Giana baru saja duduk di tepi ranjang ketika rasa lemas itu kembali datang tanpa permisi. Bukan pusing hebat, tapi tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga hanya dengan berdiri beberapa menit. Nafasnya sedikit berat, dan refleks tangannya meraih sisi ranjang agar tidak oleng. Mark langsung menyadarinya. “Jangan berdiri lama-lama,” ucap Mark tegas namun lembut, tangannya segera menopang lengan Giana. “Duduk saja.” “Aku cuma mau ke balkon sebentar,” protes Giana pelan. “Udara pagi kelihatannya enak.” Mark menggeleng tanpa ragu. “Tidak,” katanya singkat. Giana mendongak, menatap Mark dengan mata sedikit menyipit. “Mark,” panggilnya, nadanya mulai terdengar manja. “Aku tidak sakit separah itu.” “Kamu pingsan semalam,” jawab Mark datar. “Dan kamu masih demam.” “Aku sudah merasa lebih

