Tak terasa air mata Risa terus mengalir membasahi pipinya, kenangan masa lalu membuat dadanya sesak. Bahunya berguncang kecil menahan tangis yang sulit dihentikan. Tiba-tiba pintu kamar diketuk, Siti masuk dengan wajah panik. “Ya ampun, Ibu... kenapa nangis?” tanya Siti dengan suara khawatir sambil mendekati ranjang. Risa buru-buru menghapus air matanya, senyumnya dipaksakan. “Gak apa-apa, Siti... aku mau mandi dulu ya,” ucap Risa lirih, lalu beranjak ke kamar mandi dengan langkah gontai. Di bawah shower, air deras jatuh membasahi tubuhnya. Risa menatap perutnya yang mulai membuncit, tangannya mengusap pelan. “Aku bahagia bersama Evan... aku bahagia bersama Evan...” bisiknya berulang-ulang dalam hati, mencoba menguatkan dirinya sendiri. Usai mandi, Risa turun dibantu Siti. “Makan d

