Kritis

1274 Kata
Sebetulnya bukan mau Gerry jadi seperti ini. Masalah jadi tambah runyam saja sejak Kia memintanya untuk menjadikan semua biaya rumah sakit Pak Kusdi sebagai piutang, karena Gerry memang tulus ingin membantu mereka sebagai bentuk penyesalan dirinya. Masa bodoh lah Kia akan membayar utangnya dengan cara apa nantinya, bahkan Gerry dengan bodohnya sempat ikut menghitung jumlah populasi ternak kambing keluarga gadis itu di tiga tahun ke depan, jika dalam satu tahun induk kambing melahirkan 3 ekor anak, maka dari empat ekor kambing ada sekitar 12 anak kambing dalam satu tahun, belum lagi kambing yang melahirkan kembar, tambah banyak lagi kambing yang akan keluarga Kia miliki dan jika dikalkulasikan jumlah itu dalam tiga tahun, hasilnya adalah… Gery langsung tersadar dan segera berhenti menghitung jumlah mereka. Buang-buang waktunya saja. Sudah 20 menit dari jam kerja Kia dimulai, tapi gadis itu belum juga tercium baunya. Gerry yang memang akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktunya di kafe, bahkan tak jarang pria tampan minim akhlak itu tidur di ruang kerjanya. Karena dengan menyibukan dirinya, bayangan Gitsa tak terlalu mendominasi pikirannya. Bayangan pernikahan indah yang sempat terlintas dalam benaknya pupus sudah saat Gitsa mengambil semua barang-barang pribadinya dari apartemen mereka. Jika awalnya Gery mengira ucapan Gitsa malam itu hanya gertakan, tapi setelah dia melihat kondisi apartemen yang hampir empat bulan mereka tinggali bersama telah kosong dari barang-barang milik gadis itu, hati Gery langsung remuk saat itu juga. Ternyata harta dan tahta lebih tinggi derajatnya dibandingkan semua rasa yang telah mereka rajut selama ini, pikir Gery. “Masih ngelamunin si Gitsa?” tegur Thomas yang adalah salah satu sahabatnya lagi. “angapain juga mikirin orang yang gak mikirin gue? Elu pikir di dunia ini cewek Cuma dia doang apa?” elaknya sambil memperhatikan air yang turun secara keroyokan dari atas langit. Hujan pertama di musim panas. Namun entah mengapa terasa menyayat hati Gery, saat pria itu memperhatikannya. “Udah sombong, tengil, egois, dan banyak lagi minus loh, wajar sih cewek sekelas Gitsa ninggalin dia, laki-laki yang memuja dia bukan elu doang, ya kan, Mbek?” ujar Thomas sambil meminta persetujuan sahabat yang sekaligus adik iparnya, Satria. “Jangan sebut-sebut kambing, mbek atau apapun yang berbau bandot di depan gue!” bentak Gery. “Ecieeee, yang bentar lagi jadi juragan kambing.” Si Sableng Thomas tentu saja tidak ingin melewatkan momen berharga ini untuk membully sahabatnya. “Gue mau bikin poster yang gede ah nanti, ‘Gery sahabat Kambing, menerima paket akikah dan menjual kambing untuk kurban’.” Thomas terus memancing emosi Gery. “bawahnya ada tulisan ‘ayo berkurban jangan sampai perasaan yang berkorban lebih dahulu’,” lanjut Thomas. “Elu kayaknya lebih pantes jadi juragan kambing, dibanding gue.” Sambil melempar sedotan ke wajah Thomas. “Ini lagi, sibuk sama kerjaannya aja,” gerutunya pada Satria. “Siapa yang lagi kerja, orang gue lagi ngitung-ngitung kemungkinan besar kambing yang kan elu punya tiga tahun nanti,” sahut Satria sambil menyodorkan selembar kertas berisi angka-angka yang tidak Gery mengerti. Dengan gerakan kasar Gery menyambar selembar kertas berisi angka-angka itu. “ini itung-itungan apaan, Mbek?” “Itu tuh jumlah total kemungkinan kambing yang akan elu dapet tiga tahun nanti. Tadi gue itung-itung dari empat biang itu jumlah anak kambing yang akan elu terima nanti sekitar 50 ekor, termasuk empat biang sma dua jantannya. Dan itu cuma jumlah minimum perkiraan, karena bisa jadi lebih dari itu. Jadi nanti kalau cewek itu ngasih jumlah kambing kurang dari segitu, itu tandanya dia gak jujur.” Satria dengan seriusnya menjelaskan perihal jumlah kambing dan para keturunannya nanti. “Dasar manusia-manusia laknaaaat!” Gerry langsung memiting leher ayah dari bayi bernama Sachee itu. “Gue pikir elu mikir apaan ampe serius begitu, ternyata lagi ngitung calon sodara-sodara elu.” Gerry tak mempedulikan pekikan nyaring Satria yang merasa kesakitan karena ulahnya. Dan saat ketiga pria tua bangka sedang bergelut seperti bocah kecil, gadis cantik yang sejak tadi Gerry cari keberadaanya muncul dengan tubuh basah. “Maaf Pak, saya telat lagi!” sesal Kia. “Tadi saya harus nungguin ibu dari murid les saya pulang kantor,” lanjutnya dengan wajah menunduk malu, karena ini bukan pertama kalinya Kia terlambat datang bekerja. “Emang saya masih kurang banyak ngasih maaf ke kamu, sampe hampir tiap ketemu saya kamu minta maaf?” sinis Gery, meskipun sebetulnya dia tak marah sama sekali pada gadis itu. “Ya tinggal balik minta maaf aja sih, Pak. Pasti saya juga maafin Pak Gery,” jawab Kia dengan nada sedikit meninggi dibandingkan sebelumnya. Sebetulnya sejak tadi dia sedang menyimpan kekesalannya karena terlalu lama menunggu orang tua dari muridnya, ditambah lagi saat ibu dari muridnya itu komplain tentang hasil ujian anak didiknya itu yang masih biasa-biasa saja bahkan terkesan menyalahkan Kia. Dan saat Gery kembali mengusik kesabarannya, jebol juga pertahanan gadis cantik itu. “pokoknya nanti kalau saya minta maaf lagi, Pak Gery tinggal maafin saya aja, gak usah banyak komen!” sambil berjingkat dari tempatnya. Gery begitu tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar dari bibir karyawannya tadi. Bisa-bisanya dia yang adalah pemilik kafe ini malah dimarahi oleh karyawannya sendiri. Tapi Gerry tak kuasa untuk membalas ucapan gadis itu. “Si Monyet kicep!” celetuk Thomas pada Satria. “apakah ini tanda-tanda Monyet tampan ini telah menemukan pawangnya?” balas Satria. “Kayaknya sih begitu. Bagus deh, jadi dia gak perlu repot-repot tuk cari kitab suci ke Barat,” imbuh Thomas sambil cekikikan. “Balik gak lu pada, sekarang. Udah makan minum gratis, gak ada akhlak lagi.” Gery kembali murka, tapi sepertinya kedua pria minim akhlak itu tak sedikitpun ketakutan mendengar gertakan sahabatnya, apa lagi Thomas yang malah semakin gencar saja menggoda sang pemilik kafe itu. Tiba-tiba saja nomor telepon dari rumah sakit menghubungi, buru-buru dia melepaskan Thomas dari pitingannya dan segera menganggkat panggilan itu. “ya, halo?” “Dengan Pak Gery, betul?”I “Iya, betul,” jawabnya sambil menganggukan kepala. “Kami memberitahukan, pasien atas nama Bapak Kusdinar kembali mengalami masa kritis, nomor telepon putrinya sulit dihubungi, bisa ....” “Bisa. Saya segera membawa putrinya ke sana!” jawab Gery sambil mengakhiri hubungan telepon. “Kenapa?” tanya Satria saat melihat ketegangan di wajah sahabatnya. “Bokap si Kia kritis lagi,” jawabnya sambil bergegas ke dapur untuk menghampiri Kia. Ternyata gadis itu sudah selesai mengganti pakaiannya yang basah dengan seragam kafe dan sepertinya baru akan ke melakukan tugasnya. “Ki… itu… emmm…” Gerry sepertinya kehilangan kata-kata karena ikut gugup. “Kenapa, Pak? Mau minta maaf?” tanya Kia yang sepertinya masih tersinggung dengan ucapan Gerry. “Bukan. Tapi… itu… emmmm.” Sulit sekali bagi Gerry menerangkan bahwa kondisi ayah dari wanita di hadapannya sedang kritis. Sambil berdecak kesal Gerry meraih tangan kecil Kia. “Ikut gue aja!” sambil menyeret Kia dengan paksa. “Ada apa sih, Pak!” Kia mulai ketakutan, takut kalau-kalau Gerry yang tersinggung karena ucapannya tiba-tiba memecatnya. “Saya minta maaf kalau omongan saya tadi ....” “Udah gue maafin,” jawab Gerry yang terus menyeret tubuh Kia, tak mempedulikan sorot mata penuh tanya para pegawainya yang lain. Sebetulnya saat itu Gerry sedang ketakutan. Takut kalau-kalau ada berita tak mengenakan dari orang yang sedang koma itu. Hatinya yang jarang mengingat Tuhannya kali ini meminta agar Sang Maha Kuasa bisa memberikan mukjizatnya pada orang yang kini sedang meregang nyawa di rumah sakit. Dia terus berdoa agar diberi kesempatan untuk meminta maaf secara langsung pada korbannya itu. “Pak Gerry mau bawa saya kemana?” tanya Kia saat Gerry membukakan pintu mobil untuk dirinya. “Ke rumah sakit,” jawab Gerry sambil menatap Kia penuh penyesalan. “Bapak,” lirih Kia saat menyebut kata itu. Rasa sakit yang tiba-tiba datang seolah meremukan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN