Malam itu, Risa mulai berani. Ia yang biasanya pasif, kini justru menjadi agresif. Evan sempat terkejut dengan perubahan itu, namun dalam hatinya ia sangat menikmatinya. Sentuhan Risa terasa berbeda malam ini, lebih penuh cinta, bukan sekadar kehangatan biasa. Dalam pelukan itu, Evan mulai merasakan—ya, Risa benar-benar sudah mulai mencintainya. Keesokan harinya, matahari sudah menyelinap masuk lewat celah gorden kamar, tapi keduanya masih terbungkus selimut, bermalas-malasan. “Sayang, udah jam tujuh…” ucap Risa malas, matanya masih terpejam sementara alarm Evan berdering nyaring. “Males bangun ah…” gumam Evan sambil meraih tubuh Risa, memeluknya lebih erat, seakan enggan berpisah dengan kehangatan istrinya. “Iya, masih ngantuk… kamu nambah terus sampe subuh,” balas Risa sambil terse

