Begitu mobil memasuki area parkir pusat perbelanjaan terbesar di kota, Bianca langsung menekan pedal rem dan memarkirkan kendaraannya dengan gerakan cepat. Ia melepas sabuk pengaman, menarik napas panjang seolah baru saja menyelesaikan balapan. “Sudah sampai,” ucapnya datar, padahal jantungnya masih berdebar keras karena kalimat Vincent tadi. Vincent hanya mengangguk, lalu keluar lebih dulu. Seperti biasa, ia bergerak ke sisi pengemudi untuk membukakan pintu. Namun Bianca sudah keluar lebih dulu, menenteng tasnya dengan gaya penuh percaya diri. “Aku bisa membuka pintuku sendiri,” katanya cepat, seolah ingin menegaskan. “Saya tahu,” jawab Vincent singkat. Ia menutup pintu mobil dengan tenang, kemudian berdiri setengah langkah di belakangnya, mengikuti langkah Bianca tanpa banyak bicara.

