Akhirnya Pecah Juga

1382 Kata
“Elu mau sampe kapan ngejogrok di sini?” tanya sahabat Gery. “Bentaran ngapa Mbek. Gue bingung harus ngejelasin dengan cara apa ke mereka kalau sebetulnya gue yang bikin bokapnya si Kia koma,” keluh Gery sambil menyeruput tetes terakhir kopi pahitnya. “Yaelah, apa susahnya tinggal bilang, ‘bu, sebetulnya saya yang tabrak motor suami ibu semalem, dan dari lubuk hati ...’” “Gak usah pake lubuk hati, lubuk hati, nanti lubuk hati mereka salah penerimaan lagi,” bentak Gerry. Sahabatnya yang bernama Satria itu hanya cengengesan, melihat kegelisahan di wajah sang sahabat. “Sorry, Nyet gue lupa kalau hati elu kan buluk,” selorohnya, hingga membuat bantal sofa mendarat di wajah tampannya. Seharusnya satria ikut merasa sedih dan prihatin atas musibah yang menimpa sahabatnya, tapi entah mengapa sejak awal Gery bercerita tentang awal mula musibah itu tercipta, hingga terjadinya kesalahpahaman antara Gerry dan korban, Satria malah tidak bisa menghentikan tawanya. Ditambah lagi saat ia membayangkan wajah lugu gadis belia, yang dengan polosnya untuk meminjam beserta penjelasan mekanisme pembayaran hutangnya, tawa Satria makin tak tertahan lagi. “Nyet, menurut gue sih terima aja tuh bocah jadi calon bini lu, mukanya gak kalah cantik sama deretan para mantan elu.” “Elu kalo mau ngomong mikir dulu ngapa Mbek. Masa iya gue pacaran ma bocah kinyis-kinyis yang masih suka tiktokan? Selain itu, elu juga tau lah kasta gue ama dia kan berbedanya jauh banget,” jawabnya dengan jemawa. “Elu lahir di jaman apaan sih? Hari gini elu masih ngebahas perbedaan kasta. Heh Monyet Kayah Rayah, emang elu bisa nolak jodoh? Gue sumpahin biar elu nanti klepek-klepek sama dia,” sengit Satria. “jodoh siapa?” tanya suara wanita, dari arah tangga. “Jodohnya si Abon,” jawab Gery atas pertanyaan istri sahabatnya. “Mending gue nungguin anak elu gede daripada kawin sama tuh bocah,” balas Gerry sambil bangkit dan mengambil alih bayi mungil dari tangan Kimy, istri Satria. “Bisa berenti gak sih panggil Sachee, Abon (anak kebon)?” bentak ibu dari bayi berpipi bulat yang kini sudah berpindah ke gendongan Gerry. Tapi Gery tidak peduli, pria tampan itu malah menciumi leher bayi berbau minyak telon khas, hingga membuat bayi berumur 18 bulan terkekeh geli. “Kiss Om Gery-nya, kiss!” pintanya pada bayi berpipi bulat itu. “Pinter. Calon istri Om Gery tambah pinter aja, ya?” celetuknya lagi, saat bayi itu mencium pipinya, dengan diakhiri bunyi 'emuah'. “Najis gue punya menantu model elu.” Satria ayah dari bayi bernama Sachee itu langsung mendorong kepala sahabatnya. “Gue beneran doain, mudah-mudahan aja elu keedanan sama tuh anak abege.” “Masa iya gue seorang Gery Alexander Chen keedanan rakyat jelata? Hadeuh, Embek, Embek.” Gerry seperti menyangsikan kekuasaan Tuhan yang mampu hanya dengan sekejap mata mampu membolak-balikan perasaanya. ***** Jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukan pukul 7 malam saat Gerry tiba di depan pintu kamar rawat inap tempat Kia berada. Wajahnya nampak gugup, berkali-kali dia menghirup banyak-banyak oksigen di paru-parunya sebelum mengetuk pintu. Hanya dalam satu kali ketukan, si penghuni kamar itu menjawab, “Masuk!” Sekali lagi Gery menghirup oksigen banyak-banyak sebelum masuk ke dalam kamar itu. Kamar bernuansa putih tulang itu Nampak sepi, hanya ada Kia yang sepertinya akan bersiap tidur, karena bersamaan saat Gerry melihat ke arahnya, Kia sedang menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sepertinya saat dia tak ada, banyak orang yang menjenguk gadis ceria itu, terlihat dari banyaknya parcel buah dan makanan yang tersimpan di atas buffet dekat televisi, juga dua kantong plastik berisi sampah yang berada di dekat pintu masuk. “Saya bawain pizza. Apa kamu udah mau tidur?” tanya Gery yang mulai canggung dengan situasi ini. Hanya ada mereka berdua di dalam kamar, ditambah lagi sekarang Gery tahu tentang kesalahpahaman di antara mereka. “Iya, Pak,” jawab Kia sambil memiringkan tubuhnya, membuatnya membelakangi tubuh Gerry. Gery mendesah pendek, pikirnya kini gadis itu sedang menyembunyikan wajahnya karena malu bertemu dirinya. “Ki, sebetulnya ada yang mau saya ungkapkan sama kamu tentang ....” “Pak, bisa gak sih Pak gery berenti bilang 'ungkapkan-ungkapkan' terus sama aku!” ucap Kia dengan suara kesal sambil bangkit dari tidurnya. “Ya, karena emang ada yang mau saya ungkapkan ke kamu.” “Kata aku kan tadi, gak usah pake ungkapkan-ungkapkan! Kenapa Pak Gery gak bilang aja langsung kalau sebenarnya Pak Gery yang kemaren malam nabrak aku sama Bapak?” Wajah Kia seketika langsung basah oleh air matanya. DEG!! Jantung Gery langsung berdentum hebat mendengar ucapan perempuan yang ia anggap bocah itu. Keringat pun seketika mengucur dari kening dan pelipis pria tampan itu saking gugupnya. Tak disangka olehnya Kia sudah mengetahui tentang fakta yang sejak pagi tadi begitu sulit ia ungkapkan. Cepat-cepat Gery mengambil tissue di atas meja, kemudian meneguk habis air mineral dalam kemasan yang ia beli di minimarket saat membeli rokok tadi. “Ka, ka, kamu udah ...?” “Angel udah cerita sama aku,” potong Kia saat Gery belum menyelesaikan pertanyaannya. Sore tadi Percakapan dalam bahasa Sunda “Neng, sebenernya ibu masih bingung sama ucapan ibunya Nak Gerry, sebenernya dia setuju apa enggak sih dengan hubungan kalian. Ditanya setuju jawabnya enggak, ditanya gak setuju jawabnya juga enggak. Kan ibu pusing,” keluh Ibu pada putrinya sambil menyodorkan semangkuk anggur yang tadi Mommy Gerry bawakan sebagai buah tangan, saat menjenguk Kia. “Tadi pas Ibu liatnya gimana ekspresinya Mommy Bos?” Kia balik bertanya, seraya memasukan satu persatu anggur ke dalam mulutnya. “Mommy Bos emang baik Bu, bukan cuma sama aku, tapi sama semua karyawan kafe. Jadi ibu jangan salah ngambil kesimpulan. Inget Bu, Pak Gerry udah punya pacar yang cantik dan sama kayanya kayak mereka,” ujar Kia, yang juga sedang mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu berharap lebih. “Kalau emang dia sebaik itu, pasti kamu bisa dengan mudah dapet restu dari dia. Mudah-mudahan aja ya Neng hubungan kalian nanti gak ada kendala apa-apa,” doa Ibu dengan tulus. Sebetulnya Kia masih belum percaya jika pria sekelas bosnya yang ketampanannya di atas rata-rata itu bisa jatuh cinta pada dirinya yang hanya seorang pelayan di kafe milik Gerry. Dan saat ia teringat wejangan sang Bapak tiap kali ada teman laki-lakinya yang mengantar dan menjemputnya ke kampus ‘inget Neng, perempuan cuma punya satu mahkota dan cuma suami kamu nanti yang berhak untuk mendapatkannya. Jadi jangan terlalu deket sama laki-laki. Fokus kamu ke sini kan mau kuliah bukan mau pacaran. Kita ini orang susah, jadi jangan banyak gaya, biar hidup kamu gak tertekan’, makin menciut saja nyali Kia, ditambah lagi selama ini Gerry memang tidak pernah menunjukan perhatian lebih terhadap dirinya. Meski Kia masih tabu dengan perasaan yang disebut cinta, tapi dia bisa membedakan orang yang baik karena memang baik, dengan orang yang baik karena ada maksud lain, dan Gery tidak berada di tipe kedua. “Jangan terlalu percaya diri dulu, Bu. Siapa tau Pak Gery emang Cuma mau bantu kita, karena aku karyawan kafenya,” sebetulnya ia sedang berbicara pada dirinya sendiri agar sadar diri. “Tapi Ibu selalu berdoa di setiap solat ibu, semoga kamu jadi orang kaya, jadi siapa tau ini emang cara Allah mengabulkan doa Ibu,” ucap Ibu. “Inget Neng, doa orang yang teraniaya itu kan didengar sama Allah,” sambungnya dengan senyum semringah. Dan sesaat setelah Kia menghabiskan butir terakhir anggurnya, pintu kamar itu terdengar di ketuk. Ternyata Angel sama teman-teman kampusnya datang menjenguknya. Atau lebih tepatnya datang mengajaknya pesta, sebab banyak sekali cemilan dan minuman soda juga beberapa kotak Pizza yang mereka bawa ke sana. Setelah menyapa sebentar teman-teman putrinya, ibu Kia memilih untuk pergi dari kamar itu dengan alasan ingin menjenguk suaminya di ICU. “Ngel, gue mau tanya.” Kia sedikit ragu. “Paan?” jawab Angel yang sedang sibuk membersihkan meja dari sisa sampah makanan yang dia dan teman-temannya bawa tadi. “Gue mau tanya soal hubungan Pak Gerry sama Mbak Gitsa ....” Kia kembali ragu untuk melanjutkan ucapannya. “Gue gak tau pasti sih, tapi yang gue denger dari Bunda tadi pagi, katanya Om Gery diputusin sama Kak Gitsa ....” Oh, jadi Mbak Gitsa juga udah tau kalau Pak Gerry naksir gue. Lagi-lagi gadis lugu itu mengambil kesimpulan sesuai dengan cara kerja otaknya. “... makanya semalem Om kalap bawa mobilnya ampe gak sengaja nabrak kalian berdua.” “APA LO BILANG TADI?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN