Chapter 22

1622 Kata

Reynand mengangkat sudut bibirnya pelan. "Mari berpelukan untuk merayakan perdamaian!" Reynand berujar seolah ketegangan yang terjadi beberapa menit yang lalu tak pernah terjadi. Senna menggelengkan kepalanya cepat. Mana sudi! "Jangan kabur dulu!" Reynand berteriak dan hampir turun dari sofa lingkar miliknya. "Tetap di situ!" Gertak Senna yang memegang gagang pintu. "Kita perlu banyak bicara!" "Kita sudah biacara!" "Tapi belum sampai intinya!" Reynand harus benar-benar menahan diri untuk tidak melompat dari kursi dan menghampiri gadis manis itu. Ngomong-ngomong, burungnya sakit karena terjepit. "Cepat bicara!" Reynand menghela napas, pusing di kepalanya kembali, perutnya juga mual. "Bagaimana bisa kau ada di sini?" Akhirnya Reynand mengutarakan rasa ingin tahunya. "Kau mabuk, mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN