Permintaan Bapak

1391 Kata
Tangis pilu Kia pecah saat melihat kondisi sang ayah yang saat itu sedang di bisikan ayat-ayat Alquran oleh sang ibu. Sudah tak ada lagi alat bantu yang terpasang di tubuh pria tercintanya, menandakan jik para dokter sudah angkat tangan. Kia segera menghampiri tubuh yang terbujur dengan mata terpejam itu, memanggil dengan lirih orang yang begitu ia cinta. “Bapak, bangun!” ucap Kia dengan bibir bergetar. “Pak, maafin Eneng!” sambungnya sambil menggenggam erat telapak tangan yang begitu kasar itu. Gery pun tak kalah sedih melihat pemandangan memilukan di hadapan matanya itu. Kumohon jangan seperti ini. Ya Allah, biarkan aku meminta maaf secara langsung padanya. Akhirnya pria itu meminta bantuan Penciptanya. Beri kesempatan aku untuk meminta maaf secara langsung! Kumohon. Apapun yang dia inginkan, pasti akan kukabulkan. Batin Gery lirih. “Pak, tunggu anak-anak datang ya, Pak. Izinkan mereka meminta maaf pada Bapak!” ucap ibu dalam bahasa Sunda. “sabar sebentar lagi, Pak” lanjutnya dengan derai air mata pilu. Gery yang tak tahan dengan pemandangan menyedihkan di hadpan matanya, langsung berbalik badan, dan segera keluar. Ternyata kedua sahabat minim akhlak yang sejak tadi mengejeknya ada di luar ruang ICU, sedang berbicara dengan dokter yang menangani Pak Kusdi. “Segala upaya sudah kami lakukan, dan akhirnya istrinya meminta untuk dilepaskan semua alat bantu yang sejak sebulan lalu menopang kelanjutan hidup pasien,” ucap sang dokter dengan wajah menyesal. “Tapi bukannya kata dokter, Pak Kusdi masih bisa ada harapan sembuh kalau kita bawa dia ke Singapur. Kenapa dokter gak bilang aku dulu? Meskipun aku bukan keluarganya, tapi kan aku yang bertanggung jawab atas biaya pengobatan Pak Kusdi!” sambar Gery dengan murka. “Saya sudah bilang kepada istrinya untuk menungggu keputusan Pak Gery, tapi istri pasien melarang saya dan meminta untuk segera dilepaskan semua alat bantu yang ada di tubuh pasien. Katanya dia sudah tidak tega melihat suaminya merasakan sakit yang lebih lama lagi,” jawab sang dokter dengan wajah tertunduk. “tapi itu artinya elo ngedukung gue jadi seorang pembunuh!” Gery langsung mencegkram kerah baju sang dokter dengan kasar. Bahkan sebelah tangannya sudah siap mendarat di wajah dokter tua itu. “Elu apa-apaan sih?” Satria langsung menarik paksa sahabatnya, menjauhkan tubuh Gery dari sang dokter yang sudah meringis sambil memejamkan matanya, seperti pasrah jika pria kaya di hadapannya melakukan apapun pada dirinya. “Siapa yang pembunuh? Emang elu sengaja nabrak si Kia sama bokapnya? Enggak kan!” Thomas tak kalah kesal. “Tapi kalau sampe dia mati, gue kan penyebabnya.” Air mata pria itu pun akhirnya menetes. Ada rasa menyesal yang teramat sangat yang kini ia rasa dengan rasa takut yang kini menyelimuti hatinya. “Takdir, ini semua takdir yang emang harus kalian lalui. Semua yang terjadi sama kalian ini tak luput dari yang namanya takdir. Dan gak ada seorang pun yang bisa mengelak kehendak-Nya,” jelas Satria sambil menarik kerah baju Gery agar sahabatnya itu menatap ke arahnya. “elu ngerti kan maksud gue?” ulangnya. Gery tak menjawab, entah masih belum mengerti atau memang sudah paham dengan maksud sahabatnya itu, tapi gery tak sedikitpun menjawab ucapan Satria. Kenapa harus ada takdir seburuk ini yang ia terima namun mengorbankan orang lain? Kenapa Tuhannya tidak langsung menghukumnya saja, karena dia pun sadar atas banyaknya dosa yang sudah ia lakukan. “Gue belum minta maaf ke orang itu,” gumamnya, namun masih bisa didengar oleh kedua makhluk yang ada di sana. “Lah si Bego. Dari kemaren elu ngapain aja ke sini? Gue pikir elu udaMinta maaf lah sana!” saat sahabatnya masih merasakan kesedihan Thomas tetap saja menghadiahkan Gery toyoran yang membuat pria di sampingnya itu terhuyung. “Ya, tapi kan bapak itu belum sadar, gimana gue mau minta maaf? Datang ke mimpinya!” bentak Gery yang tidak terima ditoyor Thomas. “Kata yang gue denger, orang yang koma itu masih bisa ngedenger omongan kita. Bahkan ada kasus di luar negeri ada kasus yang koma sampe 12 tahun, dan katanya tuh anak bisa denger semua omongan orang-orang, termasuk bisikan emaknya sendiri yang mengingikan dia mati aja,” ujar Thomas. “Kenapa elu baru bilang sekarang, Kampret?” Gery kembali kesal. “Lah elu yang gak nanya bego!” balas Thomas. “Udah, udah, sesame orang bego gak usah saling menyalahkan, gak malu apa kalian sama orang pinter kayak gue!” Satria langsung melerai dengan caranya yang malah membuat kedua sahabatnya itu kesal. “Masuk sono, cepet! Katanya elu mau minta maaf,” ucap Thomas sambil mendorong tubuh Gery. Tanpa mejawab lagi, Gery langsung berlari ke dalam. Kini Kia ikut melantunkan ayat-ayat Alquran di telinga Pak Kusdi, sedangkan ibu Kia terus membisikan kalimat syahadat di telinga suaminya. “Ki, boleh aku minta maaf sama Pak Kusdi?” izin Gery. Tanpa menjawab, Kia menggeser tubuhnya, mempersilakan bosnya itu untuk meminta maaf pada ayahnya. Karena mungkin ini kesempatan terakhir untuk Gery meminta pengampunan pada sang ayah. “Assalamualikum, Pak.” Dengan sedikit kaku Gery mengucapkan salam pada korbannya. “Saya Gery, orang yang bertanggung jawab atas kondisi Bapak ini,” ucapnya sambil meneteskan air mata. “ Saya ….” tenggorokannya tercekat, seperti ada yang menghalangi. “Maafkan saya, Pak!” lirihnya dengan tangis yang tak terbendung lagi, bahkan urat-urat di keningnya yang tegang menandakan jika permintaan maafnya tulus dari dalam hati. Entah kebetulan atau memang mukjizat itu nyata, tiba-tiba saja jemari Pak Kusdi yang sejak kemarin tak sedikit pun merespon, kini bergerak meski hanya gerakan perlahan, namun hal itu msih bisa Kia rasakan. “BAPAK!” seru Kia dengan semringah sambil memperhatikan wajah sang ayah. “Bu, Bapak,” tunjuknya pada sang ibu saat melihat mata bapaknya seperti sedang berusaha membuka mata. Perlahan d**a Pak Kusdi bergerak sambil mengambil napas dalam-dalam. Dan dalam hitungan detik pria yang sudah lebih dari sebulan terbujur di ranjang ICU itu batuk dengan kedua matanya yang terbuka seperti tersedak sesuatu. Gery langsung memencet bel panggilan darurat yang ada di samping meja pasien. Dan segeralah seorang dokter dan dua orang perawat yang ada di luar ruang ICU menghampiri mereka. Para medis dibuat ternganga dengan pemandangan itu, mereka benar-benar terkejut melihat pasien yang beberapa saaat lalu sudah sekarat itu kini sedang terbatuk-batuk sambil mencengkram dadanya. Cukup lama mereka melakukan pemeriksaan kepada sang pasien, memastikan jika semua organ vitalnya berfungsi sebagaimana mestinya. “Alhamdulillah, berkat doa dan kuasa Allah, Pak Kusdi sudah sadarkan diri,” ucap sang dokter setelah memasangkan lagi selang infus di lengan kiri Pak Kusdi. Di saat itu, dua orang anak berumur 15 tahunan dan seorang bocah seumuran kelas lima SD, masuk bersama seorang pria yang mereka panggil Mamang. Ya, kedua bocah itu, tak lain da tak bukan adlah adik-adik Kia. Keharuan kembali terjadi, tangis bahagia kembali terdengar di ruang perawatan itu. “Kami segera menyiapkan kamar untuk Pak Kusdi,” ujar seorang perawat sebelum pamit pergi. Gery pun ikut pamit dari ruangan ICU pada Kia dan keluarganya, mempersilakan mereka untuk melepas rasa rindu keluarga kecil itu. “Nyet, gue penasaran tadi elu ngebisikin apa sama bokap si Kia?” tanya Thomas sambil menyodorkan sebotol minuman dingin pada sahabatnya. “Elu gak nagih utang biaya rumah sakit ke kupingnya, kan?” sambung Satria. Sontak Gery menyemburkan minuman yang sedang ia minum. “Balik lu pada!” bentak Gery. “Bisa-bisanya elu mikir begitu sama gue, Setan!” ***** Hari sudah malam kala itu, Kia beserta adiknya sudah terlelap di lantai rumah sakit beralas kasur lantai, sedangkan ibu Kia sudah sejak sejam lalu menggapai mimpi di atas sofa. Kini tinggal hanya Gery di sana, bersama Pak Kusdi yang sedang menikmati acara televisi. Dengan hati bergemuruh, Gery mendekati pria yang ia tabrak itu. “Ada yang mau say ...” “Nak Gery sudah mau pamit pulang?” terkanya. Ini satu keluarga seneng banget potong omongan orang ya. Gumam hati Gerry. Gery mengangguk kikuk, “iya,” jawabnya sambil tersenyum. “tapi ada yang mau say ....” “tlTitip Kia, ya. Tolong jaga dia baik-baik.” Sambil menggenggam tangan Gery yang terasa dingin. “Tapi ...” “Waktu Bapak koma, entah itu mimpi atau memang benar, karena waktu itu Bapak sempet dengar dari ibu, kalau Nak Gerry adalah pacar Kia. Bapak merasa umur Bapak gak akan lama lagi, jadi sebelum Bapak pergi, Bapak mau menitipkan Kia sama kamu. Tolong jaga Kia untuk Bapak, ya!” Kali ini pria dengan rambut yang mulai memutih itu menatap mata Gerry dengan penuh permohonan. 'Omaygaaat,' batin Gerry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN