran kasar!" ucap Sitta yang nampak kesal Gito yang agak membentaknya. Gito mendadak berdiri sambil melemparkan kain serbet putih di atas meja. Tanpa penjelasan, dia berjalan meninggalkan Sitta. "HEY!! KAMU MAU PERGI KE MANA??" teriak Sitta. "Ke mana, kek. Asal gak sama kamu!" sahut Gito kesal. "JANGAN TINGGALIN AKU!! AKU 'NEMBAK' KAMU CUMA BIAR AKU PUNYA PASANGAN PROM, TAU!!" pekik Sitta sebelum segera menutup mulutnya. Dia kesal sekali pada sikap Gito yang seenaknya meninggalkannya sendirian di meja. Saking kesalnya, isi pikirannya keluar dengan sendirinya. Gito berhenti berjalan. Dia menoleh ke Sitta. "Udah tau! Emang kamu pikir aku b**o, apa? Aku mau jadi pacarmu cuma karena KASIAN!" balas Gito. Wajah Sitta terlihat memerah. Malu campur kesal. "Kasian?? SIALAN!!" omel Sitta memukul meja dan mengambil tasnya. Sebelum pergi, dia menghampiri Gito. "KITA PUTUS!!" cetus Sitta. "YA UDAH! PUTUS! GIH, PERGI SANA!" usir Gito. Sitta pergi setengah berlari ke pintu keluar. Gito pindah duduk di meja lain yang masih kosong. Dia memanggil staf katering dengan isyarat tangan. Pria itu menghampirinya. "Ya? Mau pesan apa?" tanya pemuda itu. "Es teh manis satu ya, Mas," kata Gito. "Baik. Segera. Permisi," kata pemuda itu pergi meninggalkannya. Sementara di panggung, Vasco Band sudah siap. Seorang laki-laki berkaca mata hitam memegang mic. "Selamat malam, teman-teman semuanya. Kami dari Vasco Band. Hari ini sesuai tema, bakal bawain lagu bernuansa jazz. Judulnya 'After The Love Has Gone'. Tapi, dijamin gak bakal bikin ngantuk, nih. Soalnya jazz nya udah diramu jadi agak nge-beat," ujar pria itu terkekeh, disambut suara riuh dari sebagian penonton, yang sepertinya fans mereka. "Oke langsung aja, ya. One, two ... one, two, three!" Suara drum mengawali lagu mereka. Disambut bersemangat oleh para penonton. Sebagian berdiri dan maju ke dekat panggung. Tak lama, staf pelayan tadi datang membawakan Gito segelas es teh manis. Gito mengucapkan terima kasih, dan dia pun pergi. Vokalis Vasco Band mulai menyanyikan lagu 'After The Love Has Gone' dengan beat yang dinaikkan. For a while to love was all we could do we were young and we knew and our eyes were alive Deep inside we knew our love was true For a while we paid no mind to the past we knew love would last Ev'ry night somethin' right would invite us to begin the dance Gito meneguk minumannya. Sebelum dengan Sitta, dia pernah pacaran dua kali. Sekali di SMP, dan yang ke dua adalah dua tahun lalu. Tidak seperti kisah cinta Yoga dan Erika, tak ada satupun yang dipacarinya dengan serius, dan semuanya selalu singkat. Tapi dua bulan bersama Sitta adalah yang paling singkat. Biar bagaimanapun, perpisahan selalu meninggalkan perasaan tak enak. Somethin' happened along the way what used to be happy was sad Somethin' happened along the way and yesterday was all we had And oh after the love has gone how could you lead me on and not let me stay around Dahi Gito berkerut. Dia merasa lagu ini seperti meledeknya. Seorang temannya menghampirinya dan menepuk pundaknya. "Oi, bro. dicariin ke mana-mana, taunya pindah meja!" sapa seorang panitia prom bernama Andy. Di dadanya tergantung name tag dengan tulisan Sie Acara. "Ada apa?" jawab Gito dengan nada datar. Andy terlihat heran. Gito yang biasanya ceria tiba-tiba jadi pemurung. "Knape, bro? Kayak abis diputusin aja!" selorohnya, membuat Gito makin jengkel. "AH RESE!! Cepetan bilang ada apa!" ucap Gito gemas. "Oke oke bro. Cuma mau tanya aja. Yoga sama Erika kira-kira bakal balik lagi gak, ya? Soalnya, sebenernya mereka berdua itu malem ini bakal dinobatkan jadi Prom King & Queen," tanya Andy. Gito terdiam lama. Yang terbayang di pikirannya adalah ekspresi wajah Erika saat dia menangis. "Lupain aja. Cari kandidat lain. Keliatannya mereka gak bakal balik ke sini," jawab Gito. "SERIUSAN?? WADUH!! CILAKA TIGABELAS! Kalo gitu, cabut dulu ya!" kata Andy ngibrit ke arah panggung, tempat para panitia berkumpul. Gito menunduk menatap kosong ke gelasnya. Raut sedih Erika tadi, membuat Gito merasa tebakannya benar. Dia memang memerhatikan sikap Erika berbeda belakangan ini. Erika gelisah akan sesuatu. Dan melihat wajahnya tadi saat dia menangis, sepertinya dia sudah membuat keputusan. Yoga ... Yoga, batin Gito. Padahal dia sudah pernah bilang pada Yoga, kalau sikap emosiannya ini kelak bisa jadi bumerang untuk dirinya sendiri. Dalam tiga hari, atau maksimal seminggu, Gito mungkin sudah bisa melupakan Sitta, dan move on dengan hidupnya. Tapi bagaimana dengan Yoga? Ingatan Gito satu per satu muncul. Bagaimana Yoga selalu membicarakan Erika. Selalu Erika. "To, besok bantu aku kasih surat buat anak perempuan ya. Namanya Erika." "Aku jatuh cinta sama dia, To. Besok aku mau nyatakan perasaanku." "Alasan kenapa aku bisa jatuh cinta sama dia? Nanti aku kasih tau kamu, kalau aku dan Erika sudah NIKAH! Ha ha ha!!" "To, kamu gak akan percaya ini. Erika menolakku!! Dia menolakku langsung! Dia bahkan gak minta waktu untuk mikir dulu!" "APA?? NYERAH?? AKU GAK AKAN NYERAH!! Aku akan coba bujuk dia lagi besok!" "GITOOOO!!!! Gak sia-sia aku tongkrongin di depan pagar rumahnya sampai malam!! ERIKA BILANG IYA!!! DIA BILANG MAU JADI PACARKU!!" "Aku bilang padanya, aku akan buat dia suka aku! Dan kubilang, dia gak akan menyesal!" "GITOOO!!! ERIKA KEMARIN KECEPLOSAN BILANG 'SAYANG' PADAKU!! AKU BAHAGIA SEKALI!! Apa ada orang mati karena terlalu bahagia, To??" Gito terdiam tak bergerak, dengan tatapan menerawang. Apa yang akan terjadi pada mereka berdua? pikir Gito. Sementara sebuah se-bait lagu' 'After The Love Has Gone' masih terlantun. Oh oh oh after the love has gone what used to be right is wrong Can love that's lost be found . . ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN