Matahari sudah meninggi ketika Bianca akhirnya bangun dengan sempurna. Gadis itu berdiri di depan cermin, membenarkan gaun kasual yang baru saja ia kenakan. Ia sudah merencanakan untuk berbelanja siang ini, sekadar melepas penat sekaligus menyegarkan pikirannya yang semalaman kacau karena Vincent. Namun ketika ia keluar kamar, lorong penthouse terasa lengang. Bianca mendengus, menuruni beberapa langkah, mencari sosok pria itu. Biasanya Vincent sudah siap di dekat pintu, tegap dan tidak bergerak seperti patung penjaga. Tapi kali ini—tidak ada. Alis Bianca bertaut. “Ke mana dia? Jangan bilang pengawalku itu berani-beraninya pergi tanpa izin.” Ia melangkah cepat, menelusuri area penthouse. Baru ketika berhenti di depan salah satu pintu kamar tamu—kamar yang memang sengaja disediakan untuk

