Bianca membiarkan keheningan kembali mengambil alih, hanya suara jam dinding dan detak lembut napasnya yang terdengar di ruangan luas itu. Uap sup yang masih tersisa di mangkuk perlahan memudar, sementara roti panggang di piring sudah tak lagi berasap. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat. “Aku benci perasaan ini,” gumamnya lirih, hampir seperti berbicara pada diri sendiri. “Aku benci merasa seolah bergantung pada seseorang. Terutama setelah semua yang sudah terjadi.” Vincent menoleh sedikit, namun tetap berdiri di posisinya. Suaranya terdengar rendah, penuh ketenangan. “Tidak ada yang salah dengan membiarkan diri Anda ditopang, Nona. Bahkan dinding paling kokoh pun butuh penyangga agar tetap berdiri.” Bianca menoleh ke arahnya, soro

