“Makasih Pak,” ujar Kia pada sopir keluarga Chen yang mengantarnya pulang ke kontrakan.
Awalnya ia menolak dengan halus tawaran mommy bosnya untuk diantarkan pulang oleh sopir keluarga itu, malu rasanya harus menerima semua kebaikan yang sudah diberikan keluarga kaya raya itu untuknya, yang hanya mengalami cedera ringan. Tapi nyatanya tak mudah bagi Kia dan ibunya untuk menolak tawaran Nyonya Chen, karena mommy bosnya itu malah mengiba agar Kia mau diantar pulang. Jadi mau bagaimana lagi, dengan sedikit rasa terpaksa Kia akhirnya menerima tawaran baik itu. Untung saja sekarang dia sudah tahu fakta yang sebenarnya, karena jika tidak, makin besar kepala saja Kia diperlakukan baik oleh mommy bosnya.
“Tunggu Mbak!” cegah sopir itu sebelum Kia dan ibunya masuk ke dalam kontrakan.
“Kenapa? Ongkos?” tanya Ibu dengan polosnya.
“Bukan,” jawab si sopir cepat, sambil membuka bagasi belakang. “Ini dari Ibu Rossi, ada sedikit bingkisan kecil darinya.” Sambil mengeluarkan dua buah tas belanja ukuran besar.
“Gak usah repot-repot, Pak. Kebaikan Mommy Bos dan keluarga udah ....”
“Kata Ibu, saya belum boleh pulang kalau bingkisan-bingkisan ini belum Mbak terima. Jadi tolong bantu saya cepet pulang Mbak!” desak sang sopir dengan wajah mengiba.
Kia hanya bisa mendesah pendek sambil membuka pintu kontrakannya dan mempersilakan sopir itu untuk membawa masuk bingkisan-bingkisan itu, yang ternyata bukan hanya dua kantong belanja yang sopir itu masukkan ke dalam, tapi ada beberapa tas belanja yang membuat sopir itu harus berkali-kali keluar-masuk ke dalam kontrakannya. Dan lagi-lagi Kia bersyukur karena kesalahpahaman itu tidak berangsur lama.
Saat Kia kembali mendesah saat melihat banyaknya tas belanja yang sepertinya berisi bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga yang sebetulnya tidak terlalu Kia butuhkan, wajah ibu Kia malah nampak berbinar melihat tumpukan kantong belanja berlabel supermarket yang memenuhi kontrakan mereka. “Ibu mau sering tahajud biar kamu bener-bener jadi menantu keluarga itu,” celetuk ibu, Kia tahu bahwa ucapannya memang benar-benar dari dalam lubuk hati.
Tapi Kia memilih untuk tak menimpali, dengan langkah yang masih terseok-seok dia berjalan menuju lemari pendingin. Tapi saat ia melihat cake ulang tahun yang sama persis dengan kue yang ada di foto lengkap dengan lilin ulang tahun berbentuk angka 20, air mata Kia kembali pecah. Dadanya terasa sesak, bersamaan dengan rasa sakit di bagian tenggorokannya.
Andai saja malam itu Kia tidak meminta izin untuk pulang cepat dan ikut rapat dengan para karyawan lain, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Kia menyalahkan dirinya yang kemarin malam sangat tak sabaran untuk meniup lilin berangka 20 itu.
“Kunaon, Neng?” tanya ibu saat melihat putrinya menangis lirih di depan lemari pendingin yang terbuka. “Kakinya masih sakit banget?” Sambil menyentuh perlahan kaki putrinya yang memang masih sedikit bengkak.
Kia masih tergugu, tenggorokannya masih sangat sakit hanya sekedar untuk mengucapkan kata baik-baik saja.
“Itu bolu ulang tahun siapa?” tanya Ibu, tapi sesaat kemudian dia teringat tentang hari kelahiran sang putri yang jatuh dua hari lalu. Dia pun langsung memeluknya saat menyadari bahwa cake coklat dalam lemari pendingin itu penyebab tangis sang putri.
“Bapak sekarang koma gara-gara Eneng, Bu.” Meski sakit dia berusaha untuk menjelaskan. “Maafin Eneng, Bu!”
Walaupun ibu masih belum mengerti tentang apa yang putrinya ucapkan, tapi dia masih bisa mengambil kesimpulan bahwa ada cerita menyedihkan dalam sebuah cake ulang tahun yang terlihat begitu manis ini. “Semua ini takdir Allah. Gak ada yang bisa ngelawan takdir. Ibu yakin pasti ada hikmah di balik ini semua,” ucap ibu dalam bahasa Sunda.
*****
Tak terasa satu bulan berlalu dengan cepat, tapi tak ada perkembangan yang positif tentang kondisi sang Bapak. Pria itu masih terbujur koma di dalam ruang perawatan intensif dengan berbagai alat bantu yang bisa menopang hidupnya selama sebulan ini.
Kia pun sudah kembali masuk kerja di kafe Gerry, sambil mencari pekerjaan lain, karena entah mengapa setelah tragedy itu dia merasa tidak kerasan bekerja di sana, apalagi saat harus berpapasan dengan bos tampannya itu.
Seperti malam ini contohnya, hari yang bisanya begitu ia tunggu-tunggu, apalagi jika bukan tanggal gajian. Meski kafe itu memiliki seorang manajer handal, tapi setiap gajian Gerry menyempatkan untuk membagikan gaji karyawannya sendiri. Mungkin ini salah satu cara pria itu untuk lebih dekat dengan para bawahannya yang sangat berdedikasi untuk kesejahteraan rekeningnya.
Kia terlihat gelisah menunggu giliran untuk dipanggil ke ruangan bosnya, atau lebih tepatnya kamar kedua pria tampan itu, karena ruangan itu lebih mirip ruang tidur kamar hotel dibandingkan ruang kerja. Ranjang berukuran king size lebih mendominasi ruangan itu daripada meja kerja Gerry yang kecil. Dan tumben sekali dia belum dipanggil juga, padahal biasanya dia sebagai pekerja paruh waktu selalu berada paling depan dalam daftar, setelah itu barulah para karyawan senior dan terakhir sang manajer kafe. Tapi hingga detik itu nama Zaskia belum juga terdengar, padahal kini tinggal hanya dia dan sang manajer kafe yang biasa dipanggil Pak Awan.
“Kok tumben aku belum dipanggil juga ya, Pak?” tanya Kia yang sedang mencari kesibukan dengan cara mengelap meja kafe untuk mengusir gugupnya. “Kan biasanya yang terakhir dipanggil si Bos, Pak Awan,” lanjutnya, berusaha untuk terdengar biasa saja.
“Saya udah gajian tadi pagi,” jawab pria bernama Awan itu sambil membantu Kia mengelap meja-meja kafe. “Jangan-jangan bulan ini kamu gak gajian,” selorohnya tanpa berniat menyindir Kia. “Ayo diinget-inget bulan ini kasbon kamu berapa!”
Meskipun tak ada sedikitpun niat Awan untuk menyindir dirinya, tapi hatinya merasa tersindir dengan kelakar atasannya itu. Bukan karena kasbonnya yang menumpuk, karena selama hampir dua tahun ini bekerja di kafe, Kia belum pernah meminta kasbon pada atasannya itu. Tapi hatinya yang sedang rapuh merasa tersindir dengan hutang biaya pengobatan sang Bapak yang pastinya jika ditotal-total mampu membuat dirinya pusing karena memikirkan, harus berapa banyak kambing yang ia jual untuk melunasi hutang itu.
“Ki, kamu dipanggil Pak Gerry,” ucap Mbak Ajeng yang adalah staf dapur. “Mbak turut prihatin ya Ki,” lanjutnya sambil menepuk bahu Kia yang saat itu masih mengkalkulasikan banyaknya kambing yang harus ia jual.
“Eh, iya Mbak.” Sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan Gerry.
“Masuk!” ucap Gerry dengan lantang setelah ia mengetuk pintu. Pria berwajah oriental dengan mata coklat kehijauan itu terlihat tersenyum saat melihatnya masuk. Hal yang baru pertama kali Kia lihat selama bekerja di sini. “duduk!” mempersilakan duduk dengan gerak matanya.
Kia langsung duduk begitu dipersilakan, wajahnya terus menunduk karena tiba-tiba saja dia kembali teringat hal bodoh yang pernah ia lakukan. Ah, bisa-bisanya dulu dia dengan bodohnya mengira bahwa pria dengan aura ningrat di hadapannya itu punya perasaan lebih terhadap dirinya. Dan kenapa juga dia mempercayai argumentasi sang ibu tanpa menggunakan otak cerdasnya untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengapa Gerry yang jarang sekali menyapanya mau bertanggung jawab. Wajah Kia seketika terasa hangat, dan pastinya Gerry bisa melihat perubahan rona di wajahnya ini.
“Saya berniat untuk memindahkan Bapak kamu ke rumah sakit yang lebih modern lagi yang ada di Singapur,” ujar Gerry membuka percakapannya. “Soalnya liat aja, sebulan dirawat di sini, kondisi bapak kamu masih belum menunjukan hasil yang baik.”
Sontak Kia mengangkat wajahnya, dia begitu terkejut mendengar jawaban pria tampan yang sedikit lusuh itu, bahkan jika diperhatikan ada bayangan hitam di kantung matanya.
“Sebelumnya saya mau ngucapin terima kasih karena Pak Gerry begitu memperhatikan kondisi Bapak. Tapi gak usah repot-repot Pak. Ibu saya juga pasti gak akan setuju dengan usulan Pak Gerry,” jawab Kia begitu hati-hati, takut kalau-kalau ucapannya menyinggung perasaan bosnya.
“Tapi kan kita harus ikhtiar juga dong,” jawab Gerry yang tak langsung menerima jawaban gadis di hadapannya.
“Tapi saya dan keluarga saya udah terlalu banyak merepotkan Pak Gerry dan Mommy Bos. Jujur saya malu atas kebaikan kalian.” Baru mengucapkan kalimat itu saja suara Kia sudah serak karena menahan tangis.
“Kenapa juga kamu mesti malu?”
“Karena saya sadar, Bapak koma karena penyakit bawaanya, bukan karena ditabrak Pak Gerry.” Luruh juga air mata Kia.
Ini yang Gerry tak suka dari makhluk bernama perempuan, karena sepertinya kaum Hawa ini mudah sekali untuk mengeluarkan air matanya. Bahkan untuk hal yang sesepele ini.
“Tapi kalau bukan karena gue yang tabrak bokap lo, gak mungkin kan dia tiba-tiba koma. Jadi gue ngerasa harus bertanggung jawab untuk bisa mulihin kondisi bokap lu lagi. Gak lebih!” Dia menekankan pada kalimat ‘gak lebih’-nya.
Kia begitu terkejut mendengar ucapan bosnya yang tak lagi formal, karena baru kali ini dia mendengar Gerry mengucapkan kata-kata non formal, ditambah lagi dengan nada kesal. “tapi apa yang Pak Gerry lakuin untuk Bapak udah sangat baik menurut saya, bahkan kalau pun Pak Gerry akhirnya nyerah, saya dan keluarga saya akan tetep berterima kasih.”
“Tapi kalau terjadi apa-apa, gue bakalan nyesel seumur hidup, karena gak maksimal ngobatin bokap lu!” Gerry tak lagi menjaga ucapannya saking kesalnya menanggapi ocehan gadis belia di hadapannya.
Tak pernah dia sangka-sangka, perempuan dari kalangan rakyat jelata di hadapannya ini menolak mentah-mentah usulannya sebelum dia menjelaskan prosedur pemberangkatan korbannya ke luar negeri. Padahal Gerry sudah mengorbankan waktu tidurnya untuk mencari tahu rumah sakit bagus yang pernah menangani pasien seperti ayah Kia.
“Tapi ibu saya pasti gak akan setuju, Pak.” Kia pun keukeuh.
“Terus mau elu apa sih? Elu mau bawa bokap lu ke dukun yang ada di kampung gitu? Kalian pikir jampi-jampi lebih mujarab dari alat-alat medis yang modern?” ada nada mengejek dari ucapan pria itu.
“Kami gak mau punya hutang budi yang lebih besar lagi sama Pak Gerry dan keluarga,” jawab Kia pelan sambil menundukan wajah.
Sebetulnya Gery terkejut mendengar jawaban gadis itu, tapi pria sombong itu tetap tak mau kalah. “siapa juga yang mau ngutangin kalian yang jelas-jelas gak akan bisa bayar, orang gue cuma-”
“Kalau begitu izinkan saya bayar semua kebaikan Pak Gerry nanti.” Dengan mantap dan sungguh-sungguh Kia mengucapkan hal besar itu.
“Caranya?” masih menyepelekan. “Jual keluarga kambing lagi?”
Kia mengangguk cepat, dengan wajah antusias membuat Gerry menyesal telah mengucapkannya. “Cuma itu yang keluarga saya punya di kampung, sama sawah tiga kotak yang sekarang digadein ke Uwa saya. Dari kemaren saya sama ibu udah berencana tiga ekor kambing lagi, satu jantan, dan dua biang ....”
Hadeeeeuuuuhh…
“... Jadi, semakin banyak biang yang kami punya, persentase populasi kambing kami jadi semakin besar, dan kata ibu dia juga akan nyari indukan yang biasa hamil kembar. Bukannya itu menjadikan peluang kami memiliki banyak kambing jadi semakin besar juga?”
'Terserah elu dah. TERSERAAAAAHH!'
“Minggu lalu Mommy Bos udah merekomendasikan saya kerja di perusahaanya, katanya di sana gajinya besar. Saya harap Pak Gerry bersabar sampai hari itu, karena saya janji 70% gaji saya tiap bulan akan saya sisihkan untuk nyicil utang ke Pak Gerry.”
'BODO AMAT!' Gerry membatin.
Kata Otor:
Jangan bilang bertele-tele dulu, ya...
Sabaaarrr, aku tuh sebetulnya seneng liat klean penasaran ??