CEO yang Tidak Suka Keramaian
Luther Panjaitan bukan tipe CEO yang senang menjadi pusat perhatian. Sebab, di usianya yang masih relatif muda, laki-laki itu memang telah menduduki posisi tertinggi di PT Batak Bangkit Bersama, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memiliki jaringan usaha cukup besar. Perusahaan itu bahkan mempunyai kepemilikan saham di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Utara.
Namun, jabatan tinggi tidak serta-merta membuat Luther berubah menjadi seseorang yang gemar tampil di depan banyak orang. Sebaliknya, ia justru seorang introvert.
Pagi itu, seperti biasa, Luther sudah berada di ruang kerjanya sejak pukul tujuh. Ruangan tersebut cukup luas, tetapi nyaris tidak memiliki dekorasi berlebihan. Sebuah meja kerja besar, rak buku, komputer, beberapa lemari arsip, sofa untuk menerima tamu, serta sebuah lukisan tua menjadi benda-benda yang paling mencolok di sana.
Luther duduk di balik meja. Kemeja putihnya masih rapi. Lengan kemeja digulung sampai siku. Di hadapannya terbuka laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaan. Di sebelah laptop terdapat kalkulator.
Oh, Luther bukan hanya seorang CEO. Ia juga seorang akuntan dan auditor bagi perusahaan yang dipimpinnya. Latar belakang pendidikannya memang dari Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi. Sejak kuliah, Luther sudah terbiasa berhadapan dengan angka, laporan, neraca, arus kas, hingga berbagai persoalan perpajakan dan audit. Karena itu, meskipun sudah menjadi CEO, ia tidak pernah merasa cukup hanya menerima laporan dari bawahannya.
Ada sebabnya juga. Karena ia ingin melihat sendiri. Pun, lebih suka memeriksa sendiri. Bahkan, jika diizinkan, ia bisa menghitung ulang sendiri.
Sekonyong-konyong, tangannya mengambil sebuah dokumen. Keningnya sedikit berkerut. Ada angka yang tidak sesuai. Langsung saja Luther mengambil kalkulator. Ia segera menghitung ulang. Kemudian ia memeriksa laporan sebelumnya. Sekali lagi ia memeriksanya. Tetap saja tidak cocok.
Ia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
"Rina."
"Ya, Pak Luther?"
"Hubungi bagian audit internal. Minta mereka datang ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
Telepon ditutup. Luther kembali menatap laporan.
Omong-omong, begitulah kesehariannya. Bagi sebagian orang, bekerja sebagai CEO mungkin berarti menghadiri rapat, bertemu pengusaha, melakukan negosiasi, menghadiri jamuan makan, atau berbicara di depan banyak orang. Sayangnya, tidak bagi Luther, menjadi CEO berarti memastikan perusahaan tetap berjalan dengan benar.
Apalagi PT Batak Bangkit Bersama bukan perusahaan yang dibangunnya sendiri. Perusahaan itu merupakan warisan keluarga yang telah berdiri selama beberapa generasi. Jauh sebelum Luther lahir, bahkan sebelum ayahnya lahir, seorang laki-laki bernama Mordekhai Panjaitan sudah lebih dahulu meletakkan fondasinya.
Mordekhai adalah kakek buyut Luther. Kakek buyut Luther itu sudah membangun perusahaan tersebut bersama dua sahabat dekatnya, Hilman Lubis dan Obet Hutagalung. Ketiganya sama-sama berasal dari keluarga Batak dan memiliki sebuah impian sederhana pada masa itu. Bahkan mereka ingin membangun usaha yang bisa memberikan kehidupan lebih baik bagi keluarga masing-masing. Hingga, tidak ada yang menyangka bahwa usaha tersebut kelak berkembang menjadi perusahaan besar.
Tahun lalu berganti tahun. Generasi berganti generasi. Bisnis mereka berkembang. Dari usaha yang sederhana, kemudian masuk ke perkebunan kelapa sawit, berkembang menjadi kelompok usaha, dan akhirnya memiliki berbagai investasi, termasuk kepemilikan saham di rumah sakit swasta di Jakarta Utara.
Luther menjadi salah satu penerusnya. Namun, ia tidak pernah menganggap posisi CEO sebagai sebuah kemewahan. Baginya, jabatan itu adalah tanggung jawab. Ia bahkan sering merasa bahwa dirinya hanya sedang menjaga sesuatu yang sudah dibangun oleh orang-orang sebelum dirinya.
Pintu ruangannya diketuk.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Seorang pria dari bagian audit internal masuk sambil membawa map.
"Pak Luther."
"Duduklah. Dan, ada apa?"
Pria itu duduk di hadapan Luther.
Luther kemudian menggeser dokumen ke arahnya, langsung berkata, "Periksa bagian ini."
Pria tersebut membaca beberapa lembar dokumen, bertanya, "Ada masalah, Pak?"
"Angkanya tidak sinkron."
"Baik, Pak. Saya periksa lagi."
Luther mengangguk.
Setelah itu, tidak banyak percakapan.Memang seperti itulah dirinya. Orangnya cukup singkat, langsung pada persoalan, dan tidak suka basa-basi. Namun, justru sifatnya yang demikian sering membuat orang mengira Luther adalah laki-laki yang dingin dan angkuh. Padahal sebenarnya Luther tidak begitu. Ia hanya tidak pandai berinteraksi dengan banyak orang.
Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Luther melirik layar. Sebuah pesan dari ibunya.
"Malam ini jangan pulang terlalu malam. Ada yang ingin Mama bicarakan."
Luther membaca pesan tersebut beberapa detik. Kemudian mengetik balasan.
"Baik, Ma. Apa pun yang terbaik untuk Mama aku tersayang."
Selesai. Segera ponsel kembali diletakkan. Selanjutnya ia hendak kembali membaca laporan ketika matanya menangkap sebuah foto lama yang terletak di salah satu rak. Di sana ada foto keluarga. Ia berdiri cukup lama memandanginya. Entah mengapa, pesan dari ibunya membuat perasaannya sedikit tidak nyaman.
Ah, Luther sangat mengenal ibunya. Kalau hanya ingin membicarakan hal biasa, ibunya tidak akan mengirim pesan dengan kalimat seperti itu. Pasti ada sesuatu. Mungkin kali ini dugaan Luther benar.
*****
Malam harinya, keluarganya memang akan membicarakan sesuatu yang tidak pernah masuk dalam rencana hidupnya. Sesuatu yang bahkan tidak ada hubungannya dengan kelapa sawit, saham, audit, ataupun akuntansi. Sesuatu yang membuat seorang CEO introvert seperti Luther Panjaitan harus berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih sulit daripada laporan keuangan.
Apalagi jika bukan tentang perjodohan. Perempuan yang hendak dijodohkan dengannya bukanlah putri pengusaha. Ia bahkan bukan pewaris perusahaan. Bukan pula perempuan dari keluarga terpandang. Menurut desas-desus, perempuan itu hanyalah seorang suster sederhana yang bekerja di rumah sakit tempat perusahaan keluarganya memiliki saham.
Namanya Alena Bethany Rondonuwu. Seorang perempuan yatim piatu; pun, suster yang hidup sederhana. Bahkan, yang tidak diketahui Luther adalah satu hal penting. Alena bukan perempuan asing. Dahulu, ketika mereka masih kecil, Alena adalah teman gereja sekaligus teman sekolah dasar Luther. Hanya saja, kehidupan telah memisahkan mereka selama bertahun-tahun.
Malam itu, untuk kali pertama setelah sekian lama, nama Alena Bethany Rondonuwu akan kembali masuk ke dalam kehidupan Luther Panjaitan. Bukan sebagai seorang teman masa kecil, melainkan sebagai perempuan yang mungkin akan menjadi istrinya.
*****
Sementara itu, selepas tugasnya sebagai seorang perawat, Alena mampir sebentar ke sebuah kedai kopi di sebuah mal. Ia memesan kegemarannya, yaitu matcha latte. Pesanannya sudah diantar. Sembari minum, ia memeriksanya sekali lagi.
Yang diperiksanya itu tidak berkaitan dengan tugasnya sebagai seorang perawat. Ia memeriksa dokumen-dokumen terkait penerimaan mahasiswa baru. Adiknya, Stanley, akan menjadi mahasiswa baru. Masalahnya timbul saat Stanley ngotot sekali ingin berkuliah di Fakultas Desain Komunikasi Visual. Tak tanggung-tanggung, yang Stanley pilih adalah universitas yang ada di China Daratan.
Gelas itu ditaruhnya. Alena memijat-mijat keningnya dan berkata lirih, "Ya Tuhan Yesus, duit dari mana? Tapi...."
Sekonyong-konyong Alena teringat amanah terakhir Papa dan Mama. Pokoknya, selama itu positif, Alena harus mendukung apa pun karier yang dipilih Stanley dan Justin.